NovelToon NovelToon
Little Angel

Little Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:483.8k
Nilai: 5
Nama Author: LeeGo

Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.

"Gue mau mati aja, hiks."

Gendis Mahesa.

Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.

"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."

Dewa Ganesha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pancake rasa Manis

Sepiring pancake sudah tersaji di hadapan Dewa. Setelah menghabiskan hampir satu rak telur, pancake itu akhirnya jadi juga meskipun bentuk sangat mengkhawatirkan.

"Gendis cobain dulu nggak?“ Tanya Gendis was-was melihat hasil kerjanya. Sebagai siswa pintar yang jarang melakukan kesalahan saat memecahkan materi pelajaran, ia malu melihat hasil masakannya. Dewa bahkan hampir putus asa mengajarinya. Lelaki itu mengipasi wajahnya yang berkeringat. Baju loreng laki-laki itu sudah lepas dua kancing menyisakan dalaman putih yang juga basah oleh keringat. Panas sekali siang ini.

"Gue yang cobain. Lo duduk.” Dewa menepuk tempat kosong di sampingnya tapi Gendis malah mengambil jarak aman, takutnya Dewa tiba-tiba pingsan ia pasti kesulitan menyingkirkan laki-laki dari sisinya.

"Gendis takut abang masuk rumah sakit. Ngeri bangat bentukannya.” Katanya meringis melihat pancakenya. Bisa berkurang patriot bangsa ini kalau Dewa sampai kenapa-kenapa karena pancake beracunnya.

"Nggaklah.” Ujar Dewa tenang. Mana ada dia mengajari Gendis yang sesat. Cukup otaknya yang sesat jangan Gendis.

Gendis menahan nafas saat Dewa mulai memasukan satu sendok pancake dalam mulutnya. Semoga saja laki-laki ini tidak sekarat, Gendis terus berdoa. Dan ketika pancake itu sukses menyentuh indra perasa Dewa, butir-butir keringat berjatuhan di pelipisnya. Dewa yang melihat hal itu menjadi tidak tega. Ia menghapus peluh gadis itu dan jemarinya betah berlama-lama di sana. Hebatnya Gendis tak terusik sama sekali, kenyamanan itu mungkin sudah di dapatkan dari sosok sengklek yang hobi mengusik hari sekolahnya.

"Gimana?Abang nggak apa-apa kan?Nggak pusing atau mual gitu?“ Tanyanya harap-harap cemas.

Dewa bergeming. Ia mengunyah dalam diam tanpa melepas tatapannya dari Gendis. Gadis remaja di depannya ini kenapa makin manis sih?!

Gluk.

Pancake sukses masuk ke lambungnya. Semoga saja tidak ada apa-apa disana.

"Bang?“ Cicit Gendis memperhatikan perubahan Dewa, jangan sampai tiba-tiba kejang-kejang atau apa begitu.

"Enak.”

"Ya?”

"Enak.” Ulang Dewa lalu selanjutnya memakan pancake itu lahap. Benar-benar enak meskipun bentukannya berantakan. Senyum Gendis langsung merekah, tanpa sadar merapat pada Dewa.

"Gue mau cobain.” Katanya seperti anak kecil manis yang tak sabar mendapatkan es krimnya.

"Ini kan buat gue.” Tolak Dewa menjauhkan piring itu dari jangkauan Gendis. Namun Gendis yang tak mengenal kata kalah langsung merebut piring di tangan Dewa.

"Orang tua ngalah dong.” Ujarnya seraya mencicipi pancake buatannya. Wajahnya langsung berbinar terang, ”Beneran enak.” ia menghabiskan sisa pancake di piring itu begitu lahap tanpa menyadari posisinya yang membuat Dewa sesak nafas.

"Ndis, l-lo kayaknya harus geseran deh.”

"Ya?”

Ya ya ya ya... ya aja troooos. Dewa mencebik kesal dengan dirinya yang tak bisa tahan oleh wangi lembut Gendis. Sadar tidak sih gadis ini kalau sekarang ia tengah duduk di pangkuan seorang predator?Ini sekali hap, habis si tuyul.

"Lo bisa geseran gak?Bukan apanya, ini barang gue lo dudukin.” Ujar Dewa cepat menahan pinggang Gendis agar tidak bergerak-gerak seenaknya.

"Ya?” Gendis menghentikan keasiknnya menikmati pancake ala kadarnya itu. Ia menunduk dan menyadari posisinya. Bukan hanya posisinya tapi wajah Dewa yang memerah entah menahan apa. ”Abang gak apa-apa?” Tanyanya khawatir tapi tidak juga beranjak dari pangkuan pria menyedihkan itu.

"Lo yang bakalan apa-apa kalau nggak turun dari pangkuan gue.” Ujarnya menahan geraman. Demi apa, seorang Dewa dibikin sakit kepala hanya karena seorang remaja yang baru mekar. Malu waaa, malu sama seragam.

"Oh--” Gendis buru-buru bergerak turun dan tanpa sengaja tangannya bertumpu, menekan pada pusat sakit kepala seorang pria Dewasa.

"ARRRHGG-- NDIS--LO--”

"Ops sorry-- kepegang.”

Dewa menahan umpatannya di ujung lidah terlebih melihat wajah tak berdosa Gendis.

SI*L.

SI*L.

SI*L.

"Maafin ya Bang, Nggak sengaja. Sakit bangat ya?“ Gendis menoel-noel lengan atas Dewa yang tengah mode ngambek menahan sesuatu yang berbahaya tapi persis anak kecil menurut Gendis. Ya Tuhan padahal pria ini harusnya sudah memiliki anak kecil. Oke, salahnya karena tanpa sadar duduk di pangkuan laki-laki itu dan akhirnya tanpa sengaja juga memegang i--itunya. Astagaaa itu bener ukurannya segitu?Gendis bergidik ngeri.

“Maafin ya bang. Janji gak akan keulang lagi-- kalau ingat.” Lanjutnya meringis.

Dewa menoleh cepat. Heh maksud lo mau ulang lagi gituuuu?

Polos arah-arah oon.

Mati rasa buta hati.

Tidak peka.

Minta di lahap.

URGHHH!!!

Itulah Gendis. Dewa berusaha mengembalikan akal sehatnya sebelum menggantung gadis manis ini di tiang bendera.

"Lupain!Jangan ingat-ingat lagi.” Ujar Dewa sewot. Bagaimana bisa seorang gadis masih bisa biasa-biasa saja setelah menyentuh aset seorang pria dewasa. Ini kan menjengkelkan!Siksaan dari dasar bumi namanya. Bagaimana kalau dirinya yang otak kotor ini membayangkan yang tidak-tidak?Bagaimana kalau tangan mungil itu kembali-- OH TIDAAAAK!!!Dewa menangkup wajah frustasi. Mikir apa gue???

"Kenapa Bang?Pusing?” Gendis bertanya khawatir. Jangan sampai efek pancakenya baru bereaksi sekarang.

Dewa menggeleng, ”I am ok.” Jawabnya setelah mengusap wajahnya kasar. Tidak, ia tidak boleh kelepasan untuk yang kesekian kalinya. Gendis ini anak kecil, mana boleh orang dewasa sepertinya memikirkan hal-hal yang begituan tentangnya. Gue bukan pedofil. Dewa menghela nafas berkali-kali. Hanya pedofil yang memiliki pemikiran yang iya iya saat melihat bocah seperti Gendis dan dirinya bukan dari golongan itu.

"Ayo, gue antar pulang.” Dewa mengambil tas Gendis lalu memakaikannya pada gadis itu.

"Dapurnya gak di bersihin dulu?” Tanya Gendis kebingungan. Dapur orang mana boleh di tinggalkan begitu saja setelah di obrak-abrik. Kata Mami tidak baik anak perempuan meninggalkan dapur dalam keadaan kotor.

"Nggak usah. Temen gue suka rumahnya berantakan.” Jawabnya asal. Terjebak lama-lama di ruangan seperti ini tidak aman untuk Gendis.

"Ya udah, tapi Gendis mau singgah di toko buku.” Ujar Gendis mengikuti langkah Dewa keluar rumah. Stok buku bacaannya bulan ini sudah habis, ia bisa rese berkali-kali lipat kalau gabut.

"Iya. Tapi ke kos gue dulu ada yang mau diambil.” Dewa mengunci kembali rumah temannya itu lalu saat menoleh di lihatnya penampilan Gendis yang sudah sangat kusut.

"Lo butuh bersih-bersih.” Ujar Dewa mengacak puncak kepala Gendis yang sudah sangat kelelahan. Sebenarnya ia lebih butuh kasur sekarang tapi ia tidak punya kesempatan keluar lagi setelah hari ini.

***

Gendis memandangi pantulan dirinya di depan cermin kecil kamar mandi Dewa. Baju kebesaran milik lelaki itu menenggelamkannya hingga sebatas lutut. Ia mengambil rok jeansnya lalu mengenakannya. Badannya yang lengket sudah segar sekarang. Dewa tadi menawarinya untuk cuci muka tapi melihat air mengalir segar ia begitu terkoda mengguyur dirinya sampai lupa tak membawa baju ganti. ********** sudah dia cuci dan di simpan dalam ember kecil kosong yang sepertinya tempat pakaian basah. Sekarang ia benar-benar polos di dalam. Setelah merapikan baju kedodorannya supaya tidak menampakan dada kecil, ia keluar.

"Udah?“

Gendis terpaku memandangi sosok pria dewasa di depannya. Dewa tampak cuek hanya memakai celana lorengnya dengan handuk tersampir di bahunya tanpa baju. Perut kotak-kotaknya membuat Gendis mengerjap-ngerjap.

"Iya. Abang mau pake kamar mandi?” Tanyanya melipir dari pintu kamar mandi saat Dewa mendekat.

"Um.” Lelaki itu menggumam, tangannya terulur mengabil sejumput rambut Gendis yang masih basah, ”shampo gue wangi dipake lo.” katanya menghirup wangi maskulin dari shampo dan sabun yang digunakan Gendis.

"I-iya, maaf ya Bang, Gendis pake sedikit. Baju abang juga--pinjem.” Ujarnya agak tak nyaman dengan tatapan Dewa padanya. Ia melihat baju itu tergantung di belakang pintu dan sepertinya baju bersih dari bau yang dikuarkannya.

Dewa menunduk memperhatikan baju kaosnya yang menenggelamkan badan mungil Gendis, ”cocok sama lo.” ucapnya rendah. Ini benar-benar bukan Dewa yang biasanya banyak omong.

Gendis diam, perlahan mengambil jarak hingga rambutnya terlepas dari genggaman Dewa. Melihat sikap kikuk gadis itu mau tidak mau membuat Dewa mengulum senyum. Takut kan lo sekarang?Sok-sokan sih.

"Masuk, Bang.” Cicit Gendis lalu menyengir saat ditatap lekat oleh Dewa.

"Keringin rambut lo.” Dewa menutup kepala Gendis dengan handuk yang tadi disampirkan di bahunya.

“Abang?”

"Ada gue.” Ujar Dewa lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil handuk yang lain.

Sepeninggal Dewa, Gendis langsung meluruh bersandar di dinding, ”Itu Bang Dewa kenapa sih?Aneh bangat.” Ia menggeleng pelan lalu dengan handuk ditangannya mengeringkan rambut, ”Emang wanginya enak sih.” ujarnya membaui rambutnya sendiri.

Gendis berjalan menuju ranjang milik Dewa lalu menjatuhkan badannya disana. Rambutnya di bungkus handuk begitu saja. Langit-langit kamar Dewa menjadi pemandangan terakhir yang dilihatnya sebelum ia terbuai dalam mimpi lupa akan rencananya ke toko buku.

Dewa keluar setelah hampir setengah jam didalam kamar mandi. Lelaki itu tak hanya mandi tapi juga merendam dirinya dalam air dingin untuk mendinginkan isi kepalanya yang tak jauh-jauh dari hal-hal kotor. Hal pertama yang menyambutnya adalah pemandangan manis dimana seorang tuyul kecil terlelap memeluk bantal. Kaki gadis itu terulur menjenjak lantai karena ranjang Dewa memang tak tinggi.

Dewa melangkah perlahan, menatap Gendis dalam diam mulai dari ujung kaki hingga wajahnya dan sedikit berlama-lama memandangi bibir merah delima itu. Manis. Satu kata itu untuk mendefinisikan rasa dari bibir lembab yang hobi membantah dan mengeluarkan kata-kata tanpa filter padanya.

"Ini gue kelamaan nggak check in makanya nafsu bangat liatin bibir lo, Ndis. Padahal kan nggak boleh ya. Gue harusnya yang jagain lo bukan malah ngotorin lo kek gini. Tapi gimana ya, gue brengs*k.” Dewa terkekeh miris. Pesona Gendis benar-benar mematahkan teorinya tentang seorang remaja. Gibran jelas bukan pedofil tapi dirinya pun menolak hubungan dua manusia beda generasi itu. Lalu sekarang dia malah terjebak bersama gadis kecil juga, apa nanti dia tidak jadi bahan olokan?!

Dewa mengangkat pelan kaki Gendis agar terlelap nyaman diatas ranjang. Di elusnya alis gadis itu dengan ibu jarinya, ”Apa kali ini Inggris bisa membantu gue lupa, Ndis?Lo ngapain sih muncul di hidup gue?Gue ini monster, Ndis. Gue ini berbahaya. Gua ini gak baik buat lo tapi gue juga nggak bisa lepasin lo.” Dewa terkekeh sinis, ”Brengs*k emang gue ini.” Ditatapnya wajah manis itu lalu perlahan Dewa memangkas jarak mereka, mengecup bibir merah itu, ”Pancakenya manis bangat.” ucapnya mengusap ujung bibir Gendis lalu menyelimutinya. ”Sleep well bocah.”

***

”IIIIIIIIH ABAAAAAANG!!!” Gendis menendang pria disampingnya yang baru saja menghentakkan kesadarannya. Bisa-bisanya ia tidur dalam pelukan seorang laki-laki. Tuhaaaaan, kalau hamil gimana?

"ABAAANG!BANGUUUN!!!” Teriaknya melempari Dewa yang terjatuh diatas keramik akibat tendangannya yang tak main-main.

"Kenapa sih?Masih pagi Ndis.” Gerutu Dewa menarik selimut lalu kembali bergelung tak memperdulikan keramik dingin. Ia terlalu mengatuk karena semalam Gendis tak membiarkan dia tertidur dengan damai. Cewek manis itu ada saja ulahnya menguji pengendalian diri seorang Dewa yang tak punya iman sama sekali.

"Baaang Dewaaa hiks--” Panggil Gendis lagi kali ini diikuti oleh tangisan membuat Dewa seketika membuka mata.

"Kenapa?” Tanyanya dengan suara serak. Matanya sayu namun dipaksakan terbuka.

Gendis menangis sesunggukan tak mampu lagi berkata-kata. Selimut Dewa dijadikan lap ingus dan airmatanya. Dewa melihat itu perlahan bangkit dan menghampirinya.

"Kenapa sih, Cil?Ini masih subuh loh, ayam-ayam belum pada bangun.” Tanyanya setengah sadar. Dia benar-benar sangat mengantuk dan ketika paginya ingin terlelap malah di bangunkan suara tuyup menangis mana suaranya imut lagi.

"Bang Dewa udah ngapain Gendis semalam?Kenapa tidurnya barengan?hiks. Kalau Gendis hamil gimana?Hiks.”

Hamil lagi, hamil lagi. Apa bocah ini tidak tau kalau hamil itu tidak semudah asal bobo bareng?Harus ada proses tindih-tindihan dan tusuk-tusukan dulu. Haduh.

"Hamil gak segampang diomongin Ndis astagaaaaa. Emang lo ingat kita ngapain aja semalam?” Tanya Dewa gemas. Masa subuh-subuh sudah harus buka materi reprodukai 2 sks sih.

Gendis terdiam sebentar lalu menggeleng.

"Lah trus?” Dewa menghela nafas lelah, ”Lagian itu lo sakit nggak?Kalau sakit berarti emang gue apa-apain.” Katanya lagi melirik Gendis yang tengah melirik bagian pribadinya. ”Sakit?” Dewa menaikan satu alisnya menunggu si polos ini memahami materinya. Btw Dewa bingung dengan sistem penilaian sekolah jaman sekarang. Bagaimana si bocil ini masuk lima besar kalau yang beginian saja nol besar. Sogokan atau beli saham sekolah?Tapi pemiliknya masih Gaudia Group setahunya. Si kesayangan Gibran itu masih betah menjadi pemilik saham.

Gendis menggeleng. Gadis itu merapikan rambutnya yang berantak dengan jemarinya, ”Jadi abang nggak ngapa-ngapain Gendis?”

“Nggaklah. Emang lo mau gue apa-apain?”

Gendis menggeleng lagi kaki ini lebih dramatis.

Dewa terkekeh, ”Yaudah, tidur lagi yuk. Gue beneran ngantuk. Semalam lo rusuh bangat.” laki-laki menjatuhkan badannya mencari posisi nyaman. Setelah terbaring nyaman ia menepuk lengannya, ”Sini gue peluk.” Katanya enteng dan hebatnya Gendis pun sama entengnya membaringkan kepalanya di lengan Dewa.

"Ini beneran Gendis gak bakalan hamil kan kalau tiduran gini?”

"Ngh.“

"Kalau Gendis hamil, Abang tanggung jawab kan?“

"Ngh.”

Gendis balik badan menghadap Dewa yang hanya menjawab dengan dengungan tak jelas. Wajahnya langsung manyun, ”Yah, ditinggal tidur gue.”

Selamat subuh, Bang. Gendis menutup mata menyusul Dewa yang sudah terlelap lebih dulu.

***

Double up nih. Jangan lupa komen-komen. Kalau gabut author rajin bacain komenan readers. Suka ajaaaa...

Selamat membaca.

1
Munji Atun
Kak Lee 🥰 akhirnya bisa ketemu lagi sama Gendis and the genks 😍 uuh senengnya jgn lama" lagi ya upnya 🥰
makasih banyak ya ❤🥰💪
Miamia
ya salam ndissss bengek aku🤣🤣🤣, kocak , rajin up ya kak Thor 😍
Tita
yaaa habis,kapan lagi ini ketemu gendhis❤️
Tita
habis sedih,terharu sekarang nyengir dah😁
Tita
❤️❤️❤️❤️❤️
Tita
ayo bang dewa mendekat lagi sama Tuhan,gendis bukti sayang Tuhan sama kamu wa❤️
Opi Irbah Salma
lanjut Thor 😍
Deva Santi
bang dewa belum ngumpul sama bang GI sesama bucin bikin mual..., the Genk ngumpul seruhhh banget si Sandra dan leksis Lom dpt jodoh pa g laku si thorrr
Rahayu Kurniasari
maaciihhh kak othoorrr.. 😍😍
Sri Gunarti
waah rami kalau kalian kumpul seru 🥰🥰🥰
Turwaty suketi
Aduuuh om dewa makin ugal ugalan🤣
stnk
thoooor moga rutiiiinnnn....tak tungguuu loooh...
stnk
Om Gi juara berapa Nad...🤣🤣🤣
stnk
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
stnk
Lebaaayyyyyyy....🤣🤣🤣🤣
tintiin21
kumpulan om² bucin parah.... 😆😆😆😆😆
Deva Santi
kebucinan para tentara, seneng liat cerita gendis, Nadia lalu apa kabar aleksis dan sandraaa kak
Iwin Soviyatiningsih
makasih UP nya thor 🙏 next ditunggu
Sri Gunarti
jadi kangen gibdan
Rahayu Kurniasari
pertama..
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!