Series ke dua dari novel 14 Februari, yang menceritakan kehidupan karir dan asmara seorang Charity Lilybelle Tjaidjadi, atau yang lebih akrab di sapa Lily.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Baca terus novel Lily ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 16
Sepulang dari restoran Fay menghampiri Lily di kamarnya, "Boleh mommy masuk?" tanyanya. Fay berjalan menghampiri Lily di tempat tidur dan duduk di sebelahnya. "Maafkan mommy baru membahas masalah ini sekarang, mommy hanya...."
"It's okay mom," Lily memaksakan seulas senyuman kepada Fay. "Beberapa waktu lalu, aku tidak sengaja lewat dari depan ruko, dan aku melihat papan penanda toko tutup."
Fay menatap Lily dalam-dalam sembari menggenggam tangannya. "Ly, mommy tidak bermaksud untuk melepas toko peninggalan ibumu. Hanya saja laporan keuangan toko, akhir-akhir ini mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga mau tidak mau hampir setiap bulan kami mengeluarkan dana pribadi kami untuk menutup biaya listrik, gaji pegawai dan lain sebagainya. Maka dari itu kami ingin melepasnya dan menggantinya dengan usaha yang lebih menguntungkan," terang Fay.
Lily paham sekali dengan maksud yang di sampaikan oleh ibu sambungnya, sebagai pembisnis tentu ibu sambungnya itu tidak ingin mengambil resiko kerugian yang lehih besar lagi di kemudian hari. "Aku mengerti mom," ucap Lily. "Seingatku, sewa toko berakhir sampai akhir tahun, jadi aku pikir di sisa akhir sewa ruko bisa aku pakai untuk membuka toko bunga, hitung-hitung aku belajar bisnis."
"Ly, buka usaha itu tidak mudah dan murah. Butuh modal usaha yang tidak sedikit, terlebih jika baru berdiri tentu butuh tambahan biaya untuk pemasaran. Sisa sewa ruko hanya tinggal 6 bulan lagi, apa kamu yakin dalam waktu 6 bulan itu bisa balik modal? Atau kamu hanya akan buang-buang waktu, tenaga, uang yang seharusnya bisa kamu pergunakan untuk pendidikanmu!!"
"Mommy tidak perlu khawatir mengenai semua itu, aku sudah hitung semuanya dengan matang dan mengenai modal usahanya aku bisa pakai uang tabungan pribadiku dan tabungan yang di berikan mommy Manda."
Sejak usia 15 tahun, Kendra sudah memberitahukan kepada Lily, jika almarhumah ibundanya telah menyiapkan tabungan pendidikan untuknya, dan Kendra tak pernah menggunakan karena ia merasa pendidikan Lily adalah tanggung jawabnya.
"Boleh ya, mom?" tanya Lily.
"Boleh, tapi tidak harus tinggal di ruko kan?" sambung Kendra yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar putrinya, ia berjalan mendekat ke arah istri dan anaknya dan duduk di samping Lily.
"Aku hanya ingin belajar mandiri dad, lagi pula jarak apartement ini dengan ruko tidak begitu jauh," Lily menatap Kendra dengan tatapan penuh harap. "Aku janji, aku akan tetap memprioritaskan sekolahku, aku akan belajar dengan giat dan..."
"Soal toko bunga, daddy mengizinkan dan akan membantumu mengurusnya sebagai hadiah ulang tahunmu, tapi mengenai tempat tinggal, kamu akan tetap tinggal di sini sampai kamu nanti kamu menikah," ucap Kendra dengan tegas.
"Tapi dad..."
"Closed topic!!" Kendra menutup discusi bersama putrinya, selain karena usia Lily yang masih terlalu muda, ia juga tak bisa jauh dari putrinya. "Sudah malam, sudah waktunya kamu istirahat."
"Tapi dad..." Lily masih merasa masih banyak hal yang ia ingin diskusikan dengan orangtuanya, ia masih ingin membujuk daddynya agar memperbolehkannya untuk tinggal di ruko.
"Istirahat!!! Besok daddy cuti dan akan menemanimu merapihkan ruko," Kendra menyibakkan selimut dan meminta Lily berbaring. "Ayo istirahat!"
Lily menyusup ke dalam selimutnya. "Benarkah dad?" tanyanya seakan tak percaya jika daddynya yang tak mau menemaninya merapihkan ruko.
Kendra mengangguk. "Jadi mau kau beri nama apa toko bungamu?" tanya Kendra sembari menarik selimut hingga ke dada putrinya.
"Lily Blossom," ucapnya tanpa ragu. "Bagaimana menurut daddy?"
"Good, nama yang sangat bagus untuk toko bungamu. Besok daddy akan pesankan papan namanyanya untukmu, apa kau sudah punya designnya?"
"Sebenarnya aku sudah memesannya beberapa hari lalu, dan besok akan di kirim."
"Okay, suruh mereka kirim ke ruko, agar langsung kita pasang." Kendra mengelus kepala Lily dengan lembut, sembari mengucpakan selamat tidur kepada putrinya. "Good night."
"Thank you dad."
"Good night," Fay mengecup kening Lily, kemudian mengikuti Kendra keluar dari kamar putrinya.
Sebelum tidur, Fay memandangi Kendra yang masih memainkan handphonenya. "Ken, kamu serius mau mencairkan tabungan Amanda hanya untuk menuruti permintaan Lily, membuat toko bunga?"
Kendra melirik istrinya."Ya, dia berhak menggunakan uang yang di berikan oleh ibunya untuk apa pun yang dia mau, selagi itu hal yang positif dan tidak melanggar hukum," ia kembali pada layar handhonenya, Kendra tengah mencari informasi mengenai supplier dan hal-hal apa saja yang di perlukan untuk mendirikan toko bunga.
"Tapi bagaimana jika bisnis itu tidak berjalan atau mengalami kerugian seperti bisnis toko perhiasan milik Amanda."
Kendra mematikan handphonenya, kemudian ia menatap tajam istrinya. "Enggak masalah, setidaknya dari situ dia akan banyak belajar mengenai bisnis," ucap Kendra. "Kamu lupa jika toko perhiasan itu sudah berdiri belasan tahun dan sudah memberikan keuntungan yang sangat besar?"
Sebenarnya ia masih belum 100% ikhlas melepas toko perhiasan itu namun karena Fay, sudah terlanjur menandatangani kontrak kerjasama kemitraan dengan Kevin dan ia membutuhkan modal yang cukup besar untuk kemitraan tersebut, sehingga Kendra tak punya pilihan lain selain melepas toko perhiasan itu.
"Iya aku tahu, tapi menurutku sebaiknya dana itu di gunakan untuk biaya pendidikan Lily, sesuai dengan amanat almarhumah Amanda. Terlebih, sebentar lagi dia akan masuk kuliah, butuh biaya yang tidak sedikit. Karena jujur saja aku takut Lily tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan dia akan masuk universitas swasta yang biayanya cukup mahal."
Fay menggenggam tangan Kendra. "Ken, aku tidak bermaksud untuk mengkesampingkan atau perhitungan dengan Lily, tapi kemarin aku menghitung ulang biaya kuliah dan biaya hidup di Amerika sangat tinggi, tabungan yang kita punya sepertinya tidak cukup. Jadi aku pikir, sebaiknya Lily masuk universitas negeri untuk menghemat biaya, dan biaya kuliahnya pakai dana yang di berikan oleh Amanda saja."
"Fay, mana bisa seperti itu, Lily juga anakku sama seperti Tara, pendidikan mereka berdua adalah tanggung jawabku," Kendra menyadari hal itu bahkan ia juga sudah menghitung besaran biaya kuliah di universitas yang ingin di tuju oleh putra bungsunya. Total seluruh tabungan dan tambahan dari prediksi keuntungan bisnis baby spa yang ia miliki tak cukup untuk menutup biaya tersebut, tapi ia juga tidak ingin mengorbankan Lily, ia merasa bahwa Lily juga tanggung jawabnya.
Kendra teringat saat dirinya dan Amanda melakukan perjalanan menuju puncak, keduanya membicarakan perencanaan masa depan anak-anak mereka. Diam-diam Amanda sudah menyiapkan dana pendidikan untuk calon buah hatinya.
"Enggak banyak sih mas, aku hanya menyisihkan sebagian dari keuntungan penjualan perhiasanku," ucap Amanda.
"Sebenarnya sejak aku bekerja, aku juga sudah menyisihkan dana untuk tabungan pendidikan anak-anakku kelak. Aku sudah menyiapkan untuk dua orang anak," ucap Kendra sembari mengelus perut Amanda. "Karena kita sudah punya 1, nanti 1 lagi ya."
Pada kenyataannya tabungan yang ia siapkan hanya cukup untuk pendidikan di dalam negeri dan Kendra tidak menghitung kenaikan biaya per tahunnya, sehingga ada selisih yang cukup besar untuk bisa menutup kekurangannya.
Pokoknya sukses untuk semua karya²nya dan semangat berkarya ❤❤
Terimakasih banyak buat Irma yang sudah menghadirkan kisah Lily yang memberikan begitu banyak pelajaran hidup tentang cinta, kesetiaan dan kesabaran.
Semangat terus untuk berkarya dan semoga kesehatan, kesuksesan dan keberkahan selalu membersamai, Aamiin....