NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Surya masih belum pulih dari guncangan batinnya ketika ia kembali merunduk di parit. Nafasnya berat, tangannya tanpa sadar menggenggam pistol. Matanya kosong, seakan pikirannya masih tersangkut di pertempuran tadi.

“Surya! Hei, Surya!”

Suara Okta membuyarkan lamunannya.

“Oh!” Surya tersentak, menoleh cepat.

“Ada kabar apa? Jangan bikin penasaran,” desak Okta tidak sabar.

Surya menarik napas panjang lalu berkata pelan, “Aku diangkat jadi komandan regu.”

“Komandan regu? Serius? Kau jadi pemimpin regu sekarang?” Mata Okta melebar, dan beberapa prajurit yang duduk di parit langsung menoleh.

Surya mengangguk.

“Wah, bagus itu!” Okta berdiri tegak, memberi hormat dengan senyum lebar. “Komandan regu, kami menunggu perintahmu!”

Ia lalu melambaikan tangan ke arah prajurit lain. “Kalian dengar? Mulai sekarang, Surya komandan kita!”

Beberapa prajurit tampak ragu, wajah mereka jelas belum sepenuhnya menerima. Wajar saja nama Surya sebelumnya tak terlalu harum. Ada yang menganggap keberhasilannya hanya karena keberuntungan.

Di antara mereka ada seorang prajurit berkacamata tebal, pipi cekung, hidung tajam seperti paruh burung elang. Dari penampilannya, Surya sempat heran bagaimana orang seperti itu bisa betah di medan perang.

Tapi lencana merah-putih di dadanya bicara lain: ia seorang veteran, sudah lama mengabdi.

“Maaf,” kata prajurit berkacamata itu dingin, “kami belum dapat perintah resmi.”

“Malik!” Okta langsung menyahut kesal. “Apa-apaan sikapmu? Kau pikir kita bisa main-main begini? Atau mau nunggu Mayor datang dan ngomong sendiri baru kau percaya?”

“Aku tetap pada pendirianku,” jawab Malik tenang sambil merakit senapannya. Tangannya cekatan, tak perlu melihat ke bawah, seolah senjata itu sudah jadi bagian tubuhnya.

Tiba-tiba seorang perwira dengan sepatu bot berlumpur turun ke parit dan berseru lantang:

“Pasukan Satu, dengar baik-baik! Mulai sekarang Surya resmi jadi komandan regu kalian!”

Ia menatap Surya sambil menggeleng kecil, nada suaranya setengah bercanda, “Aku awasi kau, Surya. Pastikan anak buahmu bisa bertempur sama beraninya seperti kau tadi. Kalau tidak… jangan salahkan kalau aku suruh kau jadi tukang logistik di belakang garis.”

“Siap, Pak!” Surya menjawab tegas sambil memberi hormat.

Belakangan, Surya tahu perwira yang suaranya selalu bercampur gurauan itu adalah komandannya langsung, Letnan Purwanto, pemimpin peleton kedua.

“Komandan regu!” Okta kembali memberi hormat, kali ini lebih sungguh-sungguh.

“Komandan regu!” suara prajurit lain menyusul, serempak, lebih mantap dari sebelumnya.

Beberapa prajurit datang dengan enggan, satu per satu memberi hormat pada Surya. Wajah mereka jelas masih ragu, tapi aturan tetap aturan.

“Malik!” panggil Surya ketika melihat si veteran itu hendak beranjak pergi.

“Ada perintah, Komandan Regu?” jawab Malik datar. Bibirnya berkata hormat, tapi tatapannya dingin, bahkan ada sedikit sinis.

“Medali bintang merah-putihmu itu,” Surya menatap ke dada kiri Malik dengan nada kagum, “bisakah kau ceritakan kisahnya?”

Sebenarnya Surya tidak terlalu ingin tahu. Tapi ia sadar, kalau ingin memimpin dengan baik, ia harus lebih dulu meraih hati para veteran. Mereka punya wibawa tersendiri di mata pasukan kadang lebih dihormati daripada perwira berpangkat.

Malik sempat terlihat kikuk, tapi akhirnya ia tersenyum tipis.

“Bukan apa-apa, Komandan. Itu waktu agresi pertama Belanda. Aku yang jaga pos malam itu, dan kebetulan melihat patroli musuh menyusup. Kalau tidak sempat kulaporkan, mungkin pos kita sudah disapu habis.”

“Wah, jadi kau ikut di agresi pertama?” Surya pura-pura terkesan. Ia menepuk tanah di sampingnya, memberi isyarat agar Malik duduk. Lalu ia melirik prajurit lain dan memanggil mereka membentuk lingkaran.

“Dengar baik-baik. Pengalaman tempur seperti ini bisa menyelamatkan nyawa kita suatu hari nanti,” kata Surya.

Beberapa prajurit mengangguk, mulai menunjukkan ketertarikan. Padahal di dalam hati, Surya sedang memakai Malik sebagai jalan untuk menegakkan wibawanya.

“Pasti berat, ya?” tanya Surya.

Malik menghela napas. “Berat sekali. Waktu itu kita kira Belanda gampang dipukul mundur. Nyatanya mereka datang dengan persenjataan modern, serangan udara, dan patroli kecil yang tiba-tiba menyerang saat kita lengah. Banyak korban jatuh, tak sedikit kawan-kawan kita yang gugur.”

“Sepertinya bukan seperti menghadapi pasukan KNIL biasa,” celetuk seorang prajurit muda.

“Jelas beda,” jawab Malik pelan. “Belanda main licik, tapi kalau dibandingkan dengan tentara sekutu dulu… mereka jauh lebih berat. Dan jangan lupakan, mereka bawa tentara bayaran dari luar negeri.”

Ucapannya terhenti di situ. Semua orang paham maksudnya kalau melawan patroli Belanda saja sudah berdarah-darah, bagaimana nanti kalau harus menghadapi operasi besar-besaran dengan tank dan pesawat mereka?

Keheningan turun sejenak. Semua orang memikirkan hal yang sama apakah mereka masih bisa pulang hidup-hidup?

“Sudahlah, jangan takut,” potong Okta cepat, mencoba menyemangati. “Besok, pasukan bantuan dari markas pasti datang. Kita akan bertahan, kan, Surya?”

“Oh… iya. Ya, besok,” jawab Surya.

Ia tahu itu bukan kebenaran. Faktanya, pasukan mereka sudah terjepit, dan kecil kemungkinan ada bala bantuan yang bisa menembus kepungan Belanda. Tapi ia tidak boleh mengatakannya.

Surya sadar, kalau para prajurit tahu kondisi sebenarnya bahwa garis pertahanan sudah nyaris runtuh, dan Belanda mulai masuk lebih dalam mental mereka pasti hancur.

Malik menatapnya lama, seakan bisa membaca isi kepalanya. Tapi veteran itu memilih diam. Itu cukup membuat Surya lega setidaknya ia tahu Malik mau bekerjasama menjaga semangat regu.

Malam perlahan turun. Suasana hening, hanya suara jangkrik dan sesekali tembakan jauh di luar hutan. Belanda tampaknya sedang berhenti menekan malam ini, mungkin memberi waktu pasukan mereka beristirahat setelah seharian menyerang.

Tapi Surya tahu, itu bukan berarti mereka aman. Serangan berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.

Ia menatap gelapnya langit, pikirannya penuh tanda tanya. Apa yang akan terjadi besok? Apa mereka bisa menembus kepungan?

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!