NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB16 - LUCU

"Dave ... kenapa kau bisa memarahi mereka?" tanya Davina sesaat setelah mereka berada di dalam lift.

"Aku tidak suka melihatmu menangis," kata Dave sambil menatap Davina. Keduanya saling berdiam dalam tatapan mereka.

"Kenapa menatapku seperti itu?" Dave duluan memutuskan pandangan mereka.

"Apa kau juga ada masalah?"

Tinggggggg ....

Dave berjalan duluan keluar dari pintu lift tanpa membalas pertanyaan Davina. Davina pun hanya berdiam dengan mengikuti Dave di belakangnya. Sesampainya di mobil, Davina dan Dave masih juga berdiam. Tapi bagi Davina, ada keanehan dari kedua mata Dave sebelumnya.

Mobil melaju keluar dari area parkiran gedung perusahaan. Suasana di dalam mobil sekejap terasa hening. Davina sebenarnya sih canggung, tapi takut. Kalau saja Dave marah karena dia sok akrab. Jadilah, Davina tetap berdiam meskipun ingin mengobrol.

"Apa kau mau menemaniku makan?" tanya Dave tiba-tiba. Davina perlahan membawa wajahnya menatap ke Dave.

Dave yang merasa di tatap oleh bola mata kecil wanita di sampingnya, menoleh sekilas.

"Kenapa diam? apa ada yang salah?" tanya Dave.

Davina menggeleng.

"Apa kau sedang mengajakku kencan?" Davina mencoba menggoda.

Dave tersenyum samar.

"Anggap saja seperti itu," balas Dave.

"Kenapa aku takut Dave?"

"Takut? kenapa?" Alis sebelah kanan Dave terangkat.

"Aku takut, kau jatuh cinta padaku."

Dave tertawa.

"Apa kau sedang becanda?"

"Mungkin saja. Aku terkadang bingung dengan sifatmu Dave. Apa kau benar-benar seakrab ini denganku?" Pertanyaan Davina menghentikan sisa tawa Dave.

"Astaga gadis polos ini. Kenapa kepedean banget."

"Hey kelinci kecil! jangan banyak mengandai-andai. Aku cuma mau menghibur dirimu saja. Bukankah kau baru saja di kecewakan dengan pria dan wanita tadi? Masa iya cuma mengajak istri sendiri yang aku anggap adik ini, bisa jatuh cinta sih?" tanya Dave seperti meledek.

Davina memandangi Dave dengan tatapan tajam ke wajah pria yang sedang mengumudikan mobilnya itu. Matanya sama sekali tidak berkedip.

"Kenapa kau memandangku seperti itu?"

"Jangan menganggapku adik!"

Dave mengerutkan dahinya.

"Kenapa kau kesal?"

Davina cemberut seraya menggelengkan kepalanya.

"Pokoknya jangan menganggapku adik." Davina terlihat sedih.

Dave menarik napasnya.

"Kayaknya aku tau nih. Kau di anggap adik sama pria yang kau cintai? sementara pria tadi menyukai teman wanitamu tadi. Pasti tebakkanku benar kan?"

Davina tidak menjawab perkataan Dave. Karena yang di katakan Dave memang benar adanya. Davina memilih meratapi sesuatu yang baru dia terima dalam diamnya.

Dave sendiri merasa aneh. Sejenak dia melirik ke arah Davina. Sangat yakin, setiap tebakan yang di ucapkannya barusan, kena tepat pada sasarannya.

"Hey kelinci kecil!" Dave mengacak rambut Davina. Davina yang semula diam, kini mencebikkan bibirnya seraya merapikan rambut panjangnya dan membawa wajahnya menatap tidak senang ke Dave.

"Kau marah?"

Mata Davina berkilat dan Dave menangkapnya.

"Apa aku salah ngomong?" lagi-lagi Dave merasa bersalah dan merasa salah tingkah sendiri.

Davina tiba-tiba menetup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak lama, suara tangisannya pecah memenuhi ruang lingkup mereka.

"Heyyy! kenapa kau jadi menangis? Maafi aku kalau aku salah. Benaran kok, gak ingin menyinggung perasaanmu."

"Kau jahat Dave!"

"Loh. Kenapa jadi aku yang jahat?"

"Karena kau sama saja dengan pria itu. Aku gak mau di anggap jadi adikmu!" teriak Davina.

"Jadi ... kau mau aku anggap sebagai apa? Ibuku? Omaku? Mbaku? atau bidadariku," goda Dave senang. Gila pikirnya. Davina yang seperti itu bisa menghibur dirinya yang juga merasa sedih. Entah kenapa, Davina itu ternyata, sosok wanita yang bisa di ajak berteman.

"Aku ingin di anggap sebagai istrimu." teriak Davina membuat Dave menginjak rem dengan mendadak.

Bruggggggggg ....

Dave menarik tubuh Davina agar tidak terpental kedepan.

"Dave!!!" Davina merasa takut saat badan mobil belakang menghentak tubuh keduanya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Dave. Dengan cepat dia menarik tubuh Davina dan memeluknya gusar. Dave ngin memastikan tubuh Davina dalam keadaan baik-baik saja.

"Dave ... apa kita dalam masalah?"

"Tidak masalah. Apa kau merasa ada yang sakit dari tubuhmu?" tanya Dave mencoba memperhatikan bagian tubuh Davina.

Davina menggeleng cepat.

"Tidak Dave. Aku hanya kaget. Apa kau baik-baik saja?" tanya Davina menatap ke wajah sang suami.

"Aku baik-baik saja. Tunggulah di sini, akan aku urus sebentar." Dave membawa tubuhnya turun dari mobil.

Davina sendiri merasa menyesal. Permintaannya malahan membawa celaka untuk Dave. Dengan kedua mata sendunya, di lihatnya ke arah Dave mengobrol dengan pria yang menabrak mobil Dave dari belakang. Tak lama, terlihat Dave mengambil ponselnya dan berbicara lewat ponsel.

"Apakah dia baik-baik saja?" Davina merasa gelisah. Saat di lihatnya Dave sudah berjalan ke arah mobil, langsung saja Davina mengubah posisi duduknya dengan benar.

Dave duduk di jok mobil dan kembali melajukan mobilnya. Suasana kembali hening. Davina yang merasa bersalah hanya sesekali menatap ke Dave diam-diam.

"Dave." panggil Davina tidak enakan.

"Ya," balas Dave santai.

"Apakah kau marah?"

Dave tersenyum.

"Tidak. Kenapa aku harus marah? Jangan di pikirkan. Seumur-umur, mobil kesayanganku ini, baru sekali di tabrak orang. Itu juga karena seseorang yang ingin di anggap istri. Sungguh lucu sekali bukan?" Dave tersenyum terpaksa. Terkesan terlihat aneh sambil melihat Davina.

"Maafkan aku Dave."

"Jangan minta maaf. Sudah ... kita makan malam dulu di sana." Dave menunjuk ke arah restoran Jepang langganannya. Davina cuma mengangguk pasrah.

Setibanya mereka di area parkiran restoran dan keduanya turun. Buru-buru Davina berjalan menuju ke belakang badan mobil. Betapa terkesiapnya Davina. Spontan mulutnya yang kaget itu di tutup oleh kedua tangannya. Matanya membola sempurna mendapati mobil Dave bonyok.

"Gilaaaa. Ini parah banget," gumam Davina takut. Dave yang memperhatikan respon Davina, tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Langsung saja, Dave berjalan dan menarik punggung tangan Davina. Keduanya berjalan masuk ke dalam restoran.

"Parah itu Dave."

"Yang penting kau baik-baik aja," balas Dave. Keduanya pun duduk di salah satu meja di bagian tengah pinggir dinding.

"Pesanlah," kata Dave sambil menyodorkan menu makanan.

"Dave ... aku ikut saja dengan pesananmu." Raut wajah Davina masih terlihat tidak enakan.

"Baiklah. Kalau begitu Kita pesan buaya goreng saja," ucap Dave membuat Davina dan si pelayan terkaget.

"Maaf Tuan ... di restoran kami tidak menyediakan buaya goreng apa lagi buaya darat." Spontan Davina tertawa.

"Oh ... kalau begitu cicak goreng." Mata Dave terlihat datar menatap wajah Davina yang tertawa. Sungguh di dalam hatinya, dia sangat suka akhirnya ada senyuman di bibir tipis istrinya.

"Maaf Tuan ... cicak goreng juga tidak ada. Apa lagi cicak di dinding Tuan," balas sang pelayan dengan ramah.

Davina semakin tertawa dengan menahan suaranya. Akhirnya, tawa Davina ikut menular pada Dave. Dan dia, menyudahi omong kosongnya yang memang ingin menghibur Davina.

"Unagi, shasimi, fresh and crunchy salad, hidangkan saja apapun yang menjadi menu terbaik di sini," ucap Dave memberikan buku menu ke pelayan dengan elegannya. Matanya tidak lepas dari tatapan Davina.

"Baik Tuan. Silahkan menunggu, menu pesanan anda akan segera kami antarkan." Si pelayan berjalan meninggalkan keduanya.

"Apa sesenang itu menertawaiku?" tanyanya dengan datar.

Davina bukannya takut. Dia mengedikkan bahunya masih di sisa tawanya.

"Entahlah. Aku rasa, kau sebenarnya orang yang lucu Dave."

Bersambung.

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!