Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-17 Hari Pertama Flora
Zavier memasuki gedung kantor dengan wajah yang masih menyimpan sisa emosi dari kejadian pagi tadi. Cemburu yang mengendap di dadanya belum sepenuhnya hilang, tapi ia berusaha memfokuskan diri untuk bekerja. Setidaknya momen hangatnya bersama Veyra tadi, membuat Zavier mendapatkan energi baru.
Baru saja ia hendak masuk ke ruangannya, seorang staf HR menghampiri, “Tuan Zavier, Nona Flora Eleanor Roseline sudah tiba. Beliau sedang di ruang meeting dengan tim arsitektur seperti yang diarahkan Tuan Ardian.”
Zavier menarik napas panjang. Ya Tuhan, benar-benar hari yang ‘sempurna’, batinnya sarkastik.
Ia pun melangkah menuju ruang meeting. Ketika membuka pintu, matanya langsung tertumbuk pada sosok wanita berambut panjang yang duduk santai sambil memaparkan konsep bangunan resort yang ia desain semasa kuliah di New York. Anggun. Percaya diri. Sangat berbeda dari Flora yang dulu ia kenal.
Namun, alih-alih kagum, Zavier mengangkat alis dan menyeringai. “Wah, ternyata si gembul bisa juga ngomong soal desain, ya?”
Flora menoleh, tersenyum tajam. “Dan ternyata si bocah nyebelin masih belum berubah juga.”
Beberapa staf di ruangan itu menahan tawa. Aura mereka jelas—seperti Tom & Jerry yang terlahir kembali.
Setelah sesi presentasi, Flora menghampiri Zavier. “Gimana? Aku resmi jadi rekan kerjamu sekarang. Siap-siap hidupmu jadi lebih seru,” katanya sambil berkedip iseng.
Zavier hanya menghela napas, “Hari-hariku sudah cukup ‘seru’ tanpa kamu, Flo.”
Zavier mengangkat tangannya ke udara, memberi kode pada tim meeting hari itu untuk meninggalkan ruang rapat. Mereka pun segera meninggalkan ruangan tersebut. Dan kini hanya ada Zavier dan Flora.
Flora tersenyum manis, lalu merapikan berkas-berkasnya. “Oh ya, jangan lupa, nanti malam aku dinner di rumah bareng Papa kamu. Katanya kamu juga diundang.”
Zavier memutar bola mata. “Sempurna. Drama belum selesai, sekarang tambah pemain baru,” gumamnya dalam hati.
Masih di ruang meeting, Zavier baru saja selesai mengucapkan kalimat sinis terakhirnya ke Flora saat ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia melirik layar—nama “Papa” terpampang di sana.
Ia mengangkat dengan nada malas. “Halo, Pa.”
“Zav, kamu masih di rumah?” suara Ardian terdengar di ujung sana, terdengar tenang tapi agak tergesa.
Zavier melirik ruangan. Flora masih duduk di kursi dengan ekspresi menang-menang sendiri.
“Tidak, aku sudah di kantor, Pa. Di ruang meeting. Flora lagi presentasi,” jawab Zavier, mengatur suaranya tetap netral.
“Oh… syukurlah,” Ardian terdengar lega. “Papa pikir kamu masih di rumah dan malas-malasan. Soalnya kamu tidak menyapa Papa dulu.”
Zavier mendengus pendek. “Aku buru-buru. Banyak kerjaan. Nanti kalau aku malas-malasan, Papa akan memecatku.”
“Ya sudah. Kalau presentasinya sudah selesai, kamu ajak Flora keruangan Papa. Kita makan siang bareng sambil ngobrol soal posisi dan proyek dia.”
Zavier mencubit pangkal hidungnya. “Sial, makan siang segala,” gerutunya dalam hati.
“Baik, nanti aku ajak, Pa,” sahutnya singkat sebelum memutuskan sambungan telepon.
Flora yang memperhatikan dari kejauhan langsung tersenyum licik. “Papa kamu, ya?”
Zavier menatapnya datar. “Iya. Dan sekarang kamu dapat kehormatan buat makan siang bareng beliau.”
Flora berdiri santai, menggantungkan tas di pundaknya. “Kamu dengar itu dengan nada bangga atau frustasi?”
“Lebih ke... pengunduran diri batin,” balas Zavier datar.
Flora terkikik. “Ayolah, Zavier. Harusnya kamu senang. Kita akan lebih sering bareng sekarang.”
Zavier hanya menjawab dengan diam dan langkah panjang keluar ruangan, diikuti Flora yang berjalan santai di belakangnya.
Dan di sudut hatinya, Zavier tahu, semakin sering mereka bersama, maka semakin rumit semuanya.
Zavier mengetuk pintu ruang kerja Ardian dengan malas sebelum membukanya.
“Masuk,” suara Ardian terdengar dari dalam.
Zavier masuk lebih dulu, diikuti Flora yang dengan penuh percaya diri melangkah masuk. Senyum lebar langsung merekah di wajah Ardian saat melihat gadis itu.
“Flora! Wah, kamu makin cantik saja, ya. Dan pastinya kamu semakin dewasa juga,” ucap Ardian sambil berdiri dan memeluk Flora dengan hangat layaknya anak sendiri. “Hans pasti bangga sekali.”
Flora tertawa kecil. “Terima kasih, Om Ardian. Senang bisa bergabung di sini.”
Zavier hanya duduk tanpa komentar, menatap piring di hadapannya seperti itu lebih menarik daripada dua orang yang sedang menyebar kehangatan.
Ardian mempersilahkan Flora duduk. Di atas meja sudah tersaji makanan hangat yang dikirim dari restoran favorit Ardian.
“Jadi, Flora akan bergabung di divisi proyek arsitektur, Zavier. Kamu bisa bantu awasi dia dulu beberapa waktu ini. Om Hans juga sudah cerita Flora termasuk lulusan terbaik di universitasnya. Juga Flora rela membantu kita dan mengabaikan rumah sakit besar milik keluarganya sendiri karena dia sangat mencintai dunia arsitek.”
Zavier hanya mengangguk tipis. “Iya.”
“Zavier?” Ardian memandang anaknya yang tampak ogah-ogahan. “Kamu oke, kan?”
Flora memotong, “Kalau nggak oke, aku bisa kok kerja sendiri, Om. Tidak perlu diawasi juga tidak masalah.”
Zavier mengangkat alis. “Wah, udah pede banget ya. Baru hari pertama kerja.”
Flora tersenyum manis, menyuap nasi dengan tenang. “Kan kamu tahu kapasitas aku, Vier. Kecuali kamu takut kalah saing.”
Ardian tertawa. “Kalian berdua dari dulu tidak berubah, ya? Kayak kucing dan tikus.”
Zavier menyandarkan punggungnya ke kursi. “Lebih kayak... duri dan telapak kaki.”
Flora mencibir. “Aku sih lebih mikir kayak Tom and Jerry. Saling kejar tapi nggak bisa pisah.”
Kalimat itu membuat Ardian tertawa, tapi Zavier justru mendengus—tak nyaman dengan permainan kata-kata Flora. Tapi yang lebih mengganggunya justru bukan Flora. Bukan juga sindirannya. Melainkan... keheningan ponsel Zavier.
Veyra belum mengirim pesan satu pun sejak pagi. Dan itu jauh lebih menyebalkan daripada senyum percaya diri Flora.
Setelah obrolan dan makan siang yang cukup hangat—meskipun bagi Zavier terasa seperti dipanggang pelan di atas bara api—Ardian tampak berdiri dan meraih ponselnya.
“Eh, sini-sini. Sebelum kalian balik ke ruangan, kita foto dulu ya buat dokumentasi dan... story!” ucap Ardian dengan semangat khasnya.
Zavier mendesah pelan. “Pa, serius?”
“Ya seriuslah. Momen seperti ini harus diabadikan,” ucap Ardian sambil berdiri di antara Zavier dan Flora.
Flora langsung merapat ke sisi kanan Ardian, tersenyum lebar. Zavier dengan terpaksa ikut berdiri di sisi kiri ayahnya, menjaga jarak minimal dengan Flora.
Cekrik!
Ardian mengambil satu selfie, lalu mengatur mode timer untuk mengambil satu lagi versi full body.
Begitu selesai, Ardian langsung mengetik cepat di WhatsApp sambil tersenyum puas.
"Selamat datang, tim baru! Hari pertama dimulai dengan semangat dan makan siang bersama dua orang hebat."
Zavier bisa melihat dengan jelas story itu terunggah. Ia khawatir Veyra melihat dan jadi salah paham. Ia tidak ingin membuat Veyra cemburu. Karena ia tahu, Veyra pasti melihat foto itu.
Zavier mengusap wajahnya pelan lalu beranjak berdiri. “Aku balik ke ruangan.”
“Eh, belum selesai, Zavier—”
“Tadi kan udah selesai makan,” potong Zavier cepat. “Thanks lunch-nya, Pa.”
Flora hanya melirik Zavier dengan dagu terangkat dan senyum tipis yang menyebalkan.
Begitu Zavier pergi, Ardian menoleh pada Flora. “Jangan ambil hati, ya. Dia memang seperti itu.”
Flora tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Om. Aku sudah terbiasa.”
*******
Veyra sedang duduk sendirian di ruang tengah. Di hadapannya ada buku resep yang baru saja ia buka, berencana mencoba membuat dessert kesukaan Zavier, selagi Zavier masih menginap disini. Tapi pikirannya tidak fokus.
Ia lalu meraih ponselnya, sekedar mengecek waktu. Dan setelah itu Veyra membuka whatsapp, hendak mengirim pesan pada Zavier, mengingatkannya untuk makan siang. Tapi, Veyra melihat Ardian seperti sedang membuat story baru.
Veyra lalu membuka tanpa curiga. Dan matanya langsung terpaku.
Di layar, terlihat foto Zavier, Flora, dan Ardian sedang makan siang bersama di ruangan Ardian. Flora tampak akrab berdiri di sisi Zavier, dan Ardian berada di tengah, tersenyum bangga.
Veyra terdiam. Senyum di wajahnya sirna.
Jantungnya berdebar—bukan karena takut, tapi karena rasa tak nyaman yang tiba-tiba menyelinap.
Pikiran buruk langsung menyerbu.
Baru pagi tadi Zavier mengecupnya, bilang rindu, bicara soal hubungan mereka… Tapi sekarang? Zavier bersama wanita lain. Dan terlihat akrab.
Ia menatap layar lama… kemudian mematikan ponsel. Kepalanya menunduk, menahan emosi. Benar-benar situasi yang semakin rumit. Veyra paham jika Ardian berusaha mendekatkan Zavier dengan Flora. Veyra mendadak merasa insecure dengan latar belakang Flora yang jauh segalanya daripada dirinya.
awal nya bagus, lanjut thor