NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pertarungan Uji Nyali

Tembangi Mendayu adalah tipe gadis yang tidak suka berdiam diri. Seperti saat itu, ia melempari sebuah batang pohon kecil dengan kerikil-kerikil yang ia pungut di sekitarnya.

Sementara kakaknya, Gadis Cadar Maut, asik berbincang-bincang dengan Gujara.

Senja mulai menuju gelap, tapi Joko Tingkir dan Parsuto belum juga kembali membawa kayu bakar untuk api unggun.

Tembangi Mendayu melirik kepada Joko Tenang yang asik tiduran di rerumputan.

“Biar kujajal kehebatan pemuda berbibir perempuan itu,” membatin Tembangi.

Ia lalu berdiri dan melempar Joko dengan kerikil. Batu kecil itu mengenai perut Joko, membuat pemuda tampan berambut gondrong itu terkejut. Kepala dan tubuh atasnya terangkat sedikit untuk melihat siapa yang melemparnya.

Joko melihat Tembangi berjalan kepadanya.

“Mau apa dia?” tanya Joko agak panik sambil buru-buru bangun berdiri.

Sambil berjalan mendekat, Tembangi melempar kembali sebutir kerikil kepada Joko. Lemparan itu tidak bermaksud melukai. Joko menangkapnya.

“Ayo kita bertarung!” ajak Tembangi.

“Hahaha! Tidak perlu, tidak perlu,” kata Joko seraya mundur beberapa tindak sambil tertawa kecil.

“Hitung-hitung latihan. Aku suntuk tidak berbuat apa-apa,” ujar Tembangi sambil berjalan lebih mendekati Joko.

“Lebih baik kau latihan dengan Tingkir, sahabatku yang kau terjang tadi,” kata Joko sambil kembali mundur, menjaga jarak dengan Tembangi.

Tindakan Joko yang terus melangkah mundur menjaga jarak darinya, membuat Tembangi Mendayu kerutkan kening, merasa heran.

“Dia itu tidak ada apa-apanya bagiku!” kata Tembangi, lalu tiba-tiba berlari maju kepada Joko.

Joko jadi terkejut. Ia langsung saja melompat mundur sejauh beberapa tombak. Cara lompat Joko yang sempurna di usia semuda itu jelas menunjukkan Joko adalah pendekar muda yang mahir.

“Hei! Kenapa kau menjaga jarak dariku?!” teriak Tembangi membentak Joko, matanya mendelik marah yang membuat kecantikannya kian mempesona di dalam cahaya senja yang sudah tidak bermatahari.

Teriakan Tembangi itu menarik perhatian kakaknya dan Gujara. Keduanya sementara hanya memandang apa yang kedua pemuda itu lakukan.

Tembangi lalu mengendus bau di bawah ketiaknya, tapi aroma keringatnya tidak masalah, justru wewangian yang dipakainya masih tercium jelas.

“Memangnya aku bau keringat, hah?!” bentak Tembangi lagi.

“Tidak, hanya saja....” jawab Joko agak gugup.

“Hanya saja apa?!” Tembangi masih membentak.

“Aku tidak suka dekat-dekat dengan perempuan. Kalau kau dekat denganku, nanti kau ternoda,” kata Joko, sedikit salah tingkah.

“Hahaha!”

Orang yang tertawa mendengar kata-kata Joko adalah Gadis Cadar Maut dan Gujara. Sementara Tembangi dibuat kian kesal.

“Apa maksud perkataan anak didikmu itu, Gujara?” tanya Cadar Maut.

“Joko ada sedikit masalah dengan perempuan, tapi ucapannya itu tidak bermaksud buruk kepada adikmu. Dia itu murid Ki Ageng Kunsa Pari,” kata Gujara.

“Hah!” pekik Cadar Maut terkejut. “Ki Ageng Kunsa Pari punya murid?”

“Faktanya seperti itu,” kata Gujara.

“Apakah benar dia tidak mau melawan adikku?” tanya Cadar Maut saat melihat Joko berlari kabur saat Tembangi melompat menerjang.

“Hei! Jangan lari seperti perempuan!” teriak Tembangi sambil berlari mengejar Joko.

Tembangi mengerahkan ilmu peringan tubuhnya dengan berkelebat di udara. Tembangi turun tepat di depan Joko yang berlari. Hadangan itu langsung disusulkan serangan kepada Joko.

Joko yang terkejut dengan hadangan itu, dengan buru-buru mengelaki setiap serangan tangan dan kaki Tembangi. Gadis cantik itu dapat melihat wajah Joko yang terlihat panik dan berselimut keringat dingin.

“Kena, kau!” seru Tembangi saat satu cengekeraman tangannya menusuk cepat ke arah wajah Joko yang kelabakan mengatasi serangan sengitnya.

“Hah!” pekik Joko sambil mau tidak mau ia harus menepis tangan Tembangi di depan wajah. Saat yang sama ia melompat mundur membuang tubuhnya begitu saja.

Joko tidak mendarat dengan mulus, tapi tepatnya disebut terjengkang.

Tembangi berhenti sejenak dan fokus memandang Joko yang terduduk seraya meringis. Joko meringis bukan karena menahan rasa sakit, tapi karena perasaannya tiba-tiba melemah. Detak jantungnya begitu cepat dan napasnya tidak teratur, tersengal-sengal.

“Heran, padahal tidak ada seranganku yang bisa membuatnya cedera,” pikir Tembangi. Lalu katanya kepada Joko, “Hei! Bukankah kita belum bertarung, tapi kenapa kau sudah kesakitan seperti itu?”

“Cukup, jangan teruskan,” kata Joko tersengal-sengal sambil angkat tangannya memberi isyarat kepada gadis itu agar berhenti.

“Aku tidak akan berhenti, karena kau hanya berpura-pura!” tukas Tembangi.

“Hai, Pendekar!” panggil seorang asing tiba-tiba dari samping kepada Joko.

Joko seketika berpaling ke samping kanan, memandang orang yang memanggilnya. Setombak di samping kanannya telah duduk seorang pria dewasa nan tampan berbaju biru bagus. Pria berambut gondrong sebahu itu memelihara kumis tipis. Dari pakaiannya saja seolah menunjukkan kedudukannya yang bagus di masyarakat. Pria itu tidak lain adalah Raja Anjas Perjana Langit.

Namun, pandangan Joko ke samping justru membuat Tembangi tidak habis pikir. Sebab, ia melihat Joko memandang ke tempat kosong. Memang, keberadaan Raja Anjas tidak terlihat oleh mata Tembangi.

Termasuk Gadis Cadar Langit dan Gujara, keduanya juga tidak melihat keberadaan Raja Anjas yang duduk tidak jauh di sisi kanan Joko.

“Jika kau menuruti dorongan pikiranmu, maka kau tidak akan bisa melindungi dunia ini dari berbagai kejahatan. Karena, dunia hitam juga ramai dilakoni oleh para wanita berhati jahat, Pendekar,” ujar Raja Anjas kepada Joko. “Cobalah kau berpikir bahwa dekat dengan wanita tidak sedikit pun berpengaruh pada dirimu, terutama keberanianmu. Buang jauh-jauh pikiran takut terhadap wanita itu.”

“Siapakah Paman adanya?” tanya Joko.

Tembangi yang melihat Joko bertanya kepada ruang kosong, kian merasa heran.

“Apakah pemuda ini memang orang aneh, atau orang sakit?” membatin Tembangi.

“Nanti aku perkenalkan diri. Turuti saja anjuranku, karena dulu aku juga pernah mengalami penyakit seperti itu,” kata Raja Anjas.  “Bangunlah, atur napasmu, dan bayangkan lawanmu adalah seorang lelaki. Atau jika bisa, hadapi dia dengan mata terpejam.”

“Baik, Paman,” kata Joko mengangguk.

Joko lalu bangkit berdiri. Ia melakukan pengaturan napas teratur.

“Hei! Kau bicara dengan siapa?” tanya Tembangi.

“Kau bisa tanya sendiri siapa dia,” jawab Joko.

“Kau memang pemuda gila!” maki Tembangi.

Kini Joko berdiri dengan mata terpejam. Meski keringat masih membasuh di dahinya, tapi napasnya sudah bekerja normal.

Melihat Joko terlihat siap, Tembangi lalu melompat menerjang.

Bak!

Meski mata terpejam, tapi Joko bisa merasakan serangan yang datang dengan cepat. Dadanya yang menjadi sasaran kaki Tembangi, ia lapisi dengan silangan kedua batang tangannya. Joko terdorong keras ke belakang, tapi tidak sampai jatuh.

Tembangi berhenti sejenak.

Joko membuka matanya. Napasnya kembali memburu. Detak jantungnya kembali berlari.

“Bagaimana, Pendekar?” tanya Raja Anjas dari samping lagi, ia asik duduk di rerumputan.

“Terasa lebih baik, Paman,” jawab Joko.

“Jika demikian, tunjukkan bahwa kau memang calon pendekar unggulan!” kata Raja Anjas menyemangati.

Joko Tenang kembali memperbaharui dirinya. Ia kembali menormalkan napas dan detak jantungnya. Ia kemudian memasang kuda-kuda, tanda siap bertarung.

“Aku siap!” seru Joko kepada Tembangi.

“Bagus!” seru Tembangi pula, tanpa ambil peduli dengan keanehan yang Joko tunjukkan.

Joko telah memejamkan matanya. Ia membayangkan bahwa lawan yang dihadapinya adalah Goceng, kakak seperguruannya.

“Heaat!” pekik Tembangi sambil merangsek maju dengan cepat melancarkan serangan pukulan dan tendangan bertenaga.

Tanpa beranjak dari posisi berdirinya, Joko menangkis dan mengelaki semua serangan. Untuk beberapa saat, Joko hanya melakukan pertahanan. Setelah agak lama meladeni Tembangi yang serius berusaha menyarangkan serangannya,  Joko akhirnya memilih jedah dengan cara melompat mundur. Tembangi memilih tidak memburu, ia sengaja memberi Joko waktu jedah.

“Fuuuh!”

Joko Tenang hempaskan napas kelegaan. Jelas tadi adalah masa-masa penuh tekanan, sebab ia harus bertarung fisik dan pikiran.

“Bagus! Itu kemajuan pesat, Pendekar!” puji Raja Anjas.

Joko Tenang menengok memandang Raja Anjas dan tersenyum. Ia merasa mulai berhasil mengatasi penyakitnya. Melihat tingkah Joko yang tersenyum kepada ruang kosong di sisi kanannya kian membuat Tembangi curiga. Ia tidak melihat adanya orang atau mendengar adanya suara yang berbicara kepada Joko.

“Hei! Itu tadi bukan bertarung, kau hanya bertahan, mana seranganmu?!” teriak Tembangi.

“Apakah kau akan membiarkan dirimu dilecehkan, Pendekar? Tunjukan kepadanya bahwa kau bukan pecundang!” seru Raja Anjas lantang, memberi semangat yang tinggi kepada Joko.

“Baik!” kata Joko mengangguk kepada Raja Anjas.

“Kali ini aku tidak akan tahan-tahan lagi!” kata Tembangi.

Joko kembali atur pernapasannya, kemudian memejamkan mata. Imajinasinya membentuk sosok Goceng sedang berdiri di depan sana, siap menyerang kembali.

Tembangi Mendayu lalu berlari maju menyerang dengan pukulan bertenaga dalam. Seiring majunya Tembangi, Joko juga merangsek maju menyambut agresi si gadis.

Pertarungan kali ini, Joko tidak hanya bertahan dengan menghindar menangkis, tapi ia juga melakukan serangan balasan.

Pertarungan sengit pun terjadi. Saling serang, saling tangkis, dan saling menghindar, dilakukan oleh kedua orang muda itu. Sementara Gadis Cadar Maut dan Gujara masih memantau dari kejauhan.

Bak!

Satu tinju berhasil lolos ke dada kanan Joko, membuatnya terdorong setindak, tapi ia tetap teguh memejamkan mata. Selanjutnya ia cepat menangkis dan menghindar. Serangan yang masuk tadi ternyata menyulut emosi muda Joko.

Puk puk!

“Auk!” pekik Tembangi nyaring lalu buru-buru melompat mundur. Wajahnya tampak memerah malu.

“Dasar pemuda kurang ajar!” maki Tembangi keras, tampaknya ia begitu marah kepada Joko.

Makian itu membuat Joko terkejut. Ia cepat buka matanya dan memandang kondisi Tembangi. Makian marah Tembangi membuat Gadis Cadar Maut berkelebat cepat dan mendarat di antara kedua muda-mudi itu. Menyusul pula Gujara.

“Kenapa, Tembangi?” tanya Cadar Maut.

“Dia!” Tembangi menunjuk Joko. “Wajahnya saja yang tampan, tapi otaknya mesum. Dia telah melecehkanku!”

“Kalau bicara jangan sembarangan, kau yang ngotot mengajakku bertarung, tapi kau malah memakiku dan menyebutku berotak mesum!” balas Joko agak emosi pula disebut yang tidak baik.

“Jelas kau berotak mesum. Memangnya kau tidak memiliki adab bertarung dengan perempuan? Seenaknya saja dia menghajar dadaku dua kali. Entah, itu bermaksud memukul atau menyentuh,” kata Tembangi masih bernada tinggi.

Mendengar penjelasan Tembangi, terkejutlah Joko Tenang. Gujara justru menahan tawanya, sehingga hanya senyum yang lahir dari reaksinya. Gadis Cadar Maut hanya geleng-geleng.

Dalam serangan balasannya beberapa saat lalu, Joko Tenang memang berhasil menyarangkan dua pukulan telapak tangannya. Namun, ia tidak tahu bahwa dua kali pukulannya tersebut mendarat telak di payudara Tembangi.

“Anak muda, bisa kau jelaskan perbuatanmu yang bersifat melecehkan adikku?” tanya Gadis Cadar Maut kepada Joko.

Joko jadi agak bingung, ia tidak menyangka akan berubah serumit ini masalahnya. Namun, akhirnya Joko menjawab apa adanya.

“Aku sejak tadi memintanya berhenti untuk tidak bertarung, tapi dia terus memaksa. Paman tahu, aku memiliki masalah dengan perempuan. Tapi aku mengikuti saran paman yang di sana,” kata Joko lalu menunjuk ke sosok Raja Anjas yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Gujara, Gadis Cadar Maut dan Tembangi jadi terkejut dengan keberadaan Raja Anjas yang tahu-tahu sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Berbeda dengan waktu sebelumnya, kali ini sosok Raja Anjas bisa dilihat oleh semuanya.

“Sejak kapan orang itu berada di sana?” tanya Gadis Cadar Maut pelan, tapi didengar oleh Gujara.

“Aku tidak mengenalnya,” kata Gujara pula.

Raja Anjas datang mendekati mereka seraya tersenyum ramah.

“Untuk menghindari dampak buruk penyakitku, paman itu menyuruhku bertarung dengan memejamkan mata dan membayangkan sedang bertarung dengan lelaki, bukan dengan perempuan. Sedikit pun aku tidak tahu jika pukulanku ke dadamu tadi adalah perbuatan pelecehan,” kata Joko.

“Hahaha!” Gujara akhirnya tertawa kecil mendengar alasan Joko.

“Bohong!” tukas Tembangi, ia tidak mau menerima begitu saja alasan Joko. Sangat jelas tangan Joko dua kali menyentuh dadanya.

Raja Anjas datang dengan tertawa kecil.

“Perkenalkan, namamu Senggala,” kata Raja Anjas memalsukan namanya. “Benar yang dikatakan pendekar muda itu. Akulah yang menyuruhnya untuk bertarung dengan terpejam dan membayangkan bahwa lawannya adalah seorang lelaki. Jika tidak demikian, pendekar muda ini tidak akan bisa menghadapi masa depannya yang terkait dengan perempuan. Menurutku, apa yang menimpa gadis cantik itu adalah kecelakaan semata.”

“Ya, itu kecelakaan. Aku sangat minta maaf jika pukulanku tadi ternyata dianggap melecehkan. Aku siap menerima penghakiman jika memang itu seharusnya,” kata Joko dengan suara lembut.

“Tidak sudi aku maafkan!” ketus Tembangi lalu berbalik pergi dengan wajah penuh kekesalan. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!