NovelToon NovelToon
Bukalah Hatimu Untukku

Bukalah Hatimu Untukku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:22.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Astirai

“Kita sudah sama-sama tahu kan, pernikahan ini keinginan orang tua kita, jadi kamu jangan terlalu banyak berharap pada diriku. Asal kamu tahu, dengan pernikahan ini, kebahagiaanku sudah terrenggut. Jangan kuatir, aku tidak akan meminta hak ku sebagai seorang suami. Sampai saatnya nanti tiba, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku.”

“Kamu tahu... gara-gara pernikahan ini, semua rencanaku berantakan, termasuk tinggal di rumah ini bersama istri pilihanku. Rumah ini sudah aku persiapkan untuk dia...”


Karena kalimat itulah, seorang gadis yatim piatu bernama Karina menjalani kehidupan yang penuh liku-liku dengan sorang anak laki-laki yang merindukan sosok ayahnya.
Sementara saat Karina akan belajar membuka hatinya pada sosok laki-laki yang sangat menyayangi anaknya, datang seorang gadis yang sedang hamil anak laki-laki itu.
Masih adakah bahagia yang dapat dia raih? Apa jawaban yang harus diberikan pada anaknya?


Ikuti terus ceritanya ya. Dukung dg vote, like & komen biar smangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Keputusan untuk pergi (2)

Setelah mendengar suara mobil Seno meninggalkan rumah, Karina keluar kamar dan menuju kamarnya di lantai atas. Karina menangis pilu mengingat kata-kata yang diucapkan Seno tadi. Setelah merenung sejenak, akhirnya Karina memutuskan akan mengakhiri semuanya, dan sesuai dengan ucapannya tadi, dia akan mengembalikan

kebahagiaan Seno. Dan kalau memang kebahagiaan Seno dapat kembali dengan kepergiannya, maka itu akan Karina lakukan.

Karina mulai mengemasi barang-barangnya yang tidak banyak, termasuk dokumen-dokumen penting lainnya.

Karina sudah meneguhkan hatinya, akan meninggalkan rumah Seno. Setelah semua selesai, Karina mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sudah dia tempati beberapa bulan. Sebelum keluar kamar, Karina mengambil kartu debit dan kartu kredit yang diberikan Seno termasuk cincin kawin bermata berlian dia lepas, diletakkannya di meja kecil samping ranjang, kemudian mengangkat koper dan menuju dapur mememui bi Asih.

Dengan berurai air mata, Karina pamit pada bi Asih yang tak kuasa menahannya. Bi Asih dan asisten lainnya melepas majikannya yang baik hati itu dengan deraian air mata.  Karina meninggalkan rumah dengan taxi online

yang sudah dia pesan, tujuannya ke rumah Rossa. Tidak lupa Karina mematikan ponselnya. Dipandanginya bangunan kokoh rumah Seno yang ada di belakangnya. Tekad Karina sudah bulat.

Setelah Karina pergi, bi Asih buru-buru menelpon bu Baskoro sambil terhisak.

“Terus pergi ke mana?” Tanya bu Baskoro panik, apalagi hari sudah malam.

“Kami tidak tahu karena non Karin tidak bicara apa-apa, bahkan melarang kami memberitahu ibu.”

Bu Baskoro berkali-kali menelpon  Seno, tetapi tidak pernah diangkat, bahkan yang terakhir ponsel Seno malah mati. Sementara itu, Seno dari rumah menuju salah satu hotel milik keluarganya dan masuk kamar. Pikirannya

masih kacau memikirkan Amanda dan kata-kata kasar yang tadi diucapkan pada Karina. Dia tidak menghiraukan telpon mamanya yang berkali-kali. Akhirnya karena kelelahan, Seno tertidur sampai pagi.

Di rumah Rossa

Karina menangis tersedu-sedu di pelukan mami Rossa. Rupanya Rossa sudah bercerita semua masalah Karina pada kedua orang tuanya, sehingga mereka tidak kaget saat Karina datang malam-malam dengan tangisnya. Mereka semua membiarkan Karina puas dengan tangisnya. Bu Lia, mami Rossa masih memeluk Karina sambil mengusap-usap punggungnya. Air matanya ikut menetes melihat kondisi Karina, sementara Pak Rudy, papi Rossa hanya bisa memandangi Karina dengan perasaan sedih.Ya…. pasangan paruh baya inilah yang sekarang dianggab sebagai orang tuanya.

“Mi.... Karin nggak sanggup lagi, Karin lelah....” Kata Karina masih terisak di pelukan bu Lia.

“Karin... mami paham nak. Kamu sekarang yang tenang dulu ya.... istirahat saja, sudah malam. Besok kita ngobrol lagi ya.....” Bu Lia mencoba menenangkan Karina.

“Tapi mi....pi.... Karin pengen pergi yang jauhhh.... Karin udah nggak punya siapa-siapa lagi di sini... Nggak ada lagi yang menjadi alasan Karin bertahan dengan pernikahan ini..”

“Karina sayang.... masih ada kami di sini. Papi, mami, Rossa dan Rian yang akan selalu ada di sampingmu. Kamu tidak sendiri sayang... Ingat kami juga keluargamu, orang tuamu dan sodaramu.” Kata bu Lia dengan lembut, yang membuat Karina makin terisak.

“Karin... kamu istirahat dulu ya. Besok pagi kita bicara, biar pikiranmu tenang dulu...” Terdengar suara pak Rudy, juga dengan suara lembut tapi berwibawa.

Karina melepaskan diri dari pelukan bu Lia dan memandang wajah catik wanita separo baya itu. Bu Lia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sungguh, Karina merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang bukan siapa-siapa dia tetapi sangat menyayanginya.

“Papimu benar, kamu istirahat dulu gih di kamar Rossa, besok kita ngobrol lagi..”

Pagi hari di rumah Rossa, saat Karina sarapan bersama keluarga Rossa, terlihat matanya sembab dan wajahnya pucat. Memang semalaman Karina tidak bisa tidur. Kata-kata Seno yang dangat menyakitkan serasa mengikuti kemanapun telinganya berada. Awalnya Karina masih mencoba akan tetap bertahan, karena Karina merasa akhir-akhir ini hatinya sering berdebar-debar bila menerima tatapan mata Seno. Ah.... apakah ini cinta? Apakah aku mulai jatuh cinta? Karina mencoba menyangkal kata hatinya, tapi....... Sampai saat Karina mendengar ucapan Seno semalam, hatinya benar-benar hancur. Dia merasa tidak ada lagi gunanya untuk tetap bertahan.

Ya...... akhirnya keputusan untuk pergi, dia pilih. Karina menyerah, hatinya benar-benar lelah.....

“Karin.... ayo makan sayang.... jangan cuma diliatin aja nasinya....” Sentuhan lembut tangan bu Lia dibahunya mengagetkan Karina.

“Eeee... ii.... iya mi...” Karina tergagap.

“Makan dulu ya.... nanti kita bicara.”

Karina makan dalam diam, akhirnya setelah beberapa suap, dia menghentikan makannya.

“Ayo dong dihabisin, mukamu pucat lho....” Kata bu Lia lagi.

“Udah cukup mi...” Karina menggelengkan kepalanya.

“Ya sudah.... kalau begitu habisin susunya ya....”

Setelah semua menyelesaikan sarapannya, kemudian bergeser duduk di ruang keluarga.

“Sekarang kamu gimana Karin.... sudah merasa lebih lega?” Tanya bu Lia. Karina hanya menundukkan kepalanya. Air mata mulai menetes. Bu Lia mendekati Karina dan duduk di sebelahnya sambil memeluk bahu Karina.

“Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan Karin...” Pak Rudy mulai bicara dengan suara lembut.

“Pi.... Karin pengen pergi yang jauh..... tapi nggak tahu harus kemana. Kalau Karin pulang ke rumah nenek, Karin nggak mau membuat nenek sedih. Apalagi belum lama ibu meninggal....” Kembali Karina tersedu-sedu karena teringat orang tuanya. Suasana menjadi hening, hanya terdengar isakan Karina. Tak lama terdengar pak Rudy menarik nafas panjang, kemudian mengembuskan pelan-pelan.

“Apa kamu yakin akan pergi yang jauh Karin?” Tanya pak Rudy lagi. Karin mengangkat kepalanya, memandang

pak Rudy dan bu Lia bergantian. Sementara Rossa memandangi wajah Karina dengan tatapan sedih.

“Karin yakin pi.... Karin lelah....”Jawab Karina pelan.

“Baiklah.... gimana kalau kamu ke Perth bareng Rossa. Kamu bisa kuliah di sana. Soal biaya tidak usah kamu pikirkan. Dari dulu kami sudah tawarkan agar kamu kuliah bareng Rossa, tetapi ayah ibumu keberatan.”

Karina tidak menjawab, hanya menoleh memandang wajah bu Lia, dan bu Lia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Pi.... Karin ada uang peninggalan orang tua hasil penjualan rumah, itu bisa untuk biaya kuliah.” Jawab Karina pelan.

“Karin.... kamu juga anak papi dan mami, jadi uang itu biar kamu simpan saja. Siapa tahu suatu saat kamu perlukan. Kamu nggak usah mikir macam-macam kalau memang berniat pergi jauh,  konsentrasi belajar saja.”

Karina sangat terharu, begitu besar perhatian keluarga Rossa pada dirinya. Padahal dia hanya dari keluarga yang sangat sederhana,  berbeda jauh denga keluarga Rossa yang memiliki segalanya. Akhirnya Karina menerima tawanan orang tua Rossa.

“Besok papi akan suruh orang untuk mengurus dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Papi minta rahasiakan semua ini, jangan sampai ada yang tahu kecuali kita. Papi tidak enak, karena mertuamu teman bisnis papi, dan kami punya hubungan baik. Jadi kamu jangan kemana-mana sebelum berangkat dengan Rossa. Matikan ponsel selama masih di sini, setelah sampai Perth ganti nomor. Soal tempat kuliah, biar Rian yang urus, untuk jurusan terserah kamu mau pilih apa. Gimana Karin..?”

“Iya pi.... Karin ikut saja. Terima kasih banyak untuk papi dan mami sudah sangat perhatian sama Karin. Karin tidak tahu lagi harus kemana kalau tidak ada keluarga di sini.” Kembali Karina terhisak.

“Sudah sayang.... Kita ini keluarga, jadi kamu kalau ada apa-apa bilang aja sama mami ya....”

******

Hai.... up lagi ya.... Tadi ada gangguan sinyal, jadi pending dech

Jangan bosan-bosan ya....

Dukung terus dengan vote, like & komen....

Tetap smangat....💪💪💪

1
Runik Runma
nah lo
Runik Runma
GTU donk
Runik Runma
ciee ada yang cemburu
Runik Runma
minggat aja karin
Endah Ing
ya ampun Chris masih kepikiran jadi pebinor? apa kabar dgn karismamu, yg katanya tdk mampu ditolak kaum hawa? malu-maluin tau
Endah Ing
makanya jgn suka cari tau berlebih, bisa stroke ringan, migrain berkepanjangan nnt Chris /Facepalm/
Endah Ing
tersisa setelah dicampakkan selingkuhanmu. itu bukan rasa yg masih tersisa tapi rasa yg kamu oker-oker
SisAzalea
karya bagus
Amarantha Chitoz
sedihhhh/Sob//Sob//Sob/
Amarantha Chitoz
makasiiiihhhh
Amarantha Chitoz
ayo gassss
Amarantha Chitoz
ayooooo
Amarantha Chitoz
lanjuuutttt
Amarantha Chitoz
lanjuuuttt
Amarantha Chitoz
lanjuuuttttt
Amarantha Chitoz
legaaaaaw
Amarantha Chitoz
bahagia & sehat selalu
Amarantha Chitoz
selamat el
Amarantha Chitoz
ayo smangat....
Amarantha Chitoz
sehat trs ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!