Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Keesokan paginya.
"Apa kau sudah melaksanakan apa yang saya perintahkan?." Lexi bertanya pada asisten pribadinya. Kini mereka sedang berada diperjalanan menuju perusahaannya. Perusahaan yang sudah beberapa hari terakhir diambil alih langsung oleh Lexi sebagai pemilik dari perusahaan yang bergerak dibidang properti tersebut. Perusahaan properti hanyalah salah satu dari beberapa bisnis yang dimiliki oleh seorang Lexiano Fernandez ditanah air, karena faktanya pria itu masih memiliki beberapa bisnis lainnya, termasuk sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di ibukota yang hingga detik ini masih dipimpin oleh sahabat baiknya sebagai Dirut.
"Saya sudah melaksanakannya sesuai dengan instruksi dari anda, tuan."
"Bagus." Balas Lexi seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku mobil.
Obrolan Lexi dan asisten pribadinya otomatis berakhir setibanya di perusahaan.
Seperti beberapa hari sebelumnya, kedatangan Lexi pagi ini kembali menjadi pusat perhatian bagi para pegawainya, terutama para kaum hawa. Tentu saja semua itu karena sosoknya yang tampan, gagah dan juga berwibawa. Tak sedikit dari pegawainya berharap bisa meluluhkan hati sang bos, mengingat hingga detik ini seorang Lexiano Fernandez belum juga menikah meskipun usianya telah genap dua puluh delapan tahun.
*
Apa yang dikhawatirkan oleh Zira akhirnya kejadian juga, setibanya di rumah sakit satu persatu rekan sejawatnya terutama yang bertugas di ruangan yang sama dengannya langsung menanyakan tentang kebenaran dari statement tuan Fernandez dalam sebuah video pendek yang saat ini menjadi trending topik di berbagai media online.
"Apa benar hubungan dokter Zira dan tuan Leonardo Fernandez telah berakhir? Kalau memang benar, apa nggak sayang, mengingat tuan Leonardo adalah tipikal pria idaman bagi hampir semua wanita di dunia ini." Tampan dan juga mapan serta pengertian, bukankah tipikal pria seperti itu merupakan idaman semua wanita di dunia ini.
"Apa tuan Leon ketahuan selingkuh, dok?." Tebak rekannya yang lainnya.
"Tidak. Leonardo Fernandez adalah pria yang setia. Saya justru sangat bersyukur karena Tuhan pernah mempertemukan kami, meskipun pada akhirnya kami tidak berjodoh." Zira akhirnya menjawab.
"Kalau memang bukan karena orang ketiga, lalu apa yang menyebabkan kandasnya hubungan dokter Zira bersama tuan Leon?." Satu pertanyaan terjawab, maka akan muncul pertanyaan lainnya, dan itu fakta hingga membuat Zira lelah sendiri untuk menjawabnya.
"Yang jelas kandasnya hubungan kami tidak ada hubungannya dengan orang ketiga, baik dari pihak saya maupun dari pihak Leonardo Fernandez. Kandasnya hubungan kami dikarenakan tidak berjodoh, itu saja." Jawab Zira. Untungnya tak lama kemudian ada pasien yang baru saja tiba di ruangan IGD sehingga Zira terselamatkan dari pertanyaan yang mungkin masih akan lebih banyak lagi.
"Halah.... paling juga karena si dokter Zira yang tidak puas dengan satu pria makanya selingkuh dan pada akhirnya ketahuan hingga dicampakkan begitu saja oleh tuan Leonardo Fernandez." Komentar dari salah seorang dokter yang terkenal kurang suka padanya, masih dapat didengar oleh Zira, namun Zira berpura-pura tak mendengarnya. Tak perlu memberikan penjelasan apapun pada orang-orang yang tidak menyukaimu karena hal itu tidak akan merubah perspektif mereka terhadap dirimu, begitu pikir Zira hingga memutuskan berlalu begitu saja.
Setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaannya, kini waktunya untuk berganti shift. Zira bersiap untuk meninggalkan rumah sakit.
Di depan gerbang rumah sakit, Zira melihat keberadaan mobil mewah yang sangat mirip dengan mobil mewah milik Lexi. Rupanya bukan mirip, tetapi mobil mewah tersebut memanglah milik Lexi. Buktinya pria itu nampak turun dari mobil tersebut.
Zira bersikap seolah tak mengenal pria itu dan berlalu begitu saja. Akan tetapi Lexi tak tinggal diam, pria itu mencekat lengan Zira dan meminta wanita itu masuk ke mobilnya.
"Masuk ke mobil!."
Tanpa menjawab, Zira melayangkan tatapan tajam pada pria itu.
"Aku tidak berniat buruk, aku hanya ingin mengembalikan koper mu yang ketinggalan di bagasi mobilku."
"Aku akan mengantarmu pulang, lagian tidak baik jika orang-orang melihatmu menyeret koper besar di sini. Bisa-bisanya mereka akan tahu jika kenyataannya kamu diusir dari rumah."
Deg.
Dalam hati, Zira membenarkan ucapan Lexi. Kini situasi dilingkungan kerjanya sedang dihebohkan dengan berita tentang kandasnya hubungan antara dirinya dan Leon, jika ditambah lagi dengan berita tentang diusir nya ia dari rumah, pasti akan semakin menggiring opini negatif terhadap dirinya.
Zira tak menjawab sepatah katapun, namun wanita itu nampak memasuki mobil Lexi.
Lexi sontak mengitari mobil dan segera menyusul masuk ke mobil. Pria itu sengaja menyetir sendiri tanpa bantuan dari asisten pribadinya.
"Berhenti! Saya akan naik taksi." Sekitar dua ratus meter dari rumah sakit, Zira meminta Lexi menurunkannya di tepi jalan.
Lexi menurut, pria itu menepikan mobilnya.
"Buka pintunya!." Bagaimana Zira bisa keluar jika Lexi mengunci pintu mobilnya.
"Aku akan berusaha menembus kesalahanku di masa lalu." Bukannya membuka pintu mobilnya, Lexi justru melontarkan statement yang mampu menciptakan kerutan halus di dahi Zira.
"Apa maksud anda?."
"Aku akan mengakui kesalahanku di masa lalu."
"Lakukan apapun yang anda inginkan, tapi jangan libatkan saya!. Saya lelah berurusan dengan pria jahat seperti anda." Tekan Zira.
Lexi tak merespon, pria itu hanya diam saja.
"Buka pintunya!."
Setelah pintu dapat dibuka, Zira langsung turun dari mobil Lexi dan tak lupa mengambil kopernya dari bagasi.
Lexi hanya bisa memandangi punggung Zira yang terus menjauh dari pandangannya, tanpa bisa memaksa wanita itu agar bersedia diantar pulang olehnya.
"Kamu pasti sangat membenciku. Tetapi, aku pasti akan merubah kebencianmu itu menjadi cinta. Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku, Azira putri." Gumam Lexi.
*
Saat membuka kan pintu apartemen, Reni melihat keberadaan Zira menyeret koper besar.
"Apa kamu baru saja mengambilnya dari rumah orang tuamu?." Tebak Reni dan Zira menggeleng.
"Lalu?."
"Kemarin koperku ketinggalan di mobil taksi online yang aku tumpangi saat ke sini." Sebenarnya jawaban Zira sedikit tak masuk akal bagi Reni, namun gadis itu mengangguk saja, seolah percaya. Lagipula, mana mungkin sopir taksi online tak langsung menghubungi Zira jika memang kopernya ketinggalan, begitu pikir Reni.
"Permisi..." Salah seorang petugas resepsionis gedung apartemen menghampiri.
"Ada apa, pak?."
"Begini nona, saya diperintahkan oleh pengelola apartemen untuk mengantarkan melihat kondisi di dalam unit apartment yang ada di sebelah unit apartment milik nona Reni." Reni sudah hampir lima tahun menempati apartemennya maka tak heran jika petugas resepsionis digedung apartemen tersebut sudah sangat mengenalnya.
"Kebetulan sekali teman saya yang berencana menyewa unit apartemen itu baru saja kembali, pak." Reni menuding pada Zira yang kebetulan masih berdiri di ambang pintu apartemennya.
Reni dan Zira yang ditemani oleh salah seorang petugas resepsionis digedung tersebut lantas memasuki unit apartemen yang dimaksud.
"Apa benar untuk biaya sewa apartemen ini hanya dihargai dua juta perbulan, pak?." Zira memastikan ucapan Reni semalam.
"Benar, Nona."
Zira lega mendengarnya, setidaknya gajinya masih tersisa tiga juta kalau harga sewa apartemen hanya sebesar dua juta. Untuk dirinya seorang, setidaknya dengan mengirit Zira masih bisa membiayai hidupnya dengan uang senilai tiga juta tersebut.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣