NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Tantangan

"Siapa kalian?" tanya Rio dengan wajah tanpa dosa, sama sekali tak terpengaruh oleh aura permusuhan cowok di depannya.

Reno mendengus kasar, mengangkat dagunya dengan gaya arogan. "Gue? Gue Reno, orang paling berkuasa di sekolah ini! Kalian nggak boleh menaiki tangga popularitas yang lebih tinggi dari gue!"

Alih-alih takut, Rio malah berkacak pinggang. "Emangnya napa, hah? Merasa tersaingi? Atau merasa bodoh?"

Jleb. Wajah Reno langsung memerah menahan gengsi dan amarah. "Kalian! Berani-beraninya bicara seperti itu sama Tuan Muda ini!"

"Kalau kalian berani, ayo bertanding!" tantang Reno dengan suara menggelegar.

"Ayo! Siapa takut?!" balas Rio tak kalah ngegas.

Reno tersenyum meremehkan. "Sabtu depan akan ada konser panggung di lapangan sekolah. Gue mau kalian tampil di sana. Siapa yang mendapatkan sorakan penonton paling banyak, dia yang menang! Dan pihak yang kalah... harus menuruti satu keinginan apa pun dari sang pemenang!"

"Wih, serius?!" Mata Rio mendadak berbinar penuh semangat, amarahnya lenyap digantikan oleh antusiasme.

Zahra menatap Rio dengan tatapan jijik setengah mati. "Eh... gini aja lu langsung semangat."

"Ya, siapa juga yang nggak mau kesempatan dapat gratisan dari taruhan, ya nggak, Dan?" Rio menyikut-nyikut rusuk Danu dengan wajah semringah.

"Hahah, iya..." balas Danu hanya bisa memamerkan senyum kecut.

"Jadi sepakat, ya! Awas kalau kalian malah kabur!" ancam Reno. Dengan lambaian tangan yang dramatis dan angkuh, berandalan itu berbalik melangkah meninggalkan ruang ekstra musik.

Dua antek Reno yang sedari tadi mengekor bagai bayangan langsung bertepuk tangan heboh.

"Hahaha, mana ada yang bisa mengalahkan Tuan Muda yang sekeren ini? Ya, nggak?" puji bawahan terkuat nomor dua dengan nada menjilat.

"Iya, dong! Kalaupun anak-anak ekstra ini bisa ngalahin Bos, palingan juga mereka cuma lipsync, hahaha!" tawa kecil bawahan terkuat nomor satu ikut memanas-manasi.

Reno tersenyum bangga, dadanya makin membusung. "Iyalah, kalian memang bawahan-bawahan terbaik!"

"Hehe, siap Bos!"

Begitu gerombolan sombong itu berjalan menjauh dan menghilang layaknya debu tertiup angin, scene berpindah ke pintu ruang ekstra musik.

Empat kepala kini menyembul dari balik ambang pintu, saling tumpuk dan menindih satu sama lain dari atas ke bawah, persis seperti susunan burger, diam-diam mengintip kepergian Reno dan antek-anteknya.

"Hmm... menurutmu, kita beneran bisa melakukannya?" tanya Kak Rizki yang kepalanya berada di tumpukan paling atas.

"Aku nggak tahu, Kak. Yang penting kita coba dulu aja," balas Danu yang wajahnya sedikit tergencet di tengah.

"Iya, bener kata Danu! Coba aja dulu, siapa tahu habis konser nanti gue dapat followers lebih banyak lagi, hahahaha!" tawa kecil Rio dari tumpukan paling bawah, sama sekali tidak merasa terbebani.

"Eleh. Mikirinnya followers mulu lu, Yo," sungut Zahra sinis, berusaha menjaga keseimbangan di atas punggung Rio.

"Terserah gue lah, Zahra! Kesenangan orang kan berbeda-beda!" balas Rio membela diri.

"Oh," jawab Zahra teramat singkat dan padat, sukses mematikan perdebatan itu seketika.

Draf Bagian Tengah ini sangat cerdas dan menghibur! Ide Zahra memanfaatkan pengikutnya di live medsos untuk mencari kelemahan Reno sangat relatable dengan anak muda zaman sekarang. Komedi saat Rio nyempil minta dibelikan Bitcoin dan Zahra menyebutnya "ada yang lepas" sukses menjadi pemecah suasana.

"Hmm... kalau gitu, kita mau mulai latihan dari sekarang?" tanya Danu memecah keheningan setelah mereka kembali bernapas lega.

"Latihan gimana maksud lu? Kita kan udah jago, santai aja kali," sahut Rio dengan gaya meremehkan.

"Jangan sombong dulu, Rio. Di atas langit masih ada langit," nasihat Kak Rizki lembut tapi menohok.

"Nah, dengerin tuh kata sesepuh," ejek Zahra membenarkan.

Danu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi... kita beneran cuma mau nunggu sampai Sabtu depan tanpa persiapan apa-apa?"

"Yaiyalah, Danu! Masa iya Sabtu ini? Kan janjiannya minggu depan. Santai aja," celoteh Rio polos.

"Ah, nggak gitu maksudku! Maksudku, selama seminggu ke depan ini kita mau ngapain buat persiapan menangnya?" ralat Danu gemas.

"Senang-senang aja! Terus mabar game!" seru Rio penuh semangat 45.

"Jangan ngikutin ajaran sesat Rio, Dan. Bisa-bisa ekstra kita malah bubar jalan kalau ngikutin otak kosong orang itu," sinis Zahra sambil melirik tajam ke arah Rio. "Untuk sekarang, mending kita cari info dulu. Lawan kita ini preman sekolah yang 'kebal hukum', siapa tahu dia bakal main curang."

"Hmm... make sense," Kak Rizki manggut-manggut setuju dengan taktik Zahra.

"Hmm... kalau urusan cari info jalur cepat, Zahra pasti bakal pakai kekuatan medsos-nya, nih," tebak Kak Rizki sambil tersenYum simpul.

"Wah, Kak Rizki pintar banget! Daripada repot-repot jadi detektif sendiri, mending aku nanya ke netizen kesayanganku aja."

"Eleh! Bilang aja lu malas gerak buat ngadepin orang kayak dia," cibir Rio.

"Nah, itu lu tau. Pinter dikit napa," sahut Zahra santai tak terbantahkan. Gadis itu merogoh ponselnya, menempatkannya di posisi strategis, lalu merapikan rambutnya. "Ya udah, gue nanya netizen sekarang. Kita live, guys! Siap-siap masuk frame!"

Zahra menekan tombol merah di layarnya. Begitu indikator waktu mulai berjalan, ia langsung mengubah mood-nya 180 derajat dan memulai opening andalannya dengan senyum paling manis.

"Halo guys! Makeuplovers-ku tercinta! Gimana nih kabar kalian hari ini?" sapanya ramah ke arah layar.

Ia membiarkan komentar bergulir sejenak. "Ouhh, pada baik ya? Syukurlah! Nah, mumpung pada ngumpul, aku mau nanya sama kalian nih. Kalian tahu nggak sih cowok yang namanya Reno di SMA Garuda itu siapa? Masa tiba-tiba dia datang ngajak band kami bertanding. Emang dia siapa, sih?"

Kolom komentar mendadak heboh. Zahra membaca beberapa balasan dengan suara keras agar yang lain bisa dengar.

"Wah, Kak Zahra ternyata satu sekolah sama Reno si Tuan Muda?"

"Itu loh, Kak! Reno yang anak bos dari suatu perusahaan besar. Dia kan digadang-gadang bakal jadi penerus orang kaya baru paling tajir di kota!"

Mendengar kata "orang kaya", telinga Rio langsung berdiri. Tanpa basa-basi, kepalanya nyempil ke depan kamera Zahra.

"Widih, iyakah?! Kalau dia setajir itu, ntar pas kita menang, gue mau minta dia beliin gue Bitcoin yang banyak biar gue ikut kaya mendadak! Hahahaha!" tawa jahat Rio menggelegar, menodai live estetik Zahra.

Zahra langsung mendorong wajah Rio keluar dari frame dengan kesal. Ia memaksakan senyum kecut ke arah kamera. "Hehe... maaf ya, guys, barusan ada yang lepas dari kandang."

"HEH! Apa maksud lu lepas, hah?!" protes Rio tak terima di belakang kamera.

Kak Rizki cepat-cepat menahan bahu Rio. "Udah, udah... jangan marah, Rio. Kita lagi numpang live di akun orang, jangan bikin keributan di depan netizen."

"Terima kasih banyak ya info-infonya, followers tercinta! Nanti sebagai gantinya aku bakal bikin giveaway deh buat kalian. Sampai jumpa di live dan video selanjutnya! Bye-bye!"

Zahra melambaikan tangannya dengan senyum semanis gula, lalu segera menekan tombol merah untuk mengakhiri siaran.

Begitu lampu indikator ponsel mati, Rio langsung memajukan wajahnya. "Udah kelar live-nya?" tanyanya memastikan.

Zahra mendengus sambil memasukkan ponsel ke dalam sakunya. "Udah! Puas lu ngerusuhin lapak aesthetic gue?"

Sebelum pertengkaran jilid kesekian itu meledak lagi dan membuat pusing kepala, Kak Rizki segera bertepuk tangan pelan untuk melerai.

"Udah, udah, kalian ini ribut melulu," sela Kak Rizki dengan senyum kebapakannya yang khas. "Oh iya, daripada tenaga kalian habis buat debat, ayo kita semua ke kantin sekarang. Khusus merayakan masuknya info penting hari ini... Kakak yang traktir!"

Mendengar kata sakti "traktir" keluar dari mulut sang senior, amarah Zahra seketika menguap. Mata Rio membesar seolah baru saja melihat harta karun, dan Danu tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit.

"YEAYYY!" seru mereka bertiga serempak, bersorak kegirangan layaknya anak TK yang baru dibelikan es krim.

Masalah tantangan konser, si preman sekolah berkedok Tuan Muda, dan persiapan taruhan gila minggu depan seolah terlupakan begitu saja. Untuk saat ini, mengisi perut dengan makanan gratisan adalah prioritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

[Bersambung]

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!