Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ular yang Terpojok
Aroma pekat kopi hitam bercampur dengan bau kertas-kertas tua memenuhi ruang kerja Baskara yang terletak di bagian belakang rumah. Sinar matahari siang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu besar, memantulkan debu-debu halus yang beterbangan di udara. Di balik meja kerja marmernya, Baskara duduk dengan guratan lelah yang samar di pelipisnya. Dua kancing teratas kemeja batiknya terbuka, menunjukkan betapa menguras energinya rentetan peristiwa yang terjadi sejak subuh tadi.
Di seberang meja, Pengacara Ikhsan sedang sibuk menandai beberapa poin penting dalam berkas gugatan balik dengan pena tinta hitamnya. Sementara itu, Kinanti duduk agak menyudut di sofa kulit, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan.
"Semua administrasi pelaporan balik atas dugaan rekayasa digital dan pencemaran nama baik sudah beres, Bas," ucap Pengacara Ikhsan sembari membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Chynthia tidak akan bisa mengelak lagi. Bukti video CCTV dari ruang kerjamu ini bersifat mutlak. Hukum kita mungkin lambat untuk urusan perdata korporasi, tapi untuk kasus manipulasi barang bukti elektronik demi menjatuhkan nama baik seseorang, hukumannya sangat jelas dan tegas."
Baskara mengangguk perlahan. Mata elangnya sempat melirik ke arah Kinanti yang sejak tadi hanya terdiam, mendengarkan dengan tatapan yang agak menerawang. "Lalu bagaimana dengan hak asuh Natasha, Kang?" tanya Baskara dengan suara beratnya yang bergema rendah di dalam ruangan.
"Berdasarkan bukti bahwa Chynthia terbukti melakukan penghasutan dan eksploitasi anak untuk tindakan kriminal yaitu menyuruh Natasha mencuri barang pribadi milik Ibu Kinanti pengadilan agama pasti akan menggugurkan hak asuhnya secara otomatis," jelas Ikhsan tenang. "Natasha akan tetap berada di bawah hak asuhmu secara penuh. Tapi, tentu saja, anak itu membutuhkan bimbingan psikologis yang serius setelah semua doktrin beracun dari ibunya."
Mendengar nama Natasha disebut, Kinanti perlahan mengangkat kepalanya. Ada rasa iba yang mendalam di hatinya. "Om..." panggil Kinanti lirih. Baskara langsung mengalihkan pandangan sepenuhnya pada sang istri. "Natasha... dia hanya seorang anak yang merindukan ibunya, meskipun cara yang diajarkan ibunya itu salah. Apakah tidak apa-apa jika kita mengurungnya di kamar seperti itu?"
Baskara menghela napas panjang. Dia berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja kerja, lalu duduk di samping Kinanti di atas sofa kulit. Tangan besarnya terulur untuk menggenggam jemari Kinanti yang terasa agak dingin.
"Kinanti, tegas bukan berarti kejam," ucap Baskara dengan nada suara yang melunak, khusus hanya untuk istrinya. "Natasha harus belajar bahwa setiap tindakan egois memiliki konsekuensi. Selama ini dia selalu dimanja dengan kemewahan oleh keluarga Wijaya hingga kehilangan kompas moralnya. Mengurungnya di kamar hari ini bukan untuk menghukumnya, tapi untuk memutuskannya dari pengaruh luar sementara waktu sampai situasi ini benar-benar aman. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apa pun yang terjadi pada anak itu."
Pengacara Ikhsan tersenyum tipis melihat bagaimana pria sekokoh Baskara bisa menjadi begitu lembut di hadapan seorang gadis desa. Ikhsan pun mulai membereskan berkas-berkasnya ke dalam tas kulit tua miliknya. "Baiklah, tugas pertamaku di sini sudah selesai. Aku harus segera kembali ke kantor wilayah untuk memastikan berkas ini segera masuk ke meja penyidik utama. Bas, tetaplah waspada. Herman Wijaya mungkin sudah goyah bisnisnya, tapi seekor ular yang terpojok bisa menjadi sangat tidak terprediksi."
Baskara berdiri dan mengantar Ikhsan hingga ke depan pintu ruang kerja. Setelah pengacara tua itu pergi, Baskara kembali menatap Kinanti. "Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen kemitraan baru dengan kelompok tani mandiri yang dikirim oleh Bapak dari desa. Kau beristirahatlah di kamar, wajahmu pucat."
Kinanti mencoba tersenyum meyakinkan. "Aku tidak apa-apa, Om. Pikiranku hanya sedikit jenuh karena terlalu lama di dalam ruangan. Aku ingin membantu Bi Asih di taman samping sebentar, mencari udara segar."
Baskara menatap istrinya lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk. "Jangan terlalu lelah. Jika butuh apa-apa, panggil aku atau Joko."
Taman samping rumah utama terasa jauh lebih menenangkan. Angin sepoi-sepoi bertiup menggoyahkan daun-daun tanaman hias yang tertata rapi. Kinanti menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma tanah basah dan wangi bunga yang perlahan mengikis rasa sesak di dadanya. Di sudut taman, Bi Asih sedang sibuk memotong ranting-ranting kering.
Kinanti mengambil alat penyiram tanaman dari plastik hijau, lalu mulai membasahi kelopak-kelopak bunga anggrek yang mulai kembali tumbuh subur. Aktivitas sederhana seperti ini selalu berhasil mengingatkannya pada rumah masa kecilnya di lereng desa, tempat di mana masalah hidup hanya seputar hujan yang terlambat turun atau hama padi yang menyerang sawah, bukan tentang intrik hukum dan konspirasi licik orang-orang kota.
Hampir tiga puluh menit Kinanti menghabiskan waktu di taman, sampai akhirnya langkah kaki terburu-buru dari Joko, sang supir keluarga, memecah ketenangannya. Pria paruh baya itu berjalan mendekati area taman dengan raut wajah yang tampak kebingungan, memegang sebuah kertas resi berwarna merah di tangannya.
"Nyonya Muda," panggil Joko sopir dengan sikap hormat. "Maaf mengganggu waktunya. Di depan gerbang utama, ada sebuah kiriman paket yang sangat besar. Kurirnya mengendarai mobil boks putih."
Kinanti menghentikan aktivitas menyiramnya, menatap Joko dengan alis bertaut. "Paket? Dari siapa, Kang Joko? Biasanya kiriman untuk Om Baskara langsung diantar ke kantor depan atau diterima oleh penjaga pos."
"Itu dia yang membuat saya bingung, Nyonya," jawab Joko sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kurirnya bilang ini kiriman khusus dari perwakilan Kelompok Tani Mandiri Desa Sukamaju di kampung halaman Nyonya. Katanya ini sebagai hadiah dan ucapan terima kasih pribadi karena strategi Nyonya kemarin telah menyelamatkan hasil panen mereka dari cengkeraman tengkulak Herman Wijaya. Tapi, kurirnya bersikeras bahwa Nyonya sendiri yang harus menandatangani resi fisiknya di luar gerbang, karena ada dokumen serah terima adat yang harus difoto."
Mendengar nama desa Sukamaju kampung halamannya sendiri disebut, pertahanan dan rasa curiga Kinanti seketika runtuh. Hatinya mendadak dipenuhi oleh rasa haru dan hangat. Dia tahu betul bagaimana tabiat orang-orang kampungnya,mereka adalah orang-orang jujur yang selalu tahu cara membalas budi, bahkan untuk hal sekecil apa pun.
"Oh, begitu ya? Baiklah, Kang Joko. Mari kita ke depan. Kasihan kurirnya kalau harus menunggu lama di bawah terik matahari," ucap Kinanti tanpa menaruh prasangka buruk sedikit pun. Dia meletakkan alat penyiram tanaman di atas rumput, merapikan sedikit pakaian kasualnya, lalu melangkah mengekor di belakang Joko menuju area depan rumah.
Mereka menyusuri jalan setapak beton yang membelah halaman depan yang luas. Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi itu tampak sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup untuk dilewati satu orang. Di luar pagar, sebuah mobil boks berwarna putih memang tampak terparkir di bahu jalan. Namun, saat Kinanti melangkah keluar melintasi batas gerbang besi, sekeliling jalanan komplek terasa teramat sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan kurir berseragam yang menunggu, yang ada hanyalah sebuah kotak kayu berukuran sedang yang diletakkan begitu saja di atas trotoar semen.
Kinanti menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan kotak kayu tersebut. Perasaan janggal mendadak kembali menyergap benaknya. "Kang Joko... di mana kurirnya? Kenapa paketnya ditinggalkan begitu saja di jalan?" tanya Kinanti, menoleh ke belakang ke arah Joko yang juga tampak mengedarkan pandangannya dengan bingung.
"Tadi orangnya ada di sini, Nyonya—"
Ciiiiiittttt!!
Suara derit ban mobil yang bergesekan kasar dengan aspal jalanan seketika memecah keheningan siang itu dengan teramat memekakkan telinga. Dari arah tikungan komplek yang berjarak sekitar lima puluh meter, sebuah mobil sedan berwarna hitam pekat melaju dengan kecepatan tinggi yang teramat tidak wajar. Mobil itu melesat beringas, lalu dengan satu sentakan kemudi yang kasar, mobil itu sengaja berbelok menanjak ke atas trotoar dan berhenti mendadak tepat di depan Kinanti, memblokir jalur gadis itu untuk mundur kembali ke dalam gerbang rumah.
Jantung Kinanti serasa melompat keluar dari rongga dadanya. Kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga otaknya tidak sempat mencerna apa yang sedang terjadi. Sebelum kepulan asap dari ban mobil itu menghilang, pintu penumpang depan terbuka dengan sentakan yang sangat keras hingga membentur tiang pembatas.
Sosok wanita keluar dari dalam mobil dengan gerakan yang terburu-buru dan tidak stabil.
Kinanti membelalakkan matanya sempurna, napasnya seketika tercekat di tenggorokan. Wanita itu adalah Chynthia. Namun, penampilannya saat ini sama sekali tidak mencerminkan sosok nyonya sosialita kelas atas yang biasanya selalu tampil glamor dan anggun. Pakaian blus mahalnya tampak kusut masai, rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya. Yang paling mengerikan adalah sepasang matanya,mata itu tampak memerah sempurna, dipenuhi oleh urat-urat darah dan tatapan kegilaan yang teramat pekat, layaknya seekor binatang buas yang telah kehilangan seluruh akal sehatnya akibat terdesak.
Di tangan kanan Chynthia, dia menggenggam sebuah botol kaca tebal berukuran kecil berlabel putih yang telah dikoyak. Di dalamnya terdapat cairan bening yang agak kental dan mengeluarkan hawa panas yang samar—air keras berkonsentrasi tinggi (asam sulfat) yang dia dapatkan secara ilegal melalui koneksi hitamnya demi memuaskan hasrat balas dendamnya.
"Jalang kampung sialan!!!" jerit Chynthia histeris. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian komplek perumahan, dipenuhi oleh kebencian yang sudah mendarah daging.
Kinanti spontan melangkah mundur, namun punggungnya membentur badan mobil boks yang terparkir di belakangnya. Dia terjebak.
"Kau menghancurkan segalanya! Kau merebut suamiku! Kau merebut anakku! Karena video sialanmu itu, Papi terkena serangan jantung dan seluruh bisnis keluarga Wijaya hancur berantakan di depan media!" teriak Chynthia sembari melangkah maju dengan terhuyung-huyung, tangannya yang memegang botol kaca itu bergetar hebat, namun arahnya lurus menunjuk ke arah wajah Kinanti.
"Kau pikir kau bisa menang, hah?! Kau pikir kau bisa menikmati kemewahan Dirgantara dengan wajah desamu yang sok polos itu?! Tidak akan pernah!!! Jika aku harus hancur dan membusuk di penjara, maka aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa memandang wajah baskara lagi dengan wajah cacatmu ini!"
Chynthia mengangkat botol kaca itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Cairan kimia mematikan di dalamnya mulai bergoyang, siap dilemparkan tepat ke arah wajah mulus Kinanti.
"Nyonya Muda!! Awas!!!" teriak Joko dari arah belakang, mencoba berlari menerjang untuk menghalangi Chynthia. Namun, jarak Joko yang berada di dalam pagar terlalu jauh untuk bisa menjangkau posisi Kinanti tepat waktu.
Kinanti hanya bisa terpaku. Seluruh persendian di kakinya mendadak terasa lumpuh total bagaikan jeli. Rasa takut yang teramat sangat mengunci seluruh pergerakannya. Dia melihat dengan jelas bagaimana Chynthia mulai mengayunkan tangannya ke depan untuk menyiramkan cairan jahanam itu. Dalam kepasrahan yang teramat dalam, Kinanti hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima takdir mengerikan berupa rasa sakit membakar yang akan merusak hidupnya selamanya. Om Baskara... jerit Kinanti dalam hatinya, memanggil nama suaminya untuk yang terakhir kali.
Namun, tepat di fragmen detik terakhir sebelum cairan itu terlepas dari botolnya, sebuah guncangan besar terjadi.
Dari arah dalam halaman rumah, sekelebat bayangan tubuh tegap melesat keluar melintasi celah gerbang bagaikan seekor singa yang mengamuk demi melindungi pasangannya. Baskara yang rupanya mendengar jeritan histeris Chynthia dari balik jendela ruang kerjanya telah berlari keluar dengan kecepatan penuh yang melampaui batas kemampuan fisiknya.
Grep!
Sebelum cairan kimia itu menyentuh udara, sebuah lengan kekar berbalut kain batik dengan kasar namun teramat protektif menyambar bahu Kinanti. Dengan satu sentakan bertenaga besar, Baskara menarik tubuh ramping istrinya ke belakang, memutar posisinya, dan menyembunyikan wajah serta seluruh tubuh Kinanti secara penuh di dalam dekapan dada bidangnya yang kokoh. Baskara menjadikan seluruh punggungnya sendiri sebagai perisai hidup bagi gadis itu.
Syuuuuut... Byur!!!
Cairan asam sulfat berkonsentrasi tinggi itu melayang di udara dan mendarat telak, membasahi sebagian besar punggung bagian kiri dan bahu atas kemeja batik yang dikenakan oleh Baskara.
"Arghhhhhhh!!!"
Sebuah erangan tertahan yang teramat berat, dalam, dan dipenuhi oleh rasa sakit yang luar biasa hebatnya lolos dari celah gigi Baskara yang mengatup rapat. Urat-urat di leher pria matang itu seketika menegang hebat hingga memerah. Efek dari cairan kimia jahanam itu bekerja seketika tanpa ampun. Kain kemeja batik katun premium yang dikenakan Baskara langsung berdesis keras, melepuh, dan meleleh dalam hitungan detik di bawah korosi asam yang teramat panas. Asap tipis berwarna keabu-abuan yang mengeluarkan bau gosong menyengat dan kimia pekat seketika mengepul di udara, saat cairan itu mulai menembus lapisan kain dan membakar jaringan kulit punggung Baskara secara langsung.
Tubuh tegap Baskara sempat limbung. Lutut kirinya menghantam aspal jalanan dengan keras, bertumpu pada kekuatan kakinya yang tersisa untuk menahan beban tubuhnya agar tidak ambruk. Namun, meskipun rasa sakit yang membakar layaknya api neraka sedang menggerogoti punggungnya, tangan kanan Baskara sama sekali tidak melonggar. Dia justru semakin mempererat dekapannya pada pinggang Kinanti, mengunci gadis itu di dadanya, menolak memberikan setitik pun celah bagi bahaya luar untuk menyentuh istrinya.
Kinanti membuka matanya dalam dekapan Baskara. Hal pertama yang dia rasakan adalah hawa panas yang teramat tidak wajar yang memancar dari punggung suaminya, disusul oleh kepulan asap berbau mengerikan yang menusuk hidungnya. Begitu dia melihat wajah Baskara yang berada tepat di depannya wajah tampan yang biasanya selalu tenang kini tampak menegang sempurna dengan pelipis yang langsung dibanjiri oleh keringat dingin akibat menahan siksaan rasa sakit—kesadaran Kinanti runtuh.
"Om Baskara!!! Punggungmu... Ya Tuhan, punggungmu!!!" jerit Kinanti histeris. Suaranya pecah menjadi tangisan yang teramat pilu. Air matanya tumpah ruah tanpa bisa dibendung lagi saat melihat cairan kimia itu mulai merusak kain dan kulit suaminya.
Chynthia yang melihat serangannya meleset dan justru mengenai Baskara seketika membelalakkan matanya dengan sempurna. Botol kaca kosong di tangannya terlepas, jatuh mencium aspal dan pecah berkeping-keping. Seluruh keberanian dan kegilaan yang tadi membakar dirinya mendadak lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rasa syok dan ketakutan yang teramat sangat. Tubuhnya gemetar hebat, langkah kakinya mundur teratur dengan wajah yang memucat bagaikan mayat.
"Bas... Baskara... bukan... bukan kamu yang ingin kulukai..." gagap Chynthia dengan suara yang bergetar hebat. "Ini semua salah jalang itu! Kenapa kamu melindunginya?! Aku tidak berniat melukaimu, Bas!"
"Joko!!!!" bentak Baskara dengan sisa seluruh tenaga dan wibawa yang dia miliki. Suaranya yang menggelegar penuh amarah dan rasa sakit menggema di sepanjang jalanan, membuat Chynthia seketika lemas dan jatuh terduduk di atas aspal. "Tangkap wanita gila itu... dan hubungi kepolisian sekarang juga!!!"
Joko yang sudah berhasil keluar dari gerbang langsung bergerak dengan amarah yang sama besarnya. Pria paruh baya itu dengan sigap mengunci kedua tangan Chynthia di belakang punggungnya, memastikan wanita yang sudah kehilangan akal sehatnya itu tidak bisa melarikan diri ke dalam mobil sedannya yang mesinnya masih menyala. Supir Chynthia di dalam mobil yang melihat majikannya tertangkap langsung panik, menginjak gas, dan melarikan diri meninggalkan Chynthia sendirian di tempat kejadian.
Di tengah aspal yang panas, Kinanti ikut berlutut, menopang tubuh tegap Baskara yang perlahan mulai kehilangan keseimbangan. "Om... bertahanlah, Om... tolong jangan tutup matamu," ratap Kinanti sembari mencoba memegangi lengan kanan Baskara yang tidak terkena cairan. Dia tidak berani menyentuh bagian punggung suaminya yang kini tampak mengerikan dengan luka bakar kimia yang meluas. "Maafkan aku... ini semua karena kebodohanku... seharusnya aku tidak keluar dari gerbang..."
Baskara perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Napasnya memburu pendek-pendek, menahan perih yang teramat sangat di punggungnya yang terasa seperti dikuliti hidup-hidup. Namun, saat tatapan matanya bertemu dengan manik mata Kinanti yang basah dan dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat besar, tatapan elang pria itu kembali melunak. Sebuah senyuman tipis, teramat tulus, dan penuh arti terukir di bibirnya yang mulai memucat.
Baskara mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menempelkan telapak tangannya yang besar di pipi Kinanti, menghapus air mata yang terus mengalir di sana dengan ibu jarinya.
"Dengar... dengarkan aku, Kinanti Dirgantara..." bisik Baskara dengan suara rendah yang serak dan bergetar, namun setiap katanya terdengar mutlak dan penuh kepemilikan. "Sudah pernah... kukatakan padamu malam itu... seujung kuku pun... tidak akan pernah kubiarkan siapa pun menyentuh atau melukaimu di rumah ini. Luka di punggungku ini... tidak ada apa-apanya... dibandingkan dengan rasa sakit yang harus kurasakan jika melihat wajahmu yang terluka."
Detik itu juga, Kinanti menyadari bahwa pria matang yang semula menikahinya karena paksaan dan kewajiban ini, kini telah menjelma menjadi perisai hidup yang rela mempertaruhkan nyawa dan seluruh raga demi melindunginya. Rasa cinta dan kepemilikan Baskara padanya telah melampaui segala bentuk gengsi dan ego yang selama ini menghalangi mereka.
Suasana di area depan rumah utama berubah menjadi luar biasa kacau dalam waktu singkat. Bunyi sirine dari dua mobil patroli kepolisian dan satu mobil ambulans bersahut-sahutan, memecah ketenangan komplek mewah tersebut. Para tetangga mulai keluar dari rumah mereka, berbisik-bisik melihat Chynthia yang digiring masuk ke dalam mobil polisi dengan tangan terborgol dan wajah yang tertutup rambut sepenuhnya hancur sebagai seorang kriminal.
Tim medis ambulans dengan cekatan langsung memberikan pertolongan pertama pada Baskara. Kemeja batik pria itu digunting dengan sangat hati-hati oleh petugas untuk menghindari kerusakan kulit yang lebih parah, lalu punggungnya segera dibilas dengan cairan steril dalam jumlah banyak sebelum ditutup dengan perban khusus luka bakar. Selama proses evakuasi ke dalam tandu ambulans, Baskara sempat kehilangan kesadarannya akibat syok dari rasa sakit yang teramat intens.
Kinanti tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Baskara, ikut masuk ke dalam mobil ambulans yang melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit Pusat yang memiliki unit penanganan luka bakar terbaik.
Dua jam kemudian, di lorong depan ruang operasi darurat rumah sakit, suasana tampak begitu sunyi dan menegangkan. Kinanti duduk di kursi tunggu dengan pakaian yang masih ternoda oleh sisa asap dan bau kimia dari baju Baskara. Kepalanya tertunduk, air matanya sudah mengering namun matanya tampak sembap sempurna.
Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar menggema di sepanjang koridor. Juragan Ramli datang dengan nafas memburu, didampingi oleh beberapa orang kepercayaannya dari pabrik beras didesa. Wajah pria tua itu tampak dipenuhi oleh kecemasan yang luar biasa, namun begitu melihat menantunya duduk sendirian dalam kondisi yang memprihatinkan, Juragan Ramli langsung mempercepat langkahnya dan duduk di samping Kinanti.
"Kinanti... Nduk..." panggil Juragan Ramli dengan suara serak, menepuk pundak menantunya dengan lembut. "Bagaimana keadaan Baskara? Apa yang sebenarnya terjadi? Bapak tadi langsung jalan begitu Joko menelepon."
Kinanti menoleh, lalu kembali terisak saat melihat wajah mertuanya. "Bapak... Om Baskara... punggungnya terluka parah karena melindungi aku dari air keras yang dibawa Ibu Chynthia. Ini semua salah Kinanti, Pak... kalau saja Kinanti tidak bodoh dan keluar pagar—"
"Sstt... jangan bicara seperti itu, Nduk," potong Juragan Ramli tegas namun penuh kasih sayang seorang ayah. Pria tua itu menggelengkan kepalanya. "Ini bukan salahmu. Ini adalah bukti bahwa anakku, Baskara, telah menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang sejati. Di desa kita, seorang laki-laki baru bisa dikatakan sebagai pria terhormat jika dia rela menumpahkan darahnya demi melindungi kehormatan dan keselamatan istrinya. Baskara melakukan hal yang benar, dan Bapak bangga padanya."