Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Dasar anak bodoh!"
"Anak cacat!"
"Ini karma ibumu yang harus kamu tanggung!"
Suara-suara itu bergema di kepalanya, semakin lama semakin jelas hingga membuat Rani tersentak bangun.
"Haikal!"
Tubuhnya langsung menegang. Napasnya memburu, sementara matanya bergerak liar mencari sosok yang paling ingin ia lihat.
"Ran, tenang."
Rico yang sejak tadi berjaga di samping ranjang segera memegang bahunya. "Haikal aman."
Rani membeku sesaat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sempat mengunci dadanya perlahan mengendur, tetapi rasa nyeri yang tertinggal justru semakin menusuk.
Kini ia akhirnya mengerti mengapa dulu dirinya sampai memasukkan Haikal ke rumah sakit jiwa. Bukan karena tidak menyayangi anak itu. Justru karena terlalu menyayanginya.
Rani menunduk. Jemarinya menggenggam erat selimut di pangkuannya.
"Aku takut..." suaranya nyaris tak terdengar. "Aku takut kalau dia tetap bersamaku, mereka akan terus menyakitinya."
Rico terdiam beberapa saat sebelum duduk di tepi ranjang.
"Kamu menghadapi semuanya sendirian waktu itu," katanya pelan. "Siapa pun bisa membuat keputusan yang salah kalau terus-menerus ditekan."
Rani tidak menjawab.
Potongan-potongan ingatan yang baru kembali membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia masih bisa mengingat wajah Haikal yang ketakutan, suara ejekan yang ditujukan kepadanya, dan dirinya yang semakin lama semakin kehilangan cara untuk melindungi anak itu.
Melihat perubahan ekspresinya, Rico akhirnya bertanya, "Ingatanmu sudah kembali?"
"Hanya sebagian." Rani menggeleng pelan. "Masih terputus-putus. Tapi setidaknya sekarang aku mulai mengingat alasan di balik beberapa keputusan yang pernah kuambil."
"Itu sudah kemajuan besar."
Rani tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Ric..." Ia menatap kedua tangannya sendiri. "Kalau aku tidak bisa kembali mengejar mimpiku menjadi dokter spesialis anak, tidak apa-apa."
Rico mengernyit.
"Tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk Haikal. Apa pun itu."
Ekspresi Rico langsung melembut. "Ran, kamu tahu kondisi Haikal."
Rani mengangguk. Sebagai seorang dokter, ia tahu lebih baik daripada siapa pun bahwa cerebral palsy tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, terlebih dengan kondisi Haikal yang tergolong berat. Namun sebagai seorang ibu, ada bagian dalam dirinya yang tetap berharap pada keajaiban.
Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat sebelum tatapan Rani perlahan berubah yang awalnya lembut lalu menjadi dingin. Kemarahan yang selama ini terkubur muncul ke permukaan.
"Aksan, Arlan, Arjun..."
Rico mengangkat kepala mendengar nama-nama itu disebut, "Ran, kamu mau ngapain?"
"Aku sudah terlalu lama memaklumi mereka." Suara Rani tetap pelan, tetapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih mengerikan.
"Kalau selama ini mereka selalu menganggapku ibu tiri yang jahat, mungkin sudah saatnya mereka melihat seperti apa rasanya memiliki ibu tiri yang benar-benar tidak peduli pada mereka."
***
Di rumah sakit lain, Aksan, Arlan, dan Arjun tiba-tiba bersin bersamaan.
"Hacih!"
"Hacih!"
"Hacih!"
Sintia yang sedang berbaring di ranjang langsung menoleh kaget. Bahkan Roy ikut mengangkat alis.
"Apa kalian sedang latihan paduan suara?" sindirnya.
Ketiganya saling berpandangan bingung.
Sementara itu, wajah Roy masih terlihat suram. Kabar yang baru diterimanya beberapa saat lalu terus berputar di kepalanya. Haikal sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Kenyataan itu membuat suasana hatinya semakin buruk.
Sintia yang menangkap perubahan ekspresinya akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Mas..."
"Hm?"
"Kalau Haikal sudah keluar..." Sintia menggigit bibir bawahnya pelan. "Berarti kita tidak punya cara lagi untuk membuat Kak Rani menurut seperti dulu?"
Ruangan mendadak hening.
Aksan, Arlan, dan Arjun yang tadinya masih saling meledek setelah bersin bersamaan langsung menoleh ke arah Sintia.
Sementara Roy mengangkat pandangannya perlahan.
"Apa maksudmu?" tanyanya datar.
Sintia tersentak. Baru saat itulah ia menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Aku... aku hanya khawatir."
"Khawatir?"
"Iya." Sintia buru-buru meraih tangan Roy. "Maksudku, selama ini Kak Rani selalu menuruti semua kemauan kita karena memikirkan Haikal. Kalau sekarang Haikal sudah tidak di sana, aku takut hubungan kita dengan Kak Rani malah semakin buruk."
Roy tidak langsung menjawab. Tatapannya justru semakin tajam. Entah kenapa, kalimat Sintia tadi terus terngiang di kepalanya. Tidak punya cara lagi untuk membuat Kak Rani menurut seperti dulu.
Cara? Sejak kapan mereka membutuhkan cara untuk membuat Rani menurut? Bukankah selama ini wanita itu memang selalu mengalah?
Roy mengingat kembali beberapa kejadian yang belakangan muncul dalam ingatannya. Rani yang meminta izin bahkan untuk hal-hal kecil. Rani yang selalu menjadi orang pertama mengalah setiap kali terjadi konflik. Rani yang tetap bertahan meski berkali-kali disakiti.
Lalu sekarang, sejak awal tahun baru dan dia menghilang rasanya banyak perubahan, tapi satu ia masih yakin jika wanita itu masih menyimpan namanya di hati.
"Mas?" panggil Sintia pelan.
Roy tersadar dari lamunannya.
"Aku lelah. Istirahatlah."
Jawaban itu membuat senyum Sintia membeku. Ia mengenal Roy cukup lama untuk tahu bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu dan tentu saja itu bukan hal yang baik.
Di sisi lain, Arlan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Papa..."
"Hm?"
"Kalau Mama benar-benar mengeluarkan Haikal dari rumah sakit jiwa, apa Mama akan membawanya kembali ke rumah?"
Pertanyaan itu membuat suasana kembali sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab. Bahkan Aksan, Arlan, dan Arjun ikut menatap Roy, menunggu jawaban darinya. Namun, Roy sendiri tidak tahu harus berkata apa. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Melihat itu, Aksan, Arlan, dan Arjun segera menyusul, meninggalkan Sintia sendirian.
"Hei, kalian mau ke mana?" tanya Sintia.
Tidak ada yang menjawab.
"Sialan! Argh!" teriaknya frustrasi. Di menit berikutnya, ia mengaduh kesakitan karena gerakannya yang terlalu kasar membuat luka di punggungnya tertarik.
Di luar ruangan, Aksan langsung menghentikan langkah kedua adiknya.
"Kalau si cacat itu kembali, kita bakal malu lagi. Aku nggak mau," katanya.
"Benar, Kak. Aku juga malu kalau dia ada di sekitar kita," sahut Arjun.
"Kita harus melakukan sesuatu. Jangan sampai Mama membawa si cacat itu pulang," imbuh Arlan.
Aksan terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku rasa perlakuan kita ke Mama mungkin sudah keterlaluan. Karena itu dia putus asa dan ingin membawa si cacat itu kembali."
"Tapi kalau kita baik sama Mama, ingat nggak kata Tante Sintia? Mama bakal makin ngelunjak dan terus memperdaya kita," jawab Arjun polos.
Tanpa mereka sadari, selama ini kata-kata Sintia telah tertanam kuat di benak mereka. Sedikit demi sedikit, wanita itu menanamkan kecurigaan dan kebencian hingga mereka memandang Rani dengan prasangka.
"Ngomong-ngomong soal Tante Sintia dan apa yang dia alami, apa kalian nggak mau membalas perbuatan Mama?" tanya Aksan.
Arjun menggeleng cepat.
"Kak, Mama sekarang saja sudah mau membawa anaknya kembali. Kalau kita membalas perbuatannya, keadaan bakal makin kacau."
"Aku punya ide," ujar Arlan tiba-tiba.
Aksan dan Arjun langsung menoleh ke arahnya.
"Ide apa?" tanya Aksan.
Arlan tersenyum tipis. "Kita nggak perlu turun tangan sendiri. Lebih baik pakai uang."
Ketiganya menyeringai siap untuk membuat Rani mendapatkan balasan.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏