NovelToon NovelToon
Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Menikah Karena Anak / Cinta setelah menikah / Anak Genius / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: ALphino

Apa kamu pernah mendengar, bahwa Tuhan memberi rasa sedih kepada manusia dalam takaran yang sama jadi jika hari ini kamu menghabiskan rasa sedihmu, maka esok hari yang tersisa hanya bahagia.

Ehmm, mungkin itu yang di alami Raina, hidup melarat selama puluhan tahun, berbagai cobaan telah mendera keluarganya, namun dia tetap percaya, bahwa Tuhan bekerja dengan caranya sendiri.

Pertemuan Raina dengan keluarga Sebastian mengubah hidupnya, juga mengubah hidup orang-orang di sekitarnya, hingga dia harus menjadi ibu dari seorang gadis kecil yang bernama Aleta.

Lalu bagaimana rasanya menjadi ibu tanpa mengandung, tapa melahirkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALphino, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Janji kelingking Raina.

Raina membalikkan badan, pandangannya bertemu dengan Allan, tidak bisa di pungkiri, Allan lebih menarik di banding Johan, kepribadian Johan yang terlalu baik dan datar membuat semuanya biasa saja.

"masuk". perintah Allan setelah salah tingkah karena beradu pandang dengan adik angkatnya.

"aku masih mau di sini". Raina mencoba mengendalikan perasaanya sendiri, hatinya tidak bisa menolak pesona Allan.

"kenapa?" tanya Allan sembari duduk di kursi balkon.

"mas Allan masuk aja".

"kamu marah?" merasa ada yang salah dengan Raina, Allan mencoba mencari jawaban dengan melihat wajah Raina yang menatap kosong ke arah jalanan yang lengang.

"rain?" panggil Allan lagi.

"mas, mas Allan masuk aja, Raina lagi pengen sendiri".

"kalo ini soal Aleta, aku minta maaf, aku ngga punya pengalaman soal ngurus anak".

"ngga punya, apa emang nggak mau?" jawab Raina sinis.

"aku belum bisa nerima Aleta, aku nggak pernah berharap punya anak dengan Valerie, dia cuma cewek bayaran, dia cuma buat mainan".

"apa mas pikir Aleta juga mau punya orang tua kaya mas? Aleta juga nggak bisa memilih dari rahim siapa dia di lahirkan".

"rain, kamu seharusnya mengerti, aku memenuhi semua kebutuhan Aleta, apa itu masih kurang?" Allan terlihat frustasi.

"Aleta nggak cuma butuh uang dan harta, anak seusia Aleta itu butuh kasih sayang untuk membentuk kepribadian nya".

"mama sayang kok sama Aleta". Pandangan Allan beralih, dari menatap Raina kini menatap putrinya yang masih terlelap.

"mas nggak lihat, betapa banyaknya hal buruk yang udah dia lalui sendiri? bahkan dia menahan sakitnya di cubit, di gigit di pukuli Marni karena Marni selalu bilang, kalo dia ngga ngadu maka mas akan sayang sama dia, mas pernah ngga mikirin perasaan Aleta, setiap dia manggil mas dengan sebutan papa tapi mas seolah ngga perduli?"

Allan diam, hanya ubin balkon yang bisa menjadi tempatnya membuang pandangan, tangannya mengepal kuat, hatinya sakit, yang dia ingat adalah kehadiran Aleta membuat karirnya hancur.

"kelahiran Aleta menghancurkan hidupku".

"mas Allan sendiri yang membawa Aleta ke dunia ini, mungkin nanti saat dia dewasa dia akan berfikir bahwa tidak pernah di lahirkan pasti lebih baik daripada hidup dalam keadaan seperti ini".

Raina hendak meninggalkan Allan yang ada balkon, tapi langkahnya terhenti ketika Allan meraih tangannya.

"rain, bantu aku, ajari aku menyanyi Aleta, seperti kamu menyayangi dia". bibir Allan bergetar, air mata menggenang di pelupuk matanya.

"rasa sayang akan timbul karena terbiasa, biasakan untuk mengajak Aleta bermain, setidaknya 10 menit sehari".

"Aleta butuh mama, dan Monica tidak mungkin bisa menempati posisi itu".

"lalu?"

"entahlah". Allan terlebih dahulu masuk, menatap Aleta dengan sendu, lalu duduk di kursi dekat ranjang gadis kecil itu. "kamu tidur aja, biar aku yang jaga Alleta".

Malam itu, waktu berjalan lambat, Raina yang tidak bisa tidur berulang kali mengecek keadaan Aleta, dan papanya. Pikiran Raina melayang, teringat kata-kata Johan tentang Monica yang pernah membantu Allan untuk membawa Aleta ke panti asuhan, itu tandanya Monica tidak menginginkan Aleta dalam hubungannya dengan Allan.

Allan tidur di sofa, dengan celana pendek dan kaos tipis membuat Allan melipat tangannya di dada untuk mengurangi hawa dingin. Raina yang melihatnya segera mengambil selimut di dalam lemari untuk menyelimuti Allan yang terlelap.

-

"Tante suapi ya sayang, Aleta udah baikan kan?" Raina memegang semangkuk bubur yang baru saja di antar oleh seorang petugas. Namun lirikan Aleta mengarah ke Allan yang hanya diam membatu.

"Aleta mau di suapi papa?" Raina mengulas senyum tulus, dan gadis kecil itu mengangguk.

Dengan segera Raina memberikan buburnya pada Allan, wajahnya terlihat kebingungan dengan mangkuk bubur di tangannya.

"suapi sambil tanya bagaimana keadaanya, katanya mas mau dekat sama Aleta?" bisik Raina, Allan mengangguk.

"sayang, Tante rain mandi ya, makan yang banyak sama papa". dengan satu kedipan mata, Raina meninggalkan anak beranak itu dan masuk ke kamar mandi.

"ayo makan, kamu harus makan yang banyak". Allan meminta Aleta membuka mulut dengan nada tinggi, lebih mirip orang memarahi daripada orang yang sedang menyuapi.

Aleta membuka mulutnya, satu suap demi satu suap masuk ke mulut Aleta, buburnya hampir habis ketika Raina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.

Aleta menatap tantenya dengan mata berkaca-kaca, terlihat jelas bahwa dia menahan tangis sedari tadi, Raina yang melihat itu langsung menghampiri nya.

"sayang, kenapa?" Raina bingung, Aleta tiba-tiba memeluknya erat sambil terisak-isak. Pandangan Raina beralih pada Allan yang sudah bangkit dan mengenakan jaketnya.

"aku pergi rain". keputusasaan tampak jelas pada wajah Allan. Raina hanya mengangguk.

Bagaimana bisa, Raina yang hanya orang asing menjadi penengah antara anak beranak yang baru saja di kenalnya beberapa bulan yang lalu.

"Tante, papa udah pergi?" Aleta mengintip dari balik tubuh Raina, mencari keberadaan papanya.

"papa pulang sayang, Aleta kenapa nangis?"

"papa marahin Aleta". gadis kecil itu sesegukan, membuat demamnya naik lagi.

"nanti Tante rain marahin papa ya, biar nggak galak lagi sama Aleta?"

"Janji? Tante rain mau marahin papa?".

"iya sayang, janji". Raina mengangkat kelingkingnya, pertanda janji kepada Aleta.

-

"hai Aleta, kamu udah sembuh?" Monica masuk tanpa mengetuk pintu, suara sepatu hak tingginya terdengar memuakkan bagi Raina.

"kok diem sih, nih Tante bawain coklat buat Aleta". wanita itu mengulurkan beberapa batang Silverqueen dan kinder joy untuk Aleta. Gadis kecil itu bergeming.

"uhhh...nggak mau ya? maunya apa sayang? boneka? mainan?" Monica terus merayu Aleta, sedangkan Allan hanya diam terpaku melihat usaha kekasihnya yang sia-sia.

"sayang, nanti kalau udah sembuh mau Tante beliin apa? sepeda? skuter? atau sepatu roda?" Aleta hanya menggeleng, seolah tidak tertarik dengan semua itu.

"ah, bodo amat, aku udah nggak perduli, aku mau pulang". Monica melenggang pergi, membanting pintu sekuat tenaga, sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia adalah wanita berpendidikan.

"tuh pacarnya ngambek, nggak di kejar?" sindir Raina pada Allan.

"Aleta, kamu nggak boleh gitu sama Tante Monica ..!!!". Allan meneriaki anaknya tanpa rasa iba. Aleta kembali terisak.

"mas, lebih baik kamu keluar, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu jahat sama Aleta lagi, mulai Hari ini, besok, dan seterusnya, aku yang tanggung jawab soal Aleta". Raina menangis, wajahnya merah padam, terlihat jelas jika saat ini dia benar-benar marah pada Allan.

"rain, jangan di manjain, dia salah jadi harus di marahin".

"salah, yang salah itu kamu, kamu yang salah di masa lalu, tapi kamu melampiaskan kekecewaan kamu atas dirimu sendiri pada Aleta". Raina menunjuk-nunjuk dada Allan dengan telunjuknya suaranya lirih bahkan hampir berbisik namun mematikan lawan bicaranya. Allan hanya terdiam, dia memejamkan mata, tidak bisa lagi menjawab cercaan Raina, sepertinya memang itu yang di rasakan Allan selama ini, Aleta adalah pelampiasan atas rasa kecewanya terhadap dirinya sendiri.

"mas keluar aja, biar aku yang ngurus Aleta". telunjuk Raina berganti menunjuk pintu, mengisyaratkan bahwa dia ingin Allan pergi.

"maaf rain". Hanya maaf yang mampu Allan katakan, sekilas dia melirik Aleta sebelum pergi meninggalkannya.

1
Hayati Nufus
lama2 malas baca kebejatan Allan maaf ga lanjut jijik
Omah Tien
malas baca nya
Omah Tien
ko jelek
Tamirah
Kasihan Riana dapat barang bekas.mending barang bekas beneran bisa dipakai tanpa rasa sakit dihati.
Tamirah
benar benar bejat Alan dan Monica..Thor kok bisa buat cerita spt ini ya . apa bisa dibilang normal, istri sah gk di sentuh wanita jalang dipelihara disetubuhi tanpa status yg jelas, sangat sangat menjijikkan... .!
Tamirah
kok bisa ya sdh menikahi Raina masih mau berzina dgn dokter laknat gak bermoral dikamar yg sama lagi betul betul bejat tuh Alan dan Monica. kalau nulis novel ya ada pesan moral nya dong..semua agama kan melarang umat nya berbuat amoral.
Tamirah
memang ada yg gk beres dgn kehidupan Alan dan pengasuh nya Marni. kalau Alan itu papanya Aleta tentu ada sesuatu yg disembunyikan.Lanjut Thorrrrrrr.
Tamirah
mulanya membantu orang tua yg memang perlu dibantu untuk menuju kekantor polisi.tebakanku org tua itu bukan orang bisa dan tentu punya anak laki laki tampan dan bertemu dgn wanita yg sdh menolong ayah nya. begitu kira kira yg sering sy baca .
VaNiLaLuLaBo
tak guna air mata C Allan tu ... sakit hati aku....hahahahaha
VaNiLaLuLaBo
aku tak berasa sedih baca kisah Allan yg sedih menitiskan air matanya... aku nyampah dgn perwatakan c Allan... hahahahaha ... mcm dia pulak yg tersakiti,konon sedih sudah buat hidup anak org kucar kacir .. entah kenapa,aku Tk dpt selami watak c Allan ni .. maaf sudah terlanjur tk suka Dr awal sih... watak Rain, Aletta, bapak Rain aku sedih....
VaNiLaLuLaBo
air mata buaya tu C Allan.... sikit² nangis ... konon sedih.... tp tak insaf²... pooodhaaaa
Ruzita Ismail
Luar biasa
Wiwik Andayani
Alan orang Situbondo ko spt opa korea
VaNiLaLuLaBo: penduduk Situbondo orgnya seperti apa Dek?
total 1 replies
23. Satrio Gumelar
wih,kampung rawa jakarta,itu mah rumah masa kecil ane,sebelah mana nya mba rain
Mamma Miauw
Luar biasa
Lendra Wati
bagus dan menarik
Lilis Chandra
bagus
Nia Yusniah
awal yg sedih
Mia Sukatmiati
aneh kok mamanya Allan kayak gak ada sayang sayangnya sama Aleta,,pdhl begitu sayang dan welcome sama Raina yg bukan siapa siapanya,,ada apa dengan Aleta
VaNiLaLuLaBo: adu domba si Marni kali....
total 1 replies
sherly
pelakor ngelunjak perlu diceburin ke laut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!