Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
“Gus istrimu itu kalau tidak betah tinggal dengan mertua lebih baik kamu ngontrak saja diluar ibu pusing dengar istrimu marah-marah sama Kemuning.”
“Baiklah bu Agus akan mencari rumah kontrakan kalau begitu.”
Mendengar kalau anaknya akan mengontrak rumah ibunya Narti menawarkan tinggal bersama dengan mertuanya. Tentu saja ini disambut gembira oleh Narti.
Sejak saat itu Narti dan suaminya tinggal di rumah orang tua Narti.
Sejak masih bayi Santi rajin membuat video Kemuning dan mempostingnya untuk dirinya sendiri di akun birunya. Agus meneruskan kebiasaan kakaknya dan membuat akun Kemuning sendiri dan akunnya sudah menghasilkan cuan. Tentu saja semua yang mengurus pakleknya Kemuning. Hal ini menimbulkan kecemburuan pada istri Agus apalagi Agus setiap bulan mendapatkan transfer uang untuk orang tuanya dari Santi.
“Mas kita ini kan suami istri biarlah aku saja yang mengelola uang kiriman mbak Santi biar sebagian ditabung jangan diberikan ibu semua.”
“Keuangan rumah tangga orang tuaku biar ibuku sendiri yang mengelolanya. Kamu kan sudah dapat dari gajiku. Kakakku mengirim uang itu untuk kebutuhan anaknya dan kebutuhan rumah tangga orang tuaku.”
“Bagaimana kalau ibumu boros? Kalau aku yang mengelola kan lebih bisa diirit?”
“Masalah boros dan tidak nya itu kan urusan mereka, kamu konsentrasi saja dengan keuangan rumah tangga kita sendiri.”
Jawaban suaminya membuat Narti dongkol. Dia menghentakkan kakinya dan masuk ke kamar. Suaminya hanya geleng-geleng kepala saja.
Saat Agus sudah berangkat bekerja ibunya Narti bertanya “bagaimana Nar apa kamu berhasil membuat suamimu menyerahkan uang kiriman kakaknya?”
“Tidak bu, dia tetap menyerahkan uang kiriman kakaknya langsung ke orang tuanya.”
“Betul-betul keras kepala suamimu itu. Coba nanti ibu yang ngomong.”
Saat Agus pulang kerja mertuanya mencoba membicarakan uang kiriman kakaknya Agus.
“Gus ibu rasa istrimu benar kalau uang kiriman kakakmu itu biar dikelola sama Narti saja biar pengeluaran untuk Kemuning tidak boros jadi bisa nabung.”
“Istri saya tidak berhak ikut campur urusan keuangan rumah tangga orang tua saya bu, ayah saya masih ada ayah saya adalah kepala rumah tangga di keluarganya sendiri. Ya pasti keuangannya dikelola oleh istrinya kan? Masa keuangan keluarga ayah saya menantunya yang mengelola?” Kata Agus.
“Tapi kan uangnya kiriman dari kakakmu yang ditransferkan ke rekening mu Gus.”
“Tapi tetap saja uang itu bukan untuk saya kan Bu?” Uang itu dikirim untuk orang tua saya untuk membiayai kehidupan mereka dan cucu mereka.”
“Kalau masuk di rekening mu berarti itu uangmu Gus bukan uang mereka. Istrimu yang berhak mengelolanya bukan ibumu.”
“Orang tuamu kok serakah sih bukankah suaminya masih kerja memangnya tidak cukup uang hasil kerja suaminya buat menutupi kebutuhan mereka?”
“Saudara saya kerja diluar negeri memang untuk membahagiakan orang tuanya dan anaknya Bu bukan buat orang lain.”
“Tapi kan kamu numpang dirumah mertuamu ada anggota keluarganya yang numpang di rumahku ya paling tidak dibagi dua lah uangnya atau biar anakku yang mengelolanya.” Ketus ibu mertuanya.
“Kalau begitu besok saya akan mencari rumah kontrakan dan secepatnya saya pergi dari sini.” Kata Agus.
“Apa maksudmu ngontrak rumah? Memangnya kamu punya uang? Apa kamu pikir gajimu itu cukup untuk kebutuhan rumah tangga?” Kata Narti.
“Cukup atau tidak cukup semua tergantung dari kamu. Kalau kamu pandai mengatur keuangan insya Allah cukup. Lihat arisan-arisanmu berapa saja yang kamu ikuti belum cicilan motor. Motor lama masih bagus ambil cicilan motor baru gegara kepanasan tetangga punya motor baru. Coba kamu tidak terseret pergaulan yang jor-joran seperti itu ga bakalan kamu pusing tiap akhir bulan. Kalau sudah begitu mulai merengek minta uang kiriman saudaraku. Yang boros itu kamu bukan ibuku.”
“Besok aku cari rumah kontrakan dan kita pindah dari sini. Kalau kamu tidak mau ikut aku sendiri yang pindah. Yang penting aku tidak lagi menumpang disini.” Kata Agus sambil bangkit berdiri dan masuk ke kamarnya.
Narti dan ibunya saling pandang. Mereka tidak menyangka Agus akan melawan mereka.