Pernikahan merupakan impian semua orang, tapi tak semuanya mendapatkan pernikahan yang ia mau.
Dalam keadaan mendesak, Senja mengorbankan pernikahannya dengan seorang duda yang sama sekali tidak dikenalnya.
Ibunya yang sakit dan membutuhkan biaya operasi yang mahal, membuat senja melakukan apapun yang Ia bisa, termasuk menjadi pengantin bayaran.
Bagaimanakah kisah pernikahan tanpa rasa cinta? mungkinkah kedua pasangan yang saling terpaksa ini bisa bertahan?, mari simak cerita lengkapnya 😊😊.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mister Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasca Malam Pengantin
Jam 5 subuh Senja mulai terbangun tatkala suara adzab mulai menggema, sedangkan suaminya masih tertidur pulas di sofa sejak tadi malam.
Ingin rasanya Senja membangunkan Suaminya untuk pindah ke kasur, Ia merasa tak tega walau Pria itu sangat kasar padanya.
Senja yang tak bisa melaksanakan keinginannya itu, kemudian segera melaksanakan sholat subuh di kamarnya.
Selesai sholat, Senja menatap sebentar suaminya yang masih tertidur pulas, sebelum akhirnya Ia keluar kamar dan menutup pintu sepelan mungkin agar tidak membangunkan seisi rumah. Ia tahu semua orang pasti mengira dirinya sudah melakukan malam pertama yang menyenangkan dan kini semua orang akan mengira Ia bangun subuh karena mandi wajib.
Keadaan rumah masih sunyi, membuat Senja leluasa melihat-lihat isi rumah dan mulai menghafalkan lorong dan kamar-kamar karena memang rumah itu sangat luas sekali. Beberapa barang mewah dan antik berjajar rapi menghiasi isi rumah itu, beberapa ikan arwana merah juga ada disana. Ia tahu itu ikan yang harganya setara dengan satu buah mobil baru.
Perasaannya memang masih kacau, tapi Ia tak mau berlarut-larut memikirkan itu yang akan membuatnya semakin stress.
Saat melewati dapur, semerbak wangi bumbu masakan menembus hidungnya yang mancung. Senja segera memasuki dapur.
"Hallo Mbok Narsih" Sapanya, membuat Mbok Narsih terjingkat dan segera menoleh ke pintu.
"Eh, oh Non Senja, ngagetin aja!" Ucap Mboh Narsih setengah berteriak karena kaget, Senja terkekeh melihat itu.
"Maaf Mbok, gak sengaja" Jawab Senja memasang muka polos.
"Non kok sudah bangun, apa gak capek tadi malam lembur?" Goda Bik Narsih, seperti dugaannya semua orang akan mengira Ia telah melewati malam yang indah bersama Bryan.
Senja tak menjawab, ekspresinya seketika berubah menyedihkan. Tapi setelah Bik Narsih menoleh kearahnya kembali, Senja langsung pura-pura tersenyum malu-malu seakan memang benar tadi malam adalah malam yang indah. Ia tak mau ada yang tau kebenarannya seperti apa?.
"Mbok mau masak apa sih?" Tanya Senja penasaran mendekatkan diri ke wajan yang kosong.
"Mau masak Nasi goreng Non"
"Aku bantu ya?" Tawar Senja.
"Gak usah Non, sayang tangannya nanti kotor. Mbok sudah terbiasa sendiri kok" Mbok Narsih takut di marahi Om Hendra kalau sampai menantunya itu kenapa-napa.
"Ayolah Mbok, Senja bosen gak ada kegiatan" Rayu Senja seengah memohon, Ia juga bingung harus ngapain sepagi ini sebagai seorang menantu kecuali bantu-bantu. Kalau di rumahnya, mungkin sekarang Ia sedang membantu Ibunya menyiapkan dagangan kue.
"Ya sudah, Non Senja bantuin goreng telurnya aja ya?" Akhirnya Mbok Narsih menyetujui dengan terpaksa.
"Siap Mbok" Sahut Senja kegirangan, sejenak Ia mulai melupakan kajadian semalam.
Senja dengan sangat antusias membantu menggoreng telur dadar, menu pagi ini adalah nasi goreng, tidak lengkap kalau tidak ada telurnya. Itu kata Mbok Narsih tadi.
Mbokk Narsih sendiri masih sibuk berkutat dengan bumbu rempah yang tengah di raciknya sedemikian rupa, supaya menghasilkan masakan yang lezat.
"Mbok... " Panggil Senja pelan.
"Iya Non Senja, ada apa?" Jawab Bik Narsih menoleh.
"Jangan panggil Non dong Mbok, panggil Senja aja. Aku gak nyaman" Protes Senja.
"Memang seharusnya begitu Non, Eh Senja, eh Non Senja" Ucap Bik Narsih jadi bingung sendiri.
Senja terkekeh melihat Bik Narsih kesusahan memanggil namanya.
"Kan Non Senja sudah jadi keluarga Hendrawan, positif jadi Nyonya rumah" Imbuhnya sembari mengaduk nasi agar tidak gosong.
Senja mengangguk pasrah, Ia tak mau berdebat dengan orang yang baru di kenalnya semalam.
Saat sedang asyik mengocok telur untuk gorengan yang ke 3, Steven berlarian kearah Senja dan segera memeluknya erat dari belakang. Pengasuhnya sendiri terlihat mematung di pintu dapur tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Bunda... " Panggil Steven manja seperti anak kacil pada umumnya, tapi ada yang aneh ketika Ia mengira Senja adalah bundanya.
Senja segera berjongkok mensejajarkan diri dengan Steven.
"Steven udah bangun?" Tanyanya kemudian.
"Sudah Bunda, Steven mau jadi anak pinter. Kata Buk guru harus bangun pagi-pagi" Jawab Steven dengan ekspresi dan suara menggemaskan. Senja menjadi sangat gemas dengan anak itu, walau Ia sendiri bingung kenapa Ia di panggil Bunda. Mungkin karena Ia menikah dengan Ayahnya, tapi anak kecil mana paham kan?.
"Anak pinter" Puji Senja sembari mengelus rambut Steven yang lembut.
"Bunda, temeni Steven mandi ya?" Pinta Steven dengan ekspresi memelas.
Senja terdiam berfikir sebentar.
"Ayo kalau begitu" Jawab Senja tak kalah riangnya.
Mbok Narsih tersenyum menatap kebersamaan Senja dan Steven, lalau melanjutkan menggoreng telur yang di tinggalkan Senja.
Senja yang si tarik tangannya dengan Steven ke kamar mandi hanya pasrah, menatap bocah kecil pintar dan menggemaskan dengan tersenyum.
Selesai mandi, Senja ikut masuk ke kamar Steven. Membantu pengasu Steven mempersiapkan baju dan peralatan sekolahnya.
***
Di meja makan.
Keluarga besar Hendrawan sudah berkumpul, kecuali Rio dan anak ketiganya yang sedang menuntut ilmu di pesantren.
Senja masih bertanya-tanya dalam hati, kemana Rio pergi?. Tapi Ia sendiri tak punya keberanian untuk bertanya kepada mertuanya atau penghuni rumah lainnya, rasanya lancang sekali menggali informasi yang bukan haknya Ia tahu.
Senja duduk dengan memangku Steven dan menyuapinya, semuanya tampak kaget melihat keakraban mereka, tak terkecuali Bryan yang menatap tak suka.
Om Hendra dan Bu Nyonya tampak sangat menikmati momen itu, tersenyum melihat cucu dan menantunya yang sangat akrab.
Pukul 07.30 Wib Bryan dan Senja segera berpamitan.
Bryan mengantar Senja dan Steven sebelum berangkat ke kantor, karena memang searah. Senja kebetulan ada satu mata kuliah hari ini, Ia tak mau mengecewakan Kak Rey sepenuhnya.
Setelah salamam, Steven dengan ekspresi gembiranya melambaikan tangan kepada Oma dan Kalungnya.
Mobil mulai berjalan meninggalkan pelataran rumah yang luas dan segera membelah jalanan Ibu kota yang padat.
Setelah mengantarkan Steven di sebuah Taman Kanak-kanak, kini hanya ada Senja dan Bryan dalam mobil. Mereka tampak seperti orang asing yang tak pernah bertemu, karena memang begitu kenyataannya. Keduanya hanya saling diam sepanjang perjalanan, tanpa ada pembicaraan apapun.
Kejadian semalam membuat Senja trauma dan berniat tidak akan membuka percakapan dengan suaminya itu, kecuali di depan mertuanya Ia harus terlihat baik-baik saja dengan suaminya itu.
Setelah dalam perjalanan yang penuh tekanan, akhirnya Senja dapat bernafas lega karena sudah sampai di kampusnya.
Is turun dari mobil dengan wajah menunduk, berharap teman sekelasnya tak melihat kedatangan dirinya yang di antar suami. Teman-temannya pasti akan menanyakan bagaimana rasanya malam pertama dan Senja tak akan pernah tau bagaimana rasanya karena memang itu tak pernah terjadi.
Dari kejauhan Rey menatap ke arah Senja, ekspresi cemburu tampak menghiasi wajahnya.
baru nemu niih novel author.. aku lanjut baca dulu yaa.. kayaknya seru niih.. openid nya bagus,, bikin pengen lanjut bab selalu
jangan jangan cinta pacar nya
juga palsu😄😄
kedepan nya👃👃