Follow IG ; Vi_via129.
Alana adalah gadis yang baik hati dan cerdas. Tapi karena keloid di wajahnya dan penampilannya yang aneh membuat ia sering di bully di sekolah dan lingkungan tempat dia tinggal. Bahkan saudari kembarnya pun ikut-ikutan membullynya.
Hingga suatu hari pembullyan itu menyebabkan Alena saudara kembarnya koma dan Alana yang harus menanggung biaya perawatan Alena.
Sadar ia tidak memiliki apapun dan akan semakin menyulitkan hidupnya jika ia terus berhutang kepada sahabatnya. Alana memutuskan untuk menerima tawaran sahabatnya Naya untuk menikah dengan Pamannya yang terkenal dengan kata kejam, sadis dan tak punya hati. Dengan harapan ia dapat mengubah takdirnya.
Sanggup seorang Alana mengubah takdirnya menjadi lebih baik? Dan bagaimana cara dia menghadapi, pria tak berhati yang terkenal sadis dan kejam itu? Kepo in yuk.🤗🤗
Mengandung sedikit bumbu panas-panas.🤗🤗 Harap bijak dalam memilih bacaan.😘😘 follow IG vivia129. untuk visual dan segala informasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke rumah.
selesai mengunakan pakaian kasual nya, Saddam keluar dari walk in closed dan mendapati sandrina tengah duduk sambil memangku salah satu kakinya, menunggunya ia keluar.
" Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Saddam sambil berjalan ke arah ranjang untuk mengambil ponsel dan dompetnya, yang ia letakkan di atas nakas.
Sandrina menurunkan salah satu kakinya, kemudian menghampiri Saddam." Karena aku sedang menunggu." Jawab sandrina, sembari menadakan tangan kanannya kepada Saddam.
Saddam menaikkan kedua alisnya, bingung dengan apa yang di lakukan kakaknya itu. " Apa?" Tanya Saddam tidak mengerti maksud sandrina.
" Kamu sudah berjanji untuk memperlakukan Alana dengan baik dan menganggapnya sebagai istri, bukan. Jadi sudah sepatutnya kamu memenuhi kebutuhan hidupnya. sini salah satu kartu kamu." Mendengar kata-kata sandrina, membuat Saddam tertawa.
" Hahahah. Kamu yang benar saja sandrina ! Aku sudah berjanji untuk bersikap baik kepadanya di hadapanmu, harusnya kamu bersyukur, aku sudah bermurah hati kepadanya dan sekarang kamu ingin memeras aku untuk memenuhi kebutuhannya. Oh tidak, kamu sungguh keterlaluan kepada aku adikmu ini, Sandrina ." Sahut Saddam, mendramatisir keadaan.
" Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut kamu, sebab ini sudah menjadi tanggung jawab seorang lelaki, kecuali kamu mau di bilang lelaki tidak tahu bertanggung jawab." Sahut sandrina.
" Ciihh, merepotkan sekali! Lagian apa untungnya buat aku. Memenuhi kebutuhan wanita itu. "
" Dia akan sangat menguntungkan buat kamu, jika kamu tahu artinya bersyukur dan menghargai apa yang kamu miliki saat ini." Tegas sandrina. Wanita itu sedikit kehabisan kesabarannya menunggu Saddam memberikan apa yang dia minta. Sehingga tanpa izin dari sang adik, Sandrina langsung merampas dompet dari tangan Saddam kemudian mengambil dua kartu yang tersemat di dalam sana dan semua lembaran uang seratus ribu yang Saddam punya . Kemudian mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya." Kalau kamu mau pergi sana pergi, aku tidak akan menahan kamu." Usir sandrina sambil mendorong tubuh Saddam keluar dari kamar setelah mendapatkan apa yang dia mau.
" Baiklah aku pergi. Urus saja adik iparmu itu dengan baik, begitu waktunya tiba aku akan menagih semua yang telah dia pakai dari ku. " Ucap Saddam terdengar begitu ambigu tapi sandrina mengerti apa yang di maksud adiknya.
Sepeninggalan Saddam, sandrina kembali mengetuk pintu kamar mandi." Al keluarlah, jangan terlalu lama berendamnya nanti kamu sakit. "
" Iya tante, Al bentar lagi keluar kok." Sahut Alana dari dalam sana. Membuat sandrina bernafas lega.
" Ya udah, tante tunggu di bawah ya! Jangan lama-lama."
" Iya tante." Setelah mendengar sahutan dari Alana, Sandrina pun meninggalkan kamar Saddam.
Beberapa saat kemudian, Alana keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat begitu sebab! Karena sejak tadi ia hanya menangis dalam diam.
Alana mengambil pakaiannya yang ia rasa cukup tertutup kemudian memakainya. Ia menyisir rambutnya, yang belum kering sepenuhnya, menggosok salep pada jidat ya, kemudian keluar kamar, setelah memastikan penampilannya di cermin.
Alana menghampiri Tante Rina yang sedang bersantai di temani Naya yang masih mengunakan baju tidurnya.
" Tante, maaf ya Al bangunnya terlambat lagi." Ucap Alana sedikit tak enak hati kepada tante Rina.
" Nggak papa kok, tante juga paham kamu pasti kecapean, lagian inikan perjalanan pertama kamu. Sini duduk." Sahut tante Rina, sambil menepuk sofa tepat di sampingnya." Kamu itu, sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Kamu nggak boleh sungkan jika ingin melakukan atau meminta sesuatu kepada tante mau pun anggota keluarga yang lainnya." Lanjutnya lagi sembari mengusap rambut Alana begitu Alana duduk di sampingnya.
" Terima kasih tante. " Ucap Alana. Kedua matanya mulai berkaca-kaca karena ini pertama kalinya bagi Alana, merasakan kehangatan keluarga. Walaupun sikap Saddam sangat menyakitkan bagi Alana, tapi kebaikan sandrina mampu membuat Alana melupakan kekejaman suaminya. Ketika bersama kakak iparnya itu.
" Sama-sama sayang. Ini tadi di titipkan Saddam untuk kamu." Sahut tante Rina kemudian menyerahkan dua kartu yang dia ambil dari Saddam beserta uangnya. " Kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal pakai ini saja."
" Maaf tante, tapi Alana nggak bisa terima ini. " Tolak Alana.
Naya yang sejak tadi diam pun angkat bicara saat mendengar penolakan Alana. " Al..! Ambil itu hak kamu, kamu sudah seharusnya mendapatkan itu sejak awal menikah dengan pamanku." Ujarnya, tapi Alana terlalu takut untuk berurusan lagi dengan Saddam.
" Nggak Nay, tante aku nggak bisa terima itu. Lagian Al juga nggak tahu cara pakainya gimana. Bagaimana kalau aku tidak sengaja mematahkan atau merusaknya." Tolak Alana lagi, kali ini ia mengunakan alasan yang terdengar cukup masuk akal menurut Alana.
Sementara tante Rina masih terus mendesaknya." Ambillah Al, kamu tidak perlu khawatir soal itu, Karena Naya yang akan mengajarkan kamu nanti. " Naya pun membenarkan apa yang di katakan mamanya.
Tetapi Alana dengan tegas menolak hal itu. " Tetap aja tante, Al nggak bisa." Pada akhirnya Tante Rina dan Naya mengalah dengan syarat Alana harus mengambil uang kes yang di berikan tante Rina dan Alana pun setuju.
Mereka bertiga, bercerita dan tertawa di ruang keluarga itu cukup lama, hingga Alana meminta izin untuk menjenguk Alena dan Ibunya. Tante Rina pun mengizinkannya. Sebelum Alana pergi, tante Rina memberikan dia kotak kecil, berisi kulit yang menyerupai keloid milik Alana. " Pakailah itu, saat kamu ingin mengunjungi ibu kamu." Alana mengangguk setelah tante Rina menjelaskan cara pakainya kepada Alana.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tepat jam dua belas siang Alana, tiba di rumah sakit dimana Alena di rawat. Melihat kedatangan Alana, sikap ibunya masih sama tidak suka dan seperti biasa akan mengeluarkan kata-kata yang begitu menusuk hatinya.
" Ngapain kamu disini? Kalau kamu tidak kerja hari ini, sebaiknya kamu pulang cuci pakaian kotor ibu dan jangan lupa untuk membesarkan rumah yang begitu berantakan karena terlalu lama kamu tinggal." Titah mamanya dengan kata-kata sindirannya." Sana pergi, kehadiran kamu tidak di butuhkan disini." Usir wanita itu.
Alana yang saat itu benar-benar lelah dan merasa sakit di tubuhnya memilih meninggalkan ibunya dan Alena, karena yang terpenting baginya. Alena dan Ibunya baik-baik saja dan sehat.
Setibanya di depan lorong yang akan menuju ke arah rumahnya , Alana singgah terlebih dulu di kios yang berada tak jauh dari lorong itu untuk membeli mie instan, telur dan beras.
Setelah itu Alana, meneruskan langkahnya kembali ke rumah. Setibanya di rumah, alana membukakan pintu kemudian Masuk dan meletakkan belanja di di dapur, Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya dan Alena, meletakkan tasnya disana kemudian kembali ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang sebelumnya dia beli di kios tadi untuk makan siangnya, mengingat sejak pagi ia belum menyentuh makanan apapun.
Selesai memasak ala kadarnya, Alana langsung membereskan rumah rumahnya kemudian mencuci pakaian kotor ibunya. Setelah pekerjaannya selesai Alana berbaring di kamarnya dan ia pun tertidur.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💝💝...