NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom / Tamat
Popularitas:36.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontraksi

Pagi itu, suasana rumah kembali sibuk namun terbiasa. Yusuf sudah berpakaian rapi mengenakan kemeja kerja, tas kerjanya tersampir di bahu, bersiap untuk kembali bertugas ke luar kota selama beberapa hari. Ia sudah berpamitan dengan Pak Harun, serta mencium tangan Bu Aminah. Nora pun sudah berangkat lebih awal ke Rumah Sakit, jadwal praktek dan jaga pagi membuatnya harus bergegas sejak matahari baru saja terbit.

Sebelum melangkah keluar pintu, Yusuf teringat sesuatu. Ia belum menitipkan pesan pada Siti. Sejak kejadian sore kemarin, rasa perhatian dan tanggung jawabnya pada wanita muda itu makin terasa dalam. Ia berjalan menuju ruang tengah tempat Siti biasa duduk, berniat menyampaikan pesan pamitan sekaligus mengingatkan agar wanita itu berhati-hati menjaga diri dan kandungannya selama ia pergi.

Langkah kakinya terhenti tepat di ambang pintu ruangan.

Di sana, Siti duduk bersandar lemah di bangku panjang. Wajahnya yang pucat kini semakin kehilangan warna, keningnya basah oleh keringat dingin yang menetes deras, dan bibirnya terkatup rapat menahan erangan. Kedua tangannya mencengkeram kuat pinggiran meja di sampingnya, sementara badannya menegang hebat, membungkuk sedikit seolah menahan beban yang sangat berat di perutnya.

"Siti?" panggil Yusuf pelan, niatnya untuk berpamitan seketika hilang lenyap tergantikan rasa cemas yang melonjak naik. Ia segera mendekat, melupakan tas dan koper yang tadi ia bawa.

Siti mencoba menoleh, tapi rasa nyeri yang menjalar kencang dari perut hingga pinggang membuat matanya terpejam erat. "Ma... Mas Yusuf..." suaranya terdengar parau dan tertahan, bergetar hebat. "Pe... perutku... sakit sekali. Rasanya seperti ditarik-tarik, dipencet keras..."

Yusuf langsung berjongkok di sampingnya, tangannya sigap menyanggah bahu Siti agar tidak terlalu membungkuk. Ia meletakkan telapak tangannya lebar-lebar di atas perut besar Siti yang kini terasa sangat keras dan tegang, jauh lebih kencang dari biasanya. Sebagai suami yang kini sudah banyak belajar soal kehamilan, dan juga sering mendengar penjelasan Nora, Yusuf paham betul tanda itu. Ini bukan sekadar sakit perut biasa atau pegal biasa. Ini kontraksi. Dan mengingat usia kandungan Siti yang sudah sembilan bulan lebih, ini tanda yang tak bisa dianggap sepele.

"Kapan mulai sakitnya, Siti? Apakah teratur datangnya?" tanya Yusuf dengan nada tegas namun tetap lembut, matanya menatap tajam mencari kebenaran dari raut wajah wanita itu.

"Be... baru sekitar sepuluh menit yang lalu, Mas. Ta... tapi sakitnya makin sering, makin keras... Aduuhh..." Siti kembali mengerang panjang saat rasa nyeri itu datang lagi, badannya menggigil menahan sakit.

Di sudut ruangan, Bu Aminah yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan mendengar keributan dan suara erangan itu. Ia bergegas mendekat, wajahnya langsung berubah khawatir saat melihat kondisi menantu mudanya itu. Ia segera meraba kening Siti yang dingin dan memeriksa posisi perutnya sekenanya dengan pengalaman seorang ibu yang pernah melahirkan.

Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya menatap Yusuf dengan sorot mata yang serius dan penuh kepastian.

"Yusuf, batal dulu keberangkatanmu. Kamu harus antar Siti ke Rumah Sakit sekarang juga," ucap Bu Aminah tegas, tak ada tawar-menawar di sana.

"Tapi Ma... tugasku itu mendadak dan penting, mereka sudah menunggu di kantor," jawab Yusuf ragu, meski hatinya sudah condong sepenuhnya untuk tetap di sini.

"Penting mana pekerjaanmu sama keselamatan ibu dan bayi ini?!" potong Bu Aminah cepat, suaranya sedikit meninggi namun tetap lembut karena panik. Matanya menatap tajam anaknya. "Ini sudah waktunya, Yusuf. Lihat kondisinya! Air ketubannya mungkin belum pecah, tapi kontraksinya sudah kuat dan teratur. Ini bukan sakit biasa. Nora kan sedang bertugas di RS, kalau ada apa-apa kamu di sana bisa bantu mengurus. Kalau kamu pergi siapa lagi yang bawa dia selain kamu? Papa dan mama sudah tua, mana sanggup bawa-bawa dia yang berat begini. Siti butuh suaminya di sampingnya saat ini."

Kalimat itu menohok hati Yusuf. Ia menatap wajah Siti yang terlihat begitu menderita dan tak berdaya. Di mata wanita itu, Yusuf melihat ketakutan, namun juga harapan. Harapan bahwa lelaki inilah yang akan membawanya melewati momen paling berat dalam hidupnya. Yusuf sadar, Mama benar sepenuhnya. Tugasnya bisa diwakilkan, bisa diundur, tapi nyawa dua manusia yang ada di hadapannya ini tak boleh ditawar lagi keselamatannya.

Tanpa pikir panjang lagi, Yusuf langsung bangkit berdiri. Ia meletakkan kembali tas kerjanya ke sudut ruangan dengan kasar, seolah melempar jauh segala urusan pekerjaan yang sempat menjadi prioritasnya tadi pagi.

"Baik, Ma. Aku urungkan keberangkatan. Aku antar Siti sekarang juga," jawab Yusuf tegas. Ia kembali menatap Siti, kali ini dengan senyum menenangkan, berusaha mengusir rasa takut di mata wanita itu. "Sudah ya, jangan takut. Mas ada di sini. Mas nggak pergi. Mas akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang. Pegang erat bahu Mas, ya."

Yusuf bergerak cekatan. Ia membiarkan Siti memeluk lehernya erat, lalu mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati namun sigap. Beban tubuh Siti yang bertambah besar tak menjadi halangan bagi Yusuf, tekadnya untuk melindungi jauh lebih berat beban rasanya.

"Papa! Bantu ambilkan tas perlengkapan Siti di kamar, yang sudah disiapkan di samping lemari!" seru Bu Aminah memanggil suaminya yang baru keluar dari kamar mandi. Pak Harun langsung berlalu masuk ke kamar Siti, paham betul urgensi saat ini.

Tak berselang lama, Pak Harun keluar membawa tas berisi baju ganti, berkas-berkas, dan perlengkapan bayi yang memang sudah lama disiapkan berjaga-jaga. Bu Aminah sendiri berjalan di samping Yusuf, menuntun langkah anaknya agar tak terganggu saat membawa Siti menuju mobil.

Di dalam gendongan Yusuf, Siti menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. Rasa sakit di perutnya masih ada, bahkan makin menjadi-jadi, tapi rasa aman yang ia dapatkan dari dekapannya Yusuf perlahan mengalahkan rasa takutnya. Air matanya menetes membasahi kemeja kerja Yusuf yang rapi itu. Ada rasa haru, ada rasa sakit, dan ada rasa bahagia yang bercampur aduk.

Masih ada waktu sedikit lagi baginya bersama lelaki ini. Masih ada momen berharga sebelum ia harus berpisah nanti.

"Sa... sakit sekali, Mas..." rintihnya pelan, tangannya meremas kemeja Yusuf kuat-kuat saat kontraksi berikutnya datang lebih hebat dari sebelumnya.

"Tahan sedikit lagi, Sayang. Kita sebentar lagi sampai. Nora ada di sana, para dokter ada di sana. Kamu pasti kuat, kamu wanita hebat," bisik Yusuf di telinganya, suaranya rendah namun begitu menenangkan. Jiwa kasih sayangnya keluar. Tak sadar ia telah mengucapkan kata 'sayang'. Ia memeluk Siti makin erat, seolah berjanji takkan membiarkan wanita itu jatuh atau terluka sedikit pun.

Bu Aminah duduk di kursi belakang mobil, menopang tubuh Siti agar lebih nyaman, sementara Pak Harun duduk di sebelah Yusuf yang kini sudah menyetir mobil melaju cepat namun tetap hati-hati menuju Rumah Sakit tempat Nora bertugas.

Di sepanjang perjalanan, Siti terus merintih pelan, napasnya memburu berusaha mengatur ritme pernapasan seperti yang pernah diajarkan Nora padanya. Yusuf menyetir dengan fokus penuh, sesekali melirik ke kaca spion, hatinya berdebar cemas bercampur rasa tanggung jawab besar. Ia bersyukur mendengarkan nasihat ibunya. Andai saja ia sudah berangkat, andai saja ia tidak melihat kondisi Siti tadi, mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya.

Di belakang, Bu Aminah mengusap punggung Siti pelan sambil berbisik doa-doa. Wanita itu tersenyum lega dalam hati. Ia tahu, keputusan Yusuf untuk membatalkan perjalanan itu bukan hanya demi tugas dan kewajiban, tapi juga karena hatinya sudah perlahan menerima keberadaan Siti sebagai bagian yang harus dijaga, meski rumit dan sementara.

Mobil itu membelah jalanan kota, membawa Siti yang mulai merasakan gelombang kelahiran pertamanya, membawa Yusuf yang memutuskan tinggal demi tanggung jawab dan hati nurani, dan membawa mereka semua menuju babak baru yang akan mengubah segalanya selamanya.

Bersambung....

1
Evy
Biasanya kalo hamil anak pertama itu gak terlalu kerasa lagi hamil...badan ringan gak terasa berat...
Dew666
Siti ngelunjak deh, knp pd kasian sm siti knp pd salahin Nora, pdhl Nora paling tersakiti di sini
itin
artinya yusuf dan siti secara tidak langsung berkhianat. memunculkan cinta dan perasaan dalam hubungan yang jelas krn sebuah kesalahan ketidaksengajaan.

ini cerita membenarkan sikap siti sebagai madu sekaligus duri dalam daging dalam rumahtangga nora dan yusif 😄🤣 (alias pelakor yang sah) haha
itin
benarkan... sifat manusia.... iya katanya... kemudian tidak.... karna sudah sesuai kesepakatan dan disetujui bersama sama sama tidak adil posisinya untuk nora dan siti. dan secara naluriah memang sepatutnya hubungan suami istri putus supaya sama bisa menjalani kehidupannya dengan damai. status anak tetaplah anak. tak ada mantan anak
itin
sejak awal sudah tau dan pasrah bahkan siap memisahkan diri. tapi begitu dipisahkan justru kembali mempertanyakan takdir kehidupannya pada sang khalik. itulah manusia setiap detiknya punha ketetapan yg berubah ubah sesuai situasi dan kondisi
itin
mari kita mulai baca 😍
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
akhirnya Heppy ending kisahnya 😍
Suanti
yusuf sebelum menikah sm siti. yusuf harus bilang dulu sm haikal biar haikal tak salah paham dan menerima siti sebagai ibu sambung nya
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
tenang Siti Yusuf sudah terbebas dari ikatan perkawinan dengan nora sekarang
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
Nora tinggal dekat rumah mantan suami biar bisa dekat sama anaknya , tapi kalau tahu Yusuf nikah kembali sama Siti semoga nora tidak punya perasaan dendam sama Siti
Naufal Affiq
nikah aja yusuf sama siti,terus terang kalau kau sama naura sudah cerai,jangan diam aja
Suanti
yusuf jujur lah ke siti bahwa sdh cerai sm nora biar siti tenang dengar nya biar siti mau kembali lgi sm mu tinggal bersama mu dan haikal🤣🤣🤣
Tri Hastuti
akhirnya bercerai dg nora,, saatnya membentuk klrga kcl dg siti ma daffa
Naufal Affiq
pisah pada akhirnya kamu yusuf
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
lanjut lagi kak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
akhirnya jalan untuk bersama terbuka pelan pelan , menuju babak baru selanjutnya 😁
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋Riᷯsͧkᷜyͥ🆁🅰🅹🅰❀∂я
msh jga Nora egois,shrsny dia kshan SMA Siti,
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋Riᷯsͧkᷜyͥ🆁🅰🅹🅰❀∂я
critany mntap kk,poligami,smngat ykk
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋Riᷯsͧkᷜyͥ🆁🅰🅹🅰❀∂я
Nora egois gktulungan
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋Riᷯsͧkᷜyͥ🆁🅰🅹🅰❀∂я
srba slah smua kyany SMA snora ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!