Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
apes
Abi melepas sepatunya, kemudian menentengnya dengan tangan menutup hidung karena bau Tai kucing yang di injaknya tadi.
''Mas Abi, loh kok nyeker?'' sapa Mandor bangunan yang mengurusi proyek.
''Nggak lihat apa sepatuku kotor gini, mata kamu di mana hah!'' oceh Abi kesal, Mandor itu pun tak bisa menahan tawanya.
''Hahahaha...aduh mas kok bisa loh nginjak tai kucing di mana tadi?'' ucap Mandor sembari memegangi perutnya.
''Eh malah ngeledek lagi, nih kamu cuci bersih sepatuku kalau tidak gaji kamu saya potong !'' ancam Abi pada mandor tersebut.
''Aduh mas jangan gitu dong, iya iya sini saya bersihkan sepatunya'' ucap Mandor tersebut pasrah.
Abi pun dengan menggunakan sendal jepit dan helm proyek di temani beberapa pengurus proyek berjalan melihat-lihat lokasi proyek.
"Apa-apaan ini, kenapa temboknya enggak bisa rapi, bagaimana kalian membuatnya, jangan asal-asalan dong kita keluar duit banyak loh untuk satu unit bangunan ini!" bentak Abi pada pekerja di lokasi proyek.
"Maaf bos, bukan begitu, masalahnya dana yang di kucurkan untuk tukan nggak memenuhi standar, mereka ngerjainnya juga asal jadi" jawab pengurus proyek.
Abi membulatkan mata saat mendengarnya, pasalnya selama ini yang ngurus proyek itu Dia.
"Apa kamu bilang?!" tanya Abi dengan tatapan tajam.
"A...anu bos, kan bos sendiri yang waktu itu bilang pakai tukang yang murah juga enggak apa-apa asal jadi" jawab pengurus proyek dengan gugup.
"Ta...tapi ya jangan murahan beneran lah,haiyah bagaimana ini, hasilnya malah kacau begini!" Abi resah dan mengacak-acak rambutnya.
Selama ini Abi sudah mengorupsi dana proyek untuk kepentingan pribadinya, dia pikir walau sedikit mungkin tak akan berpengaruh pada hasil pembangunan proyek.
"Maaf bos, untuk bahan bangunan juga semennya seperti yang bos minta yang murah saja" imbuh pengawas proyek pada Abi.
"Mandor mana Mandor, suruh dia ke sini, CEPAAAATTTTTTT!!!" teriak Abi.
Salah satu orang langsung berlari untuk memanggil pak Mandor yang sedang membersihkan sepatunya Abi.
"Kang....cepat kang di panggil bos Abi!" teriak orang itu pada Mandor yamg sedang menjemur sepatu Abi.
"Astagah apa lagi sih, kalau datang ke sini pasti ada saja ulahnya!" gerutu pak Mandor, kemudian dia pun segera menyusul ke tempat Abi berada.
"Eh Mandor cepat ke sini kamu!" panggil Abi dengan tidak sabar saat melihat pak Mandor berjalan mendekat.
"Sa...saya mas, ada apa ya?" tanya pak Mandor dengan sopan.
"Ini gimana kerjakamu hah, kenapa hasilnya bisa jelek begini!" teriak Abi, semua orang pun kicep dan hanya menundukkan kepala.
"Aduh mas, sabar mas sabar. Semua sudah sesuai dengan instruksinya mas Abi, ini memang masih terlihat jelek karena belum finising, kalau yang sudah jadi hasilnya tak kalah sama yang berbahan bagus kok, mari ikut saya kita lihat bagian yang sudah selesai di renovasi!" ajak pak Mandor pada Abi.
"Dasar bos pelit,dana proyek aja di ungkret, maunya hasil memuaskan mana bisa!" ucap Pak mandor dalam hati.
Kemudian Abi pun mengikuti langkah kaki Pak mandor yang membawanya ke tempat unit Perumahan yang telah selesai dan siap huni.
"Nah ini yang sudah jadi, mas Abi bisa dilihat sendiri tak kalahkan sama yang proyek di sana" Ucap pak mandor pada Abi, Abi pun meneliti dengan jeli satu persatu Sisi bangunan dan merabanya, setelah beberapa saat Abi pun tersenyum puas.
" Bagus...bagus.... kalau begini kerja kamu aku pun puas!" ucap Abi sembari menepuk bahu pak Mandor.
Proyek yang satu lagi dipegang oleh keponakan Pak Safrudin, karena keponakan Pak Safrudin orangnya jujur dan tidak mengambil dana proyek maka hasil bangunannya pun sangat memuaskan.
Abi Yang Licik manfaatkan posisinya sebagai menantu pak Safrudin, dia mengambil dana proyek yang di percayakan kepadanya, semua bahan dia ganti dari yang premium menjadi bahan yang standar saja, namun hasilnya memang tak beda jauh dengan yang berkwalitas premium.
"Mandor, menurutmu dari bangunan ini apa kekurangannya di banding bangunan proyek yang di sana, kamu ngomong saja yang jujur padaku!" pinta Abi pada pak Mandor.
"Tentu saja mas, bangunan yang di sana akan lebih tahan lama dari yang di sini, bangunan yang di sini memang terlihat bagus namun karena bahannya yang seperti itu maka bisa di pastikan hanya bertahan beberpa tahun saja" jelas pak Mandor dengan jujur pada Abi.
Abi salah satu tangan berkacak pinggang dan satunya lagu mengusap dagu sembari berfikir.
"Jadi maksutmu kendalanya cuma usia bangunan saja yang sedikit lebih cepat dari yang di sana?" tanya Abi lagi memastikan.
"Tepat sekali mas mungkin hal itu nggak terlihat mencolok nantinya karena semua sudah lewat banyak tahun" jelas pak Mandor dengan gamblang pada Abi.
"Baiklah, berarti nggak masalah kan!" ucap Abi puas, pak Mandor pun menggelengkan kepalanya.
"Kalau pun ada itu mungkin hanya beberapa orang saja yang menyadari, kebanyakan masyarakat yang beli adalah kalangan menengah dan mereka lebih banyak sibuk bekerja di luar ketimbang mengurus rumah hehe" ucap pak Mandor memberikan gambaran.
"Baiklah, aku tak akan khawatir lagi soal ini, ingat kamu harus awasi betul dan laporkan padaku juka terjadi sesuatu, uangnya akan ku kirim ke rekeningmu nanti malam" ucap Abi pada Pak Mandor.
"Siap mas, mas Abi tenang saja, semua aman sama saya!" jawab pak Mandor dengan yakin pada Abi, mereka ternyata ada kong kalikong selama ini.
Pada saat akan melangkah pergi tiba-tiba saja Abi kembali menginjak kotoran pada kakunya.
"AAAAAAAAAAAHHHGHGHHH, SIAAAAALLLLLLANNNNN!!!" teriak Abi geram, Abi pun langsung melempar sendal yang di pakainya yang menginjak kotoran kucing sejauh mungkin dan memilih berjalan tanpa alas kaki.
Setelah selesai dengan urusan di proyek Abi pun kembali, kali ini dia akan pergi ke hotel di mana Dewi menginap.
"Dewi gimana ya, apa dia sudah cek out, sudah siang begini harusnya dia sudah ke bandara, ah coba aku tengok untuk memastikan" ucap Abi saat di dalam mobil dan setelah mantap berfikir dan menentukan tujuan berikutnya barulah Abi melajukan kendaraannya.
Kita berpindah ke tempat lain, saat ini Dewi sudah berada di tempat kos nya, dia sedang merapikan tempat tidur dan kemudian merebahkan tubuhnya di sana.
"Rencana selanjutnya cari kerja, ah iya aku ingat, kang Karsiman pernah memberiku kartu nama pak Dhenya yang di sini, untung saja waktu itu aku terima meski pun ragu, ternyata bermanfaat juga!" ucap Dewi dengan antusias, kemudian Dewi pun mencari kartu nama pak Dhe nya Karsiman yang dia simpan di dalam dompet.
Setelah ketemu Dewi pun segera menghubunginya dengan ponsel miliknya.Tak berapa lama sambungan pun terhubung.
"Halo,siapa ini?" sapa pak Dhe dari seberang telepon.
"Halo, apa ini pak Dhe nya kang Karsiman?" tanya Dewi.
"Ah iya, kamu siapa?" tanya pak Dhe pada Dewi.
"Saya Dewi pak Dhe istri mas Abi teman kang Karsiman" jawab Dewi dengan Jujur.
"Oh begitu, ada apa nak Dewi telpon pak Dhe?" tanya pak Dhe pada Dewi.
"Pak Dhe, Kang Karsiman sudah cerita sama Dewi soal suami Dewi, sekarang Dewi ada di kalimantan, Dewi juga sudah ketemu sama suami Dewi tapi dia tak mengakuinya, dia minta Dewi buat balik ke jawa hari ini juga, tapi Dewi nggak percaya sama omongan mas Abi, Dewi masih curiga dia menyembunyikan sesuatu" jelas Dewi pada pak Dhe.
"Hah...apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya pak Dhe yang sebenarnya enggan ikut campur urusan Dewi.
"Pak Dhe tolong saya, saya mau bertahan beberapa lama di sini sembari mengumpulkan bukti,saya butuh kerjaan, apa pak Dhe bisa kasih saya kerjaan?" tanya Dewi pada pak Dhe.
"Baiklah, pak Dhe akan pikirkan lagi, besok kamu temui pak Dhe, kita bicarakan secara langsung, alamatnya akan ku kirim lewat chat nanti" jawab Pak Dhe pada Dewi.
"makasih banget pak Dhe, sekali lagi terima kasih sudah mau bantu Dewi" ucap Dewi dengan tulus.
"Aku bantu kamu karena aku kasihan sama kamu, sebenarnya waktu itu aku lihat sendiri kalau suami kamu itu memang punya istri lagi, makanya aku akan bantu kamu buat cari buktinya kamu tenang saja ya!" ucap pak Dhe pada Dewi, Karsiman sudah memberi tahu pada Pak Dhe nya untuk membantu Dewi kalau dia menelepon atau meminta bantuan.
"Baik pak Deh, kalau gitu Dewi tutup dulu" ucap Dewi yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Tak berapa lama Hp Dewi kembali bergetar, ada panggilan masuk dari Abi, namun Dewi malah merijeknya dan kemudian menonaktifkan hp nya.
"Jangan harap aku akan mengangkat teleponmu mas, kamu itu nggak pernah perduli sama sekali padaku sejak datang ke sini" gumam Dewi yang kemudian menggeletakkan hp mya begitu saja dan dia pun memilih tidur.
cinta boleh wi gobloogg jangan