Zahra menolong seorang wanita bersama gadis kecil, wanita itu pingsan dan Zahra pun membawanya ke rumah Sakit. Ternyata wanita itu adalah istri dari dosen paling killer di kampus. Dan dosen yang paling Zahra hindari.
Wanita yang di tolong Zahra meminta Zahra untuk menikahi suaminya dan menjadi ibu dari anaknya sebagai permintaan terakhirnya.
Akankah Zahra menerima atau menolaknya????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renav Renren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. malam panas
Dokter Fachri, Zahra, Chantika dan mbok Nah sudah berada di rumah yang akan mereka tinggalin. Untuk sementara Chantika tidur dengan mbok Nah dulu untuk malam ini.
Zahra yang kini sudah berada di lantai atas langsung menggeret kopernya menuju salah satu kamar.
" Mau kemana kamu?." Suara dokter Fachri menghentikan Zahra untuk membuka pintu kamar.
" Mau ke kamar mas mau tidur." Jawab Zahra.
" Kamar utamanya dimana?" Tanya dokter Fachri.
" Itu." Tunjuk Zahra.
" Terus kenapa kamu masuk kamar itu."
" Kamar itu biar mas Fachri yang nempatin jadi Zahra biar tidur di sini." Ujar Zahra tanpa dosa.
Tanpa banyak bicara dokter Fachri langsung mengambil koper Zahra dan membawa masuk ke kamar utama. Zahra yang melihat dokter Fachri mengambil kopernya dan membawanya ke kamar utama. Zahra pun ikut masuk ke dalam kamar utama, Zahra berpikir dokter Fachri nggak enak hati kalau harus tidur di kamar utama sedangkan ini rumah milik keluarga Zahra.
Tapi seketika Zahra di buat bingung karena dokter Fachri menutup pintu tapi masih ada didalam kamar.
" Mas kenapa masih disini?." Pertanyaan bodoh yang Zahra yang membuat dokter Fachri mengeryitkan keningnya.
" Menurut kamu." Ucap dokter Fachri datar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
" Mas Fachri kalau mas mau tidur di sini biar Zahra tidur di kamar lain." Ujar Zahra sambil hendak berjalan ke luar.
" Terus kamu ngebiarin suami kamu tidur sendiri."
" Hah.."
" Sekarang mendingan kamu bersih-bersih terus tidur mas udah ngantuk."
Zahra makin bingung.
" Mas Fachri aneh dia yang ngantuk pengen tidur kok malah Zahra yang di suruh bersih-bersih." Gumam Zahra dalam hati.
Dokter Fachri yang merasa tidak ada pergerakan dari Zahra pun kembali membuka matanya.
" mau sampai kapan kamu berdiri di sana." suara dokter Fachri membuyarkan lamunan Zahra.
Dokter Fachri melihat Zahra seperti kebingungan pun menyuruh Zahra Duduk di sebelahnya.
" Maaf mungkin kamu masih canggung dengan mas. Dan maaf juga kalau kemarin mas nyuruh kamu tidur dengan Chantika. Kemarin mas hanya minta waktu untuk sendiri bukan karena mas mau mengabaikan kamu. " dokter Fachri memandang Zahra.
" Bisa kita mulai memulai lembaran baru rumah tangga kita. kita itu suami istri jadi mas minta kamu mulai malam ini tidur dengan mas kamu mau kan."
lama Zahra terdiam memikirkan perkataan dokter Fachri.
" Maaf mas tadi Zahra pikir mas masih mau menyendiri jadi Zahra nggak mau mengganggu mas."
" Jadi kamu mau mulai malam ini kamu tidur dengan mas di kamar ini ."
Zahra mengangguk.
" Sekarang bersih-bersih dulu gih nanti gantian sama mas.'
" Ya udah Zahra ke kamar mandi dulu." Zahra pun beranjak bangun dari duduknya dan bergegas ke kamar mandi. Tapi sebelumnya Zahra mengambil baju gantinya.
Didalam kamar mandi Zahra langsung memegang dadanya. Detak jantung Zahra berdetak dengan cepat.
" Ya Allah kenapa jadi deg-deg kan gini sih." gumam Zahra.
Selesai Zahra bersih-bersih gantian dokter Fachri yang masuk kedalam kamar mandi. sedangkan Zahra langsung rebahan karena dirinya cukup lelah.
Dokter Fachri keluar kamar mandi dan mendapati Zahra sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dokter Fachri pun ikut naik keatas ranjang dan menempati di sebelah Zahra.
" Dek kenapa jilbabnya di pakai tidur."
" hah..."
" Kamu nggak gerah tidur pakai jilbab."
" Gerah."
" Ya udah lepas jilbab nya."
Zahra terdiam
" Dek mas ini kan suami kamu jadi nggak apa-apa kalau mas melihat rambut kamu."
Zahra pun berpikir toh memang nggak dosa karena yang melihat adalah suaminya sendiri. Akhirnya Zahra pun melepaskan jilbabnya, kini rambut hitam sedikit bergelombang tergerai sempurna.
Dokter Fachri yang melihat rambut indah Zahra pun terpesona.
" Cantik." ucap dokter Fachri.
Zahra yang terus di lihatin oleh dokter Fachri pun tersipu malu.
" Mas jangan lihatin Zahra kaya gitu malu tahu." ucap Zahra yang wajahnya sudah memerah.
" Ya Allah sungguh sempurna ciptaan mu." gumam dokter Fachri dalam hati.
Dokter Fachri mendekat ke Zahra, sedangkan Zahra yang melihat dokter Fachri makin mendekat dan membuat Zahra salah tingkah.
Apalagi wajah dokter Fachri kian mendekat ke wajah Zahra. Zahra yang gugup langsung menutup matanya. Jantungnya berdetak sangat cepat dan telapak tangan Zahra pun dingin.
Cup
Zahra merasakan sesuatu menyentuh keningnya, Dokter Fachri mengecup kening Zahra. Sedangkan Zahra langsung membuka matanya setelah dokter Fachri mengecup keningnya. Jujur Ada kecewaan di hati Zahra, Zahra pikir dokter Fachri akan menciumnya. Tapi benda kenyal itu mendarat mulus di kening Zahra.
Dokter Fachri melihat perubahan wajah Zahra.
" kenapa wajahnya seperti kecewa begitu apa dia berfikir akan di cium di bibir." gumam. dokter Fachri dalam hati.
" Zahra bodoh kenapa sih malah berfikir kalau pak Fachri bakal cium lo.' gumam Zahra dalam hati menggerutui kebodohannya.
Cup
Dokter Fachri mencium bibir merah Zahra.
" Manis.' ucap dokter Fachri pelan.
Zahra yang di cium langsung terpaku diam di tempat seperti patung.
Mencium bibir Zahra ternyata sebuah kesalahan bagi dokter Fachri. Karena bikin dokter Fachri ingin menciumnya lagi dan lagi.
" Dek.." panggil dokter Fachri dengan suara yang sudah berat.
" Hah... iya mas." jawab Zahra kaget
Zahra mendongak melihat dokter Fachri mata mereka bertemu.
Cup
Dokter Fachri kembali mencium Zahra tapi kali ini buka kecupan tapi dokter Fachri mel****t bibir Zahra.
Zahra pun hanya diam karena dia baru pertama kali ciuman. Dokter Fachri yang melihat tak ada respon dari sang istri pun memperdalam ciumannya.
Dokter Fachri yang merasakan manisnya bibir sang istri sangat enggan untuk melepasnya. Sedangkan Zahra semakin lama semakin kehabisan nafas.
dokter Fachri yang melihat Zahra kehabisan nafas pun menyudahinya. Zahra tertunduk malu dengan nafas tersengal-sengal, dokter Fachri pun sama tapi dokter Fachri tak melepas pandangannya dari Zahra.