Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.
Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.
Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.
"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Akhir Semester dan Persiapan Festival
Udara pagi Kota Surabaya terasa lebih sejuk dari biasanya, menyisakan sisa-sisa basah dari gerimis semalam. Di SMA Bangsa, suasana gerbang sekolah tampak sibuk oleh lalu-lalang siswa yang mengenakan seragam putih abu-abu.
Namun, bagi Bara, kembali menginjakkan kaki di sekolah ini terasa jauh berbeda setelah apa yang ia saksikan di sudut gelap kota beberapa malam lalu.
Dunia jalanan yang kejam dengan aliansi 'Four Men Crew' dan kejatuhan Big Bang seolah berada di dimensi yang sama sekali lain dari ruang kelas tempatnya berdiri sekarang.
Hari ini, bel masuk berbunyi nyaring menandakan dimulainya pekan yang paling dihindari oleh seluruh siswa Ujian Akhir Semester.
Selama seminggu penuh, seluruh perhatian siswa terkuras habis di atas kertas ujian. Ruang kelas terasa senyap, hanya diwarnai suara gesekan pensil, lembaran kertas yang dibalik, serta desahan napas lelah para murid yang berjibaku dengan soal-soal matematika, fisika, dan sejarah.
Bara sendiri berusaha keras membagi fokusnya. Di satu sisi, ia harus menjaga nilainya tetap aman demi menenangkan ibunya di rumah; di sisi lain, bayangan tentang bentrokan malam itu dan nama 'Four Men Crew' kerap kali berkelebat di kepalanya, menciptakan rasa penasaran yang sunyi.
Namun, kesibukan ujian tidak lantas membuat hari-hari Bara sepenuhnya membosankan. Di luar jam-jam ujian, ada satu hal yang menjadi pelarian sekaligus rutinitas barunya yaitu latihan musik.
Setiap sore begitu lembar jawaban terakhir dikumpulkan dan bel tanda jam ujian selesai berdering, Bara selalu bergegas menuju studio musik sekolah. Di sana, seorang remaja bertubuh agak gempal dengan rambut sedikit berantakan dan selalu mengenakan earphone menggantung di lehernya sudah menunggu.
Udin, nama anak kelas musik itu, menyambut Bara dengan senyuman lebar sambil menenteng gitar akustik kesayangannya.
"Wah, muka lu pucat banget, Bar. Kurang tidur gara-gara semalam belajar sejarah atau mikirin rumus fisika yang bikin kepala mau meledak?" sapa Udin sambil melempar sebotol air mineral dingin ke arah Bara yang langsung ditangkap sigap oleh temannya itu.
Bara menangkap botol tersebut, lalu tertawa kecil sambil melepas dasi seragamnya dan duduk di kursi kayu dekat sudut ruangan.
"Dua-duanya, Din. Sumpah, bab ekonomi kemarin benar-benar bikin gua pengen pingsan."
,
Udin terkekeh renyah. "Makanya, jangan terlalu diforsir. Otak juga butuh piknik, bro. Untung sebentar lagi Ujian Akhir Semester kelar, jadi kita bisa fokus latihan buat festival sekolah minggu depan."
"Bener juga," balas Bara, tatapannya beralih ke arah kibor elektronik dan setrip kabel audio yang berantakan di atas meja studio.
"Gimana aransemen lagu yang kemarin kita bahas? Lu jadi masukin bagian rap di reff kedua?"
"Jdi dong! Nih, lu dengar ya." Udin langsung menyalakan audio rekamannya.
Bara mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan masukan atau mengetukkan jarinya mengikuti ketukan ritme. Di ruangan sempit berpenghuni dua orang itu, suasana terasa begitu cair.
Kedekatan mereka terjalin dengan cepat dalam beberapa minggu terakhir, disatukan oleh bahasa universal bernama musik. Bagi Bara, menghabiskan waktu bersama Udin adalah cara terbaik untuk melarikan diri sejenak dari bayang-bayang gelap dunia luar yang sempat ia intip.
Tanpa mereka sadari, dari balik kaca jendela studio yang agak berembun, sepasang mata tajam tengah mengawasi gerak-gerik mereka dengan penuh selidik.
Victor berdiri kaku di koridor luar. Remaja berbadan tinggi besar dengan jaket seragam bengkel teknik yang lengannya digulung sampai siku itu melipat tangan di dada. Wajahnya mengeras, memperlihatkan garis rahang yang menegang setiap kali ia melihat gelak tawa lepas antara Bara dan Udin di dalam sana.
Bagi Victor, kedekatan yang terjalin begitu cepat antara Bara anak baru yang latar belakangnya masih abu-abu dan Udin yang dikenal polos serta baik hati adalah sebuah pemandangan yang sangat mencurigakan.
Victor sudah lama mengenal Udin. Ia tahu betul bagaimana temannya itu sering kali menjadi sasaran keusilan atau dimanfaatkan oleh anak-anak lain di sekolah karena sifatnya yang terlalu mudah percaya. Dan sekarang, melihat Bara, seseorang yang sorot matanya kadang terlihat menyimpan rahasia kelam, begitu akrab dengan Udin, membuat alarm di kepala Victor langsung berdering nyaring.
'Anak baru itu... pasti punya maksud tersembunyi' batin Victor, matanya menyipit tajam menatap ke arah Bara yang sedang tertawa kecil mendengarkan petikan gitar Udin.
Di mata Victor, gerak-gerik Bara tidak lebih dari sebuah sandiwara. Ia menduga bahwa Bara hanya pura-pura baik dan mendekati Udin demi memanfaatkan kemampuan bermusik atau fasilitas studio milik temannya itu.
Dalam pikiran Victor yang skeptis, tinggal menunggu waktu saja sampai Udin sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada Bara, lalu pada akhirnya ditinggal begitu saja atau bahkan dijadikan bahan perundungan (dibully) demi kepuasan kelompok-kelompok tertentu.
"Jangan harap lu bisa main-mainin Udin di depan muka gua, bajingan," gumam Victor pelan dengan nada penuh ancaman.
Ia memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan koridor studio musik dengan kepalan tangan yang erat di dalam saku celananya, bersiap merencanakan cara untuk membongkar kedok asli Bara sebelum semuanya terlambat.