NovelToon NovelToon
Surga Kecil Maya

Surga Kecil Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.

Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.

Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Memastikan

Di dalam mobil keduanya terdiam. Begitu banyak hal berkecamuk di kepala pria ini. "Bagaimana bisa kau mengatakan dirimu mandul tapi ternyata kau hamil?" Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Raka tanpa menoleh. Ia sedang fokus menyetir. "Kau ke dokter periksa atau berandai-andai? Sebab kalau dokter yang bicara tak mungkin salah!" ucapnya gemas dengan wanita di samping.

"Aku pernah ke dokter, Pak dan dokter itu bilang rahimku miring," sahut Maya pelan sambil menunduk. Ia merasa tidak salah dengar.

"Apa?" Sempat pria itu menoleh sekilas dengan wajah frustasi dan kemudian menepikan mobilnya secara tiba-tiba.

Sang wanita terkejut. Jantungnya berdetak kencang. Ia merasa akan dihakimi karena pendengarannya yang salah. "I-itu benar. Dokter itu bilang sendiri, kalau ingin diperbaiki, aku harus operasi."

"Tapi bukan berarti kamu tak bisa hamil ... Aduh Maya ...!" Raka mengusap wajahnya separuh dengan kasar.

Maya dengan polosnya melongo. "He?"

"Rahim yang miring itu hanya kondisi, tapi bukan berarti kamu tidak bisa hamil! Kamu sangat tidak bermasalah dengan kehamilan dan bisa hamil sama seperti orang normal. Bahkan, saat hamil, kondisi rahim yang miring itu bisa bergeser membaik dengan sendirinya tanpa bantuan apa pun."

Kedua bola mata wanita itu membulat sempurna. "Tapi kenapa selama menikah dengan Mas Indra, aku belum bisa punya anak?"

"Sekarang buktinya apa?" Raka terlihat kesal. "Ini hanya masalah waktu. Kenapa kalian berdua tidak tanya dengan benar dengan dokternya sih?" Ia benar-benar dongkol dengan kenyataan ini. Kalau saja Maya dan mantan suaminya mendengar keterangan dokter dengan benar, seharusnya ia tak perlu bertemu dengan wanita ini lagi dalam hidupnya, dan masalah nikah lagi juga takkan keluar dari mulut sang istri.

Sekarang yang paling penting adalah memastikan kehamilan Maya, yang pastinya tidak akan salah, dan memikirkan langkah selanjutnya. "Ya, sudah. Sekarang kita pastikan masalah kehamilan ini dulu di klinik." Ia kembali menjalankan mesin mobilnya.

+++

Maya memandangi foto itu hampir tak percaya. Di tangannya kini ia bisa melihat foto sang calon bayi yang walaupun tidak begitu jelas, menerangkan bahwa ia memang benar hamil adanya. Matanya berbinar sempurna. Bahkan ada butiran air yang mengembun yang kemudian keluar dari kedua pelupuk matanya.

Raka sempat memperhatikan wajah Maya sambil terus mondar-mandir di hadapan wanita itu, menunggu ponsel di dekat telinganya tersambung. Namun sambungan telepon itu tak kunjung diangkat. Ia kesal hingga mematikannya.

'Ada apalagi Alika kali ini? Kenapa dia tak mengangkat handphone-nya?' Raka tidak bisa menebak apa yang terjadi hingga ia memutuskan untuk berbicara dengan ibunya. Ia menelepon kembali.

"Umi, assalamu'alaikum. Alika ke mana, Mi? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?"

"Waalaikumsalam. Lho, Umi tidak tahu. Tadi selepas kamu pergi, dia juga pergi. Katanya ada arisan."

Raka mendesah panjang hingga memejamkan mata sejenak. 'Ada apalagi ini? Kenapa meninggalkan rumah saat orang tuaku berkunjung ke sana? Tidak bisakah ia menunggu suaminya pulang dulu, hingga harus meninggalkan tamu di rumah tanpa tuan rumah? Padahal ini hanya arisan! Arisan sialan! Benar-benar keterlaluan!' Ia benar-benar geram dengan tingkah sang istri.

"Eh, ya sudah, Umi." Ia menutup telepon. Masih diperhatikannya Maya yang sedang mengagumi foto bayinya sambil berpikir sebentar. Ia kemudian mendekat. "Maya, sebaiknya sekarang kita mendatangi mantan suamimu."

Wanita itu mendongak dan terkejut. "Mas Indra? Eh, gak mau!" Maya menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat. "Mungkin dia sudah menikah lagi dengan pacarnya itu." Ia mengusap air mata haru dari kedua bola matanya.

"Menikah lagi? Hah ...." Kembali Raka menghela napas panjang. Kenapa masalah ini terlihat tak ada ujungnya? Ia terus berpikir, bagaimana memecahkan masalah ini, tapi setidaknya ia akan mencoba mengembalikan wanita ini pada yang berhak. "Kalian memang mengharapkan bayi ini 'kan? Kau harus memberitahunya karena dia berhak tahu. Mungkin saja dia bisa berubah pikiran."

"Enggak, aku gak mau! Aku gak mau kembali padanya!" Maya bersikukuh tidak mau pergi dengan kembali menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa?! Kau tidak bisa bicara seperti itu sekarang! Kalau kau sekeras kepala itu, Alika akan makin menekanku! Apalagi orang tuaku setuju. Apa kau memang mengharapkan ini!?" Raut wajah Raka terlihat curiga pada wanita dihadapan hingga kedongkolannya makin menjadi-jadi.

"Bukan begitu, Pak. Aku sudah tidak mau kembali pada suamiku lagi! Keluarganya pun sudah tidak menginginkan aku kembali." Wanita itu memohon. Air mata Maya kembali menetes, tapi kali ini karena kesedihan mendalam.

"Tapi setidaknya kamu punya solusi, Maya. Jangan sampai mantan suamimu menuntutmu kemudian, atau mungkin saja ia mau menerimamu kembali!" bujuk Raka dengan suara ketus. "Karena kehamilanmu itu bukanlah tanggung jawabku!"

Mendengar ketegasan ucapan bosnya itu, Maya terdiam. Ya, ia kini mengerti dan harusnya sadar, Raka tidak ingin menikah dengannya. Air mata yang mulai membanjir segera dihapusnya. "Aku tidak akan menyusahkan Bapak, percayalah, Pak. Aku akan bilang pada orang tua Bapak, juga Alika kalau aku akan membesarkan bayi ini sendirian. Aku tidak akan minta bantuan siapa pun untuk bertanggung jawab dengan kondisiku ini."

"Tidak semudah itu, Maya. Kau saja tidak berusaha menyelesaikan masalahmu. Bagaimana aku bisa percaya, kau akan berusaha melepaskan diri dengan masalahku!" Raka semakin sengit dengan pendapatnya.

Maya mendongak. Kilatan cahaya di mata pria itu menandakan bahwa Raka benar-benar kesal dengan masalah yang terjadi hari ini. Masalah yang sejak tadi pagi dan masih bergulir hingga saat ini. Wanita itu terpaksa harus mengalah. Menghadapi orang-orang itu di tempat neraka itu kembali.

Ia segera memasukkan foto bayi itu dalam amplopnya dan langsung berdiri. "Baiklah. Aku akan coba pergi ke sana sekali lagi dan bicara padanya." Ia segera melangkah meninggalkan sang pria.

Raka mengejarnya. "Aku temani kamu!" Ia mensejajari langkah Maya.

"Tidak usah, Pak. Aku bisa sendiri," ucap wanita berjilbab itu berusaha kuat karena terlanjur sakit hati.

"Tidak, aku ingin memastikannya!"

Kalimat itu sungguh menghujam jantungnya, tapi sekali lagi ia memaafkan pria itu. Keadaanlah yang menyebabkan Raka membencinya hingga sejauh ini, karena itu kata-kata kasar pria itu berhamburan menghujaninya. Kalau bukan karena ingin menyelesaikan masalah, ia sudah pergi meninggalkan pria itu karena tak tahan dengan kata-kata yang telah melukai hatinya sedemikian dalam.

+++

Mobil pun bergerak ke sebuah permukiman padat penduduk hingga mendatangi sebuah rumah yang cukup sederhana dan ada kemeriahan di dalamnya. Mobil Raka tak bisa menembus jalan karena ada tenda di luar yang menutupi hampir sebagian besar jalan yang tidak terlalu besar itu. Ternyata mantan suami Maya tengah menikah hari ini!

"Itu benar rumahnya?" Raka sekali lagi memastikan.

Maya menatap tempat yang penuh dengan keramaian itu dengan ragu. "Eh, Pak. Apa tidak bisa di lain hari saja?" Ia memutar kepalanya ke arah pria di sampingnya itu. "Sepertinya dia menikah hari ini."

"Tidak bisa. Hari ini Alika dan orang tuaku menuntut kejelasan soal pernikahan ini, tapi sebelum itu terjadi, aku juga harus memastikan posisimu," tegas Raka tetap pada pendiriannya. Kalau saja ia tak terdesak, ia mungkin akan mempertimbangkan permintaan sang sekretarisnya itu.

"Tapi ... ini orang ramai, Pak. Aku nggak mau mempermalukan orang lain, sekalipun ia hanya mantan suami." Maya terlihat khawatir.

Bersambung ....

1
sunaryati jarum
Selalu dicemburui dan dicurigai itu susah
Shofwa Arzita
Bagus
Shofwa Arzita
update tiap hari dong thor
Baby_Miracles: author semangat kalo ada yang komen dan like. Jangan lupa likenya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!