NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Anak-anak itu akhirnya kembali ke pelukan keluarga mereka, tangis dan ucapan syukur memenuhi udara. Namun di balik kelegaan itu, kebenaran lain mulai terangkat. Laporan kehilangan yang selama ini diabaikan membuat suasana berubah. Tatapan Agerald perlahan beralih, tidak lagi pada warga—melainkan pada sistem yang seharusnya melindungi mereka.

“Siapa yang bertanggung jawab atas wilayah ini,” tanyanya.

“Kapten penjaga wilayah… Rivalt, Yang Mulia.”

Perintah diberikan, dan tak lama kemudian pria itu datang dengan langkah tergesa, seragamnya masih rapi namun wajahnya jelas menyimpan ketegangan.

“Yang Mulia,” ia menunduk.

Agerald menatapnya datar. “Ada laporan kehilangan anak-anak.”

Rivalt langsung mengangguk. “Kami sudah menerima beberapa laporan dan sedang menyelidiki—”

“Sudah berapa lama.”

“Beberapa minggu.”

“Dan tidak ada hasil.”

Rivalt terdiam.

Keringat mulai terlihat di pelipisnya.

“Yang Mulia, kami tidak memiliki cukup bukti untuk—”

“Bukti sudah ditemukan,” potong Agerald. “Anak-anak itu.”

Hening.

Rivalt menelan ludah. “Kami tidak tahu mereka dibawa ke mana. Jalurnya… sangat tertutup.”

Kalimat itu membuat Kianara sedikit mengangkat pandangan.

“Tertutup?” ulangnya pelan.

Rivalt ragu sejenak sebelum menjawab, “Seperti… ada yang membersihkan jejak. Setiap kali kami mencoba menelusuri, selalu berakhir buntu.”

Agerald tidak melewatkan itu.

“Dan kau tetap membiarkannya.”

“Itu bukan membiarkan, Yang Mulia,” jawab Rivalt cepat, nada suaranya sedikit goyah. “Kami… diperingatkan.”

Sunyi.

Kali ini bukan warga yang berbicara.

Melainkan—

pengakuan.

Tatapan Agerald berubah sedikit lebih tajam. “Diperingatkan oleh siapa.”

Rivalt langsung diam.

Rahangnya mengeras, seolah ia menyesali kalimat yang baru saja keluar.

“Jawab.”

Nada suara Agerald tetap rendah, tapi jelas tidak bisa dItolak.

Rivalt menunduk.

Lebih dalam.

“…saya tidak tahu pasti,” katanya akhirnya. “Tapi setiap kali kami mendekat… selalu ada perintah untuk mundur. Tidak tertulis. Tidak resmi.”

“Dari atasanmu?”

Jeda.

“…bukan hanya dari mereka.”

Hening.

Kalimat itu cukup.

Sangat cukup.

Kianara merasakan sesuatu yang dingin merayap di pikirannya.

Ini bukan sekadar kelalaian.

Ini—

jaringan.

Agerald melangkah mendekat satu langkah.

“Mulai sekarang,” ucapnya tenang, “tidak ada lagi perintah yang lebih tinggi dari milikku di wilayah ini.”

Rivalt membeku.

“Dan jika kau mengetahui sesuatu—sekecil apa pun—kau akan melaporkannya.”

Tidak ada ancaman dalam kata-katanya.

Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.

“…baik, Yang Mulia,” jawab Rivalt pelan.

Agerald menatapnya beberapa detik lagi, lalu berbalik.

Namun pikirannya tidak berhenti.

Satu jalur terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Laporan-laporan yang diabaikan, jejak yang selalu terputus, dan pergerakan yang seolah selalu lebih dulu menghilang sebelum bisa disentuh.

Kalau Count Vareon memang terlibat, maka dia bukan puncak dari semuanya. Dia hanya satu simpul yang terlihat.

Tapi jika bukan dia yang paling atas… maka ada sesuatu yang sengaja membiarkannya tetap terlihat.

Atau justru memanfaatkannya sebagai tameng.

Kianara menarik napas pelan, pandangannya sempat jatuh pada Arcelio yang berdiri di sisinya. Tangannya menggenggam tangan kecil itu lebih erat, seolah memastikan dunia di sekelilingnya masih bisa dipercaya.

Namun di balik ketenangan itu, pikirannya terus bergerak.

Sistem yang membiarkan laporan hilang tanpa jejak.

Seorang kapten yang berbicara tentang peringatan tanpa sumber yang jelas.

Dan sebuah jaringan yang terlalu bersih untuk ukuran kejahatan biasa.

Semua itu tidak menunjuk pada satu nama dengan pasti.

Justru sebaliknya.

Semakin mereka mendekat, semakin banyak kemungkinan yang terbuka.

Dan semakin jelas satu hal— ini bukan puncaknya.

Hanya permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang sejak awal memang tidak ingin ditemukan.

...*******...

Malam hari, ruang bawah tanah kediaman Anwealda terasa dingin dan sunyi ketika Count Vareon Halcrest akhirnya dihadapkan pada Agerald. Udara di dalam ruangan itu seperti menebal, seolah setiap kata yang akan diucapkan bisa menentukan arah sesuatu yang jauh lebih besar.

“Ini tuduhan serius,” suara Count Vareon terdengar tenang, namun ada ketegangan samar di baliknya.

“Aku tidak membuat tuduhan tanpa dasar,” jawab Agerald datar.

Keheningan jatuh seketika. Tidak ada yang terburu-buru berbicara, seolah masing-masing pihak sedang menimbang seberapa jauh permainan ini sebenarnya sudah berjalan.

Setelah beberapa saat, Count itu akhirnya menghela napas pelan. “Aku hanya membuka jalur,” katanya.

 “Ada yang membutuhkan suplai.”

Tatapan Agerald mengeras sedikit. “Siapa?” Pertanyaan itu jatuh tanpa emosi, namun cukup untuk menekan seluruh ruangan.

Count Vareon tidak langsung menjawab. Ia menatap Agerald lama, seolah sedang mempertimbangkan apakah hidupnya masih memiliki ruang aman setelah ini.

Kemudian ia membuka mulut.

“Yang berada di balik ini adalah—” Kata-katanya terputus. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Matanya melebar, tangan langsung mencengkeram lehernya sendiri sebelum batuk keras keluar tanpa bisa ditahan. Cairan gelap merembes dari sudut bibirnya, sementara napasnya menjadi tidak beraturan.

“Racun,” ucap Kianara pelan, langkahnya maju setengah, namun tetap menjaga jarak.

Count itu tersenyum samar di sela rasa sakit yang jelas menghancurkannya. “…terlambat…”

Dan sebelum ada yang bisa menahannya, tubuh itu ambruk tanpa nyawa.

Tidak ada yang langsung bergerak. Bahkan udara terasa seperti berhenti.

Kianara menatap jenazah itu dengan ekspresi sulit dibaca. “Dia tidak diizinkan bicara,” ucapnya akhirnya, lebih seperti kesimpulan daripada pertanyaan.

Di sisi lain, Agerald berdiri diam. Tatapannya tidak teralihkan dari tubuh Count Vareon, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari keadaan di depannya.

Kalau ini hanya kasus biasa, tidak akan ada racun yang bekerja tepat di momen terakhir.

Kalau ini hanya jaringan bawah, tidak akan ada yang peduli sampai sejauh ini untuk membungkam seorang Count.

Dan kalau Count Vareon hanya pemain kecil—

maka seseorang yang lebih tinggi sudah cukup panik untuk memastikan namanya tidak pernah keluar.

Agerald perlahan mengalihkan pandangan.

“Kalau mereka mulai membungkam orang seperti ini,” ucapnya rendah, “berarti kita sudah menyentuh sesuatu yang tidak ingin terlihat sejak awal.”

Kianara menunduk, tangannya masih menggenggam Arcelio lebih erat. Anak itu diam, tapi tubuh kecilnya jelas menangkap ketegangan di ruangan itu. Ini bukan lagi tentang satu kasus penculikan. Bukan lagi tentang satu Count. Dan bahkan bukan tentang satu wilayah. Ini tentang sesuatu yang sejak awal sudah berjalan rapi, tertutup, dan terjaga terlalu bersih untuk disebut kebetulan.

Agerald mengepalkan tangannya pelan.

“Dia bukan akhir dari jawaban,” katanya.

Kianara mengangguk pelan. “Dia hanya titik yang sengaja dibiarkan terlihat.”

Dan di balik keheningan itu— keduanya akhirnya memahami satu hal yang sama.

Mereka tidak sedang membongkar sebuah kejahatan.

Mereka sedang mendekati sesuatu yang sejak awal sudah memastikan dirinya tidak pernah ditemukan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...To Be Continue...

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 1 replies
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 2 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Wahyuningsih: maaf ya q gk suka klau peran utamanya cowok tpi klau cewek q suka 🙏🙏🙏
total 3 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!