"Wanita bisa hidup bahagia tanpa lelaki." Itu tekad kuat yang Adira tanamkan pada dirinya.
*
Ketika bahagia terlalu lama menyapa, terkadang kita harus lebih waspada, karena bencana bisa datang di saat yang tenang, itulah yang di hadapi oleh Adira yang kini berada di jurang kehancuran. Ia tidak hanya kehilangan suami yang selama ini sempurna untuknya, tetapi juga orang yang selalu ada dan menemani setiap langkah di hidupnya sejak kecil.
Penderitaan Adira semakin dalam saat ia menyadari bahwa perselingkuhan ini bukan hanya mencuri kebahagiaannya, tapi juga kehidupan dan jiwanya.
Di tengah amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan, Adira menolak menjadi korban yang pasrah. Ia bangkit dengan tekad yang membara, membalikkan keadaan, dan melontarkan sebuah gugatan yang mengejutkan. "Aku Talak Suamimu!"
Keputusan berani ini bukan hanya tentang memutus ikatan pernikahan, tetapi juga sebuah deklarasi perang terhadap pengkhianatan. Karena Adira tidak sudi untuk di hina lebih jauh lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meidame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB
• Tamparan nyata
PLAKK!!
Telapak tangan Linda mendarat dengan bunyi yang nyaring tepat di pipi Yovan, tanpa kata, hanya mata dan tangan yang berbicara. Lalu Linda masuk dengan langkah yang arogan ke dalam kamar Adira. Jelas, dari gesture nya, Ibu dua anak ini bukan ingin menjenguk dan melihat keadaan Adira. Melainkan membuat perhitungan.
Adira yang sedang terbaring lesu melihat sosok Mamanya datang, mengira jika wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu datang karena khawatir. Sesaat perasaan Adira menghangat lantaran dugaannya itu. Tanpa kata Adira menatap Mamanya dengan penuh kesedihan. Berfikir bahwa Linda, akan memeluknya untuk menenangkan.
Namun itu hanya pra-duga dari Adira saja, nyatanya Linda langsung duduk di samping ranjang. Dan menatap Adira dengan jengkel. Lalu menyentuh luka di bagian kepala Adira yang terluka.
"Auh! Sakit Ma." Adira spontan menjauhkan kepalanya.
"Maaf, tapi Mama liat lukanya engga begitu parah ya."
Adira mengangguk,"Iya Ma, untungnya engga parah, Mama enggak perlu khawatir."
Linda tersenyum lebar dengan alisnya yang sebelah naik ke atas.
"Tenang saja, Mama enggak peduli. Sekarang karena luka kamu ternyata cuma segitu dan sepertinya kamu baik-baik saja. Kita ke kantor polisi, ayok bangun."
Adira terdiam, matanya terpaku melihat Mamanya.
"Buat apa ke kantor polisi Ma? Nanti mereka juga akan kesini, aku bisa ceritakan kejadian nya di sini aja. Aku gamau ketemu orang itu lagi." Adira masih mencoba berfikir positif. Padahal hati nuraninya sudah berkata lain melihat sikap dan ucapan yang di lontarkan Mamanya.
"Kita ke kantor polisi buat cabut laporan kamu itu! Gimana sih, ngelaporin orang tua sendiri. Anak durhaka kamu."
Kelu rasanya lidah Adira saat mendengar kata-kata 'durhaka', bukankah kata itu hanya bisa di ucapkan pada anak yang kurang ajar? Dan lagi, Angga bukan orangtua kandungnya.
"T-tapi.." Adira menahan tangisnya, walaupun air matanya sudah jatuh membasahi pipi.
"Enggak ada tapi-tapian, bangun dan kita cabut laporan itu sebelum Mama makin marah sama kamu dan putusin hubungan kita!"
Adira menggeleng tak mau. Bagaimana mungkin karena kesalahan orang lain, dia malah harus memutuskan hubungan dengan Mama.
"Enggak Ma! Gamau!"
Linda lalu menarik lengan Adira dan melepaskan selang infusnya. Membuat tangan Adira mengeluarkan darah. Tapi Linda hanya mengelapnya dengan tisu yang tersedia di meja.
"Kalau kamu gamau hubungan kita putus dan kamu Mama usir, lebih baik sekarang kamu ikut Mama dan cabut semua laporan itu. Inget Dir, kamu bisa sekolah dan tetap hidup itu karena Angga, Suami Mama, Papa kamu. Jangan jadi anak durhaka cuma karena cowokmu itu!"
Mata Adira terus menatap tak percaya pada setiap kata yang di ucapkan oleh Mamanya. Satu hal yang Adira sadari, Mamanya terlalu cinta pada Om Angga hingga menjadi cinta buta.
Tubuh Adira yang masih lesu di seret paksa oleh Mamanya. "Ayo, setelah kita urus semua itu, kamu bisa istirahat lagi ya sayang. Cabut dulu laporannya, kasian Papa kamu."
"Tapi Ma... Aku korbannya.." Lirih Adira. Perasaannya saat ini benar-benar di buat patah. Ibunya sendiri lebih memilih suaminya ketimbang anak gadisnya.
Mendengar pembelaan Adira membuat Linda berdecak kesal dan menjambak rambut anaknya itu. Membuat Adira mendongak kaget.
"Kamu kalau mau pacaran sama cowok kamu itu silahkan aja, tapi jangan memfitnah Papa kamu sendiri! Sampe nuduh dia mau perkaos kamu, gila kamu! Apa sebenarnya kamu itu suka sama Papa kamu sendiri?!"
Tuduhan tanpa dasar itu memancing emosi yang selama ini Adira pendam. Terutama rasa kecewa. Yang ada di benak Adira saat ini bukan lagi tentang cara agar tetap bersama Mamanya. Dia sudah menyerah.
"D- dia sudah melakukan hal TERCELA PADAKU! Dan.. AKU GAK PERNAH SUKA SAMA SELINGKUHAN MAMA!"
PLAKK///