Dark romentis• Drama • Komedi • Healing • Sedikit Misteri, mengandung🌶️🌶️ anak 20 kebawa jangan.
> Hadila Nur Padilah (25), gadis sederhana asal kampung Cipongkor, Bandung Barat, rela meninggalkan keluarganya demi bekerja di Jakarta sebagai perawat pribadi untuk seorang ibu lansia. Ia ceria, jujur, ceplas-ceplos dengan logat Sunda yang khas, dan selalu berusaha bertahan meski hidup tak pernah mudah.
Segalanya berjalan biasa… hingga ia dipertemukan dengan anak laki-laki sang majikan—Feiden Girfani (32), seorang CEO tampan dan sukses yang jarang pulang ke rumah ibunya. Pria ini bukan hanya dingin dan tertutup, tapi juga memiliki penyakit langka: tubuhnya alergi terhadap sentuhan manusia. Sekali disentuh, kulitnya bisa muncul bintik-bintik merah ekstrem. Dermatographic urticaria.
Tapi ketika Dila secara tak sengaja menyentuhnya... tak terjadi apa-apa.
Sejak saat itu, segalanya mulai berubah.
Feiden jadi penasaran. Dila jadi gelisah. Dunia di antara mereka perlahan mulai membentuk c
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK YANG TIDAK TERLIHAT
Ruang rapat utama Girfani Group berada dalam keadaan penuh sejak pukul delapan pagi.
Dinding kaca transparan menampilkan panorama kota dari lantai atas, namun tidak satu pun dari mereka menoleh keluar. Perhatian tertuju pada layar besar di ujung ruangan, tempat slide presentasi berganti dengan ritme teratur.
Feiden duduk di kursi utama. Punggungnya tegak lurus, tangan terlipat rapi di atas meja kayu gelap yang mengkilap. Ekspresinya netral—tidak ada tanda ketertarikan berlebihan, tapi juga tidak ada celah untuk kesalahan apa pun.
“Divisi energi, silakan maju,” ucapnya dengan nada singkat namun jelas.
Seorang pria paruh baya berdiri dengan sedikit tergesa-gesa, membetulkan jasnya yang sedikit miring di bahu kiri.
“Kuartal ini, produksi tambang masih sesuai target yang telah ditetapkan, Pak,” lapornya sambil menunjuk ke grafik yang muncul di layar. “Distribusi juga stabil di seluruh wilayah domestik. Namun… ada sedikit perlambatan pengiriman ke dua mitra luar negeri yang sudah bekerja sama lama.”
“Alasannya?” tanya Feiden tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Penyesuaian regulasi baru di pelabuhan tujuan, Pak. Sifatnya administratif saja, tapi prosesnya lebih rumit dari yang diperkirakan.” Pria itu mengusap dahinya pelan, seolah mencoba menenangkan diri.
Feiden mengangguk satu kali.
“Catat kasus ini. Pastikan tim hukum dan logistik berkoordinasi. Jangan biarkan hal administratif jadi kebiasaan yang menghambat kerja kita.”
Slide berganti dengan suara klik yang terdengar jelas di ruangan sunyi.
“Divisi pangan,” ucap Feiden lagi, menatap salah satu kursi di depan.
Seorang perempuan berkacamata berdiri dengan sikap lebih hati-hati, tangannya menyentuh ujung meja sebentar sebelum mulai berbicara.
“Rantai pasok domestik aman dan lancar, Pak. Namun kemarin sore, kami menerima informasi bahwa distributor regional beberapa daerah meminta audit tambahan. Belum ada surat resmi, masih tahap klarifikasi saja.”
Beberapa direksi saling pandang. Satu di antaranya mengerutkan kening dan mengoceh pelan ke telinga rekan sebelahnya.
“Klarifikasi soal apa yang spesifik?” tanya Feiden, menatap perempuan itu langsung.
“Mereka ingin memastikan struktur kepemilikan anak perusahaan kita dan jalur distribusi yang digunakan benar-benar sesuai standar industri, Pak.” Suaranya sedikit mengecil di akhir kalimat.
Feiden menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan gerakan lambat.
“Jawab semua pertanyaan dengan faktual saja. Jangan bersikap defensif—kita tidak ada yang sembunyikan. Siapkan data lengkap sebelum mereka mengirimkan permintaan resmi.”
Slide berikutnya menyala—divisi fashion dan manufaktur. Kepala divisi, seorang wanita muda dengan gaya rambut teratur, berdiri dengan wajah yang tampak khawatir.
“Koleksi baru berjalan sesuai rencana, Pak. Penjualan di toko fisik dan online juga stabil. Tapi… beberapa buyer besar dari luar negeri menahan order mereka yang sudah direncanakan.”
“Menahan?” Feiden mengulang kata itu dengan nada yang membuat semua orang memperhatikan lebih serius.
“Ya, Pak. Mereka tidak membatalkan, hanya bilang menunggu… kepastian tentang arah perusahaan kedepannya.” Ia mengusap kedua telapak tangannya satu sama lain, gerakan yang menunjukkan kegelisahan.
Tidak ada yang perlu dijelaskan lebih lanjut. Semua di ruangan itu paham betul apa yang dimaksud dengan kata “kepastian” dalam situasi saat ini.
Feiden mengetukkan jarinya sekali ke meja.
“Skincare dan wewangian,” katanya.
Direksi berikutnya, seorang pria dengan wajah tegas, berdiri dengan sikap lebih mantap.
“Kinerja penjualan masih menunjukkan tren naik, Pak. Namun ada rumor yang beredar di pasar tentang kemungkinan perubahan kepemilikan. Belum jelas sumbernya, tapi sudah cukup membuat beberapa mitra ritel lebih berhati-hati dalam mengambil stok baru.”
Ruangan menjadi hening total. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang bekerja.
Feiden berdiri perlahan, membuat tubuhnya tampak lebih tinggi dan dominan.
“Kesimpulan,” katanya dengan suara tenang tapi tajam seperti pisau.
“Tidak ada krisis yang terjadi saat ini. Tidak ada pelanggaran aturan atau standar. Tapi jika kita lihat secara seksama—ada pola yang jelas.”
Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya, mata yang dalam seolah bisa membaca pikiran setiap orang.
“Dan pola seperti ini selalu berasal dari niat tertentu. Tidak pernah kebetulan.”
Tidak ada seorang pun yang berani menyela.
“Kita akan melanjutkan operasional seperti biasa—jangan ada yang panik atau membuat keputusan tergesa-gesa,” lanjut Feiden.
“Namun mulai hari ini, saya ingin semua laporan akses internal sistem perusahaan diperiksa ulang. Tanpa pengumuman terlebih dahulu. Tanpa membuat kegaduhan yang tidak perlu.”
Ia melirik Raka yang duduk di sebelahnya, dengan pandangan yang menyertakan kepercayaan sekaligus peringatan.
“Kamu yang koordinasikan dengan tim TI dan keamanan. Pastikan setiap detail tidak terlewatkan.”
“Baik, Pak. Saya akan mulai menyusun timnya segera setelah rapat selesai,” jawab Raka dengan cepat dan jelas.
Feiden menatap layar yang kini sudah mati, seolah masih bisa melihat semua data yang baru saja ditampilkan.
Rapat berakhir tanpa tepuk tangan.
Tanpa kelegaan.
Karena semua orang di ruangan itu merasakan hal yang sama:
sesuatu belum terjadi—tapi sedang dipersiapkan.
*
Kedai kopi itu tidak istimewa.
Tidak berada di pusat kota, tidak juga di sudut terpencil. Tempat transit biasa—cukup ramai untuk menghilangkan kecurigaan, cukup tenang untuk berbicara tanpa terdengar.
Seorang pria duduk sendirian di meja dekat jendela.
Seragam kantornya rapi, tas kerja diletakkan di bawah kursi. Wajahnya tipikal staf menengah: tidak cukup penting untuk diperhatikan, tidak cukup rendah untuk diabaikan.
Ia menyesap kopinya dengan gerakan perlahan, mata kadang melirik keluar jendela ke jalan raya di depan.
Lima menit berlalu dengan cepat.
Lalu seseorang duduk di hadapannya—tanpa meminta izin, tanpa basa-basi apa pun. Wajahnya bukanlah wajah baru baginya, tapi juga bukan wajah yang pernah benar-benar ia kenal dengan jelas.
“Pagi,” ucap orang itu dengan nada singkat dan datar.
“Pagi,” jawab si staf, nadanya sama saja—tidak ada emosi yang terlihat.
Tidak ada jabat tangan. Tidak ada perkenalan nama. Keduanya tahu betul, nama bukanlah hal yang perlu disebut di tempat seperti ini.
Pelayan datang dengan senyum ramah, mencatat pesanan orang kedua, lalu pergi kembali ke kasir. Keheningan kembali menggantung di antara mereka berdua.
“Divisi Anda terlihat cukup sibuk akhir-akhir ini ya,” ujar pria kedua, seolah hanya mengomentari cuaca yang cerah di luar jendela.
“Audit internal sedang berjalan. Hal biasa yang dilakukan perusahaan setiap periode,” jawab si staf dengan suara ringan, matanya tetap menatap cangkir kopinya.
“Ya, benar… hal biasa yang kadang berjalan terlalu cepat dari jadwal yang sudah ditentukan,” pria itu mengangguk perlahan, matanya mengamati gerakan tangan si staf.
Si staf mengerutkan kening sebentar sebelum kembali menunduk ke cangkirnya.
“Ada tenggat baru untuk beberapa pekerjaan Anda,” lanjut pria itu, mengambil gelas air di mejanya dan menyedotnya sedikit. “Beberapa data yang seharusnya dikirim minggu depan, perlu kita sesuaikan jadi minggu ini.”
“Memang begitu prosedurnya jika ada kebutuhan mendesak.”
Pria itu tersenyum samar—senyuman yang tidak hangat, tidak juga dingin. Hanya senyuman netral—dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berbahaya.
“Kadang kala, prosedur bisa sedikit fleksibel kan? Terutama jika sistem sedang dalam kondisi padat dan ada banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan.”
Ia menggeser sesuatu di atas meja—hanya map tipis berwarna cokelat yang dilipat rapi, tidak ada amplop tebal atau benda lain yang mencurigakan.
Si staf hanya meliriknya sebentar, tidak berani menyentuhnya.
“Ini bukan untuk mengubah apa pun di data atau laporan Anda,” ujar pria itu cepat, seolah bisa membaca kegelisahan yang muncul di wajah lawan bicara. “Belum saatnya untuk itu.”
“Lalu apa maksudnya?” tanya si staf akhirnya, suara yang keluar sedikit menggigil.
“Hanya untuk menunda saja,” jawabnya dengan suara tenang. “Satu laporan saja. Satu lampiran kecil. Cukup dengan beberapa jam… atau mungkin hari saja.”
Si staf menarik napas pelan dan perlahan.
“Kalau ketahuan oleh pihak keamanan perusahaan—”
“Tidak akan ada yang tahu,” potong pria itu dengan tegas. “Kami tahu sistem kerja Anda dengan baik. Kami tahu alur pengiriman data dan siapa saja yang menangani setiap tahapnya. Dan kami juga tahu siapa saja yang terlalu rajin mencari tahu detail yang tidak seharusnya mereka ketahui.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya merendah lebih jauh lagi.
“Kami juga tahu siapa yang sudah lelah dengan kerja yang terus menerus dan penghargaan yang tidak sebanding dengan usaha yang diberikan.”
Kalimat itu terdengar lebih keras dari apa pun di telinga si staf, bahkan lebih kuat dari ancaman apa pun yang pernah ia dengar.
Ia terdiam dalam waktu yang cukup lama.
“Ini bukan suap,” lanjut pria itu, kembali duduk tegak. “Ini kompensasi untuk waktu ekstra yang harus Anda habiskan. Untuk stres yang Anda tanggung karena pekerjaan ini.”
Ia berdiri perlahan, sudah siap untuk pergi.
“Saya tidak butuh jawaban dari Anda sekarang. Anda punya waktu untuk memikirkannya.”
Pria itu berjalan pergi tanpa melihat ke belakang, meninggalkan map di mejanya—tidak didorong ke arah si staf, tidak ada paksaan apa pun.
Si staf menatap benda kecil itu dengan pandangan yang penuh keraguan dan ketakutan. Sangat lama ia melihatnya.
Akhirnya, ia membuka tas kerjanya dengan gerakan lambat dan hati-hati. Map itu menghilang ke dalam tasnya—perlahan, hampir tidak terlihat oleh siapa pun.
*
Di tempat lain, jauh dari ruang rapat Girfani Group, roda kecil benar-benar mulai berputar.
Tidak ada laporan palsu.
Tidak ada angka dimanipulasi.
Belum.
Hanya satu data tertahan.
Satu email tidak diteruskan.
Satu catatan audit terselip di folder yang salah.
Hal-hal kecil.
Terlihat sepele.
Namun sistem sebesar Girfani Group hidup dari detail.
Dan detail… adalah pintu masuk paling sunyi menuju kehancuran.
*
Malam itu, Feiden pulang ke The Lavender Hills.
Rumah itu sunyi. Terlalu rapi. Terlalu bersih.
Lampu-lampu otomatis menyala mengikuti langkahnya. Aroma khas ruangan menyambut, namun tidak menenangkan.
Ia melepas jas, menggantungnya tanpa ragu, lalu masuk ke ruang kerja pribadinya.
Layar-layar menyala.
Laporan masih stabil.
Namun pikirannya tidak.
Tanpa sadar, jarinya bergerak membuka sistem keamanan lain.
Bukan miliknya.
Layar CCTV rumah Pondok Indah Cendrawasih muncul satu per satu.
Teras.
Ruang tengah.
Dapur.
Koridor.
Kosong.
Feiden menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya.
Ia tahu ini tidak masuk akal.
Ini tidak mengurangi kewaspadaan.
Justru menambah lapisan kegelisahan baru.
Namun ia tetap menunggu.
Seolah berharap ada sosok yang lewat sebentar.
Sekadar bayangan.
Bukti bahwa pikirannya tidak sendirian menciptakan sesuatu.
Tidak ada apa-apa.
Feiden menutup layar perlahan.
“Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.
Tapi malam itu, fokus terasa seperti sesuatu yang harus dipaksa, bukan dikendalikan.
*
Sementara itu, di sisi lain tempat—bahkan mungkin di gedung gelap—Renzo membaca laporan singkat.
“Respons Feiden tenang,” lapor salah satu orangnya. “Belum bereaksi.”
Renzo tersenyum tipis.
“Bagus,” katanya. “Artinya dia belum sadar arah anginnya.”
“Langkah selanjutnya?”
“Biarkan sistem mereka bekerja seperti biasa. Berikan sedikit tekanan dari dalam perusahaan. Berikan sedikit bisikan yang tidak jelas sumbernya dari luar,” jawab Renzo sambil berdiri dan merapikan jaketnya yang sudah rapi.
Ia berjalan ke arah jendela, melihat kota yang mulai menyala dengan lampu malam.
“Kita tidak perlu membuatnya jatuh dengan kekerasan—dia terlalu kuat dan berpengalaman untuk itu,” lanjutnya dengan suara pelan namun tegas. “Kita hanya perlu membuatnya terjaga setiap malam. Membuatnya meragukan setiap keputusan yang ia buat.”
Keesokan harinya, satu kontrak besar dengan mitra internasional yang sudah direncanakan untuk ditandatangani harus ditunda. Bukan dibatalkan total. Hanya… ditunda dengan alasan yang sangat sederhana: “menunggu kejelasan terkait arah strategis perusahaan.”
Dan Feiden tahu dengan pasti—ini baru permulaan dari apa yang akan datang.
Ia berdiri di depan jendela kantornya yang tinggi, kota berkilau dengan cahaya di bawahnya seperti biasa. Namun kali ini, kilauan itu terasa berbeda.
Lebih dingin. Lebih jauh. Seolah ada dinding tebal yang memisahkannya dari semua yang ada di sana.
Ia belum tahu detail lengkap dari rencana musuhnya. Namun ia bisa merasakan polanya dengan jelas.
Jika masa lalu datang padanya tanpa suara atau tanda, maka peperangan yang akan datang ini tidak akan memberi kesempatan untuk bersiap. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Feiden menyadari hal yang membuatnya terkejut:
Yang diuji bukan kekuatan atau kekayaannya yang besar. Melainkan ketahanannya untuk tetap waras dan fokus… saat segalanya di sekelilingnya mulai runtuh secara perlahan dan tidak terlihat.