Berkisah tentang Jenar Ayu Santika yang harus rela menjadi pengasuh Aiden (5 tahun). Bocah yang memiliki karakter usil dan nakal serta kecerdasan yang berbeda dengan anak yang seusianya.
Keusilan Aiden berhasil membuat Ayu kesulitan dan juga mendekatkan dia dengan Edwin (Papah Aiden).
Apakah Ayu bisa menjadi pengasuh yang baik bahkan menjadi Ibu bagi Aiden dan Istri Edwin?
Ikuti terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - PCM
“Pak Edwin, ada yang menjahiliku,” keluh Mirna.
Ayu tidak percaya dengan penampilan Mirna di hadapannya, dengan pakaian dan rambut yang basah serta make up yang berantakan.
“Mirna, pulanglah. Ini sama saja kamu permalukan aku dan perusahaan. Saat ini kamu menjadi pusat perhatian,” lirih Edwin tapi bisa didengar.
Indra memanggil seseorang dengan kode tubuhnya, kemudian membawa Mirna pergi dari tempat acara. Aiden terkekeh geli, tidak menyangka idenya sukses. Saat menoleh ke arah Ayu, ternyata perempuan itu masih menyorot tajam dirinya.
“Kenapa?” tanya Aiden.
“Apa kamu yang sudah membuat tante Mirna basah kuyup begitu?”
Aiden membuang pandangannya ke arah lain dan tidak menjawab pertanyaan Ayu. Tidak menyangka kalau ulahnya bisa terbaca, sepertinya dia harus berhati-hati karena pengasuhnya ini sudah sangat mengenal dirinya.
“Hei, aku bertanya padamu.”
“Stt, Tante Ayu sebaiknya diam atau Papa akan marah,” bisik Aiden karena acara sudah dimulai.
Di luar ballroom, Mirna yang diantar paksa keluar ruangan menghentakkan kakinya kesal karena idenya tidak berjalan sesuai rencana bahkan dia terjebak di kamar mandi.
“Siapa yang sudah berani membuatku seperti ini, aku harus cari tahu.”
...***...
Edwin sedang berbaring di ranjangnya menatap langit-langit kamar. Menghela nafas karena dia belum bisa memejamkan mata. Bukan karena lelah dengan acara ulang tahun perusahaan, tapi ada yang sesuatu yang tidak biasa dengan dirinya.
Bahkan saat ini tangan Edwin meraba dada sebelah kiri karena merasakan jantungnya berdetak tidak karuan.
“Sebenarnya, ada apa denganku?”
Bayangan Ayu memang terus menari-nari dalam benak Edwin. Moment di pesta tadi memberikan kesan yang berbeda, Ayu yang mengajak Aiden menari sungguh terlihat sangat menarik. Bukan karena Ayu terlihat seksi menggoda tapi terpancar aura penyayang dari perempuan itu yang membuatnya terlihat menawan. Bahkan Aiden juga terlihat nyaman bersamanya.
“Shittt,” maki Edwin lalu beranjak duduk. “Kalaupun aku tertarik dengan nya, jangan sampai terlihat seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.”
Edwin menurunkan kakinya dari ranjang lalu berjalan keluar kamar menuju dapur. Dia ingin mengambil minuman dingin untuk mendinginkan hatinya. Setibanya di dapur, ruangan itu gelap tapi ada sinar dari lemari es yang terbuka.
Melangkah dengan pelan, Edwin berusaha mengetahui siapa yang sedang membuka lemari es dengan tubuh membungkuk entah mencari apa.
Edwin mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung orang itu bersamaan dengan punggung yang berdiri lalu …..
“Aaahh ….” Edwin membekap mulut Ayu agar tidak melanjutkan teriakannya.
“Jangan berisik, kamu bisa membangunkan semua orang,” bisik Edwin. Ayu menganggukkan kepalanya agar Edwin melepaskan tangan dari mulutnya.
“Oh, maaf,” ujar Edwin sambil melepaskan tangannya.
“Pak Edwin, kenapa ngagetin sih.”
“Ck, aku tidak sengaja buat kamu kaget. Lagi pula sedang apa kamu di sini? Ini sudah menjelang pagi,” tutur Edwin.
“Aku ambil ini, haus banget,” jawab Ayu sambil menggoyangkan botol soda. “Pak Edwin sendiri, ngapain?”
“Sama, aku juga haus.”
Edwin dan Ayu duduk di kursi dapur saling berhadapan terhalang meja. Keduanya menikmati minuman dingin di tangan masing-masing. Edwin sempat melirik Ayu yang memakai piyama lengan pendek. Menelan salivanya saat melihat Ayu agak mendongak saat meminum soda bahkan tenggorokannya bergerak ketika minumannya tertelan.
Sepertinya aku sedang tidak waras, bagaimanapun mungkin aku memikirkan yang tidak-tidak bersama Ayu.
“Kalau sudah matikan kembali lampunya.”
“Hm. Selamat tidur, Pak Edwin,” ucap Ayu.
“Hm.”
Edwin meninggalkan dapur menuju kamarnya. Terlalu lama berdua dengan Ayu tidak baik untuk kesehatan jantung dan perasaannya.
Ayu sendiri menatap punggung tegap Edwin yang berjalan menjauh lalu kembali meneguk minumannya.
“Ganteng sih, ganteng banget malah. Tapi apalah dayaku yang hanya pengasuh anaknya. Nggak usah mimpi, Ayu. Kamu tuh Cuma bubuk nastar di toples kristalnya Pak Edwin,” seloroh Ayu seakan mengingatkan untuk sadar diri.
Sampai di kamar, Edwin mengirimkan pesan pada Indra untuk mencari tahu lebih jelas latar belakang Ayu juga keluarganya. Ada hal yang harus dia tahu lebih dalam sebelum dia benar-benar membuka hati untuk Ayu dan melakukan pendekatan.
Untuk Aiden sendiri, Edwin tidak terlalu khawatir karena yakin kalau Aiden akan sangat menerima kalau benar Edwin dan Ayu ternyata cocok satu sama lain.
“Bagaimana caranya untuk dekat dengan dia?”
Edwin bergumam, saat ini dia berbaring dengan kedua tangan dilipat di belakang kepala.
“Besok itu car free day, apa aku ajak kesana saja. Tapi bagaimana jika Aiden ingin ikut atau dia mencari Ayu. Ahhh,” pekik Edwin kemudian berbaring miring, masih dengan kegalauannya. Benar-benar bagai bocah labil yang sedang jatuh cinta.
Sedangkan di dapur, Ayu baru saja menghabiskan minumannya lalu mematikan lampu seperti yang Edwin pinta. Berjalan gontai menuju kamar, sambil memegang dadanya.
“Untuk hati dan perasaan, please be nice. Jangan mendorong untuk makin kagum bahkan suka dengan Pak Edwin, karena bertepuk sebelah tangan itu rasanya kayak makan tapi nggak minum.”
pak Edwin gercep
calon ibu & calon anak suka nge game😄