Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Rombongan gengsi
Suasana pagi di ruang makan mansion Diksara dua hari setelah "Insiden Mangkuk Sup" terasa sangat ajaib dan membingungkan.
Naya turun dari lantai dua dengan piyama bermotif kelinci yang santai, siap menyambut amunisi omelan dari ibu mertuanya seperti biasa. Bagi Naya, berdebat dan adu savage dengan Mamah Ratna adalah olahraga otak pagi hari yang sangat menyenangkan. Kalau sehari saja Mamah Ratna tidak menyindir statusnya atau mengomentari gaya hidupnya, Naya justru merasa ada yang kurang dalam hidupnya.
Naya menarik kursi makan di samping Damar yang sudah duduk rapi dengan kemeja kerjanya, membaca koran bisnis sambil menyesap kopi hitam.
"Pagi, Tante Ratna yang paling cetar!" sapa Naya riang dengan nada menggoda.
Mamah Ratna yang sedang memegang cangkir teh hangatnya mendadak tersentak kecil. Muka wanita paruh baya itu tampak kaku luar biasa. Ia melirik Naya sekilas, lalu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.
Seharusnya, detik ini juga Mamah Ratna langsung membalas: "Gak usah sok manis kamu! Baru bangun jam segini langsung minta dilayani!"
Tapi pagi ini? Mamah Ratna hanya berdeham pelan, mempererat pegangannya pada cangkir teh, lalu bergumam dengan nada kaku yang sengaja dibuat agak galak padahal terdengar ragu-ragu.
"Ehem... Pagi. Bik Inah... itu, ambilkan nasi uduk buat Naya. Nanti dia pingsan lagi kalau belum makan," ujar Mamah Ratna pendek, tanpa tatapan mata sinis yang biasanya memancar kuat.
Naya membelalakkan matanya tipis. Jemari tangannya yang mau mengambil sendok mendadak berhenti di udara. Ia menoleh ke arah Damar, lalu menatap Mamah Ratna dengan kening berkerut dalam.
Loh? Kok Tante Ratna gak ngomong 'numpang gratis'? Kok gak nyindir soal dua miliar? Kok malah perhatian nyuruh Bik Inah ngambilin nasi uduk?! Ini Tante Ratna kesurupan setan dari mana lagi?! batin Naya menjerit kebingungan.
Naya yang merasa janggal tidak bisa tinggal diam. Ia menyilangkan tangan di dada, lalu mencoba memancing omelan khas mertuanya itu.
"Tante Ratna..." panggil Naya dengan senyuman jahil. "Tante gak mau marah-marah soal piyama kelinci saya nih? Biasanya Tante bilang piyama begini gak sesuai sama standar keanggunan keluarga Diksara?"
Mamah Ratna membetulkan letak selendang sutranya dengan gerakan canggung. Sebenarnya, di balik sikap judesnya selama ini, Mamah Ratna bukanlah wanita yang sepenuhnya jahat. Ia hanya seorang ibu tunggal yang membesarkan Damar dengan susah payah setelah suaminya sibuk mengurus bisnis. Rasa sayangnya yang protektif pada Damar ditambah hasutan beracun dari Lea selama bertahun-tahun—yang selalu membisikkan bahwa Naya adalah cewek matre parasit—membuat Mamah Ratna bersikap sangat pedas.
Namun, melihat Naya menangis sesenggukan gara-gara mangkuk sup kemarin, hati kecil Mamah Ratna sebenarnya merasa sangat bersalah dan tidak tega. Ia merasa seperti monster yang tega menindas cewek yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa lagi.
"Saya... saya lagi malas mengomentari baju kamu," sahut Mamah Ratna ketus yang dibuat-buat, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai nyonya rumah. "Kamu makan saja nasi uduk itu. Jangan banyak bicara, nanti air mata kamu menetes ke piring lagi!"
Naya menganga kecil. Rasa canggung yang memancar dari Mamah Ratna begitu tebal hingga bisa dipotong pakai pisau dapur.
Damar yang berada di antara mereka berdua tetap fokus menatap koran bisnisnya, namun bibirnya berkedut menahan tawa. Pria itu sangat paham tabiat ibunya yang gengsian dan sebenarnya berhati lembek jika sudah merasa bersalah.
"Naya, makan makanan kamu," potong Damar dengan suara beratnya yang tenang, mencoba mencairkan ketegangan di meja makan.
Naya mendengkus pelan, memakan sendok pertama nasi uduknya dengan wajah cemberut. Bukannya senang karena tidak diomeli, Naya justru merasa hampa. Berdebat dengan Mamah Ratna itu seru, tapi kalau Mamah Ratna mendadak berubah jadi kaku dan sok perhatian begini, Naya malah merasa tidak enak badan!
Siang harinya, Naya sedang duduk di ayunan taman belakang mansion sambil menikmati es teh manis. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang anggun terdengar mendekat.
Mamah Ratna berdiri tak jauh dari ayunan, memegang sebuah kotak perhiasan beludru berwarna merah hati. Wajahnya dipasang serapi mungkin, namun matanya tidak berani menatap Naya secara langsung.
"Ehem!" Mamah Ratna berdeham keras menyuarakan keberadaannya.
Naya menoleh, langsung menegakkan posisi duduknya. "Eh, Tante Ratna? Ada apa Tante? Mau nyuruh saya bersihin kolam renang?" tanya Naya bersemangat, berharap dapet bahan debat baru.
Mamah Ratna menghentakkan kakinya pelan, kesal karena Naya malah menebak hal yang aneh-aneh.
"Siapa yang mau nyuruh kamu bersihin kolam?!" tegur Mamah Ratna galak, namun galaknya terdengar sangat dipaksakan. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan kotak beludru itu di atas meja kecil di samping ayunan Naya dengan gerakan agak kasar.
Naya menatap kotak itu heran. "Ini apa, Tante?"
"Itu... bros mutiara buatan desainer ternama," jawab Mamah Ratna seraya memalingkan wajahnya ke arah tanaman bunga mawar. "Dulu Lea yang merekomendasikan bros itu ke Mama. Mama beli dua, tapi Mama malas pakainya. Daripada nganggur di lemari, kamu pakai saja."
Mendengar nama "Lea" disebut, Naya langsung menyipitkan matanya. Oalah... jadi selama ini racun utama di rumah ini tuh emang si Mbak Pancong itu ya! pantes Tante Ratna judesnya ketularan.
Naya tidak menyentuh kotak bros itu. Ia justru menatap ibu mertuanya dengan binar mata jenaka yang penuh rasa ingin tahu.
"Tante Ratna..." panggil Naya pelan. "Tante kok tiba-tiba baik banget sih sama saya? Pagi tadi gak marah-marah, sekarang malah ngasih bros mahal. Tante beneran gak lagi kena pelet kan?"
Wajah Mamah Ratna mendadak merah padam gara-gara gengsi dan rasa malunya meledak seketika.
"Sembarangan kamu kalau bicara ya!" semprot Mamah Ratna dengan nada suara yang mulai kembali melengking. "Saya kasih kamu bros itu bukan karena saya suka sama kamu! Saya cuma... tidak mau Damar berpikir Mama ini ibu mertua yang kejam! Lagi pula, kamu itu kan istri Damar, tampilan kamu jangan memalu-malukan keluarga Diksara!"
Naya tersenyum lebar. Nah! Ini dia intonasi omelan yang paling Naya rindukan! Rasa lega mendadak memenuhi dada Naya.
"Nah gitu dong, Tante!" seru Naya riang seraya berdiri dari ayunan. "Muka Tante tuh lebih cocok kalau lagi ngomel begitu daripada sok manis kayak pagi tadi! Sumpah, pagi tadi saya merinding tahu!"
Mamah Ratna melongo kaget. "K-kamu... malah senang Mama omeli?!"
"Iya lah! Berdebat sama Tante itu bikin hidup saya berwarna tahu!" Naya tertawa renyah, lalu mengambil kotak bros mutiara itu dan membukanya. "Brosnya bagus banget, Tante. Makasih ya! Nanti saya pakai pas kencan makan pecel lele sama Mas Damar!"
Puk!
Mamah Ratna hampir tersedak udara mendengar kata "pecel lele". "P-pecel lele?! Damar kamu ajak makan pecel lele?!"
"Iya dong! Mas Kulkas ketagihan sambal terasinya tahu!" jawab Naya santai tanpa dosa.
Mamah Ratna memegangi dadanya, kehabisan kata-kata menatap menantunya yang benar-benar tidak bisa ditebak ini. Namun, di balik rasa pusingnya menghadapi tingkah ajaib Naya, rasa canggung dan bersalah di hati Mamah Ratna perlahan menghilang. Ia menyadari bahwa cewek di depannya ini memang bukan cewek lemah yang mudah patah hati, melainkan gadis pemberani yang jujur dan apa adanya.
"Dasar cewek aneh!" gumam Mamah Ratna ketus, lalu berbalik badan dan berjalan cepat kembali ke dalam rumah dengan langkah-langkah anggunnya.
Naya memperhatikan punggung mertuanya dari belakang sambil terkekeh puas. Ternyata Tante Ratna tuh cuma korban hasutan Mbak Pancong. Aslinya gengsian persis kayak anaknya! pantesan aja buah jatuh gak jauh dari pohonnya!
Malam harinya, pukul delapan malam.
Damar baru saja pulang dari kantor. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar utama, melepas jas mewahnya, lalu meletakkannya di atas sandaran kursi. Matanya mendapati Naya sedang rebahan di kasur sambil menyematkan bros mutiara pemberian Mamah Ratna di kausnya.
Damar berjalan mendekat, mendudukkan tubuhnya di tepi kasur. Matanya tertuju pada bros tersebut.
"Mama memberikan bros itu pada kamu?" tanya Damar kaku.
Naya menoleh, mengangguk bersemangat. "Iya! Tante Ratna tadi siang ngasih ini. Katanya daripada nganggur di lemari. Tapi tau gak Mas? Tadi pagi pas Tante Ratna gak marah-marah, saya malah merasa aneh banget loh!"
Damar menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa aneh?"
"Ya aneh aja, Mas! Biasanya kan kita selalu adu savage tiap pagi. Kalau Tante Ratna diem aja, serasa ada yang kurang dalam hidup saya. Kayak makan pecel lele tapi gak ada sambalnya!" oceh Naya santai seraya membetulkan posisi tidurnya.
Damar menatap Naya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dinding gengsinya yang setinggi langit mendadak terasa goyah melihat betapa mudahnya Naya mencairkan suasana dan memaafkan ibunya.
Damar berdeham pelan, merapikan kemejanya demi menutupi rasa kagum yang makin tidak bisa ia tahan.
"Mama memang seperti itu. Kalau dia sudah merasa bersalah, dia akan menyampaikannya dengan cara yang aneh," sahut Damar dengan suara beratnya yang lembut.
"Sama kayak anaknya dong?" goda Naya cepat seraya memajukan wajahnya ke arah Damar. "Anaknya juga kalau mau perhatian sukanya pusing-pusing pake alasan 'formalitas perusahaan' atau 'aset investasi' kan?"
DEG.
Wajah Damar seketika menegang. Telinganya langsung berubah warna menjadi merah terang. Pria itu buru-buru berdiri tegap dari kasur, merapikan jam tangannya dengan gerakan kaku luar biasa.
"Jangan kebiasaan menyamakan saya dengan hal-hal aneh," elak Damar ketus demi menyelamatkan harga dirinya. "Saya mau mandi."
Naya tertawa terpingkal-pingkal memandangi punggung kaku suaminya yang berjalan terburu-buru masuk ke kamar mandi.
"Aduh, Mas Kulkas... Satu rumah isinya orang gengsian semua! Tapi seru juga sih!" jerit Naya tertawa puas di atas kasur, menikmati setiap detik alur hidup barunya di dunia novel ini.
_Bersambung