Aku seorang wanita yang harus memikul beban kehidupan yang amat sangat pahit, hanya demi gengsi dan ambisi untuk menguasi anak laki-lakinya untuk harta dan tahta karena ingin dipandang oleh semua orang.
Awalnya kusangat bahagia karena dipersunting seorang calon imam yang mumpuni dalam segala hal, namun dengan berjalannya waktu semuanya terbuka dengan sengaja yang mengakibatkan buta mata buta hati, jangankan untuk mengerti pedulipun sudah tiada arti lagi.
Hidupku dihiasi dengan rasa penuh pana dan derita, hatinyapun sudah tak sanggup menerima karena duka yang mendalam. Padahal kuhanya pengakuan saja bukan ingin dimanja dan dipuja, pengakuan itu sudah luar biasa. Harta ku punya keluarga ku punya tapi pengakuan sebagai menantu buatnya kini tinggal kenangan semata.
Walau kelihatanya bahagia padahal kami sangat menderita karena perlakuan yang berbeda dan perhatian yang penuh dengan kebencian semata. Hilanglah semua harapan kini tinggal kenangan batu nisan jadi saksi kebencian seorang mert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PASKUD Official Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Hari pertama ku tinggal dikampung ayah, kami diajak main mengelilingi perkampungan dengan berjalan kaki dipagi hari sambil menikmati sinar mentari pagi. Aku cukup senang, dan kami banyak disapa oleh tetangga ayah kami, padahal kami ga kenal mereka tapi mereka kenal semua tentang kami. Mungkin kami diceritakan oleh mereka, entah yang baik atau yang jelek yang pasti kami ga peduli.
Siang menjelang kami pulang kerumah kake dan nenek. Ternyata kami sudah disiapkan makanan yang begitu banyak, tapi aku heran ko kemarin diam saja sekarang menyapa dan memberikan senyuman pada kami bahkan saudara yang lain mengajak dan menyapa kami. Apa mungkin karena bawaan kami. Ah aku ga peduli yang pasti aku nikmatin, tapi aku kasian juga sama mamah yang masih ga percaya dan canggung atas semua ini.
Kami terus dampingi mamah dan selalu kami berempat kemanapun kami melangkah.
Kami keluarga besar makan bersama, dan sambil ngobrol antara ayah dan kake, aku sangat senang dan menikmati suasana ini. Tapi aku takut diBali k semua ini.
Aku khawatir akan mamah dan ayah, aku takut mereka tetap akan dibenci selamanya. Karena kami stop semua kiriman dari ayah untuk mereka. Aku tak sadar jika kami jadi pusat perhatian semua keluarga besar, mereka melihat memandang kami dengan wajah yang bermacam-macam, kecut, masem, manis dan kenyut. Apa mungkin karena kami anak desa yang dipandang sebelah mata.
Ahhhh, aku tak peduli. Aku nikmatin setiap suapan demi suapan setelah selesai makan kami tak berani berlalu, karena adab kami harus orang tua terlebih dahulu. Kami menunggu selesai semua makan, baru kami bangkit tempat makan.
Setelah selesai makan aku sebagai anak tertua langsung inisiatif merapihkan membersihkan dan mencuci alat yang kotor bekas makan tadi. Aku tak peduli disebut apapun demi mamah dan ayah. Jangan sampai pulang dari sini umi ku dibicarakan yang engga-engga.
Malam semakin beranjak mendekati dinginnya embun, suara kodok dan jangkrik yang terdengar semakin nyaring, menina bobokan kami. Mamah dan kami berlalu dan ijin tidur duluan sedangkan ayah masing ngobrol dengan keluarga yang lain, entah apa yang diobrolkan mereka. Mungkin ayah ku ditanya ini itu, ditanya bagaimana keuangan sekarang, kenapa ga ngirim lagi (suudzon dalam hati), ah aku tepis semoga ayah ku tidak dipojokan seperti itu.
Kami pun tidur, dan membayangkan esok hari seperti apa reaksi mereka terhadap keluargaku. Malam semakin larut kira kira pukul setengah tiga pagi ayah masuk dan langsung tidur, mamah ku bangun dan bertanya pada ayah .
Mamah
“Ga kenapa-napa kan yah.”
“Ayah engga sayang, sudah tidur aja ya, ayah ngantuk berat. Cerita besok aja ayah sampaikan semuanya ya. Ayah udah ga nahan pengen bobo.”
Mamah
‘Iya ayah , sini deket umi.”
Ayah dan umi tidur kembali, dan tak terasa sudah pagi terdengar sayup sayup usara azdan subuh, aku kaka dan ade bangun dan berlalu ke wc untuk ambil air wudzlu dan solat subuh. Tanpa membangunkan mereka, kasian ayah dan umi butuh istirahat.
Aku dan ade setelah selesai solat, keluar melihat suasana pagi dikampung ayah , dan melihat kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat disana, dan tak lupa aku membereskan seisi rumah dan halaman. Dan sebelum pajar tiba rumah sudah bersih, kemudian umi ku bangun, nak kamu habis darimana umi bangun sudah tidak ada. Kami menjawab kami bangun duluan mah solat subuh dan beres beres rumah umi ku terharu, terima kasih nak sudah jadi anak yang baik dan soleh solehah. Aku bangga pada kamu nak.
semangat terus berkarya 👍👍
itu apa ya 🤔🤔
Sahur
sahuuuurrr
Terpaksa menikahi kepsek kejam hadir memberi like...
di tunggu ke hadirannya di karya ku ya...