Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Orang suruhan Kevin langsung memulai aksinya untuk mencari informasih tentang kehidupan Fa'az di masa lalu..
Sedangkan di sisi lain kebagiaan yang besar menyelimuti keluarga kecil Fa'az. Mereka tengah bersiap untuk kembali lagi ke desa. Karena keadaan bayi dan ibunya sudah sangat baik.
"Siapa nama anak kita?" Tanya Syahida.
"Syafa, Syahida dan Fa'az," ucap Fa'az.
"Aku setuju," seru Syahida.
"Syafa apa?" Tanya Kinar.
"Syafa Adiba, bagaimana?" Tanya Fa'az.
"Aku setuju," seru Syahida.
"Ibu juga," ucap Kinar.
"Halo Syafa anak ayah … kamu tidak akan merasakan kasih sayang dari orang tua yang tidak lengkap sayang, cukup ayah yang tidak dapat kasih sayang dari kedua orang tua, karena kedua orang tua ayah meninggal sayang, ayah hanya besar di panti," ucap Fa'az sambil menimang putri kecilnya.
"Syafa akan tumbuh besar dengan kasih sayang yang lengkap," Kinar mengusap punggung Fa'az.
"Terimakasih bu, berkat ketegaran ibu, seorang perempuan yang baik hati mau jadi istri seorang laki-laki tanpa keluarga ini," ucap Fa'az.
"Apa kamu bilang? Kami keluarga kamu," seru Kinar.
"Terimakasih bu, terimakasih sayang, aku sangat bahagia," air mata Fa'az menetes, mengingat masa kecilnya dulu.
"Anakku tidak boleh merasakan pahitnya tanpa orang tua, kami akan selalu berusaha bersama kamu sayang," Fa'az memeluk putrinya.
"Itu tidak akan nak," ucap Kinar.
"Titip Syafa ya bu, aku mau ambil mobil ke bengkel dulu," Fa'az memberikan Syafa kegendongan Kinar.
"Sayang, aku ambil mobil dulu," Fa'az pamit pada Syahida.
"Iya, hati-hati," jawab Syahida.
***
Fa'az pergi dari rumah sakit dan langsung menuju bengkel temannya tersebut. Setelah sampai dia langsung mencari pemilik bengkel tersebut.
"Bagaimana Bim?" Sapa Fa'az.
"Sudah oke semua Fa"az, kamu beruntung Fa'az mobil kamu yang mogok, kalau ngak, mungkin nafas kamu yang mogok,"
"Apa maksud kamu Bim?"
"Mobil kamu sengaja di rusak orang, remnya juga blong, terus bagian mesin dan aki mobil kamu juga di sabotase, kamu punya musuh?" Tanya Bima pemilik bengkel.
"Tidak Bim, kamu tahulah, aku buruh biasa bukan pengusaha besar, mana punya musuh aku,"
"Hem, gitu ya? Tapi kamu hati-hati, kamu beruntung malam itu karena mogok kalau ngak, entahlah,"
"Iya makasih Bim, aku mau balik lagi ke desa, bawa putri kecil kami kembali ke istana kecil kami,"
"Woh … istri kamu lahiran? Wah selamat Fa'az,"
***
Setelah urusan dengan bengkel selesai, Fa'az segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, untuk bersiap kembali ke desa mereka.
"Aku datang …" seru Fa'az.
"Fa'az, apa tidak menunggu seminggu lagi? Setidaknya kita menginap dulu di rumah orang tua ibu, perjalanan kita jauh Fa'az," pinta Kinar.
"Aku ikut apa kata ibu aja, tapi … pekerjaan di desa bu, aku tidak bisa lama di kota," ucap Fa'az lemas.
"Maaf bu, kurasa kami bisa melalukan perjalanan jauh, lagian aku tidak bisa tinggal di rumah kakek, bagaimana kalau besok pagi kita pulang, biar perjalanan kita bisa santai?" Usul Syahida.
Mereka semua sepakat, pulang ke desa besok pagi.
Malam harinya keluarga Kinar menengok Syahida, karena besok mereka akan berpisah kembali. Mereka semua saling melepas rindu.
***
Keesokan harinya, setelah semua pembayaran selesai, mereka meninggalkan rumah sakit dan memulai perjalanan pulang kembali ke desa mereka.
Perjalanan mereka mulus hingga sampai rumah. Namun Fa'az tidak menyadari kalau dari kota tersebut mobilnya di ikuti oleh beberapa mobil lainnya. Salah satu mobil yang mengikuti Fa'az langsung putar arah, setelah tahu di mana rumah Fa'az. Sedang mobil yang lain masih menepikan mobilnya, melihat-lihat keadaan sekitar.