NovelToon NovelToon
From Korea With Love

From Korea With Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: AMaeera

Aiu Himmler harus menanggung semua atas apa yang dia lakukan di masa lampau. Tak punya belas kasih dan sombong waktu duduk di bangku sekolah berimbas pada kehidupannya setelah dia mulai bekerja.

Dulu ada seorang murid laki laki pindahan dari korea, penampilannya bisa di bilang di bawah rata rata. Gemuk sipit dan semua yang berbau bau aneh melekat pada dirinya. Kang Joong Woo, dia laki laki yang tak pernah mengenal rasa benci kepada sesama, penuh dengan belas kasih dan kebaikan.

Namun semua itu berubah karena perlakuan Aiu terhadapnya.
Dia di buly habis habisan setelah berani menyatakan perasaannya kepada Aiu.

Di situlah Joong Woo yang selalu menebar senyum, seketika tak pernah terlihat sama sekali.

Beberapa tahun kemudian Aiu di pertemukan kembali dengan Joong Woo yang sudah berubah.

Tetapi Aiu di tuntut untuk merubah penampilannya di depan Joong Woo.

"Kau pasti akan menyesal ketika tahu siapa perempuan ini sebenarnya"

Apa yang sebenarnya terjadi?
Baca kisah mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMaeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terluka Parah

"Presdir menyuruhku turun?" Aiu terkejut setelah mendengar Joong Woo memintanya keluar dari mobil.

"Jangan sampai aku mengulangi ucapanku! keluar!"

Aiu terlihat semakin khawatir saat melihat kening Joong Woo basah karena keringat dingin.

"Presdir Anda yakin tidak apa apa? Anda sampai berkeringat" Aiu mencoba mendekat dan menyentuh keningnya.

"Berhenti!" Joong Woo menghentikan Aiu yang mencoba menyentuhnya.

Tangan Aiu terpaku di udara.

"Ee, Presdir apa bahumu baik baik saja?"

Joong Woo kemudian mengambil dompet dari dalam saku jas dan melemparkannya ke pangkuan Aiu.

"Bawa dompetku, di situ ada uang sepertinya cukup untuk membayar ongkos taksi sampai ke rumahmu!" Joong Woo sesekali terlihat menghela nafas panjang ketika merasakan pundaknya yang semakin tak karuan rasa linu, perih dan sakit bercampur menjadi satu menghujam bahunya.

Bahkan dia hampir tak merasakan apa pun di lengan kanannya. Aiu menatap dompet milik Joong Woo yang ada di pangkuannya. Dia merasa seperti tak punya harga diri karena di perlakukan seperti itu.

Senyum impulsif kemufian mewarnai bibirnya.

"Dia bahkan tak mengeluarkan kata kata kasar, dia hanya melempar dompetnya ke arahku. Tapi kenapa hatiku merasa sakit, bahkah sepertinya ini tak sebanding dengan apa yang aku lakukan dulu kepadanya"

Tak ingin membuat Joong Woo semakin memburuk Aiu akhirnya menurut.

"Iya, baik Presdir" Aiu meraih dompet milik Joong Woo yang ada di pangkuannya meremas kuat kemudian membuka pintu dan melangkah turun.

Setelah Aiu menutup pintunya kembali, Joong Woo dengan cepat menginjak pedal gas dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat.

"Haaaah!! Aku tidak percaya ini! laki-laki Itu benar-benar menyebalkan kalau dia tahu aku ini adalah Aiu Himmler apa mungkin dia juga akan menurunkanku di jalan?" Aiu mengusap wajahnya kasar. Dia masih belum terima diperlakukan seperti itu.

"Tapi mungkin saja Joong Woo tak mau berdekatan denganku jika dia tahu aku adalah Aiu yang pernah membulinya" Ayu frustasi perempuan itu kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan sebuah taksi yang lewat di depannya.

***

Di sisi lain Joong Woo terlihat menuju ke sebuah trnpat di depan sana ada sebuah gedung Rumah Sakit.

Joong Woo menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk dia kemudian melangkah turun dan bergegas mempercepat langkahnya menuju ke lift.

Terlihat dia beberapa kali menekan tombol secara acak seolah konsentrasinya sudah buyar. Lift bergerak membawanya menuju ke lantai yang dituju.

Pintu lift terbuka Joong Woo langsung melangkah keluar menuju ke sebuah ruangan bertuliskan Dokter Oh Nari.

Joong Woo membuka pintu menerobos masuk ke dalam perempuan yang berditi di seberang meja dengan mengenakan pakaian serba putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya terlihat sedang memeriksa pasien yang duduk di kursi roda.

Perempuan itu langsung menoleh ekspresi wajahnya langsung terlihat khawatir saat mengetahui kondisi Joong Woo terlihat sedikit pucat dan berkeringat dingin.

"Joong Woo?" ucapnya lirih, Dia kemudian meminta perawat untuk membawa pasien ke tempat lain.

"blBawah pasien ke ruang periksa, aku akan menyusul nanti."

"Baik Dokter" perawat itu lalu mendorong kursi roda membawa pasien keluar, setelah pintunya tertutup kembali Nari mendekati Joong Woo, membawa laki-laki itu untuk duduk diatas ranjang periksa.

"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau berkeringat dan terlihat pucat seperti ini?" ucap nari khawatir.

"Au!" rintih Joong Woo ketika tak sengaja Nari menyentuh lengannya.

Joong Woo mengerutkan keningnya diiringi nafas yang tersekat karena menahan rasa sakit yang semakin menghujam bagian bahunya.

"Aku tidak tahu, aku tidak bisa merasakan lenganku kau bisa memeriksanya sekarang, kan?" Joong Woo mendesis kesakitan.

"Oke oke kau tenang saja aku akan memeriksamu, kau bisa lepaskan jasmu?"Joong Woo melepaskan jas dengan lengan kirinya, namun ketika dia ingin melepas jas yang menggantung di lengan kanannya Joong Woo terlihat tak mampu, dia menghela nafas beberapa kali ketika mencoba melepaskan jasnya.

Saat melihat Joong Woo kesusahan Nari kemudian membantunya dan ketika jas itu terlepas dari tubuh Joong Woo mulut nari menganga kedua tangannya dengan cepat membungkam mulut. "Apa yang terjadi dengan bahumu?" ucap nari seketika saat melihat darah segar mencuat keluar dari balik kemeja putih yang di kenakan Joong Woo.

Joong Woo menunduk menoleh ke arah kanan melihat pundaknya dan benar di sana dia melihat darah keluar hingga terlihat basah di kemejanya.

"Sesuatu menimpa tubuhku" jawabnya pendek.

"Joong Woo kalau Ibumu tahu berakhir sudah hidupmu kau melukai dirimu sampai seperti ini, kenapa coba!"

"Ibuku tidak akan marah kalau kau tutup mulut!"

Oh Nari adalah putri dari psikiater yang dulu membantu Joong Woo bangkit dari keterpurukan. Sejak mengetahui Joong Woo adalah pasien Ibunya, maka Oh Nari perlahan mencoba mendekati Joong Woo yang saat itu takut berdekatan dengan orang lain terutama perempuan.

Lambat-laun Nari akhirnya bisa berteman dengan Joong Woo dan satu-satunya perempuan yang bisa masuk ke dalam kehidupan Joong Woo setelah kejadian itu hanya Oh Nari.

Karena sikap dan sifat perempuan itu tak pernah berubah sampai detik ini.

Oh Nari kemudian mengambil gunting dan bersiap untuk memotong kemeja Joong Woo karena dia sadar Joong Woo akan kesusahan ketika melepaskan kemeja.

"Kau punya banyak stok kemeja, kan di rumah?"

"Kau sedang menghinaku atau sedang menyangjungku!"

Nari terkekeh kemudian dia menggunting kemeja Joong Woo dari ujung lengan hingga ke atas sampai kerah.

Kemeja itu terbelah menjadi dua di bagian lengan, matanya terbelalak saat melihat pundak Joong Woo seperti disayat bahkan di sekitarnya terlihat lebam hingga memerah dan hampir membiru.

"Astaga Joong Woo apa yang menimpa tubuhmu! kenapa bisa sampai seperti ini!" nada bicaranya terdengar berat terlihat sekali bahwa Nari sangat khawatir dengan keadaan Joong Woo.

Pandangannya kini menurun ke arah lengan, di sana dia juga melihat pergelangan tangannya lebam.

"Ya ampun disini juga, astaga Joong Woo apa yang sedang kau pikirkan kenapa bisa bisanya kau sampai tertimpa benda hingga terluka seperti ini!"

"Kenapa kau berisik sekali! aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit di bahu yang sekarang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku butuh pengobatan bukan butuh ceramah darimu!"

"Oke oke sabar aku hanya terkejut melihat lukamu" Nari kemudian mengambil suntikan dan 2 botol obat cair yang berisi anastesi dan satu lagi obat penghilang rasa nyeri karena melihat luka Joong Woo yang serius nari berpikir untuk langsung menyuntiknya.

Setelahnya dia menggiring Joong Woo untuk berpindah tempat yang masih dalam satu ruangan.

Nari meminta Joong Woo untuk duduk sementara dirinya mengambil gambar tubuh Joong Woo dengan sebuah alat untuk memeriksa tulang bagian dalam.

Nari terlihat serius pandangan matanya fokus ke arah layar dan di sana dia menemukan kebenaran bahwa tulang kering bahu Joong Woo retak.

"Tulangmu retak Joong Woo! apakah benda yang menimpamu itu sungguh-sungguh sangat berat sampai kau terluka seperti ini" Nari menghela nafas panjang, namun dia mencoba untuk menenangkan Joong Woo.

"Tapi kau tenang saja ini bisa kembali normal seperti dulu asal kau rutin meminum obat dan jangan sampai telat untuk kontrol" Nari sengaja berhenti berucap untuk memberi waktu kepada Joong Woo berfikir.

"Ada yang lebih membahayakan lagi selain ini"ujung matanya mengarah kepada Joong Woo.

Laki-laki itu tersenyum sinis seolah dia paham betul arti dari tatapan mata Nari.

"Asal kau tutup mulut Ibuku tidak akan tahu!"

"Itu hal yang sangat sepele dan sangat mudah tetapi tutup mulut itu tidak gratis. Kalau kau sudah sembuh kau harus mentraktirku makan malam!" ucap Nari dengan senyun manis di bibirnya.

"Itu sih memang maumu!" sahut Joong Woo.

Nari kemudian menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard dia sedang mengisi biodata untuk Joong Woo.

" Kau membawa ID mu, kan?"

Jung Woo kemudian mencari dompetnya dengan tangan kiri di dalam saku jas namun ketika dia teringat bahwa dompetnya sudah dia pasrahkan kepada Aiu Joong Woo pun menghela nafas panjang.

"Bodoh! bukankah aku tadi sudah menyerahkan dompetku kepada gadis itu!" gumamnya.

Mendengar Joong Woo menyebut seorang gadis, Nari memaku jari-jemarinya.

"Gadis?" ujung matanya langsung tertuju ke arah Joong Woo.

"Tidak, sepertinya dompetku tertinggal di ruang kerjaku!" Joong Woo mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah kalau begitu aku akan memakai ID ku sebagai walimu"

"Terima kasih" ucap Joong Woo.

"Aku menerima ucapan terima kasihmu tapi kau ingat semua ini tidak gratis Joong Woo" Nari berucap sembari mengetik, pandangannya pun tak pernah lepas dari layar.

Joong Woo menatap Nari dengan malas sambil menggelengkan kepalanya.

"Kau tidurlah istirahat di sini aku akan menyelesaikan pekerjaanku setelahnya aku akan mengantarmu pulang oke."

Tanpa mengangguk atau menjawab Joong Woo kemudian berbaring di atas ranjang periksa.

1
Sekar Sekar
aiu yg terkenal pintar knp jdi Oneng😁😁
upiknira
Luar biasa
Cicih Sophiana
Sayang buat kak thor💋💋❤❤❤
Semangat dan sehat sllu..
amaeera: baca lagi kak novelku yg baru, judulnya hamil anak presdir😍😍😍😘
total 1 replies
Cicih Sophiana
ko END sih kak... kaya belum puas deh... makasih karya kakak 👍👍😍😍😍
Cicih Sophiana
ahh akhirnya aq bahagia Joong woo... ohh salah maksud nya Aiu yg bahagia...🥰😍😍😍😍
Cicih Sophiana
gimana coba sakitnya Aiu dan Joong woo...udah berharap mereka yg akan menikah
Cicih Sophiana
jujur aja dulu Joong woo dgn ibu mu... klo kalian mau menikah
Cicih Sophiana
Joong woo kalah cepat...ayo Joong Woo kejar duluin mereka...
Cicih Sophiana
ko bisa sambil ngorol yah... 😂padahak kan mereka lagi sibuk...
Cicih Sophiana
kenapa harus bertanya Joong woo... lakukanlah🤭panaasssss ahhh
Cicih Sophiana
hajar Joong woo Aiu... 😁bikin enak enak sampai lemas...🤭
Cicih Sophiana
Il sung kakak yg baik😍😍
dia berkorban lagi untuk Joong woo
Cicih Sophiana
aq sedih jikalau Joong woo pisah dgn Aiu 😭😭😭😭😭
Cicih Sophiana
Il Sung😔😪😪
Cicih Sophiana
semangat Presdir Joong... aq akan mendorong mu dari belakang 😁😆😆
Cicih Sophiana
kakak yg super baik Il Sung... 🥰🥰🥰dia sll mengalah untuk Joong woo..
Cicih Sophiana
semangat Joong woo ada penghalang di antara kalian... padahal Oh nari udah mengalah...
Cicih Sophiana
aq jadi bingung thor mau pilih yg mana yahhh...
Cicih Sophiana
Joong woo fighting... cepat datang debelum di duluin kakamu...
Cicih Sophiana
😪😭😭😭😭😭😭 sedih untuk cinta Joong woo dan Aiu...
ayo Joong woo kejar Aiu ke jakarta...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!