Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Perkara Sarapan
Bab 16
Perkara Sarapan
Mila hanya diam mendengar Arjun mengancamnya. Tapi Mila tidak menundukkan kepala karena takut tetapi dia hanya menatap datar wajah sang suami yang selama ini selalu membuat hidupnya menderita.
"Kenapa kau hanya diam saja Mila, beneran kamu selingkuh, hah?"
Arjun tak terima Mila hanya diam saja sementara dia banyak melontarkan pertanyaan dan tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
"Percuma juga aku jawab, kamu hanya akan tetap pada egomu, Mas. Apapun yang aku lakukan tidak pernah benar di matamu."
Mila berusaha setegar mungkin dan berusaha untuk tenang tidak lagi dengan kesedihan atau pun rasa sakit. Dia mencoba meredam semua emosi yang telah membelenggu jiwanya.
Brak
Arjun menggebrak meja hingga cangkir kopi yang belum disentuh bergetar. Dia tidak terima Mila menjawab seperti itu.
"Apa maksudmu, hah!" Emosi Arjun kembali meledak.
Mila hanya menggeleng saja sebagai jawaban karena apapun yang akan dia jelaskan juga percuma tak ada gunanya.
"Sekarang ikut aku pulang, jangan membantah. Aku capek!" Sentak Arjun.
"Aku tidak mau pulang. Harus berapa kali aku katakan," jawab Mila tegas.
Arjun mengepalkan tangan dan ingin kembali memukul Mila tapi dia urungkan karena ponselnya berbunyi dan menampilkan panggilan masuk dari Bu Lisa.
"Ada apa ma?"
"Kau di mana, Jun?"
"Lagi di kontrakan Mila,"
"Hah, udah ketemu. Bawa pulang dia, mama mau kasih pelajaran."
Mila mendengar semua percakapan ibu dan anak tersebut. Sungguh dia merasa sangat miris dengan nasib hidupnya yang tak pernah dihargai ini.
"Ayo kau harus ikut aku pulang sekarang," paksa Arjun tapi Mila tetap menolak tidak mau ikut pulang.
"Jangan paksa aku mas, aku tidak ingin pulang, aku ingin di sini." Kekeuh Mila.
"Dasar keras kepala, ikut atau aku seret kau di jalanan, hah!" Geram Arjun.
"Silakan, Mas. Aku tidak takut," balas Mila penuh keberanian.
"Kau ..." Arjun tak bisa berkata-kata lagi.
Saat pintu di buka, beberapa orang memantau rumah tersebut. Ada yang berbisik-bisik sambil melirik sinis, ada yang yang langsung nyeplos tanpa saringan. Berbagai spekulasi terdengar riuh secara mendadak.
Arjun yang melihat hal itu, dia pun urung untuk menyeret Mila keluar dari rumah kontrakan tersebut. Sebenarnya Mila merasa sangat lega melihat keramaian karena itu menjadi penyelamatnya dan malam ini bebas dari Arjun yang mengganggu ketenangannya.
Pria itu berjalan tergesa dan menyalakan mesin motornya. Tak peduli cibiran para orang yang menonton drama mereka berdua barusan.
"Huuu, dasar laki kasar!"
"Suami ga puny otak."
"Laki-laki pengecut. Beraninya sama perempuan,"
Berbagai cibiran bagai angin lalu bagi Arjun dan pria itu menghampiri Roy yang sudah pindah posisi karena tadi tempat yang dia tungguin jadi ramai akibat perselisihan tersebut.
"Cabut!" Kode Arjun dan Roy mengikuti.
*
"Selama ini lo gitu ke bini lo, Jun?" Tanya Roy begitu mereka sampai di tempat tongkrongan biasa.
"Ya biasalah memangnya apa yang salah?" Jawab Arjun.
Roy tak menyangka jika Arjun begitu terhadap istrinya. Dia pikir selama ini hanya uangnya saja yang dikeruk habis oleh keluarga pria itu. Namun ternyata Arjun juga melakukan kekera san fisik terhadap istrinya.
"Mending lo ubah deh sikap lo ke dia, sebelum lo nyesel nantinya," nasehat Roy sebagai sahabat Arjun.
"Ah! lo tau apa soal rumah tangga, lo kan belum nikah. Nggak usah sok-sokan nasehatin gua dah lo," sanggah Arjun.
Roy pun akhirnya diam karena sahabatnya itu ternyata tidak mau mendengar nasehatnya padahal niatnya baik.
"Ya udah, gue cabut duluan ya. Ada orderan masuk nih," pamit Roy.
"Ya elah, cepet amat. Sih bastian kok tumben ngga nongol,"
" Dia lagi jagain emaknya di rumah sakit." Roy menjawab sebelum benar-benar pergi.
Akhirnya Arjun pun ikut pergi dan dia memilih pulang, pria itu menuju ke rumah ibunya. Setibanya di rumah Bu Lisa sudah menunggu di depan teras.
Begitu melihat motor Arjun, bu Lisa langsung berdiri sambil berkacak pinggang. Siap-siap ingin menyembur memberikan omelan pada orang yang tengah ditunggunya sejak tadi.
"Kok kai sendirian," heran Bu Lisa.
"Dia nggak mau pulang mah udahlah aku capek mau tidur." Putus Arjun yang langsung menyelam masuk ke dalam rumah dan bu Lisa langsung menyusulnya.
"Eh, Jun. Kamu tidak dengar yang Mama katakan tadi sebelum kau pergi?"
Arjun menghentikan langkah dan menoleh pada sang ibu yang tengah menatapnya.
"Apa?"
"Beras Jun beras di rumah ini habis memangnya besok kok nggak mau makan oh atau mau beli di luar saja kalau sudah dapat uang dari Mila malam ini?" Ujar bu Lisa dengan berbinar.
Bu Lisa mengira jika Arjun bertemu dengan Mila, anaknya itu akan pulang dengan membawa uang. Tapi kenyataannya tidak seperti itu untuk malam ini.
"Soal itu kita pikirin besok aja mah sekarang aku capek dan mau istirahat." Arjun terlalu begitu saja.
"Eh, Mama belum selesai bicara Arjun!" Seru bu Lisa kesal.
Sedangkan dari kamar Vio, gadis itu keluar dengan mata setengah melek. Dia terbangun karena suara ribut-ribut di luar kamarnya.
"Kenapa sih mah berisik banget aku ngantuk tahu," omel Vio.
"Sudah, kau lanjut tidur saja nggak usah ikut campur sekarang kepala mama pusing," cerca bu Lisa.
"Ya," jawab Vio singkat.
Bu Lisa menuju ke kamarnya, sedangkan Arjun sudah masuk ke dalam kamar dan ngorok. Wanita itu memijat pangkal hidung ya yang tiba-tiba terasa pening.
"Aduh, besok waktunya bayar cicilan emasku di pegadaian lagi. Arjun tadi dapat duit tidak ya," gumam bu Lisa.
Wanita itu banyak memikirkan sesuatu yang selama ini dia ikuti seperti arisan, gadai emas dan lain-lain.
Keesokan paginya, bu Lisa keluar kamar dan membangunkan Vio dengan suara khasnya.
"Vio, kamu ke kampus nggak hari ini. Bangun, bangun." Bu Lisa sambil menggedor pintu kamar Vio.
Kegaduhan pagi itu tidak langsung mereda sampai Vio benar-benar bangun dan keluar dari kamarnya. Sedangkan Arjun yang mendengar suara ibunya berteriak dia pun jadi bangun.
"Berisik banget sih ma, masih pagi." Keluh Arjun.
Begitu melihat Vio keluar dari kamar Bu Lisa pun akhirnya pergi menuju ke dapur. Wanita itu ingin masak tapi berasnya habis.
"Ya ampun, Arjun di suruh beli beras kok nggak pergi pergi sih."
Bu Lisa pun menghampiri Arjun yang tengah duduk di dapur dan ingin sarapan.
"Sarapan apa Ma?" Tanya Arjun.
"Angin aja, ga perlu sarapan makanan lain." Ketus bu Lisa.
"Kenapa Mama kak?" Hampir aja Vio ikutan mengeluh.
Arjun hanya menggeleng sebagai jawaban karena dia memang tidak mau. Pagi itu suasana sangat rius karena suara bu Lisa.