NovelToon NovelToon
A Thousand Flowers

A Thousand Flowers

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:179.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lathifah Nur

Terlahir dari keluarga sederhana tanpa ayah, Izzah tumbuh menjadi gadis tomboy, cerdas, mandiri dan multitalenta.

Sayangnya, karena trauma masa lalu, ia tak percaya cinta meski hidup dikelilingi banyak pria kaya yang diam-diam jatuh hati padanya.

Suatu hari, setelah tak sengaja ia memperoleh kemampuan khusus dan terdampar di negeri asing, ia bertemu dengan ayah kandungnya yang terkurung selama puluhan tahun. Ia pun bertekad untuk membebaskannya.

Namun, ketika ia berhasil keluar dari tempat itu dan bekerja sebagai dokter magang di Korea Selatan, ia malah dijodohkan dengan lelaki yang tak diketahui identitasnya.

Bagaimanakah kehidupan rumah tangganya setelah menikah?
Akankah pandangannya tentang cinta berubah?
Dan bagaimana pula dengan usahanya untuk menyatukan ayah dan ibunya?

Ikuti kisahnya sampai tamat ya ...
Jangan lupa dukung penulis dengan vote dan klik iklan ya 😊

Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lathifah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17. Terungkap

Pohon di tepi Danau Kembang Setaman mengeluarkan cahaya terang. Ki Daud tersenyum. Tanpa buang waktu ia langsung melompat dan menghilang ditelan cahaya itu.

Sementara itu, di kamarnya Bunda Izzah masih berdiri terpaku menatap cahaya yang muncul dari liontin miliknya. Ia mengangkat kaki hendak memasuki cahaya itu. Ragu-ragu, lalu menarik kembali sebelah kakinya yang sudah terangkat.

Bersamaan dengan itu ….

BLUB! BRUK!

Ki Daud jatuh terjengkang keluar dari pancaran cahaya. Karena terkejut dengan kemunculan Ki Daud yang tak terduga, Bunda Izzah melompat mundur, jatuh terduduk di atas ranjang.

Ki Daud segera berdiri. Untuk sesaat Bunda Izzah dan Ki Daud saling pandang, sama-sama melongo, tak percaya. Tanpa sadar Ki Daud dan Bunda Izzah saling memanggil nama.

“Rahmi!”

“Mas Daud!”

Sedetik kemudian Ki Daud dan Bunda Izzah sama-sama bergerak, memangkas jarak di antara mereka. Ki Daud memeluk Bunda Izzah erat. Menumpahkan segenap kerinduan yang terpendam selama puluhan tahun.

Bunda Izzah menangis dengan perasaan campur aduk. Rindu, cemas, dan harapan menyatu dalam kehangatan dekapan Ki Daud.

Ki Daud membiarkan Rahmi, wanita yang sangat dicintainya itu, meluapkan semua emosinya.

Tiba-tiba bayangan Izzah menyadarkan Ki Daud. Ia segera melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku Rahmi. Aku tidak bisa mengontrol diri. Aku tidak bermaksud membuat suami barumu cemburu,” kata Ki Daud dengan suara bergetar.

Rahmi menatap Ki Daud tak mengerti. “Apa maksudmu, Mas?”

“Bukankah kau telah menikah lagi setelah berhasil keluar dari Negeri Seribu Bunga?” tanya Ki Daud. “Pantas saja kau tak pernah kembali.” Ki Daud menahan kesal. Perasaan getir menghinggapi hatinya ketika mengucapkan itu.

Rahmi menatap lekat mata Ki Daud. Air matanya masih mengalir.

“Kamu keliru, Mas.” Rahmi menggeleng lemah, membantah ucapan Ki Daud.

Ki Daud memegang pundak Rahmi dan menantang bola matanya. Tak mengerti.

“Jelaskan Rahmi! Jangan buat aku semakin bingung! Bagaimana bisa kau melahirkan seorang anak perempuan tanpa suami?” Ki Daud menuntut penjelasan Rahmi. Ia berusaha keras mengontrol emosinya.

“Kamu sudah bertemu dengannya, Mas? Izzah benar-benar berada di Negeri Seribu Bunga?" Mata Rahmi berkilat.

“Ya. Begitu melihatnya aku langsung mengenali kalau dia anakmu. Dia bahkan juga mewarisi kemampuanmu,” jawab Ki Daud sambil mengusap air mata di pipi Rahmi.

“Karena itukah kau sampai rela membahayakan dirimu sendiri?”

Ki Daud mengangguk, karena memang itulah satu-satunya alasan yang mendorongnya untuk melakukan hal gila itu.

Rahmi menghela napas. “Dia … anakmu, Mas. Buah cinta kita.”

“Apaaa?” Ki Daud kaget. Matanya menatap Rahmi liar.

“Bagaimana bisa kau menyembunyikan dia dariku selama ini?” Emosi Ki Daud serasa akan meledak. Ia berjuang keras mengendalikan diri. Di sisi lain, perasaan aneh menyelimutinya,

“Maafkan aku, Mas. Aku tidak pernah berniat untuk membohongimu. Saat aku memutuskan keluar dari Negeri Seribu Bunga, aku juga tidak tahu kalau aku sedang mengandung.” Rahmi kembali sesenggukan. Ki Daud diam.

“Aku tahu, aku salah. Kamu berhak marah dan membenciku, Mas. Tapi … aku mohon … selamatkan Izzah! Dialah sumber kekuatanku selama ini, Mas.” Rahmi bersimpuh di kaki Ki Daud.

Ki Daud meneteskan air mata. Hatinya luluh. Ia tahu betapa berat beban hidup yang ditanggung Rahmi selama ini tanpa kehadirannya.

Diraihnya kedua pundak Rahmi, membantunya berdiri. Diusapnya air mata Rahmi dengan lembut dan penuh kasih. Ki Daud dan Rahmi kembali hanyut dalam pelukan rindu.

Setelah Rahmi lebih tenang, Ki Daud kembali membuka percakapan.

“Lalu … kenapa kau tidak pernah mengunjungiku? Padahal, kau masih memegang salah satu kunci gerbang Negeri Seribu Bunga.” Ki Daud bertanya tanpa melepaskan pelukannya.

“Maafkan aku, Mas. Saat aku pergi, negeri itu sedang kacau. Aku terlalu takut untuk kembali. Aku tidak sanggup menghadapi kenyataan terburuk yang mungkin terjadi padamu,” jawab Rahmi mengungkapkan perasaannya.

“Tapi, sekarang aku berdiri tepat di depanmu,” balas Ki Daud, tersenyum.

“Aku menyesali kebodohanku, Mas.” Rahmi tertunduk malu.

“Sudahlah. Lupakan semua yang sudah berlalu! Sekarang yang terpenting adalah memikirkan cara agar Izzah bisa keluar dari sana. Aku khawatir daya tahan tubuhnya akan semakin melemah.” Ki Daud memapah Rahmi duduk di tepi ranjang.

Selama beberapa waktu, Ki Daud dan Rahmi berbagi kisah tentang perjalanan hidup masing-masing saat mereka hidup terpisah. Rahmi terus menyesali diri. Ketakutannya akan sesuatu yang belum pasti membuatnya kehilangan kesempatan menikmati hari-hari indah dan kehangatan sebuah keluarga yang lengkap.

Rahmi merasa berdosa telah merampas kebahagiaan masa kecil anak-anaknya, terutama Izzah. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Masa lalu tak akan pernah kembali. Yang perlu dilakukan saat ini hanyalah memaafkan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, menjalani kehidupan masa kini sepenuh hati serta tetap fokus pada masa depan.

Sisa-sisa purnama mulai menghilang di langit pagi. Ki Daud undur diri. Rahmi mengambil liontin yang masih tergeletak di atas lukisan, lalu menyerahkannya kepada Ki Daud.

“Bawa ini bersamamu, Mas! Serahkan pada anak kita! Aku sudah tidak membutuhkannya.” Rahmi memasukkan liontin itu ke dalam genggaman tangan Ki Daud.

Ki Daud tidak bisa menolak. Ia tahu, hanya benda itu yang dapat membawa Izzah kembali ke dunianya.

Ki Daud menempelkan liontin yang dipegangnya pada lukisan pohon di tepi danau. Serta merta cahaya terang kembali muncul. Bersamaan dengan hilangnya cahaya menyilaukan itu, Ki Daud pun menghilang dari pandangan Rahmi.

***

Dimas duduk di ruang kerjanya, membaca hasil uji fitokimia teh yang dikonsumsi Tiara. Ia menggeram marah.

“Sial! Siapa yang berani meracuni kakakku?” maki Dimas, lalu menekan telepon di atas meja.

Kriing … kriiing ….

“Ya, Bos,” terdengar suara di seberang telepon

“Selidiki bagaimana paket teh yang dikirim kepada Kak Tiara bisa diganti,” perintah Dimas kepada sekrestarisnya.

“Siap, Bos.” Telepon ditutup.

Dimas buru-buru meninggalkan ruang kerjanya. Ketika melewati ruang kerja sekretarisnya, ia melihat pintunya sedikit terbuka, tanda Abbas masih berada di ruang itu. Dimas melongokkan kepala di celah pintu.

“Bas, aku ke rumah sakit dulu. Segera laporkan apa pun hasil penyelidikanmu, oke!” Dimas pamit.

“Baik, Bos. Aku sudah memerintahkan beberapa intel kita,” jawab Abbas.

“Mau kuantar?” Abbas menawarkan jasa.

“Tidak usah. Selesaikan saja tugasmu. Hubungi aku kalau ada hal penting!” Dimas menolak tawaran Abbas dan bergegas pergi. Abbas mengacungkan jempol.

Setibanya di rumah sakit, Dimas langsung menuju ruang VIP. Begitu memasuki ruangan, Nyonya Prasetyo menyambut Dimas dengan tangis. Dimas memeluk mamanya, berusaha menenangkannya.

Tiara masih belum sadar. Izzah duduk di kursi di samping Tiara. Terdengar suara pintu dibuka. Tuan Prasetyo melangkah masuk. Nyonya Prasetyo melepaskan pelukan Dimas, menyongsong suaminya dengan wajah khawatir.

“Apa kata dokter, Pa?”

“Tidak perlu cemas, Ma. Tiara akan baik-baik saja. Untung gejalanya cepat terdeteksi dan Tiara cepat dibawa kemari,” jawab Tuan Prasetyo menenangkan istrinya.

“Syukurlah kalau begitu.” Nyonya Prasetyo menarik napas lega.

Tuan dan Nyonya Prasetyo mendekati Tiara. Izzah segera berdiri.

“Terima kasih, Izzah. Kalau tidak ada kamu, Tiara mungkin tidak akan bisa diselamatkan,” ujar Tuan Prasetyo

“Tidak perlu berterima kasih, Paman. Saya hanya perantara saja. Hakikatnya, Allah-lah yang menyelamatkan Kak Tiara.” Kata-kata Izzah terdengar sangat menyejukkan di hati Tuan dan Nyonya Prasetyo.

Nyonya Prasetyo memeluk Izzah. Izzah membalas pelukan Nyonya Prasetyo dan menepuk punggungnya pelan.

“Ternyata Izzah tak sedingin yang terlihat. Hatinya justru penuh kehangatan,” puji Dimas dalam hati, melihat adegan mesra mamanya dan Izzah seraya tersenyum kecil. Hatinya ikut merasa hangat.

***

1
Knight
Ceritanya menarik. Alurnya yang tak bisa ditebak selalu memberikan banyak kejutan. Saya tidak pernah bosan mengulang membaca cerita ini. Karya pertama May Ersa yang telah berganti nama pena menjadi Lathifah Nur. Coba karya lainnya jg tayang di sini, bukan di sebelah 😁
Mus Limah
sudah ku baca berkali2 tp nda ada bosennya,ku tunggu karya selanjutnya thor
Knight: Hehe. Sama. Aku jg suka sama karya author ini. Tp authornya udah gak nulis di sini lagi. Pindah ke sebelah dgn nama pena yg beda. Jd Lathifah Nur authornya setelah kabur dr sini
total 1 replies
Dessy Laela
suka dgn ceritanya👍, semangat thor u cerita selanjutnya💪
May Ersa: Makasih, Kak Dessy 🥰 Yuk baca cerita May lainnya di aplikasi N0v3lm3 atau N0v3laku. Cari aja nama pena Lathifah Nur. Bisa jg follow IG @lathifahnur117 dan cek di link bio. Tinggal pilih mau baca cerita yg mn dl. Sdh ada 2 cerita lain yg tamat lho 😊
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
Susi Ana
jempol hadir, mampir yuk
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
~Nessa
Hadir
jangan lupa selalu mampir di karyaku ya!
makasih.
May Ersa: Mksh, Kak Nessa. Cerita Kk apa?
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
May Ersa: Mksh, Kak Susi 🥰
total 1 replies
Imah Muslimah
kok baca d sini aq mlh bingung ya thor..nda kayak d noveltoon yak..padahal sama dr mangatoon juga..tp setiap kluar dr bacaan trus masuk lagi..ada aja episode yg tau2 brubah
May Ersa: Mksh, Kk. Kalo Kk punya aplikasi N0v3lM3 atau N0v3l4ku, silakan cari nama pena Lathifah Nur, Kak. udah ada bukuku yg udah tamat jg di sana. Judulnya Lelaki Penakluk Nona Muda. Yg ongoing jg ada 😊. Ditunggu kehadirannya ya, Kak 😊💞
total 3 replies
Ahmad Nur
Mantap jiwa
May Ersa: Terima Kasih, Kk. Klo Kk jg baca di apk sebelah (N*velMe), monggo mampir jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" 😊
total 1 replies
May Ersa
Hai semua...
Maaf ya. udah lama gak up cerita di sini. Bukan berhenti nulis sih, tapi aku hijrah ke lapak sebelah (N*velMe) dengan nama pena yg berbeda (Lathifah Nur).

Udah ada cerita baru di sana, judulnya LELAKI PENAKLUK NONA MUDA. Kalo sobat readers jg punya aplikasinya, kutunggu komen sobat readers di cerita terbaruku 😊
Adining Wuri Kartika
Hai kak,.mampir juga yuk keceritaku.kisah Alia
Blue
syuukkaaa thoor
May Ersa: Makasih, Kk. Klo kk jg suka baca di apk N*velMe, boleh jg baca karya terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Yunita_Ratsa
Hai baca *DUA RANJANG* yuuuk

Ceritanya siap mengaduk-aduk emosimu

❤❤❤❤❤❤❤
Harlindah Mdf
keren.. kyk negri dongeng.. sy syukaa
May Ersa: Makasih, Kk. Klo Kk jg punya Apk Nov*lMe boleh jg baca novel terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" dgn nama pena Lathifah Nur 😊🙏
total 1 replies
Ema Lubis
wauwww
May Ersa: Makasih, Kak 😘
total 1 replies
Ema Lubis
nnti aku mampir thor
May Ersa: Sip! Mksh, Kak. Ditunggu loh... 😊
total 1 replies
TiansePrln🌷
Keren😻😻 kalimat2 nya suka sekali. Terus semangat berkarya 💌💌
May Ersa: Mksh, Kak. Senang Kak Tian merasa terhibur dgn ceritaku. Baca jg novelku yg lain ya, Kak. Boleh jg intip apk sebelah, N*velme, dan nikmati cerita terbaruku "LELAKI PENAKLUK NONA MUDA" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
Sugiatini
kereennn...
May Ersa: Makasih, Kak. Baca jg novelku lainny ya... klo kk punya apk N*velMe, bisa baca karya terbaruku berjudul "Lelaki Penakluk Nona Muda" (dgn nama pena yg berbeda) 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!