NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang mulai terlihat (12)

Senin pagi di SMA Bintang Nusantara sudah terasa sangat lebih sibuk dibanding hari-hari lainnya.

Upacara bendera baru saja selesai. Para siswa berlarian kembali ke kelas masing-masing, sementara pengurus OSIS masih berkumpul di ruang organisasi untuk membahas persiapan Festival Seni yang tinggal dua minggu lagi, sudah sangat sibuk memang. Arga berdiri di depan papan tulis dengan sebuah daftar di tangannya, Arga melihat kedepan kepada seluruh anggota festival seni.

"Mulai hari ini semua divisi harus lapor perkembangan setiap sore." ucap arga membuat beberapa anggota panitia mengangguk.

"Tinggal sedikit lagi kita selesai, jangan sampai ada yang ketinggalan sedikitpun ya." lanjutnya membuat semua serempak menjawab

"Iya, Kak."

Naya yang duduk di samping meja segera menuliskan hasil briefing pagi itu. Tangannya bergerak cepat karena sudah terbiasa menulis hal seperti ini. Tanpa perlu bertanya, ia sudah tahu bagian mana yang harus dicatat dan mana yang tidak.

Arga melirik sekilas ke arahnya

"Nay." panggilnya membuat Naya menolehkan kepalanya.

"Hm?"

"Jangan lupa nanti jadwal gladi dikirim ke grup."

"Siap."

"Yang versi revisi."

"Iya." Percakapan itu berlangsung begitu cepat hingga terdengar seperti kebiasaan.

Semua terasa alami.

Seolah mereka memang sudah bekerja bersama sejak lama itulah yang kita perhatikan.

 

"Aku baru sadar." Siska berbisik kepada Tasya saat rapat selesai.

"Apa?" tanya Tasya

"Kalau Kak Arga ngomong..." Siska memberi jeda pada ucapannya

"Yang pertama dicari pasti Naya." lanjutnya, membuat Tasya menoleh ke arah depan. Benar juga.

Setiap kali Arga membutuhkan sesuatu, ia selalu memanggil nama yang sama.

"Nay."

"Catat ya."

"Nay."

"Proposalnya mana?"

"Nay."

"Menurutmu gimana?"

Tasya tersenyum kecil.

"Mungkin karena mereka udah sering kerja bareng."

"Iya sih..."

"Tapi kelihatan akrab banget." Kalimat itu tidak sengaja terdengar oleh Talia yang sedang merapikan map.

Ia tidak ikut menanggapi. Namun matanya tanpa sadar beralih ke arah Arga. Dan benar. Arga memang tampak jauh lebih nyaman berbicara dengan Naya.

 

Sore harinya, seluruh panitia mulai memindahkan perlengkapan ke aula sekolah. Kursi disusun. Spanduk dibentangkan. Pengeras suara mulai diuji.

"Nay." Arga memanggil dari atas panggung.

"Bisa tolong cek rundown?" tanya Arga membuat Naya menganggukkan kepalanya

"Bisa." Naya segera naik ke panggung sambil membawa map nya.

"Bagian penampilan band dipindah ke sesi kedua." ucap Arga membuat Naya segera menoleh ke arahnya

"Kenapa?" tanya Naya heran

"Guru tamunya baru datang jam empat." Naya menganggukkan kepalanya

"Oh." Naya langsung mencoret jadwal lama.

"Kalau begitu penampilan tari kita naikkan dulu."

"Setuju." jawab Arga. Steven yang melihat mereka hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau udah dua orang itu..."

"Ngobrol lima menit, kerjaan sejam selesai." ucapnya dengan pelan

 

Menjelang sore. Talia datang membawa beberapa minuman dingin.

"Aku beli buat semuanya." ucapnya berseru

"Wah!"

"Baik banget." Semua anggota panitia langsung mengambil satu botol.

Talia langsung menghampiri Arga.

"Ini buat kamu." ucapnya sambil menyodorkan minuman kepada Arga.

"Makasih." Arga menerimanya sambil tersenyum. Lalu tanpa berpikir panjang, ia melihat ke arah Naya.

"Nay." panggilnya membuat naya menoleh

"Iya?" tanya naya

"Kamu belum ambil."

"Oh..." Naya baru menyadari semua minuman hampir habis. Tersisa satu botol. Arga mengambilnya lalu menyerahkannya kepada Naya.

"Nih." ucap Arga sambil menyodorkan minumannya, itu membuat Naya menatap Arga lumayan lama, dan dia langsung menolaknya.

"Kamu aja, Kak."

"Aku masih ada air putih."

"Nggak apa-apa." ucap Arga dengan senang hati, Naya akhirnya menerima botol itu.

"Makasih." ucapnya dengan senyumnya yang manis, Arga memperhatikan senyuman. itu dalam diam.

Mereka kembali bekerja seperti biasa. Namun dari kejauhan, Talia memperhatikan semuanya dalam diam.

Ia baru sadar... Arga bahkan memikirkan hal-hal kecil untuk Naya. Hal-hal yang dulu sering ia lakukan kepadanya.

 

Saat matahari mulai tenggelam, pekerjaan hari itu akhirnya selesai. Semua anggota panitia duduk di tepi panggung sambil menikmati angin sore. Suasana terasa santai. Steven tiba-tiba tertawa.

"Eh." panggilnya pada semua anggota festival seni

"Kalian sadar nggak?"

"Apa?" tanya mereka

"Tadi dari pagi..."

"Kak Arga manggil Naya berapa kali?" Semua langsung saling berpandangan. Siska terkekeh.

"Banyak." Tasya ikut menghitung dengan jari.

"Sepuluh?" ucapnya sambil mengangkat tangannya

"Lebih." Talia tersenyum tipis mendengar hal itu.

"Lah, kan sekretaris." ucap Talia.

"Iya." jawab Steven.

"Tapi lucu aja, Soalnya..." Ia langsung menoleh ke arah Arga.

"Kalau Naya nggak ada, kayaknya kamu bingung." Semua tertawa.Arga ikut tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, sudah tidak heran memang anggota festival seni ini.

"Ya iyalah, dia yang paling tahu semua data, itu karena dia rajin, makanya aku sering nanya." Jawaban itu terdengar masuk akal. Di telinga mereka. Tidak ada yang salah sama sekali. Namun Steven hanya mengangkat sebelah alis sambil tersenyum jahil.

"Semoga emang cuma karena itu."

"Hah?" tanya Arga heran

"Nggak ada."

Steven segera berdiri sebelum Arga sempat bertanya lagi.

 

Di perjalanan pulang, Talia berjalan sendirian melewati koridor sekolah. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Ia mengenal Arga lebih lama daripada siapa pun di panitia itu.

Ia tahu bagaimana Arga biasanya bersikap, perhatian, sopan dan mudah membantu. Tetapi...

Ada sesuatu yang berbeda, ada satu hal yang membuat dirinya terasa janggal.

Dulu, saat mereka masih bersama, Arga tidak pernah terlihat sesantai itu dengan orang lain. Sekarang...

Senyum Arga lebih sering muncul ketika berbicara dengan Naya. Tatapannya lebih sering mencari Naya di tengah keramaian dan tatapannya sangat lembut jika melihat ke arah Naya, berbeda kepada dirinya dahulu.

Dan yang paling membuat Talia gelisah...

Semua itu dilakukan Arga tanpa sadar. Talia berhenti di depan jendela aula. Dari kejauhan, ia melihat Arga dan Naya masih membereskan beberapa kursi bersama. Mereka tertawa karena salah satu kursi yang hampir jatuh.

Sederhana.

Tidak romantis sama sekali jika dilihat begitu. Namun, terlihat sangat nyaman.

Talia mengembuskan napas pelan. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke sekolah itu, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

Bukan marah.

Bukan benci.

Melainkan takut.

Takut kalau tempat yang dulu pernah ia miliki di sisi Arga... Pelan-pelan sedang diisi oleh orang lain padahal dirinya sendiri juga mengharapkan sesuatu lagi dari Arga, ingin sekali rasanya bersama dengan Arga sekali saja, namun itu sepertinya hanya mimpi baginya.

Sementara di dalam aula, Arga sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya. Ia hanya mengambil satu kursi terakhir dari tangan Naya dan berkata ringan,

"Udah. Sisanya besok aja." Naya mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, Kak." ucapnya

Tanpa mereka sadari...

Kenyamanan yang selama ini tumbuh perlahan kini mulai terlihat oleh semua orang.

Dan ketika sebuah hubungan mulai terlihat oleh banyak mata, biasanya konflik tidak lagi bisa dihindari, tidak ada yang tahu ujungnya bagaiman, jangankan mereka Arga dan Naya saja tidak tahu ujung hubungannya akan seperti apa nanti.

......................

soon to bee

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!