Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.
Tiga bulan sudah waktu berlalu. Pagi ini Arista bersiap menemani sang adik dan Hanif pergi ke dokter. Hanya check up bulanan untuk mengetahui perkembangan Hanif.
Dengan mengendarai mobil sendiri , Arista menjemput Anisa ke rumahnya. Tampak Hanif dan Anisa sudah menunggu di teras.
Tin...tin...
Arista membunyikan klakson dan turun menghampiri mereka. Arista tersenyum begitu melihat Hanif yang sudah rapi dan semakin berisi badannya , Arista yakin adiknya merawat putranya dengan baik.
"Assalamualaikum. Wahh...makin ganteng aja nih, anaknya bunda. Rapi bener, mau ke mana sayang." Arista langsung mengambil alih Hanif dari gendongan Anisa.
" Mau jalan-jalan dong, ibu." jawab Anisa menirukan suara anak kecil.
Arista dan Anisa tertawa, Hanif pun ikut tertawa. Karena gemas di ciuminya pipi Hanif.
" Yuukk...berangkat." Arista menggendong Hanif dan memberikan kunci mobil pada Anisa.
Karena masih pagi suasana rumah sakit masih sepi. Mereka langsung menuju ke poli anak. Ternyata dugaan mereka salah, di poli anak sudah ada beberapa antrian.
Sebenarnya mereka bisa saja buat janji lebih dulu dengan dokter anaknya. Tapi mereka lebih memilih ikut antri saja .
Pintu ruang praktek terbuka , tampak keluar sosok pria yang tak asing lagi di mata Anisa dan Arista.
Dengan kompak ke dua kakak beradik itu membalikkan badan dan menundukkan wajahnya pura-pura sibuk main hp. Arista melirik ke arah pintu, setelah pria itu pergi baru Arista mengangkat kepalanya dan memperhatikan punggung pria itu dari jauh.
"Mbak, ngapain mas Pram pagi-pagi sudah dari ruangan dokter Mirna. Jangan bilang mbak mau program hamil lagi." kata Anisa menatap kakaknya penuh selidik.
" Bagaimana mau program hamil, tidur aja kasurnya terpisah." Cetus Arista.
Anisa tak begitu kaget mendengar kalimat kakaknya. Dia sangat tahu betapa sulitnya berusaha baik-baik saja dan bersikap seperti apa adanya. Sulit. Selalu saja timbul rasa muak.
Tak terasa sudah tiba giliran antrian mereka. Arista dan Anisa mengetuk pintu.
Tok..tokk..tokk
"Masuk." sahut suara dari dalam.
Arista masuk terlebih dahulu di ikuti Anisa yang menggendong Hanif.
" Eh...kalian. Sudah menunggu di luar sejak tadi?." tanya dokter Mirna sedikit terkejut dengan kehadiran mereka.
"Kenapa dokter kelihatan kaget. Kami baru datang, karena di luar sepi , ya, langsung saja kami ke sini." kata Arista tersenyum seolah mengejek.
Mirna yang melihat senyum Arista yang tak biasa menelan ludah. Wajahnya terlihat sekali menunjukkan kekhawatiran dan gugup. Suasana tiba-tiba sedikit canggung. Mereka sama-sama terdiam.
Mirna berdiri dan menghampiri Hanif dalam gendongan Anisa.
"Wahh...makin ganteng aja, nih, Hanif. Badannya makin berisi dan montok. Pasti bundanya merawat dengan baik." Mirna berusaha mengatasi suasana canggung dengan mengajak interaksi Hanif.
"Iya dong, dok. Minum susunya kuat, sekarang malah udah bisa tengkurap." kata Anisa tersenyum berusaha mencairkan suasana.
" Wahh...hebat dong, Hanif. Perkembangannya bagus dan normal, usia 3 bulan sudah tengkurap." ujar dokter Mirna.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Mereka reflek mencari ke arah sumber suara, ternyata dari atas meja dokter Mirna. Arista yang masih duduk di depan meja melirik sekilas.
Jantungnya berdesir. Walau sekilas tapi dia bisa melihat nama si penelepon. Mirna yang tengah sibuk memeriksa Hanif tak sempat melihat dan mengangkat handphonenya.
Tapi raut mukanya kelihatan gugup. Semua tak luput dari perhatian Arista. Arista berusaha bersikap biasa dan setenang mungkin. Dia sibuk dengan ponselnya.
" Sudah selesai sayang. Nanti kalau sudah 6 bulan, sudah boleh di kasih makanan pendamping, jangan yang berat-berat dulu. Biskuit bayi buat cemilan juga boleh." kata dokter Mirna.
" Siap dokter." Anisa menirukan suara anak kecil. Mirna tersenyum.
Setelah semua selesai, mereka pun berpamitan. Tak ada obrolan sama sekali di antara Arista dan Mirna.
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Arista berhenti sejenak.
" Apakah sekarang selain dokter anak , dokter juga menerima konsultasi bapaknya anak-anak?". Arista memberi pertanyaan yang sangat menohok.
Belum sempat Mirna menjawab , terdengar kembali dering ponselnya.
Arista melirik dan tersenyum miring. Melangkah menyusul Anisa yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan itu.
Mirna berdiri terpaku di tempatnya berdiri. Bergegas dia menuju meja dan merah ponselnya. Dengan tangan gemetar dia mengetik sesuatu.
" Sudah aku bilang jangan hubungi aku saat sedang praktek."
" Kenapa." sebuah balasan.
" Arista barusan dari sini, dia datang bersama Anisa dan Hanif."
" Yang penting dia nggak melihat aku keluar dari ruangan mu."
"Yakin?." balas Mirna.
Mirna duduk lemas bersandar pada sandaran kursi. Dia tak tahu harus berbuat apa. Rasa bersalah menggayut di dadanya.