Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MABUK
Kepala Lingga berat sebelah, matanya pun berkunang-kunang, ingin memejamkan mata, tapi kehamilan Tania menghantui pikirannya. Bahkan biasanya ia akan menginap di apartemennya, memilih ke rumah orang tuanya. Ia ingin tidur tanpa gangguan siapa pun.
Setelah mandi dan makan pun, pusing kepala tak berkurang sama sekali. "Kamu sakit?" tanya mama. Lingga mengangguk. "Sakit apa?"
"Sakit hati!" jawab Lingga ketus.
"Dengan Tania lagi?" tanya mama lagi, memang beliau tahu siapa perempuan yang berhasil menguasai hati si bungsu.
"Siapa lagi," jawab Lingga jutek, dan lebih baik kembali ke kamar.
Setiap memejamkan mata, foto USG itu serasa ditempel di pelupuk mata Lingga, hingga dia tak berani terpejam. Mulai hari ini gak usah mengintai rumah Tania dan aktivitasnya. Lingga terpaksa menyudahi pekerjaan orang suruhannya. Mungkin dia akan menuruti keinginan Tania untuk mengubur kisah mereka.
Malam ini, Lingga memutuskan ke bar, tak berniat nakal, hanya ingin minum saja agar segera teler dan tidur. Badannya protes namun mata dan otaknya terlalu berisik mengingat foto USG itu.
Satu gelas, tambah lagi. Belum pusing, tambah satu gelas lagi, ada seorang cewek mendekati dengan pakaian sangat mini, Lingga hanya tersenyum sinis. "Pergi, gue impoten!" jawab Lingga. Sampai dia membuktikan Tania punya hubungan dengan Salman, Lingga akan menjaga diri dari sentuhan perempuan nakal itu.
"Ck, ganteng-ganteng impoten," sebal juga si cewek itu, gagal deh membungkus pria kaya, batinnya kecewa.
Lingga sudah teler. Kepalanya hanya bisa diletakkan di meja, bartender sudah menggoyangkan pundak Lingga agar dia segera pulang. "Lo tahu, dia hamil! Padahal, 4 tahun sama gue gak mau hamil. Menurut lo emang gue kurang meyakinkan ya jadi bapak," racau Lingga ngelantur, sembari mengangkat kepala, lalu menunjuk ke bartender dengan tatapan teler, lalu tergeletak lagi di meja. Berat.
Hingga dering ponsel Lingga berbunyi, dia masih bisa mengangkat panggilan itu dengan racauan tak jelas.
"Kamu di mana? Ramai banget?" ternyata Calista yang menghubungi.
"Aku? Aku di bar. Kenapa? Kamu mau ikut? Datang sendiri ya, aku malas jemput kamu! Kamu palingan sama pacar kamu, yang suami orang itu loh!" ujar Lingga tanpa rem. Terdengar Calista mengomel di seberang sana, dan Lingga hanya terkekeh pelan. Ponsel dibiarkan menyala, dan ocehan Calista tak digubris. Lama-lama ponsel itu mati juga.
Tak berselang lama, panggilan telepon datang lagi, kali ini sang abang. Lingga tak langsung mengangkat, hingga bartender yang mengangkatnya. "Laki-laki yang punya ponsel ini sedang mabuk, Pak. Anda bisa membawanya, karena sepertinya sudah tidak kuat untuk sekedar menegakkan kepala," Yovi pun mendapatkan posisi sang adik.
Dia bersusah payah membawa sang adik ke rumahnya, "Kenapa lagi sih nih bocah. Tumben-tumbenan juga mabuk?" semprot Yovi gemas, bahkan ia tega menepuk-nepuk pipi Lingga agar dia sadar. Eh malah asyik ngorok.
"Punya masalah kali sama Calista," sahut istri Yovi sembari menyerahkan selimut dan bantal.
"Kalau sama istrinya gak sama sefrustasi ini, pasti sama Tania," tebak Yovi.
Keduanya pun membiarkan Lingga tidur, biarlah esok pagi Yovi akan mewawancarai sang adik. Bisa-bisa, Lingga tak punya semangat hidup kalau masih berkutat pada Tania. Jangan sampai itu terjadi, nasib keluarga berada di tangannya. Dikorbankan oleh sang kakek, tapi jatah warisan Lingga yang paling banyak.
"Gimana mabuk?" sindir Yovi ketika melihat sang adik bangun hanya bisa duduk dan memegang kepala. "Ada masalah apa?" tanya Yovi beruntun, dan itu membuat Lingga berdecak sebal. Kepala masih pusing, belum juga mandi, eh pertanyaan maut dari sang abang sudah terlontar.
"Tania!"
"Kenapa lagi?"
"Dia hamil!"
"Busyet. Kamu gak pakai pengaman?" Yovi semakin mendramatisir, dan Lingga hanya menatap tajam pada sang abang.
"Ya kalau itu anakku, Bang. Aku gak mungkin sefrustasi ini, aku bakal jadi lelaki paling bahagia, dan bakal kuceraikan si Calista, meski gak dapat warisan!" jelas Lingga kesal, harus ingat lagi soal kehamilan Tania.
"Jadi? Maksud kamu? Tania hamil dengan cowok lain? Kok bisa?"
Sungguh kepala Lingga makin mumet dengan kicauan sang abang, dia punya anak banyak masih tanya Tania kok bisa hamil. "Bang, anakmu banyak juga kali, bisa-bisanya tanya kok bisa itu loh? Tania hamil ya karena sudah berbuat dengan cowok."
"Yakin dia punya cowok lain? Abang gak yakin, dia sering ambil lembur sampai drop begitu, kapan bikinnya?" Yovi mendadak jadi pria polos, hingga membuat Lingga memutar bola mata malas.
"Selepas kantor bisa, weekend bisa, tanggal merah bisa, dia cewek hyper, Bang. Lepas dari aku pasti cari burung lain lah," spontan Yovi menabok bibir Lingga.
"Gak pantas kamu bilang gitu. Coba nanti aku tanya," Yovi berniat mengonfirmasi, namun Lingga menggeleng.
"Gak perlu, toh dia juga gak mau sama aku lagi. Beneran putus, jadi biarkan aku frustasi dulu, nanti aku juga bakal move on," ujar Lingga meski tak yakin.
Yovi tak percaya begitu saja, saat ia sampai di kantor. Tania langsung dipanggil saat itu juga. Siska sampai melongo, Pak Yovi sampai menghampiri Tania sendiri, pertanda urgent.
Tania melangkah pelan, ia bisa menebak pasti ini urusan Lingga dan kehamilannya. Tenang Tania, sembunyikan bayi ini dari keluarga toxic mereka.
"Aku gak mau basa-basi, Lingga tadi bilang kalau kamu hamil. Apakah benar?" tanya Yovi, dan Tania mengangguk.
"Apakah itu anak Lingga?" tanya Yovi lagi. Kali ini Tania diam sebentar, menghela nafas pelan. Tak berniat memberi jawaban jelas, tapi hanya memberi gambaran agar batasan hidup antara dirinya dan Lingga harus diperjelas.
"Saya memang hamil, untuk siapa ayahnya saya akan keep dari siapa pun, karena saya sendiri masih berusaha menerima kondisi ini. Saya ingin handle semua masalah ini sendiri, tanpa ada yang tahu."
"Sampai kapan kamu menyembunyikan, anak itu butuh ayah, Tania. Mengaku lah, kalau memang itu anak Lingga, maka saya akan berusaha agar dia bertanggung jawab!" ucap Yovi secara gentle. Lagi-lagi Tania menggeleng.
"Tapi saya menolak, Pak. Saya ingin hidup tanpa ancaman dan gangguan dari keluarga, Bapak. Saya bekerja keras untuk menghidupi anak ini, tak apa tanpa ayah, karena saya hanya ingin hidup tenang tanpa intervensi dari siapa pun!" kata Tania menolak. Yovi menatap Tania intens. Mendadak ucapan Lingga soal dia hyper dan butuh laki-laki selepas Lingga kemungkinan benar.
Tania mati-matian menutupi, apa mungkin karena dia juga tak tahu siapa lelaki yang menghamilinya. "Pergaulan kamu memang sebebas itu kah, Tania?"
Tania tersenyum tipis, mengangguk saja, agar Yovi ikut berpikiran buruk padanya, sehingga tak menuntut penjelasan soal kehamilannya lagi.
"Kalau kamu memang wanita seperti itu, tolong saat kerja profesional, saya tak mau kantor milik saya ajang perselingkuhan yang bisa kamu lakukan!" tegas Yovi mendadak tak suka pada Tania.
"Baik, Pak!" jawab Tania tak mau memperpanjang.
GO go Tania semangat