NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Pintu Merah

“Tolong buka…”

Bisikan itu terdengar pelan dari balik pintu kayu tua di ujung lorong.

Suara perempuan.

Lemah.

Menyedihkan.

Namun justru itu yang membuat bulu kuduk Naresha meremang.

Lorong tersegel terasa semakin dingin.

Lampu redup di atas mereka berkedip pelan.

Ctek…

Ctek…

Arven langsung menarik Naresha sedikit mundur.

“Jangan dekat dulu.”

Naresha masih menatap pintu merah itu tanpa berkedip.

Simbol-simbol aneh di permukaannya terlihat seperti tulisan yang dibuat menggunakan darah.

Sebagian sudah mengering.

Sebagian lagi tampak baru.

“Tolong…”

Suara itu terdengar lagi.

Kini lebih jelas.

Dan anehnya…

Terdengar seperti suara Evelyn.

Deg.

“Ven,” bisik Naresha pelan, “itu Evelyn ya?”

Arven tidak langsung menjawab.

Tatapannya tajam memperhatikan pintu tersebut.

“Gue ga yakin.”

“Kalau dia beneran di dalam?”

“Kalau itu bukan dia?”

Sunyi.

Jawaban Arven membuat dada Naresha terasa makin tidak nyaman.

Mereka berdiri diam beberapa detik.

Hanya suara angin dingin yang terdengar di lorong panjang itu.

Lalu tiba-tiba—

Brukkk.

Sesuatu menghantam pintu dari dalam.

Naresha refleks mundur.

“Astaga!”

Brukkk!

Benturan kedua lebih keras.

Kayu pintu bergetar pelan.

Dan suara perempuan itu berubah menjadi tangisan.

“Sakit…”

“Tolong aku…”

Naresha menggigit bibir bawahnya.

Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar suara itu.

Namun Arven justru terlihat semakin tegang.

“Ini ga bener.”

“Hah?”

“Kalau memang Evelyn…”

Tatapan Arven berubah gelap.

“Dia ga bakal minta dibukain.”

Deg.

Belum sempat Naresha bertanya lagi—

Ctak.

Semua lampu lorong mati.

Gelap total.

Naresha langsung refleks memegang lengan Arven.

“Ven…”

Suara napas berat terdengar dari belakang mereka.

Pelan.

Dekat.

Tubuh Naresha langsung membeku.

Arven buru-buru menyalakan senter.

Cahaya putih langsung menyapu lorong.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun…

Pintu merah itu kini terbuka sedikit.

Krekk…

Celah hitam terlihat di baliknya.

Dan dari dalam ruangan…

Terdengar suara seseorang tertawa kecil.

“Hehehe…”

Naresha merasakan tenggorokannya mengering.

“Pintunya tadi kebuka?”

Arven menggeleng pelan.

“Engga.”

Mereka perlahan mendekati pintu tersebut.

Langkah mereka terasa berat.

Seolah lorong itu tidak ingin mereka pergi lebih jauh.

Saat sampai di depan pintu…

Bau busuk langsung menyengat.

Seperti sesuatu yang membusuk bertahun-tahun.

Naresha langsung menutup hidungnya.

“Anjir bau apa ini…”

Arven menyinari bagian dalam ruangan dengan senter.

Dan keduanya langsung membeku.

Ruangan itu kecil.

Tanpa jendela.

Dindingnya penuh tulisan merah acak.

Namun yang paling mengerikan…

Adalah foto-foto siswa yang menempel di seluruh dinding.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Semua foto terlihat tua dan kusam.

Dan setiap wajah siswa di foto…

Dicoret hitam.

Naresha langsung merinding hebat.

“Astaga…”

Arven melangkah masuk perlahan.

Tatapannya berubah serius.

“Ini bukan ruangan biasa.”

Naresha ikut masuk sambil memperhatikan sekitar.

Di tengah ruangan terdapat kursi kayu tua.

Di atasnya ada buku tebal berdebu.

Dan di lantai…

Terdapat simbol lingkaran merah besar.

Seperti bekas ritual.

“Ven…”

Suara Naresha mengecil.

“Ini tempat apaan sih…”

Arven berjongkok lalu menyentuh lantai pelan.

Ekspresinya langsung berubah.

“Darah.”

Deg.

Naresha langsung mundur satu langkah.

“Astaga jangan bilang itu darah asli.”

Namun sebelum Arven menjawab—

Brakkk!

Pintu ruangan tiba-tiba tertutup sendiri.

Gelap.

Naresha langsung panik.

“VEN!”

Arven buru-buru mencoba membuka pintu.

Tidak bisa.

Terkunci.

Sementara dari sudut ruangan…

Terdengar suara langkah kaki pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Naresha menoleh perlahan.

Dan tubuhnya langsung membeku.

Seseorang duduk di kursi kayu tengah ruangan.

Padahal tadi kosong.

Sosok itu memakai seragam sekolah lama.

Kepalanya tertunduk.

Rambut hitam panjang menutupi wajah.

Diam.

Tidak bergerak.

Naresha merasakan jantungnya hampir copot.

“Evelyn…?”

Perlahan…

Sosok itu mengangkat kepala.

Dan Naresha langsung menjerit kecil.

Karena itu bukan Evelyn.

Wajahnya hancur.

Penuh jahitan hitam kasar.

Dan matanya…

Tidak ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!