Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Aku mengajak Alesha, Marcell, dan Cindy untuk masuk kedalam rumah. Terlihat wajah mereka begitu sedih menatap kepergian Ardi. Kami duduk di sofa, masih dalam kebisuan. Tiba-tiba Bara pulang bersama Ayah dan Ibunya, menatap Alesha yang berada disampingku.
"Chika, Alesha sudah ketemu? Kenapa tidak memberitahu aku?" Bara langsung memeluk adikku dengan wajah senang.
"Siapa yang mengantarnya pulang? Ardi?" tanya Ibu.
Aku hanya mengangguk pelan, aku masih enggan membicarakan tentang Ardi. Rasa traumaku terhadapnya masih belum hilang sampai saat ini. Sedih rasanya hatiku jika mengingat hal yang pernah dilakukannya padaku.
"Lalu Ardinya kemana Chika?" tanya Ayah Bara.
Aku tidak menjawab, tapi Ibu Bara langsung memahami arti kebisuan ku. Dia memelukku, mencoba menenangkan hatiku. Pasti Ibu mengerti, begitu sulit hatiku memaafkan kesalahan besar yang pernah Ardi lakukan kepadaku. Bahkan mungkin tidak dapat termaafkan, seumur hidupku.
"Sudah, sekarang Alesha ikut Kak Bara ke kamarmu ya!" ucap Bara.
"Tidak usah diantar Kak, aku bisa sendiri," ucap Alesha dengan senyum dibibirnya.
Bara terlihat bingung dengan ucapan Alesha, tapi Alesha berdiri memeluk Bara lalu menciumnya.
"Aku sekarang sudah bisa berjalan Kak, kakiku sudah sembuh. Kak Ardi yang membiayai semua pengobatan kakiku sampai sembuh. Lihat Kak Bara, aku sudah bisa melompat dengan kakiku." Senyum senang terpancar di wajah Alesha.
"Wah, baik sekali Kak Bara," ucap Ibu sambil membelai rambut adikku.
Bara tersenyum menatap adikku, lalu menoleh kearah ku yang masih diam dalam kebisuan.
"Kak Bara, aku mohon padamu. Jangan membenci Kak Ardi ya!" ucap Alesha sambil mengusap wajah Bara.
"Siapa yang bilang? Kak Bara tidak benci pada Kak Ardi. Kak Ardi saat ini hanya sedang ingin sendiri, tidak ada satu orang pun di rumah ini yang membencinya," ucap Bara.
"Berarti Kak Bara mengizinkan Kak Ardi main ke rumah ini setiap hari. Aku mau bermain bersama Kak Ardi besok, " rengek Alesha.
"Boleh. Kenapa tidak!" senyum Bara.
"Kalau Kak Ardi mau tinggal lagi di rumah ini juga tidak apa-apa, " ucap Ibu.
"Benarkah Ibu?" Alesha tersenyum lebar.
"Tentu boleh nak, " ucap Ibu.
"Kalau begitu, izinkan saja Kak Ardi juga menikah dengan Kak Chika. Biar Kak Ardi tidak sedih lagi, " ucap Alesha dengan wajah polosnya.
Bara kaget mendengar ucapan dari bibir Alesha, tiba-tiba saja wajah Bara berubah pucat. Aku yang menatap ekspresi wajah Bara langsung memeluk tubuh Bara. Aku bisa bayangkan sakitnya hati Bara mendengar ucapan dari bibir Alesha.
"Aku mohon, maafkan ucapan adikku Mas," bisikku ditelinga Bara.
Bara tersenyum sambil mengangguk, lalu mengusap wajahku dengan kedua tangannya.
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan pernah kembali mencintai adikku Ardi." Mata Bara berkaca-kaca, ada haru yang tersimpan dibalik kata-katanya.
Aku meneteskan air mata, aku tidak sanggup mendengar ucapan dari bibir Bara. Rasanya aku bisa merasakan rasa takut yang dirasakan Bara saat ini.
"Aku hanya akan mencintaimu," bisikku sambil mengusap air mata di pipiku.
Semua keluarga Bara berjalan ke kamar mereka masing-masing, untuk beristirahat. Begitupun aku dan Bara, kami langsung tidur pulas di atas tempat tidur.
****
Pagi pun datang, aku menatap Bara sudah menghilang dari sampingku. Bara sudah rapi dengan pakaian kantornya berdiri dihadapan cermin.
"Sayang, kau sudah bangun?" Bara mendekat kearah ku lalu mencium bibirku cukup lama.
"Mau kemana?" Benar-benar pertanyaan aneh yang meluncur di bibirku.
"Mau ke kantor, memang mau kemana lagi?" tawanya.
"Jangan pergi. Temani aku disini!" pintaku. Tiba-tiba saja aku takut ditinggalkan Bara walau hanya ke kantor.
"Jangan macam-macam. Aku bisa telat pergi ke kantor nanti!" senyum Bara.
Tapi aku memegang erat tangan Bara, perasaanku benar-benar tidak enak pagi ini. Entah kenapa aku begitu takut kehilangannya. Perasaan macam apa lagi ini? Kenapa aku tidak rela dia meninggalkan aku?
Chika ayolah, Bara hanya akan pergi kekantor, dia tidak akan pernah meninggalkan mu.
"Ada apa lagi sayang?" Bara mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Jangan pergi. Perasaanku benar-benar tidak enak!" ucapku.
"Tenanglah. Aku akan kembali untukmu!" tawanya sambil mencubit hidungku.
Bara berdiri, berjalan menuju gagang pintu. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku menangis keras. Sontak membuat Bara mendekati ku dan langsung memeluk tubuhku.
"Kenapa sayang? Kenapa kau menangis?" bisik Bara.
"Jangan tinggalkan aku!" ucapku sambil menjatuhkan air mata.
Bara mengusap air mataku, dia membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Dia berbaring disampingku, dia benar-benar mengurungkan niatnya pergi ke kantor. Sebenarnya apa sih yang aku lakukan? Kenapa hari ini aku begitu berat melepas Bara pergi ke kantor?
Aku menenggelamkan wajahku dipelukan Bara, laki-laki itu hanya mengusap rambutku lembut.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Bara.
"Aku takut kehilanganmu."
"Aku hanya akan ke kantor. Aku tidak ada niat untuk meninggalkanmu, " ucap Bara.
Tiba-tiba aku terbayang wajah Raina, sosok wanita yang begitu mencintai Bara.
"Raina." Ucapku singkat.
"Kenapa dengan Raina?" tanya Bara.
"Aku tahu semuanya Mas. Aku tahu, kalau wanita itu mantan pacarmu, " kataku sambil menatap wajah Bara.
"Mantan pacarku? Kata siapa?" Bara terlihat bingung dengan ucapan ku.
"Kata Raina. Dia juga memperlihatkan fotomu sedang mencium pipinya dengan sangat mesra, " ucapku sambil mengingat foto yang diperlihatkan Raina beberapa hari lalu.
Bara mencium keningku, lalu kembali menatap kearah wajahku.
"Apa kau percaya pada Raina? Apa kau pikir aku bohong? Aku dan Raina tidak pernah punya hubungan apa-apa. Dia hanya sekertarisku di kantor, itu saja!" ucap Bara.
"Lalu foto yang diperlihatkan Raina?"
"Foto? Aku tidak pernah berfoto dengan dia sayang. Jangankan mencium pipinya, memegang tangannya saja tidak pernah," ucap Bara.
"Tapi, aku lihat foto itu."
"Sayang, foto itu bisa di edit. Mungkin wanita itu sengaja membuat foto rekayasa, agar kau dan aku bertengkar!"kata Bara.
Aku diam, mencerna semua ucapan yang diberikan Bara padaku. Benar kata Bara, Raina bisa saja merekayasa foto itu. Tapi kenapa hatiku berkata lain. Kenapa aku curiga, Bara menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa?
"Kenapa dengan wajahmu?" Bara tersenyum menatapku.
Aku diam tidak menjawab, Bara hanya tersenyum sambil mencium bibirku. Dia menarik baju tidurku, melepaskan baju itu dari tubuhku. Bara memulai aksinya padaku, menggerayangi setiap lekuk tubuhku. Aksi yang membuatku terkejut di pagi hari.
Bara selesai dengan aksinya, aku menarik selimut yang ada dibawah kakiku untuk menutupi bagian tubuhku. Bara terlihat tersenyum puas disampingku. Bibir eksotis itu berkali-kali mengecup bibirku. Aku hanya bisa memeluk tubuh Bara, rasanya hatiku begitu tenang saat bersama dengannya.
"Apa sekarang kau senang, aku tidak jadi berangkat ke kantor?" tawa Bara tanpa suara.
"Maaf, " bisikku ditelinga Bara.
"Sudahlah, tidak usah minta maaf. Aku sangat bahagia jika kau begitu takut kehilanganku. Terimakasih Chika, sudah memberikan cinta itu untukku," ucap Bara diiringi senyum.
Aku hanya memeluk tubuh Bara, aku tidak bicara apa-apa. Sampai aku kembali tertidur lelap disampingnya.
Tinggalkan jejak Komen, Like, atau Jempol, juga beri Vote sebanyak-banyaknya untuk dukung karya ini.🙏
Terimakasih.❤️
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂