Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeda
Brak.
Nevran tiba-tiba menarik pergelangan tangan Brielle tepat di tengah koridor sekolah.
“WOI!” Brielle hampir terseret. “Nevran lepasin!”
Namun cowok itu terus berjalan tanpa peduli tatapan orang-orang sekitar. Langkahnya cepat. Rahangnya mengeras. Dan genggamannya erat sampai Brielle sedikit kesakitan.
“El! Elvaro!” Brielle sempat menoleh panik.
Namun Nevran mendadak berhenti. Lalu menatap Brielle datar. “Panggil lagi.”
Deg. Tatapan itu… gelap.
Brielle langsung menutup mulutnya kesal. “Lo tuh nyebelin banget!”
Nevran kembali berjalan. Dan beberapa detik kemudian—ceklek. Pintu UKS terbuka kasar. Brielle langsung didorong masuk.
“Nah kan gila!”
Namun Nevran malah duduk santai di ranjang UKS sambil menatap Brielle. Dingin.
“Apa?” sebal Brielle.
“Obatin.”
“Hah?”
Nevran menunjuk sudut bibirnya yang sedikit berdarah. “Lo yang nampar.”
Brielle langsung mendelik. “Lo juga yang mulai!”
“Obatin.”
“Nggak mau.”
“Nanti gua bilang guru lo nyium gua duluan.”
“NEVRAN!”
Cowok itu menyandarkan tubuh santai. Tatapannya jelas menang. Dan sialnya—Brielle tahu Nevran benar-benar bisa ngomong begitu tanpa rasa malu.
“Dasar iblis…” Dengan kesal Brielle mengambil kotak P3K. Lalu berdiri di depan Nevran sambil membuka kapas dan obat luka.
Hening. Suasana UKS terasa aneh. Apalagi Nevran terus menatap Brielle tanpa berkedip. Dan itu bikin Brielle gugup sendiri.
“Jangan natap gue kayak orang mau ngebunuh.”
“Nggak.”
“Terus?”
“…suka aja.”
Deg. Tangan Brielle langsung berhenti sebentar.
“Lo kalau ngomong suka-suka gitu gak usah datar bisa gak sih?”
Nevran terkekeh kecil. Dan sialnya—cowok itu ganteng banget saat ketawa tipis begitu. Brielle buru-buru mengalihkan pandangan. Lalu menempelkan kapas ke sudut bibir Nevran agak kasar.
“Aw.”
“Rasain.”
Namun Nevran malah menarik pergelangan tangan Brielle pelan. “Putusin si brengsek itu.”
Deg. Brielle langsung menatap Nevran tak percaya. “Apaan sih?”
“Elvaro.”
“Gue punya nama buat pacar gue, kali.”
Nevran mendecih kecil. “Putusin.”
“Enak aja!”
“Dia gak cocok buat lo.”
Brielle langsung tertawa sinis. “Oh iya? Emang lo cocok?”
Hening. Nevran menatap Brielle lama. Sangat lama. Lalu—
“Lebih cocok.”
Deg. Jantung Brielle langsung berdetak aneh.
“Lo percaya diri banget.”
“Nggak.” Tatapan Nevran turun ke tangan Brielle yang masih dipegangnya. “…gua cuma yakin.”
Dan entah kenapa—kalimat itu bikin Brielle sulit membalas. Karena cara Nevran mengatakannya seperti seseorang yang benar-benar serius.
---
Satu jam kemudian—harusnya mereka masuk kelas. Namun nyatanya Brielle malah sedang berdiri kesal di parkiran sekolah.
“Nevran gue gak mau bolos!”
“Males kelas.”
“Ya jangan ngajak gue!”
Nevran membuka pintu mobilnya santai. “Masuk.”
“Nggak.”
“Masuk.”
“GAK.”
Hening. Lalu tiba-tiba—
“WOI ANJIR!”
Nevran langsung mengangkat tubuh Brielle begitu saja.
“Turunin gue!” Brielle mukul-mukul bahu cowok itu brutal. Namun Nevran tetap santai memasukkan Brielle ke kursi depan mobilnya.
Brak. Pintu terkunci.
“Nevran Garendra!”
Cowok itu masuk dari sisi satunya. Memasang seatbelt. Lalu menatap Brielle datar. “Kalau berisik lagi…” Ia menunjuk seatbelt Brielle. “…gua pasangin.”
Brielle langsung diam. “Najis banget ancaman lo.”
---
Mobil hitam itu akhirnya melaju meninggalkan sekolah. Awalnya Brielle masih ngambek. Namun perlahan, pemandangan di luar jendela membuat emosinya mereda. Jalanan kota mulai hilang. Digantikan pepohonan tinggi. Udara sejuk. Dan suara air.
Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah tempat yang sangat indah. Danau kecil tersembunyi di tengah perbukitan. Airnya jernih. Angin dingin berhembus pelan. Bahkan suara kota tak terdengar sama sekali.
Deg. Brielle turun perlahan. Matanya membesar kagum. “…Cantik.”
Nevran bersandar di mobil sambil menatap Brielle. “Lumayan.”
“Gak nyangka cowok trouble maker kayak lo tau tempat beginian juga.”
“Nemu pas kabur.”
Brielle langsung melirik. “Kabur?”
“Dari rumah.”
Brielle refleks ketawa. “Anjir lucu banget lo ngomong normal aja susah.”
Nevran mendelik tipis. “Brielle.”
“Iya iya maaf.”
Mereka akhirnya duduk di atas rumput dekat danau. Untuk pertama kalinya—tak ada teriakan. Tak ada pertengkaran besar. Cuma suara angin. Dan percakapan kecil yang anehnya terasa nyaman.
“Lo sering ke sini?” tanya Brielle pelan.
“Hm.”
“Sendiri?”
Nevran mengangguk kecil.
“Sepi dong.”
“Suka sepi.”
Brielle menatap Nevran beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. “Pantes lo aneh.”
Nevran malah terkekeh kecil. Dan jujur—Brielle mulai sadar. Cowok ini sebenarnya tidak sedingin yang semua orang pikirkan. Dia cuma… tidak terbiasa ditemani.
Angin kembali berhembus pelan. Rambut Brielle sedikit berantakan. Dan tanpa sadar—Nevran merapikan helai rambut gadis itu perlahan. Gerakannya lembut. Hati-hati.
Deg. Brielle langsung diam. Jantungnya kembali aneh.
Sedangkan Nevran menatap danau di depan mereka. Lalu berkata pelan—
“Bri…”
“Hm?”
“Lo pernah mikir gak…” Tatapannya perlahan beralih ke Brielle. Dalam. Tenang. Namun entah kenapa terasa menyakitkan. “…hubungan kita ini akhirnya bakal gimana?”
Deg.
Dan pertanyaan itu berhasil menghantam Brielle jauh lebih keras daripada semua pertengkaran mereka sebelumnya.
---
Bersambung
bantu support juga yaa😇