NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Uang Pertama

"Sekarang," kata Bunga malam itu, "kita cari Reno."

Rangga tidak langsung menjawab. Bunga sudah mulai mengenal jenis-jenis diamnya. Yang ini bukan menolak, melainkan sedang menghitung jalur yang mungkin tidak membuat mereka berdua tersangkut di gerbang Wicaksana.

"Reno tidak akan percaya pesan dari nomor asing," katanya.

"Kalau pesannya berisi hal yang cuma kamu dan dia tahu?"

"Dia akan curiga itu jebakan."

"Pengawalmu pintar juga."

"Itu alasan dia masih hidup."

Bunga menulis `hubungi Reno` di notes, lalu menggambar lingkaran besar di sekelilingnya. "Berarti kita butuh cara yang lebih bersih. Nomor baru, data cukup, mungkin tempat ketemu yang tidak langsung dekat keluargamu."

"Dan uang."

Bunga menatap dompetnya. Isinya beberapa lembar uang kecil, kartu parkir bekas yang entah kenapa masih ia simpan, dan rasa malu.

"Aku tahu."

"Saya tidak bisa mengakses rekening saya dari tubuhmu. Semua perangkat saya pasti diawasi."

"Aku juga tidak minta kamu transfer. Aku cuma berharap ada cara uang turun dari langit."

"Ada. Namanya bocor atap."

Bunga berhenti menulis. "Kamu baru bercanda?"

"Kemungkinan."

"Krisis keluarga membuat humor kamu membaik. Catat sebagai efek samping."

Keesokan paginya, kesempatan datang bukan dari langit, melainkan dari grup WhatsApp Melati.

Salah satu perempuan di grup mengeluh karena souvenir charity auction kemarin, scarf sutra edisi terbatas dari desainer lokal, akan dipakai beberapa influencer minggu depan. Stok di butik resmi sudah habis. Beberapa orang mulai mencari versi warna biru muda dan hijau botol.

Bunga membaca pesan itu sambil sarapan gorengan murah.

"Mereka panik karena kain lagi," gumamnya.

Rangga berkata, "Itu bukan sekadar kain. Itu sinyal status."

"Kamu bisa membuat apa pun terdengar seperti kuliah."

"Perhatikan polanya. Barang itu belum mahal kemarin. Setelah influencer memakai, permintaan naik. Kalau masih ada stok di reseller kecil, harganya akan naik sebelum akhir minggu."

Bunga menatap layar. "Kamu menyuruhku investasi di scarf?"

"Saya menyarankan arbitrase kecil berbasis informasi publik."

"Investasi kain, berarti."

"Jika itu membuatmu lebih mudah memahami, ya."

Bunga membuka marketplace. Dengan pulsa dan data sisa, ia mencari nama scarf itu. Ada satu toko kecil di Bandung yang masih menjual dua warna dengan harga normal. Stok tinggal tiga. Bunga menghitung uangnya. Tidak cukup.

Ia hampir menutup aplikasi, lalu matanya jatuh pada komentar salah satu socialite di grup.

`Kalau ada yang dapat warna hijau, aku bayar dua kali harga butik. Butuh buat photoshoot Jumat.`

Bunga duduk lebih tegak.

"Rangga."

"Ya?"

"Kalau aku tidak beli dulu, tapi pesan dengan sistem bayar di tempat, lalu cari pembeli sebelum barang sampai?"

"Risiko tinggi. Tapi legal selama kamu tidak berbohong soal kondisi barang."

"Aku bukan bohong. Aku jadi jembatan antara orang panik dan toko yang tidak mereka cari."

"Itu definisi broker."

"Aku suka. Kedengarannya mahal."

Bunga menghubungi toko, menanyakan stok, ongkir instan, dan apakah bisa menahan barang enam jam dengan uang muka kecil. Pemilik toko awalnya menolak. Bunga hampir menyerah, tetapi Rangga menyuruhnya menawarkan foto bukti transfer uang muka dan menanggung ongkir batal. Bunga menawar seperti di pasar, bukan seperti di rapat. Akhirnya pemilik toko setuju menahan dua scarf sampai siang.

Masalahnya, uang muka pun masih kurang.

Bunga menatap blouse hijau tua barunya.

"Tidak," kata Rangga.

"Aku belum ngomong."

"Kamu melihat blouse seperti melihat aset likuid."

"Kalimatmu mengerikan, tapi benar."

Ia tidak menjual blouse itu. Setelah berdiri lima menit memandangi kain miliknya sendiri, Bunga memasukkan lagi ke rak plastik. Sebagai gantinya, ia pergi ke rental gaun dan meminta kerja tambahan: membersihkan sepatu pesta, mengepak katalog, apa saja, dibayar di muka separuh. Pemilik rental mengomel, tetapi memberi uang kecil karena Bunga memang cepat bekerja.

Uang muka terkirim tiga menit sebelum batas waktu.

Setelah itu, Bunga mengirim pesan pribadi pada perempuan di grup yang mencari scarf.

`Mbak, saya bisa bantu carikan warna hijau. Barang resmi, kondisi baru, harga dua kali butik sesuai pesan Mbak. Kalau cocok, pembayaran setelah barang sampai dan dicek.`

Rangga membaca bersama matanya. "Terlalu langsung."

"Orang panik suka langsung."

Ternyata Bunga benar.

Balasan datang cepat.

`Serius? Ambil. Aku bayar sekarang setengah.`

Bunga memandangi layar seperti baru melihat pintu brankas terbuka. "Dia percaya?"

"Dia percaya kebutuhannya sendiri."

"Indah sekali dunia orang buru-buru."

Transaksi pertama hampir membuat Bunga muntah karena tegang. Ia memantau kurir, memastikan resi, memotret paket, mengirim bukti, lalu mengantar scarf ke lobby apartemen pembeli. Perempuan itu memeriksa warna, tersenyum puas, dan membayar sisanya tanpa menawar.

Bunga keluar dari apartemen dengan saldo dompet digital yang belum pernah ia lihat sebanyak itu.

Tidak besar bagi orang-orang di grup. Bagi Bunga, angka itu seperti lampu jalan pertama setelah gang gelap.

"Aku untung," bisiknya.

"Ya."

"Ini legal?"

"Ya. Kamu memanfaatkan informasi publik, menanggung risiko, dan menyediakan jasa pencarian."

"Uang bisa punya anak," kata Bunga pelan.

"Itu cara menjelaskan profit yang sangat tidak akademis."

"Tapi benar."

Ia tidak langsung menghabiskan uang itu. Dengan arahan Rangga, ia membaginya: modal kecil, ongkos transport, pulsa data, dana darurat, dan satu amplop untuk membayar sebagian biaya laundry Melati.

"Kamu disiplin," kata Rangga.

"Aku pernah kelaparan. Orang lapar tahu uang tidak boleh langsung jadi gaya."

Ia menulis pesan pada Melati, tidak menyebut untung atau transaksi.

`Mel, nanti biaya laundry bajumu aku cicil. Jangan debat. Ini urusan harga diri.`

Balasan Melati hanya emoji mata melotot, lalu:

`Kamu keras kepala. Tapi aku simpan debatnya besok.`

Kalimat itu membuat Rangga diam dengan cara yang lembut.

Sore harinya, Bunga berhasil menjual scarf kedua dengan margin lebih kecil kepada kenalan Melati yang lain. Dari dua transaksi itu, ia punya cukup uang untuk membeli kartu SIM baru, paket data yang layak, dan membayar jasa cetak kecil untuk kartu nama sederhana.

Di kartu itu tertulis:

`Bunga Lestari - personal sourcing & event assistance`

Bunga menatap kartu itu lama.

"Terlalu ambisius?" tanyanya.

"Tidak," jawab Rangga. "Itu pintu."

"Pintu ke Reno?"

"Mungkin. Reno sering bergerak sebagai orang lapangan. Kalau kita ingin dia tidak langsung curiga, kamu perlu terlihat seperti orang yang punya urusan wajar di sekitar jaringan acara dan rumah."

Bunga menyelipkan satu kartu nama ke dompet.

Malam itu, ia menulis di notes:

`Uang pertama: dari scarf, bukan belas kasihan.`

Lalu di bawahnya:

`Langkah berikutnya: cari jalur ke Reno.`

Untuk pertama kalinya sejak gala, Bunga tidur dengan rasa takut yang masih ada, tetapi ditemani angka kecil di saldo dan keyakinan baru bahwa naik tidak selalu berarti menunggu tangan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!