Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gedung Meridian 2
Gelombang elektromagnetik dari ledakan digital itu melumpuhkan seluruh sistem keamanan Menara Meridian. Lampu-lampu pecah, layar-layar besar meledak dalam percikan api, dan kesunyian yang mengerikan tiba-tiba menyergap ruangan yang tadinya bising.
Asap tebal di sekitar lantai teratas. Di tengah-tengah kaca, Arkan terbaring diam. Cahaya biru di matanya telah padam, meninggalkan kosong ke langit-langit. Zia tersungkur beberapa meter darinya, terdengar berdenging hebat, namun ia segera bersiap menuju Arkan.
"Om... Arkan!" teriak Zia parau.
Di sudut lain, Dian Hermawan berdiri dengan anggun meski gaun putihnya kini kotor oleh serpihan benda-benda disana. Ia menatap tablet di tangannya yang kini hanya menampilkan layar hitam. "Hancur... semuanya hancur," gumam Dian dengan suara yang bergetar antara kemarahan dan tidak percaya. "Kau menghancurkan warisanmu sendiri, Arkan!"
Dian mengeluarkan pistol perak kecil dari saku jasnya. Ia melangkah perlahan menuju Arkan dan Zia. "Jika aku tidak bisa memiliki dunia, maka tidak ada seorang pun yang boleh memiliki masa depan. Terutama kau, Zia. Kau adalah bukti hidup kegagalan rencana ini."
Zia menoleh, melihat ujung senjata diarahkan tepat ke wajahnya. Ia tidak lagi takut. Ia memeluk kepala Arkan di pangkuannya, menatap Dian dengan keberanian yang murni.
“Ibu bukan seorang ibu,” desis Zia. "Ibu adalah kegagalan yang sebenarnya."
Tepat saat jari Dian hendak menarik pelatuk, suara langkah kaki yang tenang terdengar dari arah lift darurat yang seharusnya mati.
"Sudah cukup, Dian."
Dian mematung. Seorang pria muncul dari balik kabut asap. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi, wajahnya tampak awet muda meskipun rambutnya mulai memutih di bagian samping.
"Papa?" suara Zia tercekat.
Bukan, itu bukan ayah Zia. Pria itu adalah Hendra Mahendra . Namun, ia tidak lagi tampak seperti tawanan atau pecundang yang tertangkap di Jakarta. Ia memegang sebuah remote kecil yang terus berkedip hijau.
“Terima kasih, Arkan,” ucap Hendra sambil menatap tubuh Arkan yang tak bergerak. "Ledakan digitalmu baru saja menghapus jejak digital The Oversight , namun itu sekaligus mengaktifkan server cadangan yang selama ini tersembunyi di bawah tanah Singapura. Server yang hanya bisa diakses... setelah Artemis hancur."
Dian menoleh pada Hendra dengan bingung. "Hendra? Apa maksudmu? Kita bekerja sama!"
Hendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih licik dari siapa pun. "Kita tidak pernah bekerja sama, Dian. Aku hanya menunggumu dan Arkan saling menghancurkan. Kau terlalu terobsesi pada kekuasaan, sementara Arkan terlalu terobsesi pada gadis ini. Dan sekarang, setelah kalian berdua lemah..."
Hendra menekan tombol di remotenya.
Tiba-tiba, suara helikopter tempur yang sebenarnya terdengar. Bukan milik The Oversight , melainkan milik unit militer swasta tanpa lambang.
“Zia,” suara Arkan tiba-tiba terdengar, sangat lemah, hampir seperti bisikan.
Zia menunduk, melihat mata Arkan terbuka sedikit. Arkan tidak benar-benar mati. Neuro-sync tadi tidak mematikan, tapi mengubah cara otaknya bekerja.
"Om! Om bangun!"
Arkan meraih tangan Zia, menentukan menekan sebuah titik di pergelangan tangan Zia di mana ia sempat menempelkan sebuah alat kecil saat ledakan tadi. “Zia… dengar… kuncinya bukan di kalung… kuncinya adalah… suaramu.”
Hendra mendekati mereka, memerintahkan pasukannya untuk mengepung Zia dan Arkan. "Berikan kalung itu, Zia. Jangan buat ini semakin sulit."
Zia berdiri perlahan. Ia teringat pesan kakeknya, pesan Arkan, dan segalanya. Ia menyadari bahwa selama ini, Proyek Aeterna tidak memerlukan kode yang rumit. Ia membutuhkan suara biometrik dari keturunan penciptanya yang berada dalam keadaan stres emosional tertentu.
Zia menarik napas panjang. Dia tidak bicara pada Hendra. Ia berbicara pada mikrofon tersembunyi di kerah baju Arkan yang terhubung dengan seluruh pengerasan suara di gedung itu.
"Artemis... Protokol Pengampunan. Otorisasi Elzia Hermawan. Hapus Seluruh Aset Global. "
Layar di seluruh ruangan tiba-tiba menyala kembali, namun bukan menampilkan kode merah, melainkan foto-foto keluarga Zia dan Arkan yang sedang tersenyum.
"Apa?! Tidak! Berhenti!" teriak Hendra panik saat melihat angka-angka di rekening bayangannya mulai berubah menjadi nol secara pasif.
"Suara itu..." Dian terjatuh terduduk, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya.
Gedung Meridian mulai bergetar hebat. Kali ini bukan ledakan digital, melainkan terintegrasi secara mandiri fisik.
"Bara! Sekarang!" teriak Arkan yang entah bagaimana berhasil berdiri, meski harus dipapah oleh Zia.
Bara muncul dari langit-langit yang runtuh, melemparkan tali penarik ke arah Arkan dan Zia. Di tengah kekacauan, Hendra mencoba mengejar mereka, namun ia tertimbun layar raksasa yang jatuh. Dian hanya diam membisu, menolak untuk pergi dari istana digitalnya yang kini runtuh.
Mereka melompat keluar dari jendela lantai 50, meluncur turun dengan tali baja tepat saat lantai atas Menara Meridian meledak total.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ombak tenang menghantam pasir putih di sebuah pulau kecil yang tidak ada di peta. Arkan duduk di kursi pantai, bahunya masih dibalut perban, namun wajahnya tampak jauh lebih tenang. Ia tidak lagi memegang ponsel atau tablet. Di tangannya hanya ada sebuah buku tua.
Zia berjalan mendekat, membawa dua gelas es kelapa muda. Ia mengenakan gaun pantai sederhana, tawanya terdengar lepas saat melihat Arkan mencoba membaca tanpa kacamata.
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔