NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir yang mempertemukan

Pintu kaca bergeser pelan ketika Yuda dan Rommy melangkah masuk. Hawa sejuk langsung menyentuh wajah. Aroma kertas dan kayu bercampur lembut di udara. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi di sisi ruangan, jatuh dalam garis-garis hangat di antara rak buku yang menjulang rapi.

Langkah Yuda melambat.

Tangannya tanpa sadar merapikan kerah polo putihnya. Tas selempang hitamnya ia geser sedikit ke belakang, seolah ingin terlihat lebih… pantas.

Di sinilah.

Lorong rak bagian kiri dekat jendela besar itu. Tempat pertama kali ia bertemu Nazwa yang sedang mencari buku di sampingnya. Meskipun dirinya sendiri tak benar-benar mampir untuk membaca kala itu.

Dada Yuda bergetar tipis.

“Buset…”

Suara Rommy memecah lamunannya.

“Ini perpustakaan apa co-working space premium, dah?”

Yuda menoleh. Rommy berdiri memutar perlahan, menengadah, memperhatikan langit-langit tinggi dengan lampu gantung minimalis. Matanya berbinar seperti anak kecil masuk mal pertama kali.

“AC-nya dingin banget, woy. Kursinya empuk. Ada bean bag juga?!” Ia menunjuk sudut baca santai dengan karpet tebal dan sofa rendah. “Di sekolah gue dulu kursinya kayu. Kalo duduk lama dikit, pantat langsung kebas.”

Yuda mendesah pelan. “Itu karena lu jarang ke perpus kali?"

“Bukan jarang. Emang gak ada yang ke sana.” Rommy terkekeh. “Gue jurusan otomotif, Yud. Anak-anaknya ke bengkel, bukan ke rak buku. Perpustakaan pun cuma buat tempat naro piala lomba ama buku paket yang gak pernah disentuh.”

Ia melangkah lebih dalam, menelusuri lorong rak sambil menyentuh punggung buku dengan ujung jari.

“Gila sih. Ini nyaman banget. Gue kira perpus kota tuh kayak gudang arsip kelurahan.”

Yuda tersenyum tipis, tapi tangannya mulai berkeringat.

Setiap sudut tempat itu menyimpan potongan memori. Meja panjang dekat colokan listrik. Tangga kecil untuk mengambil buku di rak atas. Bahkan papan pengumuman yang tertempel rapi dengan jadwal diskusi literasi.

Ia masih ingat betul bagaimana jantungnya dulu berdegup tak karuan saat Nazwa sedang fokus membaca judul buku disampingnya.

Mereka berhenti melangkah masuk ketika suara lembut menyapa dari balik meja penerimaan.

“Selamat siang.”

Bu Lina berdiri dengan senyum profesionalnya. Rambutnya disanggul rapi, kacamata tipis bertengger di batang hidung, kartu identitas tergantung di dada. Tangannya sempat menangkup sopan, lalu berhenti di udara.

Matanya menyipit sedikit.

“Loh?” Ia memiringkan kepala. “Hei… bukannya kamu ya?”

Yuda membeku.

Rommy menoleh cepat, lalu kembali menatap pustakawan itu dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan.

“Kamu yang dulu bilang nggak suka main ke sini, kan?” lanjut Bu Lina, sudut bibirnya terangkat.

Sikut Rommy mendarat di lengan Yuda.

“Loh, Yud? Katanya lu cuma sekali ke sini? Kok mbak-mbak ini kenal banget sama elu?” bisiknya, tapi cukup keras untuk membuat Yuda ingin menghilang di sela rak ensiklopedia.

“Ehm… anu…” Yuda berdeham, pandangannya melayang ke lantai marmer yang terasa mendadak lebih menarik daripada wajah siapa pun di ruangan itu.

Bu Lina menurunkan kedua tangannya ke meja, tubuhnya condong sedikit ke depan, meneliti wajah Yuda tanpa jaket kurir yang biasa ia pakai.

“Oh iya, bener!” Ia menepuk meja pelan. “Kamu kan yang waktu itu bilang, ‘Kayaknya saya nggak cocok di tempat beginian, Bu.’”

Nada suaranya ringan, tapi cukup untuk membuat Yuda menutup wajah dengan satu tangan.

Rommy tak tahan.

“Maaf ya, Mbak,” katanya cepat, melangkah setengah maju. “Gini-gini, temenku ini sekarang mau belajar filsafat, loh.”

Ia mengedipkan mata pada Yuda.

Yuda melotot kecil. Filsafat?!

“Filsafat?” Bu Lina tertawa, suaranya memantul pelan di ruangan luas itu. Ironisnya, tepat di belakangnya tertempel tulisan: Harap Tenang.

“Mas, temenmu ini dulu bilang nggak suka ke sini,” katanya sambil menahan senyum.

Rommy berbalik menatap Yuda seolah baru mengetahui fakta mengejutkan.

“Lah? Katanya lu suka ke sini? Gimana sih, Yud?”

“Tapi sekarang suka, Mbak,” Rommy buru-buru menambal. “Iya kan, Yud?”

Yuda membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tenggorokannya kering.

Rommy menyeringai, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Atau jangan-jangan…” bisiknya dramatis, “yang lu taksir itu Mbak penjaga perpus ini?”

Mata Yuda membulat sempurna.

Bu Lina menghela napas panjang, ekspresinya berubah datar.

“Ngawur. Saya aja udah pernah menikah, Mas.”

Rommy yang tadi percaya diri, mendadak kaku.

“Loh? Mbak? Kirain mbak masih seumuranku lebih dikit…”

Hening sepersekian detik.

Yuda menatap Rommy dengan ekspresi campuran antara ingin mencekik dan berterima kasih karena topik pembicaraan akhirnya berbelok.

Bu Lina menggeleng pelan, lalu kembali menatap Yuda. Kali ini senyumnya lebih lembut, tak lagi penuh godaan.

“Tenang saja. Saya cuma bercanda.” Ia menggeser buku tamu sedikit ke depan. “Senang lihat kamu datang lagi. Tanpa jaket kurir pula."

Yuda perlahan menurunkan tangannya dari wajah.

“Iya, Bu… saya cuma… mau baca-baca.”

“Oh?” Alis Bu Lina terangkat tipis. “Baca apa?”

Yuda terdiam sepersekian detik. Otaknya bekerja keras mencari jawaban yang terdengar pintar.

Rommy menyikutnya lagi. “Filsafat,” bisiknya mengingatkan.

Yuda menarik napas.

“Filsafat, Bu.”

Bu Lina menatapnya lama. Lalu tersenyum kecil, kali ini tanpa tawa.

“Rak kiri, baris ketiga dari belakang. Ada pengantar filsafat yang ringan. Jangan langsung lompat ke yang berat, nanti pusing.”

Yuda mengangguk cepat.

Rommy bersiul pelan ketika mereka mulai menjauh dari meja penerimaan.

“Anjir, Yud. Lu udah punya relasi dalam nih.”

“Diam lu,” gerutu Yuda.

Mereka berbelok ke lorong yang lebih tenang.

Rak-rak tinggi berdiri sejajar seperti barisan penjaga tua. Ukiran kayu di ujung rak, lampu gantung berwarna temaram, dan jendela tinggi berbingkai putih membuat tempat itu terasa seperti potongan bangunan Eropa lama yang terselip di tengah kota.

Langkah Yuda melambat.

Di sinilah.

Tangannya terangkat tanpa sadar. Ujung jarinya menyentuh sisi rak tempat dulu Nazwa berdiri. Ia mengelap permukaan kayu itu pelan, seakan debu tipis yang tak terlihat menyimpan sisa-sisa momen yang pernah membuatnya gugup setengah mati.

Napasnya berubah pelan.

Rommy memperhatikan dari samping. Senyumnya muncul tipis, bukan untuk mengejek—lebih seperti seseorang yang baru menyadari bahwa tempat ini benar-benar berarti.

“Berasa museum ya,” gumamnya lirih. “Rapi banget. Kayak di film-film luar.”

Ia mendongak, melihat lengkungan langit-langit dan jendela tinggi yang membiarkan cahaya jatuh lurus ke lantai.

“Perpus sekolah gue dulu mah…” Ia terkekeh kecil. “Catnya ngelupas, kipas angin bunyi kayak motor mau mati.”

Rommy berjalan menyusuri rak, pura-pura membaca judul-judul buku. Tangannya berhenti di satu punggung buku, lalu yang lain. Gerakannya canggung, seperti orang yang tak biasa berada di tempat sunyi.

“Yud,” bisiknya pelan, “di sana ada lesehan sama bean bag. Enak kayaknya. Sekalian beli minum, tuh ada kulkas kecil.”

Yuda hanya mengangguk samar, masih setengah tenggelam dalam kenangan.

Rommy mengangkat bahu.

“Yaudah. Gue ambil minum dulu.”

Ia berjalan menjauh, masih melirik-lirik sekeliling seperti turis pertama kali ke galeri seni. Di dekat sudut baca santai, ia membuka lemari es kecil, mengambil satu botol minuman dingin, lalu kembali menyusuri rak.

Di perjalanan, matanya tertarik pada satu buku dengan sampul mencolok.

Wirausaha Muda: Dari Nol ke Omzet Milyaran.

Alisnya terangkat.

“Lumayan juga,” gumamnya, lalu membawanya sedikit tanpa etika bagi seseorang yang masih awam.

Ketika ia kembali ke lorong awal, langkahnya melambat.

Yuda tidak lagi menyentuh rak. Ia berdiri mematung.

Bahunya sedikit tegang. Tatapannya lurus ke satu titik.

Rommy mengikuti arah pandang itu.

Cahaya pagi jatuh lembut di meja panjang dekat jendela.

Nazwa duduk tegak dengan buku terbuka di hadapannya. Rambut panjangnya terurai, sebagian diselipkan ke belakang telinga. Kacamatanya bertengger rapi di hidung, memantulkan kilau tipis setiap kali ia mengangkat wajah sepersekian detik untuk mencerna kalimat terakhir yang dibacanya.

Ia mengenakan blus biru muda dengan kancing kecil yang tersusun rapi di bagian depan. Lengan panjangnya sedikit tergulung, memperlihatkan pergelangan tangan yang ramping. Rok krem yang jatuh lembut di pinggangnya diikat pita kotak-kotak sederhana, membuat penampilannya terlihat ringan dan bersih.

Ujung jemarinya mengetuk pelan halaman buku sebelum akhirnya bergerak, menuliskan sesuatu di catatan kecil di sampingnya. Alisnya sedikit mengerut. Bibirnya bergerak tanpa suara, membaca ulang satu kalimat.

Ia begitu tenggelam. Seolah dunia di luar meja itu tak ada.

Yuda berdiri beberapa meter darinya.

Suara lembaran kertas dibalik terdengar lebih keras kali ini. Bahkan hembusan AC dan langkah orang lain seperti teredam.

Rommy yang tadinya ingin berceloteh ikut terdiam. Buku wirausaha di tangannya perlahan turun.

“Pantes,” gumamnya lirih.

Yuda tak menjawab.

Ia melihat bagaimana Nazwa sesekali mendorong kacamatanya naik dengan jari telunjuk, lalu kembali menunduk. Cahaya menyentuh sisi pipinya, memberi warna hangat di kulitnya. Senyum kecil sempat muncul ketika ia menemukan sesuatu yang menarik di halaman itu—senyum yang tak dibuat-buat, hanya refleks seseorang yang menikmati apa yang ia baca.

Dada Yuda terasa sesak sekaligus ringan.

Inilah dunia Nazwa.

Rommy melirik ke arah Yuda.

“Masih mau berdiri kayak patung pahlawan?” bisiknya pelan. “Atau lu mau beneran jadi tokoh utama di cerita lu sendiri?”

Yuda menelan ludah.

Tangannya mengendur dari kepalan. Langkahnya bergerak satu.

Lalu satu lagi.

Lantai marmer itu terasa panjang.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Nazwa tiba-tiba berhenti menulis. Seakan merasakan sesuatu, ia mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapan mereka sempat hampir bertemu.

1
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki: Oke dek. Ikut meramaikan juga tempat aku ya🙏🙏🙏 Alhamdulillah. Moga lancar
total 2 replies
Tio Buki
Iya, masama🙏🙏
Tio Buki
Mengapa begitu
Tio Buki
Sore juga
Tio Buki
ya Iyalah. Itu namanya perpustakaan
Tio Buki
Lah, hendak kemana
Tio Buki
Kenapa ya.
Tio Buki
Punya siapa itu. Soalnya aku ngak pesan paketnya
Europs.
dilempar dong😭
Europa.: tumben mampir kak/Curse/
total 1 replies
seonghyeon
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
kenzi moretti
perpustakaan memang semenenangkan itu
kenzi moretti
"di di"/Slight/
kenzi moretti
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
kenzi moretti
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!