Perjuangan seorang CEO dingin dan suka gonta ganti wanita, yang jatuh hati pada wanita cantik beranak satu yang penuh misteri.
penasaran dengan kisah mereka. ayo baca ceritanya.
Jangan lupa like and comment.
kritik dan saran dari pembaca sangat di hargai.
Follow me on :
Instagram @agistawulur
Facebook @Derry Agista Wulur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Derry Agista Wulur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16
"Nenek Mona."
Rara berlari saat melihat Mona di depan gerbang sekolahnya dan langsung berhambur ke pelukan Mona.
"Hai sayang."
Mona berjongkong menyambut pelukan Rara. Mona menjadi semakin dekat dengan Bunga dan Rara semenjak pertemuan mereka di caffe waktu lalu. dan Mona sudah sering menjemput Rara pulang sekolah dan membawanya makan siang sebelum Mona mengantar Rara ke rumah, dan tentu saja selalu ada Alex di setiap acara makan siang mereka bersama. Semakin lama Alex semakin sayang pada Rara dan tidak jarang Alex membelikan mainan ataupun boneka untuk Rara.
"Siang mommy."
Rara masuk ke dalam toko bunga milik Bunga dan langsung berhambur ke pelukan Bunga.
"Siang sayang."
Bunga menghentikan kegiatannya dan memeluk Rara.
"Loh,. nenek Mona tidak masuk sayang."
Bunga melihat ke arah luar toko, dan melihat mobil Mona yang sudah berjalan meninggalkan tokonya.
"Enggak mommy, kata nenek hari ini nenek ada acara penting jadi langsung pulang."
jawab Rara sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Oh gitu, Rara ganti baju dan langsunh istirahat ya."
Teriak Bunga pada Rara yang sudah berjalan ke dalam rumah.
tut., tut., tut.,
"Halo Sya, kamu sudah di mana. ?"
Tanya Bunga setelah teleponnya diangkat Tasya.
"Aku mampir sebentar ke supermarket, tapi sudah mau jalan ke sana lagi, 5 menit paling aku sampe."
"Ya sudah, aku tunggu di rumah."
--5 menit--
"Rara sedang tidur siang, aku sudah buatkan makanan nanti kalau Rara sudah bangun tinggal di panaskan saja."
Jelas Bunga yang sudah siap - siap untuk bertemu Felix.
"Oke., oke."
Jawab Tasya yang sedang memeriksa kulkas dan membongkar belanjaannya.
"Aku pergi dulu."
Teriak Bunga yang sudah di luar rumah dan berjalan menuju mobilnya. Sampai di mall Bunga mengambil HPnya dan menghubungi Felix.
tut., tut., tut..
"Felix kamu di mana ? aku baru sampai di mall."
"Aku sudah di caffe."
"Okey."
Bunga menutup teleponnya dan bergegas ke caffe tempat Felix menunggunya.
"Kapten."
Panggil Felix sambil mengangkat tangan kanannya saat melihat Bunga berjalan masuk ke caffe.
Bunga menoleg ke arah suara yang memanggilnya dan mendapati Felix dan satu anggota teamnya sudah menunggunya, Bunga segera berjalan kearah mereka dan ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Kalian sudah lama menunggunya. ?"
Tanya Bunga yang kini sudah duduk di sebelah Felix.
"Kami juga belum lama sampai kapten. Oh ya, ini Lina anggota terbaik di team ku."
Felix dengan bangga memperkenalkan Lina bawahannya. Lina terkenal cerdas dan gesit dalan team, bahkan Felix menyebutkan penerus Bunga karena kemampuan Lina yang hampir sebagus Bunga.
"Senang bisa bertemu dengan anda langsung kapten Bunga."
Lina memberi hormat kepada Bunga dengan senyum bahagia terukir di bibirnya. Bunga adalah panutan Lina, maka dari itu cara kerja Lina dalam team yang hampir sama dengan Bunga membuat dia dijuluki penerus Bunga.
"Aku bukan kaptenmu, jadi panggil aku Bunga saja."
Bunga yang merasa risih dengan panggilan Lina kepadanya menyuruh Lina untuk memanggil Bunga dengan namanya, karena Lina juga tidak pernah menjadi bawahannya saat dia menjadi kapten.
"Sudahlah, biarkan saja. Kapten itu idolanya, jadi biarkan dia memanggil kapten dengan sebutan kapten."
Jelas Felix sambil menyenggol tangan Bunga dan melirik ke arah Lina, mendengar penjelasan Felix Bunga akhirnya membiarkan Lina juga memanggilnya kapten. Karena dia pikir tidak ada gunanya juga melarangnya memanggil Bunga kapten, sedangkan Felix saja yang sudah dilarangya tidak pernah mengindahkan larangan Bunga dan terus saja memanggilnya kapten sampai saat ini.