Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terhempas Badai
Pagi itu, ketenangan di depan gerbang pesantren terusik oleh suara raungan mesin mobil sport yang nampak asing di lingkungan yang biasanya hanya diisi oleh suara tadarus. Di teras rumah utama, Najwa sedang duduk di kursi roda, menikmati semilir angin sambil membaca buku doa.
Seorang pria asing berkulit putih dengan rambut pirang yang mencolok melangkah masuk ke halaman rumah. Wajahnya nampak gelisah sekaligus penuh tekad. Begitu sampai di depan pintu, ia tertegun melihat Najwa.
"Kalea... I need to see Kalea," ucap pria itu dengan bahasa Inggris yang kental.
Najwa tersentak. Ia segera mengenali pria ini dari cerita Lea. Ini adalah Tom, kekasih adiknya dari London. "Tom? Wait here," jawab Najwa lembut, meski jantungnya berdebar kencang melihat keberanian pria ini datang ke jantung pesantren.
Najwa memanggil Lea ke ruang tamu. Saat Lea melangkah keluar dan melihat Tom berdiri di ambang pintu, wajahnya memutih bak porselen.
"Tom?! Ngapain kamu di sini?" bisik Lea histeris. Ia melirik kakaknya dengan perasaan takut yang luar biasa.
"Lea, aku nggak bisa biarin kamu di sini terus. Kamu harus balik ke London!" Tom meraih tangan Lea di depan mata Najwa. "Kuliah kamu sudah terbengkalai berbulan-bulan, pekerjaan paruh waktu kamu juga. Semua orang nungguin kamu. Ayo pulang sama aku sekarang."
Lea gemetar. Ia menatap Najwa yang hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kak... izinin gue bicara sebentar sama Tom di teras samping, ya?"
Najwa hanya mengangguk pelan, meski gurat kesedihan terlihat di matanya.
Di teras samping yang terlindung pohon kamboja, Tom melepaskan semua kerinduannya. Ia mencengkeram bahu Lea dengan erat. "Lea, look at me. Why are you acting like this? Ayo kita pergi hari ini juga."
"Aku nggak bisa, Tom. Keadaannya nggak sesederhana itu," Lea terisak.
"Apanya yang nggak sederhana? Kamu cuma butuh ambil koper kamu!" Tom menatap bibir Lea, rasa rindu yang meluap membuatnya kehilangan kendali di tengah lingkungan suci itu. Ia menarik wajah Lea, hendak menciumnya untuk meyakinkan gadis itu agar ikut bersamanya.
"Jangan sentuh istri saya!"
Suara bariton yang dingin dan penuh otoritas itu menggelegar dari arah pintu samping. Gus Malik berdiri di sana dengan jubah hitamnya, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, dan tatapannya setajam belati yang siap menghujam.
Tom tersentak dan melepaskan Lea. Ia menatap Malik dari atas ke bawah dengan bingung. "Wife? What are you talking about? Lea itu adik ipar kamu!"
Malik melangkah maju, memangkas jarak. Auranya begitu mengintimidasi hingga Tom mundur satu langkah. "Dia adalah istri saya yang sah secara agama dan hukum. Jauhkan tanganmu darinya."
Tom terpaku, dunianya seolah runtuh. Ia menatap Lea dengan tatapan tak percaya. "Lea... tell me he's lying. Tell me!"
Lea menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai teras. "Tom... yang dibilang Gus Malik benar. Aku... aku sudah menikah."
Wajah Tom berubah dari bingung menjadi penuh amarah dan kekecewaan. "Kamu mengkhianati aku? Demi dia? Demi suami kakak kamu sendiri? You’re sick, Lea!"
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Tom berbalik dan berlari menuju mobilnya. Suara derit ban yang bergesekan dengan aspal menandakan kepergian Tom yang penuh luka, meninggalkan Lea yang hancur berantakan.
Kemarahan Lea meledak seketika. Ia berbalik dan menatap Malik dengan mata yang menyala karena kebencian.
"KENAPA LO BICARA TENTANG ITU SEKARANG?!" teriak Lea keras, suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.
Malik tetap berdiri kaku. "Pria itu hampir menciummu di rumah saya, Kalea. Saya tidak punya pilihan."
"GUE SUDAH BILANG TUTUPI STATUS PERNIKAHAN KITA!" Lea melangkah maju, menekankan setiap kata dengan nada tinggi. "Lo egois, Gus! Lo cuma peduli sama harga diri lo! Sekarang hidup gue hancur! Tom pergi karena lo!"
Suara teriakan Lea begitu keras hingga Najwa dan Ibu mertua yang berada di ruang tengah berlari kecil Najwa dengan kursi rodanya menuju teras samping. Mereka terpaku mendengar pengakuan Lea yang begitu kasar dan terbuka tentang "status pernikahan" yang selama ini disembunyikan dari publik pesantren.
"Lea..." Najwa memanggil dengan suara bergetar.
Lea menoleh ke arah kakaknya dan Ibu mertuanya dengan wajah penuh air mata dan kemarahan yang meluap. Tanpa sepatah kata maaf, tanpa menoleh lagi pada Malik, Lea menyambar tasnya yang tergeletak di kursi teras.
"Gue benci tempat ini! Gue benci kalian semua!"
Lea berlari menuju gerbang pesantren, mengabaikan panggilan Najwa yang pilu. Ia terus berlari keluar, meninggalkan rumah utama, meninggalkan statusnya, dan meninggalkan suaminya yang hanya bisa berdiri mematung menatap kepergiannya dengan hati yang remuk redam. Di belakang, Najwa menangis di pelukan Ibu mertuanya, menyadari bahwa benang yang ia coba jalin kini telah putus sepenuhnya.