NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 - Gudang Tanjung Priok

Arga melarang Ayla ikut.

Ayla mendengar.

Dia hanya tidak menganggap larangan itu keputusan final.

Pukul delapan malam, Arga dan timnya bergerak menuju Tanjung Priok. Raka Mahendra dibawa untuk pemeriksaan awal, tetapi belum resmi ditahan sebagai tersangka utama. Kantor yayasan disegel sebagian. Ratna menelepon Ayla tujuh belas kali. Marwan enam kali. Reno dua kali. Alina tidak menelepon sama sekali.

Itu yang paling menarik.

Ayla duduk di kursi belakang taksi online, memandang lampu jalan yang melintas.

Pengemudi melirik dari kaca spion. “Mbak kerja di pelabuhan?”

“Malam ini.”

“Jarang perempuan muda ke sana malam-malam.”

“Saya juga jarang.”

Pengemudi tertawa canggung, lalu tidak bertanya lagi.

Di saku jaket, ponsel Ayla menyala. Pesan dari Arga:

Kamu di rumah?

Ayla membalas:

Definisikan rumah.

Telepon langsung masuk.

Ayla mengangkat dengan santai. “Pak Arga.”

“Kamu di mana?”

“Di Jakarta.”

“Ayla.”

“Kamu sering sekali menyebut namaku. Nanti aku salah paham.”

“Kamu menuju gudang?”

“Kalau aku bilang tidak, kamu percaya?”

“Tidak.”

“Berarti tidak perlu tanya.”

Di seberang, Arga menghela napas. “Putar balik.”

“Tidak bisa. Sudah dekat.”

“Ini operasi resmi.”

“Aku konsultan eksternal sementara.”

“Konsultan tidak datang tanpa izin.”

“Kalau begitu anggap aku turis.”

“Ayla, gudang itu mungkin dijaga orang bersenjata.”

“Bagus. Aku jadi tidak terlalu bosan.”

Hening.

Lalu suara Arga berubah lebih rendah. “Jangan masuk sebelum saya tiba.”

Ayla melihat gerbang kawasan gudang dari kejauhan.

“Itu lebih realistis.”

“Janji.”

“Aku akan mempertimbangkan.”

“Ayla.”

“Baik. Aku tidak masuk sebelum kamu tiba.”

Dia memutus panggilan.

Pengemudi menatapnya dari spion lagi. “Mbak, aman?”

“Semoga.”

“Saya jadi takut.”

“Saya kasih bintang lima.”

“Bukan itu masalahnya, Mbak.”

Taksi berhenti di dekat minimarket dua blok dari gudang. Ayla turun, membeli air mineral, plester luka, dan dua bungkus permen. Setelah itu dia berjalan kaki melewati deretan truk dan kontainer.

Dia tidak masuk.

Dia hanya mendekat.

Menurut definisi teknis, itu masih menepati janji.

Gudang yang dimaksud berada di ujung jalan industri. Lampunya redup. Pagar seng tinggi mengelilingi area. Ada dua penjaga di pos depan, tetapi cara mereka memegang rokok dan menatap jalan menunjukkan mereka bukan pekerja gudang biasa.

Sebuah truk boks putih parkir di samping.

Ayla berdiri di balik tumpukan palet kosong, mengamati.

Lima orang terlihat. Mungkin lebih di dalam. Satu kamera CCTV di sudut pagar mati, sengaja diarahkan ke bawah. Ada pintu samping yang lebih sering dipakai daripada pintu utama. Jalur kabur ke belakang kemungkinan mengarah ke kanal kecil.

Ceroboh.

Atau sengaja dibuat tampak ceroboh.

Ponselnya bergetar.

Maya:

Kamu di mana? Arga menghubungi jalur kami. Dia terdengar ingin menggigit besi.

Ayla mengetik:

Aku menepati janji.

Maya:

Itu berarti kamu melanggar dalam bentuk lain.

Ayla tidak membalas.

Sebuah mobil hitam berhenti tanpa lampu jauh. Arga turun bersama Bima dan tiga anggota tim. Mereka bergerak cepat, terlatih, tidak berisik. Arga melihat sekitar, lalu matanya langsung menemukan Ayla di balik palet.

Bahkan dari jarak itu, Ayla bisa merasakan kemarahannya.

Dia melambai kecil.

Arga berjalan mendekat.

“Kamu bilang tidak masuk.”

“Aku tidak masuk.”

“Kamu berada dua puluh meter dari target operasi.”

“Masih luar.”

Bima di belakang Arga bergumam, “Secara teknis benar.”

Arga menatapnya.

Bima langsung diam.

Ayla menunjuk gudang. “Dua di depan, minimal tiga di dalam. Kamera mati. Pintu samping aktif. Jalur kabur belakang. Truk boks putih kemungkinan membawa barang.”

Arga berhenti marah selama tiga detik karena informasi itu berguna.

“Senjata?”

“Yang di pos depan punya pistol di pinggang kiri. Yang dekat truk mungkin membawa pisau. Belum lihat senjata panjang.”

Bima menatap Ayla dengan ekspresi baru. “Kamu lihat dari sini?”

“Mataku tidak dekorasi.”

Arga memberi instruksi singkat pada tim. Dua orang bergerak memutar ke belakang. Bima dan satu anggota lain siap ke sisi kanan. Arga tetap bersama Ayla sebentar.

“Kamu tetap di sini.”

“Aku—”

“Tetap. Di. Sini.”

Ayla menatapnya.

Nada itu tidak keras. Justru karena tidak keras, ia lebih efektif.

“Baik.”

Arga tampak tidak percaya.

Ayla mengangkat dua tangan. “Aku akan di sini sampai ada orang yang mencoba kabur lewat jalur yang kalian lewatkan.”

“Kami tidak melewatkan jalur.”

Tepat saat itu, dari sisi belakang gudang terdengar suara logam pelan.

Ayla tersenyum.

“Semesta mendukung argumenku.”

Arga mengumpat sangat pelan.

Ayla sudah bergerak.

“Ayla!”

Dia berlari melewati sisi pagar, tetap di luar area utama. Di belakang gudang, ada celah sempit antara pagar dan dinding kontainer. Seorang pria keluar dari lubang panel seng yang bisa digeser. Dia membawa tas hitam dan ponsel.

Pria itu melihat Ayla.

Mereka saling diam satu detik.

Lalu pria itu lari.

Ayla mengejar.

Dia tidak membawa sepatu taktis malam itu. Hanya sneakers. Cukup.

Pria itu berlari menuju kanal kecil, melompati pipa, lalu mencoba masuk ke gang sempit antara gudang. Ayla mengambil botol air mineral dari tas, melemparkannya tepat ke belakang lutut pria itu.

Kena.

Langkahnya kacau. Ayla menyusul, menarik kerah jaketnya, lalu menjatuhkannya ke tanah.

Tas hitam terlempar.

Pria itu mencoba mengambil pisau.

Ayla menginjak pergelangan tangannya.

“Jangan.”

Pria itu meringis. “Kamu siapa?”

“Turis.”

Dia mengambil pisau dan melemparkannya ke kanal.

Arga dan Bima tiba beberapa detik kemudian. Arga melihat pria di tanah, tas hitam, dan Ayla yang berdiri santai.

“Kamu tetap di sini, katanya.”

“Aku di sini.”

Bima kali ini tertawa, lalu cepat menutup mulut saat Arga menoleh.

Arga mengambil tas hitam dan membukanya. Di dalamnya ada beberapa kotak obat palsu, flashdisk, dan amplop uang tunai.

Bima bersiul pelan. “Bingo.”

Pria yang ditangkap mulai panik. “Saya cuma kurir.”

Ayla menunduk. “Semua orang kecil selalu cuma kurir. Bosan.”

Arga memberi isyarat pada Bima untuk memborgol pria itu.

Dari area depan, terdengar suara perintah dan pintu didobrak. Operasi utama berjalan. Beberapa menit kemudian, tim mengamankan gudang. Tidak ada baku tembak besar. Hanya satu orang mencoba melawan dan langsung dijatuhkan.

Ayla duduk di atas palet sambil membuka permen.

Arga kembali setelah memastikan area aman. Wajahnya masih dingin.

“Kamu bisa terluka.”

Ayla menawarkan permen. “Mau?”

“Tidak.”

“Menenangkan.”

“Saya tidak butuh permen.”

“Wajahmu bilang butuh.”

Arga mengambil satu permen.

Bima yang lewat melihat itu dan hampir tersandung.

Di dalam gudang, Lestari menemukan komputer kecil yang menyimpan data pengiriman. Nama Raka muncul, tetapi ada nama lain yang lebih tinggi.

Dr. Surya Atmadja.

Mantan peneliti biomedis. Pernah bekerja di luar negeri. Dikeluarkan dari beberapa proyek karena pelanggaran etik. Lima tahun terakhir menghilang dari publik.

Ayla membaca nama itu dari layar Lestari.

Senyumnya hilang.

Arga memperhatikan. “Kamu kenal?”

“Pernah dengar.”

“Dari mana?”

Ayla tidak langsung menjawab.

Nama Surya Atmadja pernah muncul di arsip lama Besi Kelabu. Bukan sebagai peneliti biasa. Dia salah satu orang yang mencoba membeli data turunan Berkas 531 dari pasar gelap.

Kalau dia ada di Jakarta, berarti obat palsu ini bukan operasi kecil.

Ini percobaan membuka kembali proyek yang seharusnya dikubur.

Ponsel Arga berbunyi. Dia mendengar laporan singkat, lalu wajahnya berubah.

“Apa?” tanya Ayla.

Arga menatapnya.

“Alina Prameswari baru saja meninggalkan rumah.”

Ayla berdiri.

“Ke mana?”

“Belum jelas. Tim yang memantau kehilangan dia di dekat mall.”

Ayla tertawa pelan, tetapi tidak ada humor di dalamnya.

“Akhirnya dia bergerak sendiri.”

Arga berkata, “Kali ini kamu ikut mobil saya.”

“Aku tidak protes.”

“Bagus.”

Ayla berjalan di sampingnya menuju mobil.

Untuk pertama kalinya malam itu, mereka punya tujuan yang sama tanpa perlu bertengkar.

Alina tidak kabur karena takut.

Dia pergi menemui seseorang.

Dan siapa pun orang itu, dia berada satu langkah lebih dekat ke inti Berkas 531.

Dalam mobil, Arga menerima laporan tambahan dari Lestari. Raka tidak banyak bicara di ruang pemeriksaan. Dia meminta pengacara, lalu mengulang kalimat yang sama: semua transaksi adalah program bantuan medis.

Ayla mendengar dari kursi belakang dan tertawa pendek.

“Program bantuan medis yang memakai gudang malam-malam?”

Bima menoleh. “Kamu tahu, kadang aku ingin tidak setuju denganmu, tapi susah.”

“Itu tanda otakmu mulai bekerja.”

Bima mendengus, tetapi tidak marah seperti sebelumnya.

Arga melihat mereka dari kaca spion. “Kita belum tahu apakah Alina korban, perantara, atau bagian dari jaringan.”

Ayla menatap jalan di depan. “Dia perantara yang ingin dianggap korban.”

“Kamu terlalu yakin.”

“Aku tinggal serumah dengannya.”

“Baru beberapa hari.”

“Cukup. Beberapa racun bisa dikenali dari baunya.”

Arga tidak menjawab. Namun dia tidak membantah lagi.

Mobil melaju lebih cepat. Jakarta malam menelan mereka menuju pertemuan berikutnya.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!