Berkali-kali Velly Alexander (26 tahun) mengungkapkan perasaannya pada seorang pria. Velly tergila-gila, pada pesona seorang David Stuart (33 tahun). Yang tak lain adalah sahabat kakaknya sendiri. Berkali-kali juga, David tak peduli dengan apa, yang dikatakan Velly.
Namun seiring berjalannya waktu, Velly yang tak pernah bosan mengejar cinta David, membuat David pun semakin dekat dengan Velly. Tentu saja, awal yang indah bagi Velly. Perhatian David membuat Velly akhirnya, menganggap hubungan mereka, seperti sepasang kekasih. Sementara David, tak pernah menyatakan, bahwa hubungan mereka lebih dari teman. Pada akhirnya, entah mengapa David berusaha menghindari Velly. Membuat Velly merasakan kekecewaan lagi dan lagi. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah memang David, tak memiliki perasaan apapun pada Velly selama ini? Di kisah ini, masa lalu David dan Velly akan hadir. Apakah mereka sebenarnya berjodoh? Yuk kepoin novel ku yang kedua ini guys. Jangan lupa like dan komen nya ya. Love you readers🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Octa_since, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
“ Velly,” lirih David lagi, yang masih tersungkur. Security yang berada disitu, melihat David. Tapi, tak berani mengatakan apapun padanya. David merasakan hati nya bergemuruh.
“ Apa.. apa tadi maksudnya?” gumam David masih bingung.
“ Mundur? Benarkah?” katanya Lagi dengan hati yang terasa sesak.
Lama dia terduduk, dan memikirkan kejadian malam ini. Hati dan mulutnya berlawanan, dia merasa tak terima Velly mengatakan ingin menyerah.
“ Tuan,” akhirnya security pun menyapa tuannya itu.
“ Sebaiknya, tuan masuk ke rumah. Sebentar lagi mau hujan tuan,” kata security itu. Seketika, David langsung tersadar. Dia melihat posisinya sekarang, sedari tadi dia tak menyadarinya.
David tak menjawab security itu, lalu dia berdiri dan berjalan masuk ke rumahnya. Dengan hati yang masih bergemuruh, David melangkah pelan. Dia lagi-lagi memikirkan, perkataan Velly tadi. Lalu dia berjalan ke arah kamarnya.
Sementara, Velly yang sedang berada di dalam perjalanan, tetap menangis. Betapa berat baginya, untuk mengatakan keputusannya tadi. Tapi, entah mengapa malam ini, dia sadar kalau dia menjadi wanita, yang tidak mempunyai harga diri. Keputusan yang di katakannya, tadi adalah spontan. Dia tak pernah merencanakan, apapun sebenarnya. Akan tetapi, David yang sikapnya selalu saja membuat Velly seakan tak berharga, tiba-tiba membuat Velly harus memutuskan sesuatu.
“ Aku tak salah! Bukan aku yang meninggalkan mu! Tapi, aku hanya menuruti, apa yang kamu katakan tadi! Kamu bilang aku harus tau diri!” isak Velly sambil menyetir mobilnya.
“ Aku tak berharap, apapun lagi pada mu Dav! Aku lelah, menangis dan menggapai hatimu, semoga kamu mendapatkan cinta yang kamu inginkan.” Velly berbicara sendiri dan air matanya masih berlinangan. Jadi, kalau di tanya? Apakah sebenarnya Velly saat ini, masih mencintai David? Tentu saja jawabanya iya. Untuk ke depannya ? Kita tak akan pernah tahu.
“ Aku pasrahkan kemana takdir akan membawaku,” lirihnya lagi dan tak terasa, dia sedikit lagi akan sampai ke mansion.
*
Di apartemen Lucky..
Dua orang manusia, sedang bersama di dalam apartemen. Mereka berdua, sedang menonton televisi. Ya, sebelumnya mereka sudah makan malam, tentu saja Lucky yang menyediakan.
“ Aku sebenarnya heran, kamu tiba-tiba mau datang ke apartemen ku,” kata Lucky yang duduk bersama Agnes di sofa.
“ Beb, lusa aku akan kembali ke New york,” kata Agnes yang menyandarkan punggungnya.
“ Kamu kok baru bilang sekarang yang?” tanya Lucky yang mengerutkan keningnya.
“ Maaf ya, aku lupa kasi tau kamu,” kata Agnes tersenyum , melihat kekasihnya itu.
Ya, televisi menyala akan tetapi, mereka sebenarnya tidak benar-benar fokus menonton.
“ I will miss you,” kata Lucky membelai rambut Agnes.
“ Me too,” ucap Agnes singkat dan tersenyum lagi.
Sebenarnya, tujuan Agnes datang mempunyai maksud. Dia ingin berterus terang pada Lucky, tentang keadaan yang sebenarnya. Lucky pun mengerutkan keningnya, wajah Agnes tiba-tiba datar.
“ Are you ok?” tanya Lucky menggenggam tangan kekasihnya itu. Tentu saja, Agnes mulai merasakan berdebar.
“ Im ok beb,” jawab Agnes setengah gugup, dan itu bisa di rasakan Lucky.
“ Katakan sesuatu,” ucap Lucky pelan mengelus pipi kekasihnya itu. Agnes mulai menghela nafasnya, saatnya dia akan memberitahu.
“ Kalau aku berkata jujur, apa kamu masih mencintaiku?” tanya Agnes tiba-tiba. Lucky pun semakin bingung. Dia sungguh tak mengerti, maksud dari perkataan Agnes.
“ Tentu saja, aku mencintaimu sayang,” sahut Lucky pelan.
“ Aku sudah tak Virgin lagi beb!” seru Agnes tiba-tiba. Ya hatinya sudah siap mengatakan sebenarnya. Apakah Lucky terkejut? Tentu saja,
“ What?”
“ Aku hanya ingin berterus terang,” kata Agnes lagi dengan senyuman hambar.
Seketika, Lucky langsung memberi jarak dengan Agnes. Lucky menutup wajahnya, entah apa yang di pikirkan nya saat ini. Agnes tersenyum sinis, melihat sikap kekasihnya itu. Lalu David, melihat lagi ke arah Agnes.
“ Ceritakan!” seru Lucky dengan wajah dingin. Agnes pun gugup, baru kali ini dia melihat tatapan dingin kekasihnya itu.
“ Huff! Kamu siap mendengar?” tanya Agnes serius. Lucky tak berbicara, dia hanya mengangguk dengan wajah datar.
Lalu, Agnes pun menceritakan semua yang terjadi, pada dirinya di masa lalu. Tentu saja, Lucky pun mendengar kan dengan baik-baik, tanpa menyela sedikit pun penjelasan Agnes.
“ Begitulah! Aku hanya ingin berkata jujur,” kata Agnes memandang ke arah televisi. Lucky menghela nafasnya, dia tau bukan kesalahan Agnes, mengapa menjadi seperti itu. Tapi, dia menjadi bimbang dan seakan ragu, kalau Agnes tak pernah berhubungan dengan pria lain.
“ Benarkah hanya papa tiri mu yang menyentuh mu?” tanya Lucky dengan wajah yang mulai cuek. Seketika Agnes langsung menoleh ke arah Lucky, dia benar-benar tak menyangka, Lucky bertanya seperti itu.
“ Maksudmu?” tanya Agnes datar.
“ Bagaimana mungkin, kamu tak pernah berhubungan dengan pria lain? Hah! Sedangkan kamu, tinggal di luar negri! Kamu tinggal sendiri, tanpa ada pengawasan!” suara Lucky sudah mulai meninggi pada Agnes. Dan posisi Lucky sudah berdiri.
Sakit hati kah Agnes? Ya tentu saja! Dia teringat perkataan Velly. Ya Velly mengatakan, kalau dia berkata jujur pasti dia bisa melihat, bagaimana reaksi Lucky. Velly pun ikut berdiri, dia tak terima Lucky menuduh dengan seenaknya.
“ Hebat kamu ya! Mudah bagimu mengatakan aku seperti itu?” kata Agnes dengan penuh emosi. Lucky pun langsung mendekat, menatap tajam wajah wanita yang masih menjadi kekasihnya itu.
“ Lalu aku salah hm? Apa penilaianku salah Agnes? Katakan! Sudah berapa banyak, kamu tidur dengan pria?” bentak Lucky dengan wajah emosi. Dada Agnes pun berdenyut, dia tak menyangka Lucky mampu membentaknya.
“ Apa yang harus ku jelaskan ha? Aku sudah berkata sejujurnya Lucky!” teriak Agnes, membuat Lucky pun mencengkram dagu Agnes. Demi apapun, Agnes merasakan sakit hati yang luar biasa.
“ Lepaskan brengsek!” teriak Agnes yang matanya sudah basah. Akan tetapi Lucky yang emosinya masih di ubun-ubun, belum melepaskan cengkramanya.
“ Aku tak menyangka! Kau wanita yang sudah tak berharga lagi!” kata Lucky dengan dingin, lalu Lucky melepaskan cengkraman nya. Agnes mengepalkan tangannya, ketika Lucky berbalik membelakanginya.
“ Ya tuan Lucky! Aku wanita tak berharga! Tapi perlu kau ketahui! Aku tak pernah bersama pria manapun, sesudah papa tiri ku melecehkan ku!” teriak Agnes pada Lucky. Seketika, Lucky berbalik ke arah Agnes. Lucky tersenyum sinis pada Agnes,
“ Jalang!” seru Lucky tenang namun dingin. Agnes yang tak terima, dengan perkataan Lucky langsung menghampiri dan menampar pipi Lucky.
“ PLAKK !” Kita putus! Silahkan cari wanita baik-baik!” Kata Agnes yang tak kalah menatap dingin, pria yang ada di hadapannya itu. Sementara, Lucky mengeraskan rahangnya. Dia tak terima dengan tamparan yang di layangkan Agnes. Dan apa? Putus? Mendengar itu Lucky lagi-lagi tak menerima, padahal saat ini, dia mengatakan kekasihnya adalah wanita jalang.
“ Selamat malam tuan, aku harap kita tak akan bertemu lagi!” kata Agnes dengan tatapan benci pada Lucky, dan berbalik berjalan keluar. Apakah Lucky menerima? Apakah Lucky bahagia? Tentu tidak, walaupun mulutnya memaki Agnes, tapi hatinya tak bisa di bohongi.
“ Lepaskan brengsek!” teriak Agnes karena Lucky tiba-tiba langsung menggendongnya. Ya, entah setan apa yang merasuki Lucky, dia tiba-tiba membawa Agnes ke dalam kamarnya.
“ Turunkan aku!” teriak Agnes memukul punggung Lucky. Tentu saja, Lucky tak memperdulikan teriakan Agnes.
Lalu Lucky melempar tubuh Agnes ke ranjang, membuat Agnes menjadi semakin takut. Di ranjang, Agnes memundurkan tubuhnya, karena Lucky mendekatinya perlahan dengan tatapan aneh.
“ Ma..mau apa kau?” tanya Agnes terbata-bata. Ya Agnes sangat pucat dan ketakukan saat ini. Lucky tak menjawab, dia tetap mendekati Agnes, tubuh mereka semakin rapat. Agnes memberontak, dan ingin segera berlari, akan tetapi Lucky langsung membaringkan paksa tubuh Agnes di ranjang.
“ Awas Lucky! Aku mau pulang!” teriak Agnes berusaha mendorong dada Lucky.
Lucky tetap diam, dia langsung menimpa tubuh Agnes dan mengunci pergerakan Agnes. Tanpa aba-aba, Lucky langsung mencium Agnes dengan kasar, penuh dengan emosi dan hasrat. Sementara, Agnes tetap masih berusaha memberontak.
“ Euhmph” suara Agnes yang ingin menjerit. Akan tetapi bukannya kasihan, Lucky semakin bernafsu. Lucky menciumi leher Agnes dengan kasar, mengigit dan menyesapnya sampai memerah.
“ Lucky! Aku benci kamu!” teriak Agnes memukul punggung Lucky. Apa Lucky berhenti? Tentu tidak, dia semakin melakukan aksi gila.
“ Lepas brengsek!” Teriak Agnes ketika, Lucky berusaha melepas pakaianya. Ya akhirnya Lucky berhasil. Dengan kasar, Lucky menyesap bukit kembar Agnes.
“ Sakit Lucky! Lepas sialan!” Agnes berteriak lagi.
Sekuat tenaga, Agnes melawan tapi tetap saja, tenaga Lucky jauh lebih kuat. Setiap aksi Lucky, membuat Agnes memberontak. Setelah Lucky puas, dia pun membuka pakaiannya dan sekarang keduanya, sudah tak memakai apapun lagi.
“ Ga! Aku ga mau Lucky! Kau brengsek! Aku membencimu!”