Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 dan 22
"Njenengan riyen nopo kulo riyen yang mandi Ning?" tanya Gus Alvaro saat ku termenung dalam lamunannku
"Nopo?" tanyaku dengan tersadar dari lamunannku
"Njenengan riyen nopo kulo riyen yang mandi?" ulangnya Gus Alvaro lagi
"Njenengan" kataku
"Ya sudah. Kulo riyen kalo gitu" kata Gus Alvaro, lalu mengambil handuk dari lemari
"Iya" respon ku seadanya Aku masih dalam lamunan ku, aku tak sadar ketika Gus Alvaro sudah selesai mandi dan berdiri di samping ku yang tengah menatap langit malam.
"Ning.mandi dulu, melamun nya nanti mawon".katanya membuat ku tersadar dari lamunanku
"Apa?. Eh ngampuntene Gus. Sudah? " kaget ku
"Njihh.monggo njenengan mandi dulu "katanya
Lalu ku langkah kan kakiku menuju kamar mandi. Sebelumnya aku memang sudah menyiapkan alat mandi dan pakaian ku yang ke takkan diatas kasur.
Sekitar 25 menit akhirnya aku keluar dari kamar mandi. Aku termenung saat melihat Gus Alvaro sedang melantunkan surah Ar-Rahman dengan menunggu ku selesai mandi untuk salat isya' berjama'ah. Langkahku seakan terhenti. Semua memori terbayang-bayang dalam pikiranku. Dan sekelebat memori tentang Nauval terbayang dalam pikiran ku, ketika Nauval sedang melantunkan Surah Ar-Rahman di taman belakang kampus. Dan tanpa ku sadari air mataku mengalir tanpa sungkan nya, tak kusadari Gus Alvaro sudah berdiri disampingku.
"Monggo Ning kita solat berjama'ah "katanya menyadarkan ku
" I_iya"kataku dengan tersadar dari lamunannku. Segera kuambil mukena yang sudah kuletakkan di atas ranjang.
"Kulo ambil wudhu dulu Gus, tadi lupa" kataku, lalu ku kembali masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sebenarnya aku sudah mengambil air wudhu, alangkah baiknya aku berwudhu lagi. Agar bayang bayang Nauval tak terlintas begitu saja.
Setelah mendirikan sholat berjama'ah, untuk kedua kalinya aku harus mencium punggung tangan Gus Alvaro. Bukan hanya untuk kedua kalinya tapi untuk selamanya.
"Tidur Ning. Sampun malam" kata Gus Alvaro.
Lagi lagi menyadarkan ku dari lamunnku. Aku hanya diam tak menjawab. Ku tundukkan kepalaku karena air mataku yang justru tambah mengalir sangat deras.
"Saya tidak memaksa njenengan Ning. Saya akan menunggu njenengan sampai njenengan mengizinkan saya " kata Gus Alvaro.
Sepertinya Gus Alvaro paham dengan aku yang belum siap lahir batin.
"Tidur Ning sampun dalu" katanya lagi, lalu Gus Alvaro lebih dulu merebahkan tubuhnya dia atas ranjang.
"Ngampuntene Gus. Kulo dereng siap" kataku dengan isak tangisku
Aku tahu Gus Alvaro belum tidur, dan aku tahu Gus Alvaro juga pasti mendengar tangisku. Ku rebahkan tubuhku dengan memunggungi Gus Alvaro.
*****
" Gus bangun. Tahajud dulu" kataku dengan menarik ujung kaos Gus Alvaro agar bangun.
Aku lebih dulu bangun karena aku tidak bisa tidur. Entah apa yang membuatku harus terjaga sampai jam 3 pagi.
"Gus" panggil ku lagi karena Gus Alvaro tak kunjung bangun
"Taseh Ngantuk Biii" kata Gus Alvaro dengan memanggil Abi
"Gus. Ini saya mboten Abi" kataku membuat Gus Alvaro terkejut karena tersadar dari bangunnya
"Astaghfirullah, Ning. Ngampuntene" kata Gus Alvaro dengan mendudukkan tubuhnya
"Njenengan tahajud dulu" kataku lalu ku ambil mushaf yang tertata rapi di meja kamar
"Njih Ning" kata Gus Alvaro lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air Wudhu
*****
-------------------------------
Alvaro Genta Al Farisi Pov
Setelah ku khitbah Ning Moza rasa bahagia menyelinap dalam hatiku. Namun bahagia itu tak mampu membuat ku merasa puas atau bahkan bangga karena telah mendapatkan Ning Moza. Justru dari situlah aku merasa menjadi orang yang sangat egois. Pada dasarnya Ning Moza tidak menerima kenyataan ini semua, maksudku belum bisa. Ya, Ning Moza belum bisa menerima kenyataan bahwa sanya aku yang akan menjadi imamnya kelak. Bukankah aku adalah orang yang bahagia diatas penderitaan Ning Moza?. Perempuan yang akan membawa ku kemasa depan, perempuan yang akan menyempurnakan separuh agamaku, dan perempuan yang kelak akan menjadi seorang ibu dari anak-anak ku. Aku yakin dengan berjalannya waktu pasti Ning Moza bisa menerima semua ini.
"Assalamu'alaikum" ucapku saat memasuki kamar. Ku tajamkan penglihatan ku tak ku temuakan Ning Moza. Lalu ku langkahkan kaki ku menuju balkon kamarnya Ning Moza, dan disana pun aku tak melihat Ning Moza. Lalu ku keluar kamar, sampai di ruang keluarga Abah memanggikku.
"Nak Alvaro" panggilnya Abah
"Njih Bah?" kataku dengan menghampiri Abah
"Sini duduk. Abah mau bicara karo sampeyan"kata Abah dengan menepuk sofa samping beliau Lalu ku duduk kan tubuhku disamping Abah.
" wonten nopo Bah?"tanya ku dengan menundukkan kepalaku karena rasa hormat dan cinta ku pada Abah.
"Abah iku cuman mau ngomong. Kalo nanti Moza ada salah kamu ora perlu sungkan sungkan nek ape negur Moza. Tegur wae kalo salah dan Jangan lupa di ingatkan buat makan. Susah orang nya kalo soal makan. " kata Abah dengan setengah tertawa
"Njihh Bah. InsyaAllah" kata ku dengan tersenyum
Tak kusadari Ning Moza sudah berdiri disampingku dengan menatapku tajam.
"Mas Varo jangan percaya sama Abah" kata Ning Moza membuat ku justru tertawa. Sungguh aku tidak percaya dengan Ning Moza yang memanggilku Mas varo.
"Ko tertawa?" tak sukanya Ning Moza dengan menatapku tajam
"Kamu itu, ojo galak galak" tegur nya Umik dari belakang dengan mengelus puncak kepala Ning Moza dengan penuh kasih sayang
"Lagian nggak ada yang lucu" kata Ning Moza dengan manatap ku tajam. Lagi lagi Ning Moza menatapku dengan tatapan tajamnya.
"Mas Varo mandi dulu. Sarapannya sudah siap"kata Ning Moza
" Moza kekamar dulu Bah, Mik. "Lanjutnya, lalu Ning Moza kekamar
"Njih Yang"balas ku membuat Ning Moza menatapku dengan tajam entah untuk keberapa kalinya.
"Jangan kaget kalo sikapnya kadang membuat mu bingung nak. Biasa perempuan memang seperti itu. Sikapnya kadang susah ditebak." kata Abah
Sebelum ku langkahkan kaki ku menyusul Ning Moza. Aku tersenyum dengan perkataan Abah. Ya memang benar kata Abah perempuan memang susah ditebak.
"Njih bah, mik" kataku
"kulo ke kamar dulu bah"pamit ku pada Abah
"Iya.monggo" kata Abah.
Lalu segera ku susul Ning Moza. Sebelum masuk kekamar aku lebih dulu menghadang langkah Ning Moza dengan berdiri di depan pintu.
"Ngapain?" ketusnya Ning Moza
"Kenapa tadi natapnya tajem banget? Belum pernah di panggil Yang? "Goda ku membuat Ning Moza menatapku lebih tajam
"Pernah" kata Ning Moza membuat ku sedikit terkejut. Siapa yang memanggil Ning Moza dengan sebutan "Yang" selain diriku?.
"Kapan?" tanya ku dengan menatap Ning Moza serius
"Tadi" kata Ning Moza membuat ku terkejut setengah mati.
"Apa?? " judesnya Ning Moza
"Ha? Eh_nggak nggak".kataku dengan mengusap wajahku
"Yaudah awas"kata Ning Moza
"Nggak mau" tolak ku
"Awasss"
"Nggak mau"kukuh ku
"Awaassssss"
"Nggak mau"
"Ok"pasrah nya Ning Moza
"Ya,ok"kataku dengan santai dengan bersandar di daun pintu dengan tangan terlipat
Tanpa ku sadari tiba-tiba Ning Moza memcubit perutku dengan kencang. Ya walaupun itu tak berefek sama sekali bagiku. Namun aku terkejut dengan apa yang dilakukan Ning Moza.
"Aduh duh. Sakit yang" kataku dengan menyingkirkan tangan Ning Moza yang masih setia mencubit perutku.
"Lemah" ejeknya membuatku tertawa
"Lah kenapa tertawa? " tak sukanya justru lebih mengencangkan cubitan nya
"Udah Ning" kataku ku dengan menjauhkan tangan Ning Moza
"Makanya nggak usah bikin emosi" kata Ning Moza dengan masuk kedalam kamar
Lalu ku langkah kan kakiku menyusul Ning Moza yang sepertinya masih kesal.
*****