😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Salah Sangka
Fani langsung berdiri dan hendak pergi dari sana, tetapi Dimas menarik tangan Fani dengan spontan, sehingga membuat Fani terjatuh ke pelukannya.
Jantung Fani benar-benar ingin melompat rasa nya, namun tubuhnya seperti tak bisa digerakkan. Ia kelu dan mematung di sana.
"Saya tau ini lancang dan terkesan kelewat batas, bahkan mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Saya suka sama kamu." Tutur Dimas sambil memandang Fani dengan tatapan penuh cinta,tangannya masih menggenggam kuat pergelangan lengan Fani.
Ia tau ini terlalu cepat dan mendadak, tapi ia juga tak menyangka akan memiliki perasaan seperti itu pada Fani.
Fani langsung menjauh, dan menarik kasar tangannya dari genggaman Dimas. "Apa aku nggak salah dengar?Apa maksud om Dimas?Bukannya dia sudah menganggapku seperti saudara?" Ia bertanya-tanya sendiri dalam hati. Seraya menatap pelik kearah Dimas.
"Se...bagai keponakan kan, om?" Tanya Fani memastikan. Kerongkongannya kering kerontang menyebabkan kalimat itu terdengar serak.
"Sebagai wanita." Ujar Dimas menatap teduh. Memang ini terdengar tak masuk akal. Tapi siapa yang menyangka, rasa sayang yang selama ini ia berikan untuk Fani sebagai keponakan, berubah menjadi rasa sayang yang mendebarkan.
"Ya nggak boleh lah, om! Kan kita sudah seperti keluarga. Nggak boleh pokok nya! kalau ibu tau pasti dia juga nggak setuju!" Fani menolak mentah-mentah pernyataan tersebut.
"Kita memang keluarga, tapi kita tidak sedarah Fani. Tidak ada larangan untuk saya mencintai kamu." Dimas mendekati Fani yang tengah berdiri dengan kaki gemetar.
"Kalau ibu tidak marah, apa kamu mau menerima perasaan Saya?" Dimas menyentuh wajah Fani dan mengusap lembut pipi nya.
Tiba-tiba Fani terduduk lemas di atas rerumputan taman itu. Giginya terus beradu sehingga menghasilkan bunyi seperti orang menggigil.
Dimas hanya tersenyum melihat respon Fani yang di luar dugaan. Ia sempat berpikir tadi, pasti Fani akan menampar atau memukul nya. Tetapi nyatanya Fani malah seperti kehilangan separuh nyawa.
"Sepertinya kamu butuh waktu sendiri. Kalau begitugitu saya duluan ya." pamit Dimas, karena menurutnya Fani akan benar benar pingsan kalau ia berada disana lebih lama.
Pandangan Fani mengikuti langkah kaki Dimas yang berlalu pergi. Nafasnya kembali teratur, begitupula dengan detak jantung yang berangsur stabil.
"Om Dimas udah gila apa? Kenapa dia menyatakan cintanya pada ku? Memangnya tidak ada wanita lain? Lagipula aku masih sangat muda. aiisss...! Bagaimana ini...!"
Fani meracau dan berteriak sendiri, ingin rasa nya ia pergi sejauh mungkin agar tidak bertemu dengan Dimas lagi. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan bagai mana caranya ia bertatap muka dengan Dimas selanjutnya.
...~~~~...
Dimas sedang membuat kopi di dapur kantornya, ia memang sangat mandiri. Kopi buatan orang lain tak pernah nikmat ia rasa.
Tiba-tiba semua karyawan yang ada di kantor berhamburan keluar, berdesak-desakan.
"Ada yang jatuh dari atas gedung.."
"Apa percobaan bunuh diri?"
"Mungkin"
Ucap beberapa karyawan sambil berlari, dengan raut wajah penasaran.
"Fani..?" Gelas yang di pegang Dimas terjatuh dari tangannya, seketika pikiran nya langsung mengarah ke Fani yang masih di taman atap.
Dimas pun langsung berlari, membelah lantai kantor dengan langkah jenjangnya.
"Fani... Kenapa kamu bertindak bodoh. Kamu bisa saja menyuruhku untuk menjauh kalau memang aku sudah kelewatan, kenapa kamu malah mengakhiri hidupmu." Gumam Dimas dengan matanya yang berkaca kaca. Segala kemungkinan terlintas diotaknya.
Siapa wanita yang akan terima, jika mendapatkan pernyataan cinta dari seorang duda. Terlebih wanita itu masih sangat muda.
Begitu pintu lift terbuka Dimas langsung berlari kencang keluar gedung, ia menerobos para karyawan yang tengah mengerubungi korban. Terlihat sudah ada mobil ambulance dan Polisi di sana.
Saat Dimas melihat, korban sudah di masukkan ke ambulance dan hanya tersisa beberapa bercak darah. Terlihat polisi sedang memasang garis kuning di sekitar tempat kejadian.
"Astagaa Fani..!" Dimas seperti kehilangan kekuatan nya untuk berdiri.
Segera ia berbalik badan hendak menyusul mobil ambulance tadi.
"Bapak manggil saya?" Celetuk Fani saat Dimas baru saja berbalik badan. Ia merasa terpanggil barusan.
Dimas langsung memeluk erat tubuh Fani sambil meneteskan air matanya. "hei.., kamu baik baik saja? Saya kira kamu yang melompat dari gedung."
"Om lepas..! Semua orang melihat kita tuh..." Bisik Fani pada Dimas, yang sedang menyandarkan dagunya di puncak kepala Fani.
"Oh iya maaf." Dimas langsung melepaskan pelukannya.
Tentu saja semua mata tertuju pada mereka saat ini. Semua orang menatap tanpa berkedip, dengan mulut menganga.
Dimas mengusap hidungnya, ia seperti ingin menjelaskan sesuatu tapi bingung harus bagaimana. Apa juga yang harus dijelaskan?
"Kalian tampak akrab, berpelukan..." Riko melemparkan pandangan sinisnya. Sengaja ia menggiring rasa curiga para karyawan.
"Iya.., kenapa Bapak menangis dan menyebut nama Fani tadi?" Mila juga sama penasaran nya.
"mm.. Saya pikir Fani yang jatuh, makanya saya khawatir."
"apaa?! kok Bapak bisa kepikiran saya yang jatuh?" tanya Fani terkejut.
"iya..kenapa Bapak berpikiran Fani yang jatuh??" Tanya Mila lagi, dengan soror mata menelisik.
"Saya khawatir. Karena saya tidak melihat Fani dari tadi." jawab Dimas beralasan.
"Saya akan tetap khawatir kalaupun itu bukan Fani. Kalian semua tanggung jawab saya disini." Dimas menegaskan kalimat nya. Tak lupa ia memasang tampang serius, untuk membungkam rasa penasaran mereka.
"Jadi siapa sebenarnya yang jatuh?" Fani menatap Mila dan yang lainnya.
"Pekerja yang membersihkan kaca di luar gedung, dia terjatuh dari lantai 2 karena tali pengamannya putus." jawab Mila dengan raut wajah prihatin.
"Lalu bagaimana keadaannya?" Fani juga terlihay cemas.
"Entah lah.., kelihatan nya cukup serius." Sahut Mila.
"Katanya akan tetap khawatir kalaupun itu bukan Fani, tapi kenapa bapak malah diam saja?" Goda Vino sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan tanggung jawab saya khawatir pada nya, karena dia berada di bawah agensinya sendiri. Tapi tentu saja saya akan memberikan kompensasi." Jawab Dimas tegas,agar tidak kelihatan kalau memang sebenarnya dia hanya menghawatirkan Fani.
"Ayo kembali bekerja! Biarkan Polisi menangani ini." imbuhnya lagi. Lalu ia berlalu pergi dari sana, diikuti para karyawan yang membubarkan diri.
-
-
Fani mengikuti Dimas hingga ke kantor nya, karena ia ingin mendapatkan jawaban, kenapa Dimas berpikir ia yang jatuh tadi.
"Kenapa om mikirnya Fani yang jatuh?"
"Entah lah, saya berpikir bahwa perkataan saya sebelumnya membuatmu tertekan, ditambah saat kejadian kamu juga masih di atap. Jadi saya kira kamu sengaja melompat karena tadi ...."
"hahahaha.. ya nggak lah om." Fani menertawakan Dimas dengan pikiran konyolnya.
"Jadi kamu tidak keberatan kalau saya mencintaimu?" wajah Dimas langsung berubah menjadi sumringah.
"ngg..maksut Fani ya nggak bakalan lah Fani bunuh diri gara-gara om." Fani menggigit bibir bawahnya sambil menyeringai, sepertinya Dimas salah tanggap lagi.
Dimas mendekati Fani dan menggenggm tangan lembut tangan gadis itu. "Tolong izinkan saya mencintai kamu Fani. Saya tidak akan memaksa kamu untuk membalas, tapi tolong jangan suruh saya berhenti ataupun menjauh." Bisik Dimas lembut di telinga Fani.
deg..!
Nafas Fani seperti terhenti seketika,darahnya berdesir hangat membuat sekujur tubuhnya merinding. Ia benar-nenar tidak menyangka kalau Dimas sungguh-sungguh dengan ucapan nya.
Fani mematung saat itu juga, dan bibirnya terasa kelu hingga tidak sanggup mengatakan apapun.
Dimas memeluk Fani dengan penuh kelembutan,nafasnya yang berhembus kencang sangat jelas terdengar di telinga Fani. Dimas terhanyut oleh kehangatan yang sudah lama ia dambakan dari seorang wanita. Ia juga mengusap lembut punggung Fani
"Aku harus gimana? Ibu pasti marah. ini tidak benar. Kenapa harus aku sih om??" Rengek Fani dalam hati, sesungguhnya ia juga tak tau bagaimana perasaannya untuk Dimas. Apakah ia pantas menerima perasaan ini?
...***********...