NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Dia hanya pengasuhku." Suara Viren pelan, tetapi cukup jelas hingga teman-temannya saling berpandangan. "Bukan ibuku."

Anak perempuan yang tadi memuji Serina tampak bingung. "Tapi... dia sayang sekali sama kamu."

"Iya. Dia memang baik." Viren berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi tidak ada yang bisa menggantikan ibu kandungku." Suasana mendadak hening. Tak seorang pun tahu harus berkata apa.

Tak lama kemudian, ibu guru memasuki kelas.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Selamat pagi, Bu Guru," jawab mereka serempak.

Semua murid segera kembali ke bangku masing-masing.

Pelajaran pun dimulai. Namun, pikiran Viren tidak sepenuhnya berada di dalam kelas. Bayangan Serina terus muncul di benaknya. Perempuan itu selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekalnya. Selalu mengingatkan agar ia menghabiskan bekal. Bahkan kemarin, saat ia sempat menghilang, wajah Serina terlihat begitu pucat karena panik mencarinya.

Di dalam hati, Viren berbisik pelan. "Maaf, Tante Serina... aku tidak membencimu. Tapi Ibu tetap hanya satu."

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Anak-anak berhamburan keluar kelas dengan wajah ceria. Di depan gerbang, para orang tua dan pengemudi mulai berdatangan menjemput.

Viren melangkah pelan sambil membawa tas di pundaknya. Tak jauh dari gerbang, Serina sudah menunggu. Ia mengenakan blus krem sederhana dipadukan dengan rok panjang berwarna cokelat muda. Senyum hangat langsung mengembang saat melihat Viren.

"Tuan Muda." Serina melambaikan tangan kecil.

Beberapa teman Viren yang melihatnya ikut tersenyum. "Itu yang kemarin datang, kan?"

"Iya! Cantik sekali."

"Tante, selamat siang!" sapa salah seorang anak sambil melambaikan tangan kepada Serina.

Serina membalas dengan ramah. "Selamat siang."

Teman-teman Viren kemudian melambaikan tangan bersamaan. "Dadah, Viren!"

"Dadah, Tante!"

Serina sempat tertegun mendengar sapaan itu.

Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Viren buru-buru menyahut, "Dia bukan ibuku." Ucapan itu membuat beberapa anak saling berpandangan bingung.

"Tante Serina cuma menjemputku." Viren berjalan lebih dulu melewati Serina tanpa menunggu seperti biasanya.

Serina menatap punggung anak itu beberapa saat. Ada sesuatu yang terasa berbeda hari ini.

Biasanya Viren akan langsung menghampirinya, bahkan sesekali bercerita tentang kegiatan di sekolah.

Kini, anak itu justru menjaga jarak. Meski hatinya terasa sedikit sesak, Serina tetap menyusul dengan langkah tenang.

Sepanjang perjalanan menuju mobil, keduanya berjalan berdampingan, tetapi tidak sedekat hari-hari sebelumnya.

Serina tidak bertanya apa pun. Ia hanya sesekali melirik Viren, berharap suatu hari nanti, tembok yang masih mengelilingi hati anak itu akan runtuh dengan sendirinya.

Perjalanan pulang berlangsung lebih sunyi dari biasanya.

Viren memilih menatap ke luar jendela mobil, sementara Serina beberapa kali melirik ke arahnya. Ia menyadari perubahan sikap anak itu, tetapi memilih tidak memaksanya berbicara.

Mobil akhirnya memasuki halaman rumah.

Begitu pintu terbuka, Viren langsung turun dan berjalan lebih dulu menuju pintu masuk.

Serina segera menyusul dengan langkah sedikit lebih cepat. "Tuan Muda."

Viren berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Kenapa hari ini pulangnya diam sekali? Apa ada yang terjadi di sekolah?"

Viren menggeleng pelan. "Tidak ada."

Serina tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana. "Tuan Muda... apa Tante Serina membuatmu kesal?"

Baru kali ini Viren menoleh. Tatapannya datar.

"Tidak."

"Benarkah?"

"Iya." Jawaban itu singkat, nyaris tanpa emosi.

Sebelum Serina sempat bertanya lagi, Viren kembali melangkah. "Aku mau ke kamar."

Serina hanya memandangi punggung kecil itu hingga menghilang di balik pintu rumah. Ada sesuatu yang berubah. Ia bisa merasakannya dengan jelas. Namun, ia tidak tahu apa yang membuat Viren tiba-tiba menjaga jarak darinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Waktu berlalu dengan cepat.

Sinar matahari perlahan tenggelam, digantikan gemerlap lampu yang mulai menerangi halaman kediaman keluarga Timoty.

Malam ini, Vincent dan Serina harus menghadiri sebuah jamuan yang mempertemukan para pengusaha, pejabat, dan tokoh penting kota.

Sebuah sedan hitam telah menunggu di depan pintu utama.

Vincent berdiri di ruang tengah dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Sesekali ia melirik arloji di pergelangan tangan.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lantai dua. Vincent mengangkat kepalanya.

Serina muncul di ujung tangga. Gaun biru rancangan Clara yang diantarkan pagi tadi membalut tubuhnya dengan anggun. Riasan tipis di wajahnya justru membuat kecantikan alaminya semakin menonjol. Rambut panjangnya tergerai lembut di bahu.

Tatapan Vincent mengikuti setiap anak tangga yang dituruni Serina. Pria yang selalu tenang dalam menghadapi baku tembak maupun negosiasi bernilai miliaran rupiah itu tampak kehilangan fokus selama beberapa detik.

Serina yang menyadari tatapan itu berhenti di anak tangga terakhir. "Ada yang salah dengan gaun ini?"

Vincent tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat pada Serina, seolah sedang memastikan sesuatu.

Beberapa detik kemudian, ia melangkah mendekat. Vincent mengangkat tangannya, lalu menyentuh ringan ujung bahu gaun Serina, menyingkirkan sehelai benang halus yang hampir tak terlihat. Setelah memastikan penampilannya sempurna, ia menarik tangannya kembali. "Sudah." Hanya satu kata.

Vincent kemudian membuka pintu untuknya. "Acaranya akan segera dimulai."

Serina sempat tertegun. Tak ada pujian. Tak ada rayuan. Namun, dari gestur kecilnya merapikan rambut Serina, semuanya sudah lebih dari cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Pintu mobil tertutup pelan.

Vincent duduk di sisi kanan kursi belakang, sementara Serina berada di sampingnya. Mobil perlahan meninggalkan halaman kediaman keluarga Timoty, diiringi iring-iringan kendaraan pengawal.

Sejak mobil melaju, tak satu pun dari mereka membuka percakapan. Vincent menatap lurus ke depan dengan ekspresi datarnya yang sulit ditebak. Sesekali, tanpa sengaja, sorot matanya beralih ke arah Serina yang duduk dengan anggun di sampingnya. Serina sendiri memilih menatap gemerlap lampu kota di balik jendela.

Entah mengapa, suasana hening malam itu terasa berbeda. Bukan karena canggung.

Melainkan karena keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Tak ada satu pun dari mereka yang mengucapkan sepatah kata hingga sedan hitam itu akhirnya memasuki area hotel tempat jamuan diselenggarakan.

Sedan hitam berhenti tepat di depan pintu utama hotel. Seorang petugas segera membukakan pintu.

Vincent turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. Serina menyambut uluran itu dan turun dengan anggun di sampingnya.

Begitu keduanya memasuki ballroom, beberapa pasang mata langsung tertuju kepada mereka.

Percakapan yang semula riuh perlahan mereda.

"Bukankah itu Vincent Timoty?"

"Iya... dan perempuan di sampingnya pasti istrinya."

"Astaga... mereka benar-benar pasangan yang serasi."

"Tak heran semua orang membicarakan mereka."

Beberapa rekan bisnis segera menghampiri. "Selamat malam, Tuan Vincent."

Vincent mengangguk singkat.

Salah seorang pria paruh baya tersenyum ramah kepada Serina. "Suatu kehormatan akhirnya bisa bertemu dengan istri Anda secara langsung."

Pria itu lalu menoleh kepada Vincent. "Anda sungguh beruntung, Tuan Vincent. Istri Anda sangat cantik."

Vincent mengalihkan pandangannya kepada Serina sejenak. Ekspresinya tetap datar. "Terima kasih." Jawabannya singkat, tetapi sorot matanya menyiratkan kebanggaan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Serina hanya membalas dengan senyum sopan.

Malam itu, ia berdiri di sisi Vincent sebagai pendampingnya di hadapan para tokoh penting. Dan tanpa perlu banyak bicara, kehadiran mereka berdua sudah cukup menjadi pusat perhatian seluruh ballroom.

Di tengah keramaian ballroom, sepasang mata tiba-tiba terpaku pada sosok Serina. Pria itu membeku. Gelas anggur di tangannya nyaris terlepas. "Serina...?"

Ia menatap perempuan yang berdiri anggun di sisi Vincent Timoty, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Senyum tipis di sudut bibirnya perlahan menghilang, berganti dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sementara itu, Serina sama sekali belum menyadari ada seseorang yang terus memperhatikannya dari kejauhan.

Pria itu mengepalkan tangannya. "Akhirnya... kita bertemu lagi."

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!