Arsel, pria tampan yang kini menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan sukses milik keluarganya. Ia adalah pria yang memiliki 1 anak, eits walau pun begitu Arsel bukan duda loh.
Seperti alasan umum, ia terjerumus dalam ruang pertemanan yang salah.
Namun, hidupnya benar benar berubah kala ia dijodohkan oleh sang papa dengan alasan cukup umur. Betapa tidak percayanya, ternyata dirinya dijodohkan oleh wanita yang ditemuinya di toko kue miliknya dengan nama anaknya.
***
Dalam masa perevisian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Arsel, Riko dan Ron, pelayan pribadi Arsel yang setia menemaninya dimana pun dia berada kecuali dikamar dan dikamar mandi.
Ketiganya bergegas menuju hotel dimana akan dilaksanakannya sebuah bisnis besar besaran. Arsel memasuki Hotel terkenal karena pelayanannya ini bersama Riko dan Ron. Baru saja masuk, udara dingin sudah menerpa tubuh mereka. Para pelayan juga sudah menyambut para pengunjung ruangan lantai dasar hotel.
...***...
Hampir 2 jam mereka membahas bisnis yang harus ditangani dengan serius. "Kalau begitu saya akan menerima tawaran kerjasama nak Arsel." Putus Pak tua Gerga yang merasa kagum dengan penjelasan Arsel. Mereka berjabat tangan setelah melakukan negosiasi yang panjang.
"Oh ya nak Arsel. Kenalkan, dia anak perempuan saya Venika Gerga. Semoga nak Arsel dan Veni mempunyai hubungan yang baik." Ujar Pak tua Gerga memperkenalkan anak perempuan semata wayangnya kepada Arsel.
Penjilat. (Batin Arsel)
Veni bisa dipanggil seperti itu, mempunyai perawakan yang cantik, tubuh layaknya gitar spanyol, sexy dan tinggi semampai. Kulitnya juga putih dengan mata berwarna hitam legam... mungkin memakai soflen?.
Biasanya Arsel akan menegang namun untuk kali ini tidak, dia tidak tau mengapa? Lagipula Arsel akan bermain bersama wanita penghibur bukan anak rekan bisnisnya.
"Hai tuan Arsel saya Veni." Perkenalan wanita sexy itu dengan suara yang dimanjakan namun tidak membuat Arsel tidak tergoda, sekali lagi dia tidak tau kenapa.
"Arsel." Balas Arsel dingin namun berusaha dilembutkan. Veni dengan lancang duduk dipangkuan Arsel tanpa malu, itu membuat Arsel sangatlah marah namun berusaha dia tenang agar kerjasama ini tidak dibatalkan. Sedangkan Pak Gerga tidak merasa keberatan sama sekali.
"Apakah Tuan Arsel sibuk sore ini?."' Tanya Veni dengan sengaja menggesek tubuh bagian depannya ke dada Arsel untuk menggoda lelaki yang sudah beristri itu.
"Ya." Jawab Arsel cuek. Tentu saja dia sibuk.
"Tuan Arsel adalah CEO bagaimana seorang CEO punya waktu senggang? Ini masihlah jam 4. Apa Tuan Arsel bisa menemani saya menikmati kue yang manis?." Veni dengan lancangnya membelai pipi Arsel lembut membuat pria itu marah bukan tergoda.
"Turutilah nak Arsel." Ucap Pak tua Gerga dengan tenang.
Apakah wanita ini tidak bisa diam? Jika bukan karena kerjasama tidak akan aku menyetujui permintaam kalian. Dan dimana Riko bajingan itu? Apa dia menjadi bodoh karena belum mendapatkan gaji? Sialan. Umpat Arsel geram dan akhirnya dia mengiyakan ajakan wanita rubah licik didepannya.
...***...
"Tuan Arsel kita makan ditoko itu aja." Putus Veni sepihak, Arsel menimbang nimbang untuk menyetujui. Akhirnya Arsel mengiyakan permintaan wanita sok manja disebelahnya. Cantik, namun Arsel tidak menyukai seorang penjilat. Apalagi menjilat dirinya karena harta dan kekuasaan.
"Mbak." Panggil Veni kepada salah satu pegawai toko.
Arsel lebih baik tidak melihat wajah penuh make up milik wanita didepannya. Arsel merasa hanya istrinya mungkin yang tidak memakai make up setebal itu didepannya bahkan dia tidak memakai make up sama sekali diluar rumah.
Arsel lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah jendela. Lebih baik dia melihat pemandangan diluar jendela dimana terdapat banyak orang yang berlalu lalang melewati toko kue miliknya ini.
"M-mas? Mas mau pesan apa?." Tanya pelayan tadi lirih membuat Arsel menegang merasa familiar dengan suara itu. Tidak mungkin itu Arin-kan? Kebetulan yang tidak biasa.