Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
RIIIP!!
Udara meraung. Seperti suara kain yang dikoyak paksa, gelombang api raksasa itu terbelah dua oleh pedang berat Arka—lalu lenyap bagai fatamorgana yang hancur. Arka yang sebelumnya terdesak kini justru melangkah maju dengan mantap. Setiap ayunan pedang beratnya membuat api biru yang mengerikan itu tercerai-berai seperti gelembung sabun rapuh. Ke mana pun Arka melangkah, api di sana padam dan lenyap.
"A-apa...!?"
Seluruh arena seketika senyap. Para petinggi Perguruan Langit Membara serentak berdiri dengan mata terbelalak. Kesombongan Fikri sirna, digantikan oleh ketakutan yang mulai menjalar di sumsum tulangnya. Harga dirinya hancur seketika melihat api birunya dipadamkan semudah membalikkan telapak tangan.
"Arka! Kau kira ini sudah berakhir? Hahaha!" Fikri berteriak kaku, berusaha menutupi kepanikan. "Coba hancurkan ini... Api Naga Surga Membara!"
Fikri menggigit lidahnya sendiri, memuntahkan tetesan darah esensi ke atas pedangnya. Api biru di bilah pedang seketika berubah menjadi ungu kebiruan yang pekat. Aura energinya melonjak berkali-kali lipat lebih mengerikan.
"Dia nekat mengorbankan darah esensinya!" gumam Juan dengan wajah menggelap.
Di tribun utama, Luhur Pangestu berdiri tegak. Ia tahu daya hancur jurus terlarang ini. "Wayan, bersiaplah! Jangan sampai pemuda itu mati di panggung!" bisiknya melalui transmisi batin.
"Mati kau!!"
Fikri mengayunkan pedangnya. Api biru itu menjelma menjadi naga api raksasa sepanjang puluhan meter yang melesat dengan raungan panas menuju Arka.
"Itu jurus pembunuh dewa!" teriak penonton panik. Larasati menutup mulut dengan kedua tangan, wajahnya sepucat kertas.
Naga api melesat mendekat. Arka mengernyit, merasakan daya hancur fisik yang dibawa naga itu. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke pedang berat.
BOOM!!
Badai energi bertabrakan dengan naga api. Naga itu sempat terhenti, namun sisa kekuatannya kembali melesat cepat ke arah dada Arka sebelum ia sempat menarik kembali pedang besarnya. Semua orang menahan napas.
Wayan hampir meloncat masuk untuk menolong—namun ia membeku di tempat saat melihat Arka justru melepaskan pedangnya dan... meraih leher naga api itu dengan tangan kosong!
"Lepaskan!! Tanganmu akan hancur!!" teriak Wayan panik.
Namun Arka tak bergeming. Kedua tangannya mencengkeram leher naga api itu dengan sangat kuat. Dalam sekejap, seluruh kekuatan fisik dan batin Arka meledak bersamaan.
Tak ada ledakan besar. Tak ada jeritan kesakitan.
Adegan itu seolah membeku. Naga api yang tadinya mengamuk hebat kini menggeliat liar di tangan Arka, seperti ular berbisa yang dicekik tepat di titik vitalnya. Kekuatannya menyusut drastis; dari naga besar menjadi ular kecil, lalu berubah menjadi cacing menyala yang lemah.
Dan akhirnya—Padam.
Api terlarang itu lenyap tanpa jejak di genggaman Arka. Pemuda itu berdiri dengan napas sedikit memburu, keningnya basah oleh keringat, namun wajahnya tetap tenang. Ia perlahan membuka telapak tangannya.
Tak ada sedikit pun bekas terbakar di sana. Kulitnya tetap mulus, seolah api biru tadi hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi.
Seluruh penonton di Arena berdiri serempak. Mata mereka kosong, terpaku pada pemandangan yang melampaui nalar manusia tersebut. Untuk waktu yang lama, tak seorang pun berani bersuara. Seolah-olah seluruh suara di dunia ini baru saja disedot habis ke dalam keheningan yang luar biasa.
Jurus terlarang "Naga Langit Membara" yang dilepaskan Fikri… benar-benar dipatahkan oleh Arka.
Bukan dengan teknik rahasia yang rumit. Bukan pula dengan senjata pusaka legendaris. Melainkan—dengan kedua tangannya sendiri. Dengan dua telapak tangan telanjang, Arka mencekik dan memadamkan naga api itu hingga tak bersisa.
"Naga Langit Membara" adalah kartu as Perguruan Langit Membara yang hanya bisa bangkit dengan tumbal darah esensi sang pengguna. Banyak murid perguruan itu bahkan tak pernah mampu mengaktifkannya seumur hidup mereka. Memang pernah ada lawan yang sanggup menahannya, namun biasanya mereka melakukannya dengan luka parah dan taruhan nyawa.
Tetapi memadamkannya seperti tadi… belum pernah tercatat dalam sejarah.
Di mata Arka, naga api itu tak lebih dari seekor ular muda yang terlalu sombong—dan dengan mudah ia cekik hingga mati. Sepanjang proses itu, tak ada setitik pun luka bakar yang membekas di kulitnya.
Plop.
Fikri jatuh berlutut. Wajahnya sepucat kertas mayat. Matanya membelalak ngeri, menatap kosong seolah jiwanya baru saja direnggut paksa dari raga. Kepercayaan dirinya runtuh berkeping-keping.
Enam anggota Perguruan Langit Membara lainnya—termasuk sang Tetua Agung, Faisal yang hampir berusia seabad—mengalami keterkejutan yang sama. Mereka membeku, tak percaya bahwa jurus terkuat mereka dinetralkan tanpa sisa oleh pemuda yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun.
Bahkan seorang praktisi Alam Bumi sekalipun takkan sanggup melakukannya dengan tangan kosong!
Luhur Pangestu terpaku di kursinya. Penatua Wayan, yang tadi sudah bersiap menerjang masuk untuk menyelamatkan Arka, kini hanya berdiri mematung. Ia menatap Arka seolah-olah sedang melihat makhluk asing yang jatuh dari langit.
Melihat Fikri yang sudah kehilangan semangat juangnya, Arka tersenyum dingin. Ia kembali menyambar Pedang Raksasa Penguasa, lalu mengayunkannya tanpa belas kasihan.
Whoosh!
Gelombang tekanan pedang berat meledak hebat. Fikri yang sudah lunglai tak mampu memberi perlawanan. Tubuhnya terpental, berguling belasan kali di atas batu panggung, lalu terkapar seperti anjing mati yang kejang-kejang.
Wayan akhirnya tersadar. Ia mengatur napasnya yang sempat tertahan, lalu mengumumkan dengan suara mantap:
“Fikri tidak bangkit dalam sepuluh hitungan. Arka Yudistira dari Kerajaan Surya Kencana dinyatakan menang! Ia melaju ke babak semifinal besok!”
Suara itu bagaikan guntur yang membangunkan seluruh arena dari kebekuan. Gemuruh sorak-sorai dan bisik-bisik penuh kekaguman seketika meledak. Arka kembali mencetak keajaiban yang melampaui nalar.
Di sudut lain, Tetua Agung Perguruan Langit Membara jatuh terduduk di kursinya. Kulit keriputnya bergetar hebat. Kekalahan Fikri berarti perguruan mereka akan terdepak dari posisi empat besar untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun. Ini adalah aib terbesar yang pernah mereka alami.
"Bagaimana dia melakukannya?"
"Entahlah... dia benar-benar monster. Alam Sejati tingkat sepuluh? Itu tidak mungkin!"
"Dengan adanya Arka, nama Kerajaan Surya Kencana akan mengguncang dunia!"
Arka masih berdiri di arena. Ia mengangguk singkat pada Wayan. "Terima kasih, Penatua."
Namun, saat Arka berbalik hendak turun, sebuah peristiwa tak terduga terjadi.
Fikri, yang tadinya tergeletak diam, tiba-tiba meloncat bangkit dengan mata merah penuh kegilaan! Wajahnya terdistorsi oleh kebencian yang mendalam. Seperti iblis yang telah kehilangan segalanya, ia menerjang Arka dari belakang dengan Pedang Api Iblis yang kembali berkobar biru.
“AKU AKAN MEMBUNUHMU!!” raungnya kalap.
Fikri bukan orang yang tak bisa menerima kekalahan, tapi ia tak bisa menerima kekalahan dari orang yang ia anggap sampah. Rasa malu dan bayangan hukuman dari perguruan menghancurkan kewarasannya.