Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolos Desakan
Pukul setengah 6 pagi, Bunga terbangun dari tidurnya, perlahan matanya mulai terbuka, gadis itu menaikan sebelah alisnya mendapati kamar asing yang ia tempati.
"Diman?" ucapan Bunga terhenti kala menyadari jika dia berada di kamar yang pernah ia tempati sebelumnya.
"****," umpat Bunga tersadar.
Dengan gerakan cepat Bunga beranjak dari ranjang kamar Bian. Lalu keluar untuk pergi dari tempat itu. Tetapi pemandangan pagi hari ini membuat langkah Bunga terhenti, niat awalnya yang ingin pergi dengan tujuan agar tidak bertemu Bian malah kini ia lupakan.
Bunga berdiam diri memperhatikan Bian yang sedang meninju samsak di depannya. Bahkan keringat mulai bercucuran di tubuh lelaki tampan itu, yang sialnya baru Bunga ketahui jika Bian memiliki tubuh yang sangat indah.
Glek
Susah payah Bunga meneguk ludahnya, melihat tubuh sexy laki-laki sudah sering, tetapi itu untuk ukuran lelai dewasa seperti punya Om Praja misalnya, tetapi untuk lelaki yang seumuran dengannya, untuk yang pertama kalinya Bunga melihat tubuh indah itu, dan itu tubuh Bian.
Merasa ada yang memperhatikan membuat Bian menghentikan aktifitasnya, cowok itu melepas sarung tangan yang tadi dikenakan olehnya. Langkahnya mendekat dimana kini Bunga berada.
"Udah bangun?" tanya Bian membuat Bunga tersadar.
"Gu-gue kenapa bisa di sini-lagi?" tanya Bunga membuat Bian tersenyum miring, senyum yang terlihat meremehkan.
"Lo mabuk dan hampir di-"
"Stop, thank," potong Bunga membuat Bian mengangguk.
Setelah mengatakn itu Bunga berniat untuk keluar dari apartemen Bian, dekat dengan Bian entah kenapa membuat Bunga merasa aneh, Bunga ingin mengatakan ini, tetapi mulutnya seakan terkunci.
"Kenapa berhenti?" tanya Bian melihat Bunga yang berhenti tepat di depan pintu apartemennya.
"Tolong bukain," jawab Bunga tanpa menoleh ke arah Bian.
Sumpah, Bunga tidak mau melihat tubuh Bian yang masih dibiarkan terbuka begitu saja. Bunga tidak ingin membuat otaknya semakin kurang ajar memikirkan cowok itu.
Setelah menaruh gelas yang baru saja diminum olehnya. Bian melangkah maju, aroma min dari tubuh Bian dapat dirasa oleh Bunga, padahal laki-laki itu baru saja berolahraga, tetapi harum tubuhnya tetap terjaga.
"Saran, jangan pergi ke klub sendiri lagi," ucap Bian membuat Bunga menatap Bian, tetapi gadis itu tidak menjawab dia langsung keluar dari apartemen.
Bian berniat untuk bersiap-siap ke sekolah. Ekor matanya menangkap ponsel genggam milik Bunga yang tertinggal.
"Dasar pelupa," gumam Bian mengambil ponsel milik Bunga. Dia tidak berniat membuka atau mencari tahu isi ponsel gadis itu. Tetapi notifikasi dari salah satu teman sekelasnya membuat Bian penasaran.
Dengan pertimbangan yang cukup, akhirnya Bian membuka notif yang masih terlihat di layar depan ponsel Bunga. Seketika mata Bian memanas melihat foto yang baru saja dia buka. Keringat mulai bercucuran melihat tubuh sexy bunga yang hanya dibalut oleh kain transparan tanpa dalaman.
Bintik hitam dari dada Bunga dapat terlihat. Bahkan terlihat sangat menantang. Dengan perasaan yang berkecamuk Bian meremas ponsel milik Bunga. Entah kenapa dia tidak suka dengan foto tersebut. Terlebih pesan yang Deni kirimkan sangat menggoda sekali.
Deby
Queen sekseh... pemersatu daddy nakal
"Fine!" geram Bian dengan sudut bibir sedikit tertarik ke atas.
Bunga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia baru tersadar jika ponsel miliknya tidak ada, Bunga pikir tertinggal di mobil, tetapi ia salah karena di dalam mobil juga tidak ada ponsel miliknya. Hanya tas kecil yang tadi malam dia bawa.
"Dimana sih ponsel gue?" gumam Bunga seraya masih mencari-cari ponsel genggam miliknya.
"Ini kan yang lo cari?" tiba-tiba Bian datang dengan seragam lengkap di depannya.
Bunga mendongak, lalu membuka pintu mobil miliknya.
"Maka-" ucapan Bunga terhenti saat Bian kembali menjauhkan ponsel miliknya.
"Gue bakal balikin ponsel lo, berangkat bareng gue!" ucap Bian membuat Bunga menghela napas.
Tetapi Bunga ya Bunga, gadis yang tidak mau mengambil panjang masalah, hanya berangkat bersama dengan Bian tidak masalah.
"Lo nggak ada cewek kan?" tanya Bunga sebelum masuk ke mobil Bian.
Bian melirik, lalu menggeleng sebagai jawaban.
"Bagus, gue cuma nggak mau dibilang pengganggu," lanjut Bunga masuk ke dalam mobil Bian.
Ada seringai dari wajah Bian mendengar penyataan Bunga barusan. Tetapi dengan segera Bian masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran apartemen.
Sekitar 10 menitan mereka di perjalanan. Bunga baru tersadar jika jalanan yang mereka lalui bukan menuju ke sekolah.
"Si*l, lo bawa gue kamana?" tanya Bunga tetapi tidak ada jawaban dari Bian.
Gadis itu menghela napasnya, Bian memang tidak dia mengerti, tindakannya selalu membuat Bunga harus berpikir dengan keras.
"Oke, setidaknya gue bolos bukan karena kemauan gue," lanjut Bunga lalu bersandar di kursi.
Percuma juga dia bertanya dengan Bian, karena cowok itu tidak akan menjawab pertanyaannya, untuk kabur dari mobil Bian juga tidak mungkin Bunga lakukan, Bunga bukan gadis yang mengambil pusing untuk segala sesuatunya.
Sampai sekitar 20 menitan mobil Bian mulai memasuki perkebunan teh. Bian membawa Bunga ke puncak.
"Pakai seragam SMA tapi ke tempat kek ginian," komentar Bunga.
"Pengen ke hotel lagi?" tanya Bian yang sedari tadi baru mengeluarkan suaranya.
Bunga mendengus. "Elah perkara ponsel doang ribet," jawab Bunga lirih, tetapi masih dapat didengar oleh Bian.
Sampai pada akhirnya mobil Bian berhenti di depan sebuah vila. Bunga melihat ke sekeliling, memang sangat nyaman dan sejuk di sana, tetapi masalahnya dia datang bersama cowok aneh seperti Bian, jika saja Om Praja, mungkin Bunga akan langsung memeluk dan menggodanya dengan hawa sejuk seperti saat ini.
Seru nih *kalau kapan-kapan ajak Om Praja ke sin*i batin Bunga berniat.
"Ini vila gue," ucap Bian.
Gue ralat ucapan gue barusan
Keduanya masih berada di dalam mobil. Lalu Bunga menatap Bian dengan tangan mengadah. "Udah kan? mana ponsel gue?"
Bian mengangguk kecil. Lalu menoleh ke arah Bunga yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Gue ada pertanyaan buat lo."
"Oke," jawab Bunga singkat.
"Ini...untuk apa?" Bian memperlihatkan foto Bunga yang terlihat begitu nakal.
Seketika Bunga terkejut, dia baru inga jika Deni mengatakan akan mengirimkan fotonya nanti setelah mencuri dari salah satu Om yang pernah tidur bersama dengan Bunga. Dan Deni berhasil akan itu, tadi malam cowok gemulai itu mendesak untuk menggantikan Bunga yang kembali ijin.
"Lo-udah lancang," jawab Bunga kesal.
Bian terkekeh. "Tinggal jawab aja sih!"
Bunga menatap Bian dengan penuh arti. "Kenapa? lo mau juga foto itu? atau lo pengen lihat secara langsung?" tanya Bunga seraya membuka kancing seragam teratasnya.
Deg
Bian menatap Bunga tidak habis pikir. Gadis macam apa sebenarnya Bunga ini? Bunga terlalu berani dan penuh rahasia di dalam hidupnya.