NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Sementara itu... Tepuk tangan perlahan memenuhi ruang rapat. Presentasi Calista telah selesai.

Supervisor menatap ke arah seluruh peserta rapat sambil mengangguk puas. "Baik. Terima kasih, semuanya."

Para karyawan mulai menutup laptop masing-masing. Suasana yang tadi begitu serius, perlahan mencair.

Calista mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah..." bisiknya lirih.

Ia segera mematikan proyektor, lalu mulai merapikan kabel dan laptop yang tadi digunakan.

Baginya... Presentasi sudah selesai. Kini saatnya kembali bekerja seperti biasa. Ia sama sekali tidak menyadari... Sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dari bagian belakang ruangan.

Arga.

CEO itu masih berdiri di tempatnya. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tenang. Namun pikirannya sedang sibuk mencari alasan.

"Hanya mengucapkan selamat..."

"Tidak."

"Terlalu tiba-tiba."

"Kalau langsung memuji..."

"Nanti dia malah sungkan."

Arga mengembuskan napas pelan. Seumur hidup... Baru kali ini ia merasa kebingungan hanya untuk memulai percakapan dengan seseorang.

Dimas yang berdiri di sampingnya melirik sekilas. Sudut bibirnya bergerak menahan senyum.

"Pak..."

"Hm?"

"Bapak mau kembali ke ruang kerja?"

Arga masih memandang ke arah Calista. "Nanti sebentar lagi."

"Nanti?"

"Aku ingin melihat hasil pengarsipan yang dipresentasikan tadi."

Dimas hampir tertawa. "Melihat hasil pengarsipan..."

Padahal sejak perusahaan berdiri... Arga tidak pernah sekalipun turun langsung hanya untuk memeriksa map arsip.

"Baik, Pak."

Beberapa menit kemudian... Ruangan mulai kosong. Satu per satu karyawan keluar sambil membawa dokumen masing-masing.

Calista menjadi orang terakhir. Ia sedang memasukkan laptop ke dalam tas kantor. Tangannya bergerak pelan. Rapi. Seperti biasanya. Saat itulah... Langkah kaki terdengar mendekat.

Calista mengangkat kepala. Sedikit terkejut ketika melihat Arga sudah berdiri tidak jauh darinya. "Pak Arga..." Ia langsung berdiri dengan sopan. "Maaf, Pak... apakah ada yang kurang dari presentasi saya?" Pertanyaan itu keluar lebih dulu. Karena ia mengira atasannya datang untuk memberikan koreksi.

Arga menggeleng pelan. "Tidak."

Calista menunggu. Beberapa detik berlalu. Arga justru ikut terdiam.

Untuk sesaat... Laki-laki itu kembali kehilangan kata-kata.

Dimas yang masih berdiri di ambang pintu sampai menghela napas pelan. "Ayo, Pak... bilang saja..." gumamnya dalam hati merasa gemas sekali dengan atasannya itu.

Arga akhirnya berdeham pelan. "Tadi..."

"Iya, Pak?"

"Penjelasanmu..." Ia berhenti sebentar. "...bagus." Hanya satu kata itu. Namun diucapkan dengan tulus.

Calista tampak sedikit terkejut. "Terima kasih, Pak."

Arga mengangguk kecil. "Kamu memahami data dengan baik."

"Alhamdulillah. Saya hanya menjelaskan sesuai pekerjaan yang saya kerjakan."

Jawaban itu membuat Arga kembali tersenyum tipis. Tidak ada sedikit pun nada menyombongkan diri. Semua terdengar begitu sederhana.

Arga kembali membuka suara. "Kalau tidak keberatan..."

Calista menunggu.

"Boleh saya melihat sistem pengarsipan yang kamu buat?"

Calista berkedip pelan. "Tentu saja boleh, Pak. Kalau Bapak ingin melihat, saya bisa menunjukkan filenya."

Arga mengangguk. "Baik."

Calista segera membuka kembali laptop yang baru saja ia masukkan ke dalam tas. Ia memutar layar sedikit ke arah Arga. "Ini, Pak."

Arga melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat. Tetap menjaga jarak yang sopan. Namun kini... Keduanya berdiri di sisi meja yang sama.

Calista mulai menjelaskan. "Awalnya saya menemukan beberapa kode yang berulang. Karena itu saya memisahkan berdasarkan divisi terlebih dahulu."

Arga mengangguk pelan. Tatapannya sesekali melihat layar. Sesekali...

Tanpa sadar... Berpindah kepada wajah Calista yang sedang menjelaskan dengan penuh kesungguhan. Setiap kali berbicara... Mata perempuan itu selalu tertuju pada data. Bukan kepada atasannya. Hal kecil itu justru membuat Arga semakin menghargainya. Ia datang bukan untuk mencari perhatian. Ia hanya benar-benar ingin menjelaskan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian...

Calista menutup laptopnya. "Kurang lebih seperti itu, Pak."

Arga mengangguk pelan. "Terima kasih."

"Sama-sama, Pak."

Hening kembali menyelimuti mereka.

Arga sebenarnya masih ingin berbicara. Namun ia kehabisan alasan. Akhirnya ia berkata pelan, "Kalau nanti ada ide lain untuk memperbaiki sistem perusahaan... jangan ragu menyampaikannya."

Calista tersenyum sopan. "InsyaAllah, Pak."

Jawaban singkat itu membuat Arga kembali mengangguk.

"Baik."

Ia pun melangkah meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup...

Dimas yang sejak tadi menunggu di luar langsung berjalan menyamai langkah atasannya. "Pak."

"Hm?"

"Bapak tadi benar-benar cuma mau lihat arsip?"

Arga tetap berjalan lurus. "Iya."

"Terus kenapa lihat Bu Calista lebih lama daripada lihat laptopnya?"

Langkah Arga sempat terhenti. Ia berdecak pelan, lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu kebanyakan mengamati."

Dimas tersenyum lebar. "Siap, Pak."

Namun dalam hati, ia semakin yakin.

Pak Arga memang sedang mencari berbagai alasan kecil untuk bisa berbicara lebih lama dengan Calista. Bukan karena pekerjaannya semata, melainkan karena setiap percakapan singkat dengan perempuan itu selalu membuat hari CEO yang biasanya datar itu terasa sedikit lebih hangat.

*

Di sisi lain... Hari mulai beranjak sore.

Langit tampak cerah setelah hujan yang turun sejak siang. Cahaya matahari memantul di kaca-kaca gedung pertokoan, membuat suasana pusat kota kembali ramai.

Di sebuah kafe bergaya modern... Rania duduk di dekat jendela. Ia beberapa kali melirik jam tangan. Pukul empat lewat lima belas.

"Kenapa belum datang juga...?" gumamnya pelan.

Di atas meja sudah tersedia dua gelas minuman. Salah satunya mulai kehilangan uap hangatnya. Hari itu sebenarnya adalah hari jadi hubungannya dengan Kevin.

Sudah hampir dua tahun mereka berpacaran. Rania bahkan sengaja berdandan lebih rapi dari biasanya.

Gaun berwarna biru muda. Tas bermerek yang baru dibelinya minggu lalu. Riasan tipis yang mempertegas wajah cantiknya.

Ia berharap... Hari itu menjadi hari yang menyenangkan. Beberapa menit kemudian...

Pintu kafe terbuka. Rania langsung tersenyum.

"Itu pasti dia dia..."

Namun... Senyumnya perlahan memudar saat ia menoleh. Kevin memang datang. Tetapi... Laki-laki itu tidak sendirian. Di sampingnya berjalan seorang perempuan muda yang tampak sangat akrab dengannya.

Perempuan itu bahkan menggandeng lengan Kevin sambil tertawa kecil. Langkah mereka berhenti tepat di depan meja Rania.

Rania berdiri perlahan. "Kevin..."

Kevin mengembuskan napas panjang. "Aku minta maaf."

Tatapan Rania bergantian melihat Kevin dan perempuan di sampingnya. "Apa maksudnya ini?"

Kevin terdiam beberapa detik. Kemudian berkata pelan, "Rania... kita selesai."

Kalimat itu membuat dada Rania seolah diremas.

"Apa?"

"Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Suara Kevin terdengar datar.

Rania menggeleng pelan. "Tidak lucu."

"Aku serius."

Rania menatap perempuan di samping Kevin. "Siapa dia?"

Perempuan itu tidak menjawab.

Kevin yang akhirnya membuka suara. "Namanya Alya."

Rania tertawa hambar. "Lalu?"

"Aku memilih dia."

Keheningan langsung menyelimuti meja mereka. Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah ketiganya.

Rania berusaha tersenyum. Meski bibirnya mulai bergetar. "Kevin... kamu bercanda, kan?"

Kevin menggeleng. "Tidak. Aku sudah memikirkan ini cukup lama."

Rania merasakan matanya mulai panas. "Kenapa?" Suaranya terdengar bergetar hebat. Dadanya sesak luar biasa.

Kevin mengusap tengkuknya pelan. "Aku capek."

"Capek?"

"Iya."

"Selama ini... yang paling sering kamu bicarakan hanya status, gengsi, dan penilaian orang."

Rania membeku.

Kevin melanjutkan dengan suara tenang. "Kalau makan... harus di tempat mahal. Kalau hadiah... harus yang paling mewah. Kalau bertemu temanku... kamu selalu membandingkan mereka."

Rania menggigit bibirnya. "Itu bukan alasan untuk selingkuh!" Sentak Rania marah.

Kevin menundukkan kepala sesaat. "Aku memang salah karena mendekati Alya sebelum hubungan kita benar-benar selesai. Aku minta maaf untuk itu. Tapi... aku juga tidak bisa terus berpura-pura bahagia."

Suasana kafe mulai semakin sunyi. Beberapa orang tidak lagi berpura-pura tidak mendengar.

Rania merasakan pipinya memanas. Tatapan orang-orang di sekeliling mulai membuatnya semakin tidak nyaman. "Aku tidak percaya..." bisiknya lirih.

Kevin mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Rania sempat mengira... Itu cincin. Namun... Kevin justru meletakkan gelang pasangan yang dulu mereka kenakan di atas meja.

"Aku mengembalikannya."

Rania menatap benda itu tanpa berkedip. Tangannya perlahan gemetar.

Perempuan di samping Kevin tampak menundukkan kepala, tidak ikut berbicara.

Kevin menarik napas panjang. "Semoga setelah ini... kamu menemukan orang yang benar-benar cocok." Ia mengangguk pelan. "Lalu... selamat tinggal, Rania."

Kevin berbalik. Alya ikut melangkah di sampingnya.

Rania masih berdiri membeku. Matanya mengikuti kedua orang itu hingga keluar dari kafe Barulah setelah pintu tertutup... Air matanya jatuh. Ia perlahan terduduk kembali di kursinya. Tangannya masih menggenggam gelang yang baru saja dikembalikan Kevin. Suara percakapan pelan mulai terdengar dari beberapa meja.

Rania tidak dapat mendengar jelas isi pembicaraan mereka. Namun ia tahu... Saat itu, banyak pasang mata sedang memandang ke arahnya.

Ia segera mengambil tasnya. Dengan langkah yang mulai goyah... Ia meninggalkan kafe secepat mungkin. Begitu sampai di luar gedung...

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Rania merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang dicintai.

"Aaaa Kevin brengsek!"

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!